Azan Menenggelamkan Tanah Keras | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Azan Menenggelamkan Tanah Keras Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:55 Rating: 4,5

Azan Menenggelamkan Tanah Keras


DI Tanah Keras, dan mungkin memang hanya di Tanah Keras, suara azan terdengar begitu mengerikan. Ada aroma dendam, amarah, dan darah yang menggelayutinya. Malaikat maut mengendarainya dengan pesona penderitaan yang tidak terperi. Tulang belulang Syekh Munshi yang terpendam dekat punden desa, bergemeretak terdorong penyesalan yang tidak bisa dirumuskan.

SEKIAN puluh tahun yang lalu, Syekh Munshi menemukan Tanah Keras setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang. Tanah Keras serupa sebuah daerah di dunia antah berantah dan tidak terdapat dalam peta mana pun, bahkan bila itu adalah peta yang paling lengkap dan mutakhir sekali pun. Padang pasir yang begitu luas, sebegitu luas, sehingga rasanya tak ada lagi padang pasir di sunia yang lebih luas dari padang pasir tersebut, membentang mengitari Tanah Keras.

Syekh Munshi, setelah dalam sebuah mimpi mendapat semacam bisikan gaib, menghabiskan waktu enam puluh hari menyeberangi padang di sebelah timur Tanah Keras untuk bisa sampai ke sana. Itu sebuah perjalanan yang tentu saja tidak gampang. Dalam keadaan dehidrasi dan berulang mengalami halusinasi, beliau hampir memutuskan untuk menyerah dan menganggap bisikan gaib yang didapatnya dari mimpi hanyalah suara iblis yang menyaru. Tapi, Tuhan menyelamatkannya dari pikiran-pikiran buruk. Di Tanah Keras yang tidak satu pun penduduknya pernah menginjakkan kaki di tempat lain, dan di sepanjang sejarahnya, hanya Syekh Munshi orang dari luar yang pernah tiba di sana. Syekh Munshi mengabarkan perihal tuhan, agama, dan cara-cara berdoa.

Tuhan menganugerahi Syekh Munshi karomah untuk meyakinkan orangorang Tanah Keras. Syekh Musnhi mampu mengubah pisang menjadi emas hanya dengan memandang buah tersebut. Beliau juga sanggup menyembunyikan bulan ke dalam sarung yang dipakainya. Dengan itu semua, persoalan membuat orang Tanah Keras mengikuti ajaran Syekh Munshi bukan lagi sesuatu yang teramat sulit. Hanya saja, syangnya, sebelum ada orang di Tanah Keras yang sepenuhnya memahami ajaran Syekh Munshi (pelajaran mereka hanya sampai pada mengucap syahadat, tata cara salat, puasa, dan zakat, serta sedikit hadis dan lumayan paham membaca huruf Arab), sang wali keburu meninggal setelah tersandung bambu apus sewaktu perluasan masjid yang dibangunnya pada tahun pertama beliau tiba di sana.

Meski begitu, ajaran Syekh Munshi tetap hidup di Tanah Keras, hidup lebih lama dari sang Syekh. Seorang lelaki setengah baya yang paling dekat dengan Syekh Munshi menggantikan Syekh Munshi sebagai imam sewaktu salat bejalaah. Masjid tetap ramai dan itu semua terjadi sampai bertahun-tahun kemudian.

"MEMBAKAR masa depan" karya Roby Aji
Sampai tiba di sebuah hari paling terkutuk di Tanah Keras, di mana seorang pemuda anak sang imam pengganti Syekh Munshi memukul seorang anak kecil yang bersikeras mengumandangkan azan di satu-satunya masjid yang ada di Tanah Keras tersebut. Si pemuda yakin bahwa tuhan akan tersinggung mendengar seruan salat yang keluar dari mulut seorang anak yang masih mengucap hurup “r” dengan suara “l”.

Si anak pulang sambil menangis. Tangisan itu masih bertahan sampai tiga hari kemudian. Segala upaya meredam tangis tersebut sia-sia belaka. Dalam keputusasaan, bapak si anak, orang terkaya di Tanah Keras yang sayangnya kepada si anak sering kali membuatnya bertingkah tidak masuk akal semisal membeli kebun tetangga hanya karena si anak kepingin bermain di kebun itu, memutuskan membangun masjid sendiri agar anak kesayangannya itu bisa azan sesuka hati tanpa perlu ada yang memukul meski azannya terdengar aneh.

Solusi aneh dan tidak terduga itu memang terbukti efektif menenangkan dan menyenangkan si anak. Tapi, imam dari masjid yang lama, seorang lelaki yang begtu teguh dan menghendaki semua hal dikerjakan dengan sempurna, lantang berseru bahwa apa yang telah dilakukan si orang kaya dengan membangun masjid baru, dan merayu serta membayar beberapa orang untuk salat di sana adalah sesuatu yang buruk (meski sebelum peristiwa sederhana namun terkesan rumit ini terjadi, si orang sudah terkenal kedermawanannya dan semua orang menganggapnya ahli surga karena kebiasaan itu, seperti Utsman Bin Affan), terlaknat, dan mendustai ajaran agama yang ditinggalkan Syekh Munshi.

“Dia hendak membikin aliran baru yang berbeda dengan yang diajarkan Syekh Munshi yang mulia. Dengarlah suara azan yang buruk itu!”

“Dia tidak paham agama. Tapi di menjadi imam di sana.”

“Dia ingin dianggap kiai.”

“Atau paling tidak, ingin disebut orang salih.”

“Dia ceramah, padahal bacaan Arabnya buruk sekali.”

Hanya tinggal menungu waktu bagi kasak-kusuk dari pihak pengikut dan Jemaah imam lama di masjid lama tersebut untuk berubah menjadi sebuah pertempuran.

Awalnya mereka tak menyapa ketika berpapasan dengan keluarga serta jemaah masjid baru. Lalu, itu semua berubah menjadi palingan muka serta lengosan yang tidak menyenangkan, lalu berkembang menjadi pengucilan. Sebelum makian langsung atau adu pukul terjadi, si orang kaya semakin meningkatkan jumlah uang dan rayuan manis untuk menarik minat beberapa orang lain agar menjadi pengikutnya dan membelanya bila sesuatu yang buruk dan sudah bisa dipastikan itu tiba.

**
BAGI beberapa orang yang dekat dengan lapar, keimanan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan segepok uang. Namun, bagi beberapa yang lainnya, upaya penyogokan yang semakin terang-terangan tersebut adalah sebuah pelecehan vulgar yang tidak termaafkan kepada agama. Dalam puncak kemarahan itu, dengan seruan jihad dari sang imam, mereka mulai mengasah parang.

Darah pertama yang tumpah sebagai buah dari perseteruan itu terjadi pada suatu Magrib yang murung. Orang-orang dari masjid lama bergerak cepat ketika suara azan yang cadel dan aneh terdengar dari masjid baru. Seorang Jemaah dari masjid baru tewas dengan leher hampir putus dan seorang Jemaah masjid lama meraung-raung karena kehilangan lengan kanannya.

Pertempuran itu baru berhenti pukul sebelas malam karena masing-masing masing pihak sudah kepayahan dan mereka sama-sama lupa bahwa mereka belum melaksanakan salat Magrib dan Isya. Namun, keesokan harinya, azan Subuh dikumandangkan dan, bersamaan dengan itu, jeritan kesakitan menggema lagi, ditingkahi percikan api dari benturan parang.

Sejak saat itulah, di Tanah Keras, dan mungkin memang hanya di Tanah Keras, suara azan bukan lagi merupakan panggiln untuk salat berjemaah di masjid, tetapi sebuah pertanda bahwa palagan perang telah dibuka. Di sekitar masjid, baik masjid yang lama maupun yang baru, bau amis darah santer tercium. Darah menggenang di mana-mana dan potongan tubuh berserakan tak karuan.

Bertahun-tahun setelahnya, Tanah Keras adalah sebuah daerah dengan bangunan-bangunan rusak tanpa satu pun penghuni. Dua buah masjid yang berdiri megah di sna dirambati semak berduri dan menjadi sarang bagi binatang-binatang melata yang merangkak dengan lesu mencari remah makanan. Segala sisa tubuh penduduk di Tanah Keras telah sempurna mereka lahap. Angin membawa butir-butir pasir dari padang pasir di keempat sisi Tanah Keras dan menjatuhkannya ke daerah mati tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Tanah Keras telah sempurna tenggelam dalam padang pasir. Tidak ada lagi suara azan. Tidak ada lagi teriakan kesakitan dan bau kematian.***

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" 15 Maret 2015

0 Response to "Azan Menenggelamkan Tanah Keras"