Kembalikan Airmataku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kembalikan Airmataku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:38 Rating: 4,5

Kembalikan Airmataku

DI sumur, sungai, laut bahkan setiap musim hujan datang aku berusaha mencari airmataku, yang kesekian tahun tidak pernah bergulir membasahi pipiku. Jujur saja aku sangat merasa sedih dan penuh tanda tanya, kenapa air mataku sudah tidak lagi keluar dan apakah organ di dalam mataku yang tidak beres? Sedangkan bilangnya ibu, masa kecilku tergolong anak yang suka menangis.

"Menangislah Har, jika itu perlu bagimu. Sebab nilai air mata tidak sekadar mencairkan beban hati yang menggumpal, melainkan juga sangat bermanfaat bagi kesehatan," ujar tetangga dekatku pada saat ia melihatku sedang melamun diri dalam sandaran pohon besar yang berada di sebuah pekarangan yang tidak jauh dari rumahku.

"Apakah dirimu sampai sekarang masih bisa menangis?" jawabku penuh selidik.

"Ya bisa dong! Sebab hidup itu sangat berat dan wajarlah kalau kita masih bisa menangis, apalagi jika beban itu sulit dicarikan solusinya. Jalan yang terbaik ya menangis," tandasnya meyakinkan bahwa airmata sangat bermakna bagi kehidupan setiap orang.

"Caranya bagaimana?"

"Jadilah orang peka."

"Maksudnya?"

Belajarlah terhadap kesalahan sendiri, jangan melulu sering menyalahkan orang lain. O ya, kenapa mesti kesal dengan airmata? Bukankah karier kerjamu sudah sukses? Uang banyak, pekarangan luas dan istri cantik lagi' ledek temanku semakin membuat pikiran penasaran dan penuh tanda tanya dengan sindirannya.

Mendung pun menggelantung di langit disertai angin kencang dan suara petir yang berulang-ulang menggelegar dan memekak di telinga. Aku semakin mentafakuri segela kecemasan atas nasib airmataku yang tak kunjung bergulir dan bergulir. "Kembalikan airmataku, kembalikan airmataku, kembalikan airmataku," rintihku sambil mengurai gerimis yang berderai dari langit dan rintiknya seakan menggoda pikiranku yang rindu pada air mata.

"Biarkan aku basah, biarkan aku kedinginan, biarkan aku sakit!" jerit hatiku, sesekali menghela napas panjang menahan kegundahan yang membuncah-buncah. Memang aku serba kecukupan dengan segala kebutuhan selalu terpenuhhi, namun aku sangat dan ingin airmataku itu kembali datang dan berguliran seperti di saat masih kecil.


***
Ilustrasi oleh Joko Santoso
"Bangun! Sudah siang bapak kerja nggak?" suara istriku di luar sambil menggedok-gedok pintu kamarku yang sengaja aku tutup. Benar apa yang dikatakan istriku, ternyata aku memang kesiangan bangun, karena larut dalam kesedihan membayangkan airmataku bertahun-tahun yang tak kunjung membasah di pipi.

"Aku sangat lelah, Bu. Entahlah akhir-akhir ini kenapa aku dicemaskan oleh airmataku sendiri yang sulit keluar," selorohku aku berjalan menuju ke kamar mandi.

"Airmata?" istriku penasaran dan menghardik jalanku.

"Ya, airmata! Airmataku memang sulit keluar!"

"Barangkali bapak tidak mau susah dan suka foya-foya melulu,"

"Maksudmu, aku ini orang bluboh?"

"Barangkali!"

Meski ucapan istriku terdengar terasa pedas di telinga, namun ketika aku renungkan memang ada benarnya. Sepertinya aku sudah tidak takut pada hukum, manusia bahkan Tuhan. Prinsip hidupku telah dikotori segala kesenangan yang menyesatkan. Aku sadar semua itu!  Kadang terlintas aku ingin belajar berdoa untuk membersihkan pikiran kotorku dari ego, kebencian maupun ketamakan. Tapi kenapa begitu sulitnya? Yang lebih ironisnya setiap aku berada di ruang kerja pikiran serta keringatku senantiasa yang menggelayut tentang uang, uang dan uang semata! Maklum. Memang aku tidak mau lagi dibelenggu kemiskinan atau kemlaratan. Bagiku, hidup bukanlah sesuatu yang sederhana, namun butuh keuletan untuk meraih kesuksesan-kesuksesan.

"Kembalikan airmataku! Kembalikan airmataku! Kembalikan airmataku! hibaku kembali terasa mengiris-iris ulu-hatiku. Aku semakin larut dalam bulir-bulir perih yang terasa merayap-rayap di seluruh tubuh.


***
Semenjak aku merasa kehilangan airmataku, kerjaku sangat malas dan sering melamun. Tugas-tugas yang seharusnya aku selesaikan menjadi berantakan. File-file program kerja menumpuk di atas meja kantor. Aku sudah tidak peduli dan siap menerima teguran atasan, kemarahan bahkan mungkin sampai pemecatan, aku sudah siap segala risiko. Yang jelas, bagiku sekarang airmata sungguh sangat berarti dan berharga dari segala-galanya. Sempat terbersit di benak, aku ingin memburai jantungku sendiri agar airmataku dapat keluar dan membebaskan perilaku serta perbuatan jelekku selama ini. Tapi sia-sia, airmataku itu belum juga kembali, ia entah di mana aku tak tahu, aneh! Di kelopak mataku menyerupai bola batu yang sangat keras. Aku benar-benar tak berdaya, dan hanya membiarkan diriku gagap dan tak sanggup mengirim kasih sayang lewat desiran angin yang mengajari tentang cinta.

"Sakit ya Har?" tanya teman sekerjaku, Ali yang sejak tadi sengaja  memperhatikan tingkahku.

"Nggak, aku sekadar galau." jawabku menutup-nutupi perasaanku yang sebenarnya memang galau.

"Apa galau tentang kenaikan harga BBM yang melonjak tinggi?"

"Bukan!, aku telah kehilangan air mata"

"Airmata? Aneh!"

"Mungkin! Tapi...itulah yang terjadi pada airmataku sendiri yang selama ini telah lenyap entah di mana," jawabku pada teman sekantor, lalu ia berpaling dan berjalan menuju meja kursinya sambil tertawa mendengar ceritaku yang dianggapnya aneh dan lucu. Aku biarkan temanku tertawa dan mungkin menganggapku setres atau depresi berat. Aku tidak pedulikan. Yang jelas itu kenyataan, bahwa batinku semakin bergolak dalam kerinduan airmataku agar secepatnya kembali dan membuatku bisa menangis sepuas-puasnya. Namun tak sebutir pun airmataku yang menetes, aku benar-benar kesal, geram muak bercampur kalut yang kian memuncak. Dalam pikiran yang kacau seperti itu, tiba-tiba aku dikagetkan dua petugas kepolisian yang berdiri di depanku.

"Apa benar Anda bernama Haryanto?"

"Ya!!"

"Sesuai laporan kepolisian, bapak telah berhubungan pada yang berwajib, karena telah merugikan uang negara miliaran rupiah," ucap dua petugas dengan ekspresi tak bersahabat sambil memborgol kedua tanganku. Aku tak berdaya dan hanya pasrah menerima nasib yang akan terjadi. Mataku pun berkunang-kunang, tak terasa di kelopak mataku keluar airmata yang berguliran membasahi di seluruh tubuhku.

"Airmata? Akhirnya engkau kembali juga padaku," ucapku lirih bercampur sendu yang membuat hidupku seakan kembali lahir dari rahim ibu. Airmataku benar-benar telah kembali, ia menggenang panjang, sepanjang garis silhuet berwarna bahagia dan kecewa yang keduanya saling bertautan di ruang jeruji besi yang siap mengkrangkengku.

"Mungkinkah selama ini aku bukan manusia?" bisik airmataku sendiri yang kembali dan menegur dengan bahasa puisi! [] -g

Kudus, November 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 28 Desember 2014


0 Response to "Kembalikan Airmataku"