Menunggu Martin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menunggu Martin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:58 Rating: 4,5

Menunggu Martin

TUNGGU aku di seberang jembatan, kiri jalan, di bawah pohon mangga, di depan kios rokok Mbak Jum, nanti malam, tepat pukul delapan. Kios itu biasanya tutup sebelum maghrib, jadi jangan khawatir, takkan ada orang yang melihatmu.

Ingat, pukul delapan malam, tepat. Jangan sampai terlambat.

Jadi, kusarankan, sebelum petang kau sudah mandi, supaya tidak terburu-buru. Jangan lupa bawa barang-barangmu, barang-barang yang kau anggap perlu saja. Tak usah bawa boneka segala. Itu tak penting. Dan lagi, tak usah bawa pakaian terlalu banyak, yang nyaman kau pakai saja. Kalau pun mau bawa novel untuk dibaca-baca, bawa satu saja, yang tebal sekalian, karena mungkin nanti kau tak akan sempat membaca. Jadi, kalau bisa, persiapkan semua dari sekarang, dan ingat jangan sampai ada orang tahu…

Itulah yang dikatakan Martin siang tadi.

Kau tahu, aku dan Martin berencana untuk kabur dari rumah, seperti yang dilakukan dua sejoli yang kasmaran dalam roman-roman picisan. Ceritanya, besok pagi, sekitar pukul sepuluh, Mami hendak mempertemukan aku dengan lelaki pilihannya. Sesuai rencana Mami, mungkin kami akan bertukar cincin, dan itu Mami rencanakan supaya aku tak lagi-lagi berhubungan dengan Martin. Maksud Mami, supaya Martin tahu bahwa aku sudah jadi milik orang, cincin yang akan melingkar di jari manisku sebagai tandanya. Oh, betapa naifnya mereka, tidakkah mereka sadar bahwa itu hanya sebuah cincin. Bahkan anak di bawah umur pun tak jarang memakai cincin. Dan kupikir, soal cincin yang dipakai sebagai tanda, itu semata karangan manusia, jadi tak sesakral itu.

Mami tahu kalau aku tak pernah setuju dengan lelaki pilihannya, tapi Mami memang manusia produk lama, produk zaman Siti Nurbaya, jadi perjodohan semacam itu baginya sah-sah saja. Sayangnya, Mami memilih lelaki yang salah. Kuakui, lelaki pilihan Mami memang sempurna, ia tampan, beruang, dari keluarga terpandang, tapi seandainya Mami bisa membaca tatapan—seperti yang kulakukan, mungkin Mami akan tahu bahwa lelaki pilihan Mami itu memiliki mata srigala. Ketika kami bersitatap, aku seperti melihatnya hendak menerkamku dan melumatku sampai ludas. Dan tentu saja Mami tak pernah tahu, bahwa lelaki pilihannya adalah lelaki yang suka membawa gadis-gadis ke hotel atau ke klub malam di akhir pekan.

Aku berkata demikian bukan tanpa bukti, aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku juga punya seorang teman yang pernah jadi teman kencannya di akhir pekan. Tentu aku tak menceritakan semua itu pada Mami. Lagi pula Mami tak akan percaya, tentu saja.

“Kalau kau tak suka padanya, kau jangan mengarang-ngarang cerita, itu tak baik,” itulah yang akan dikatakan Mami.

Jadi, jika malam ini aku memutuskan untuk pergi dengan Martin, itu bukan salahku. Jika kau dihadapkan pada dua pilihan, yang pertama kau hidup di sekeliling orang yang bisa memberimu banyak hal tapi tak bisa memberimu rasa nyaman, dan kedua kau hidup di dekat orang yang bisa memberimu rasa nyaman meski ia tak bisa memberimu banyak hal, tentu saja, jika kau ‘normal’ kau akan memilih pilihan kedua. Rasa nyaman adalah segalanya. Dan ia lebih mahal dari banyak hal. Jadi, sekali lagi, aku telah memilih pilihan yang tepat untuk pergi dengan Martin. Ke mana saja ia akan membawaku pergi, aku akan turut.

***
Sekarang sudah pukul 19.45, aku sudah duduk di depan kios rokok Mbak Jum yang sudah kukut sedari tadi. Di sini sepi, dan dingin, dingin sekali. Seperempat jam lagi Martin akan datang. Kubayangkan Martin datang dengan baju kotak-kotak biru hitam dengan jins tipis yang agak longgar hingga menutupi sepatu. Ia datang dengan motor matic yang biasa ia pakai. Di bagian depan motor ia akan meletakkan kopor kecil berisi beberapa pakaian dan barang yang ia anggap penting. Lantas ia akan meluncur dari jalanan yang paling gelap lagi lengang, cahaya dari lampu motornya seperti dua sorot mata yang mengantarkan kabar gembira.

Oh, betapa, ia seperti sesosok pangeran yang tiba-tiba muncul menyelamatkan seorang putri yang disandera. Ia begitu tampan dan penuh kelembutan. Ketika ia melangkah, mengayunkan pedang, dan bahkan ketika berkata-kata. Setelah mengalahkan para musuh, pangeran itu akan membawa sang putri ke istananya dan kemudian menikahinya. Kisah yang sempurna. Happy ever after. Oh, Martin, tapi mengapa kau belum datang. Beberapa detik lagi, jarum panjang dan jarum pendek akan bertumbuk pada angka yang sama: delapan, tepat. Bukankah tadi kau bilang pukul delapan tepat?

Manusia bisa dan boleh-boleh saja merencanakan banyak hal, tapi bukan ia yang memutuskan. Mungkin, Martin berada dalam posisi itu. Bukankah bisa saja, ia berangkat dari rumah pukul tujuh, dan sudah mempersiapkan semua. Tapi, di tengah jalan tiba-tiba ban motornya bocor sehingga ia harus mampir ke tambal ban. Dan malam-malam begini, mencari tambal ban mungkin akan sedikit sulit. Kalau Martin beruntung, mungkin ia akan menemukan sebuah bengkel dan ia bisa membeli ban baru, tanpa harus menembel ban yang bocor. Dan itu tentu akan menyita waktunya, hingga ia terlambat.

Atau kalau tidak, mungkin ada beberapa barang penting yang ketinggalan, sehingga ia harus putar haluan balik untuk mengambilnya, dan itu juga akan memakan waktu. Bukankah hal-hal semacam itu bisa saja terjadi? Semua hal memang bisa saja terjadi pada manusia. Manusia yang sebenarnya sangat rapuh tapi sok ampuh.

***
Angin bermain dengan dedaunan pohon mangga di depan kios rokok Mbak Jum yang sepi. Iramanya begitu menyeramkan, seakan-akan menciptakan sebuah dunia baru yang begitu dingin dan pendiam. Kudukku berdiri. Entah mengapa, tiba-tiba aku membayangkan sesosok makhluk besar berwarna hitam menuruni pohon mangga dan mendekapku dari belakang. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan. O, Martin mengapa kau belum datang juga. Jika terjadi sesuatu padaku, kau orang pertama yang harus bertanggung jawab.

Beberapa menit berlalu dengan cara paling mengerikan, seperti makhluk-makhluk yang berjalan merangkak. Dan Martin, ia belum juga datang, apa ia tidak sadar, ia sudah terlambat setengah jam lebih. Lima belas kali pesan pendek kukirimkan, tapi pending. Sepuluh kali kucall tapi di luar jangkauan. Perlahan, rasanya ada sesuatu yang bocor di dadaku: kekhawatiran. Persis seperti pipi sebuah ban yang dicium paku payung di tengah jalan. Menempel dan kempes perlahan-lahan. Kekhawatiran itu mulai menyebar, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Berpusat di jantung. Membuatku tertegun.

Martin, tak seharusnya kau terlambat lebih dari setengah jam. Apa kau sengaja mempermainkanku, atau ada sesuatu yang di luar kuasamu. Entahlah. Tapi yang harus kau tahu, di sini, seorang gadis tengah menunggumu dengan cemas yang luber sampai ke ujung kaki. Ia menunggumu dengan setia. Ia kedinginan. Sesekali ketakutan oleh suara angin yang mempermainkan daun. Kau tahu, bahkan ia sudah menahan pipisnya hampir satu jam. Martin, kau tidak kasihan padanya, atau—sekali lagi, mungkin ada sesuatu yang terjadi di luar kuasamu. Oh, lihatlah, gadis itu mulai menangis. Aku menangis, meski tanpa suara.

***
Sekarang sudah pukul berapa, Martin? Pukul sepuluh lebih. Tepatnya, pukul sepuluh lebih dua tujuh menit. Mami sudah menelponku sembilan belas kali dan selalu kureject. Ia mengirim pesan lima kali dan tidak kubalas. Sekarang handphone kumatikan, kalau tidak, Mami akan terus menelponku sampai aku mengangkatnya. Jadi, kumohon, cepatlah datang, Martin. Karena aku tak mungkin kembali pulang. Aku sudah membuat pesan tertulis untuk Mami yang mengatakan, bahwa aku dan kau akan pergi jauh. Jika aku pulang, bukankah sama artinya dengan menelan muntahanku sendiri. Dan tentu saja, Mami akan memarahiku habis-habisan. Sungguh alternatif yang buruk. Aku takkan mengambilnya.

Aku sempat tertidur beberapa menit, Martin. Dan sekarang nyaris pukul dua belas nol-nol. Lihatlah! Aku menangis lagi, Martin. Kalau tadi menangis karena khawatir. Sekarang, aku menangis karena takut, takut kehilanganmu. Dan nanti, jika sampai dini hari kau belum datang juga, mungkin aku akan menangis lagi, menangis karena esok hari aku akan jadi gelandangan. Aku lelah, Martin. Lelah menunggumu. Jadi, kau datang atau tidak?*** 
Malang, Maret 2013

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Lampung Post" Minggu, 24 Agustus 2014

0 Response to "Menunggu Martin"