Almanakku - Marahku - Di Palestina dan di Sini - Tinggal Sunyi - Di Meja Sapardi - Ibuku - Sentuhan Senyummu - Dalam Sekapan Kenangan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Almanakku - Marahku - Di Palestina dan di Sini - Tinggal Sunyi - Di Meja Sapardi - Ibuku - Sentuhan Senyummu - Dalam Sekapan Kenangan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:16 Rating: 4,5

Almanakku - Marahku - Di Palestina dan di Sini - Tinggal Sunyi - Di Meja Sapardi - Ibuku - Sentuhan Senyummu - Dalam Sekapan Kenangan

Almanakku

almanakku mengail risalah bersama waktu
berjingkat mendekat sambil membuka pintu
memperlihatkan diri yang masih perawan
menunggu untuk bersegera buat kencan
dibukanya gaun yang penuh kata-kata
juga rencana tertata dalam aroma janji
dan ternyata, ia masih belum ternoda
sedang kalender telah pamit membawa hari
meninggalkan mimpi dan sederet agenda
yang tiba-tiba jadi penanggalan pasi
almanakku pagi ini benar-benar bertamu
dengan salam lirih ia berdiam bagai batu
tapi itu sudah dari cukup; membangunkan
mencolek niat yang lebih hanya keinginan

2014

Marahku

marahku kumamah berabad-abad dan kusimpan
dalam senyuman mentari pagi dan telaga cinta
serta kubungkus erat dengan aroma karma
dan pahala
yang selalu menjadi bayang
dalam onak jalan
atau aral dan kecuraman janji-janji
dendam hanya ada dalam kamus darah
yang lama tak kuusik kenikmatan duniawinya
tersebab aku masih mampu mengulum luka
dan meninabobokan pembalasan di pembaringan
sementara kebencian masih meringkuk di sudut
terlelap oleh janji nirwana yang entah dari mana
karena telinganya boleh dikata telah tersumpal fulus
yang secara keiblisan mewujud ibu pertiwi nan molek
tergolek di antara acungan kepalan tangan berdarah
lalu muslihat adalah mitra setia untuk
berkhianat sesat
membangun yang seolah-olah peradaban hebat
padahal di sebaliknya adalah himpunan dajal bejat
yang menyaru dengan perlambang agama dan doa
yang diucapkan begitu lekasnya sehingga tinggal
pengaminan yang bisa diberikan secara serentak
tetapi cakrawala adalah pencatat rahasia
yang pada akhirnya mengirim kunci pembuka
sehingga tak mungkin lagi ada dusta sebagai piala
atau rekayasa sebagai fakta yang selama ini ada
sehingga pintuku pun aku buka dengan terencana
dan biarkan aku melampiaskan marahku
di sini

2014

Di Palestina dan di Sini

di Palestina darah syuhada menjelma telaga
di sini darah pencela mengumbar petaka
kata-kata sebatas retorika, tindakan hampir tiada
ah, Palestina yang membara di tengah puasa
kau kirim warga tak berdosa menuju surga
akibat serangan setan dunia yang suka-suka
dan di sini, banyak yang teperdaya angka
berdoa bukan bagi kemaslahatan sesama
namun hanya untuk diri dan yang dibela
seolah-olah surga itu adanya cuma di dunia
padahal banyak yang mengaku beragama
hanya bantuan doa yang dapat kuberikan
oh, Gaza, maafkan kami yang sangat hina ini
namun doa kami sungguh dan sepenuh hati
Tuhan pasti mempunyai rencana sempurna
dan tak akan memberi azab yang tak terkata
tapi di sini aku sungguh sedang sangat khawatir
saudara kami tengah saling bantai bersama
tanpa hati dan hampir tanpa dipikir!

2014

Tinggal Sunyi

di sebuah pojok Flinders Street Station yang sepi
pernah kutinggalkan sebuah arloji yang terhenti
dan kami berjanji untuk bertemu setelah
hari berganti hari terus berganti tapi aku lupa menyambangi
sampai ribuan hari belum juga aku menepati janji
hingga suatu hari ketika aku tiba di pojokan itu
tinggal sunyi

2014 


Di Meja Sapardi

di meja Sapardi
sunyi menyepi
bayang-bayang pergi
gerimis belum kembali
dukanya mengabadi
dalam soneta sendiri
menghimpun diksi
merepih hari-hari
jadi memori

2014

Ibuku

dalam usianya yang begitu panjang
ibuku masih suka memintal kenangan
setiap kami bertemu, tak lupa ia kisahkan
teman sepermainan atau saudara misan
yang telah menyongsong dunia lain
ia senantiasa mengisahkan mereka
ini selalu diulang, diulang, dan diulang
tapi kisahnya memang begitu rinci
yang menandakan ingatan yang teruji
bahkan nama mirip dapat ia jelaskan
barangkali ibuku masih tajam telinganya
dan awas matanya sebab dalam remang
ia tetap mampu mengenaliku
tanpa bantuan apa-apa
hanya memang kisahnya hampir selalu sama
sehingga siapa saja tentu akan merasa sia-sia
dan jadi akan bilang bahwa sudah diketahui
tapi apa jawab ibuku?
“Apa iya? Tapi aku kan perlu bicara!“
maka aku pun siap mendengar lagi
dengan sebagian konsentrasi
itu yang kusebut apresiasi
dan ini sungguh ia beri arti

2014

Sentuhan Senyummu

sentuhan senyummu terus merambati jiwa
mengukir hati dengan gerimis bulan lima
sesekali menyentak gairah tak terduga
tapi belum juga tersigi saat hendak kujadikan kata
dari matamu pun sempat kau kirim senyum
yang lalu suka menyelinap di sela malam
berulang mengganggu berkali menggoda
namun masih terus kueja sebuah kata baginya
sewaktu kudengar deru senyummu yang lugu
sempat kuterhempas di palung samudra biru
sampai aku hendak terbang meraih gairahmu
baru kusadari
senyummu tak kau tujukan untukku

2013

Dalam Sekapan Kenangan

hampir tidak ada yang perlu aku beri nama kenangan
keterlemparan dan pertemuan kita hanya semu,
bukan?
kau tahu, aku sendiri pun risau akan jalan yang baru
sedang kau terlalu nyaman dengan masa lalumu

2013



Ibnu Wahyudi, sastrawan, pernah menjadi dosentamu di Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Seoul, (1997-2000). Sehari-hari sebagai dosen tetap di FIB Universitas Indonesia dan dosen terbang di SIM University Singapore. Salah satu buku kumpulan puisi Perjalanan Tubuh (2013) sangat diperbincangkan kalangan akademisi di Australia.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ibnu Wahyudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 22 Maret 2015

0 Response to "Almanakku - Marahku - Di Palestina dan di Sini - Tinggal Sunyi - Di Meja Sapardi - Ibuku - Sentuhan Senyummu - Dalam Sekapan Kenangan "