Cerita Tukang Teluh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cerita Tukang Teluh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:44 Rating: 4,5

Cerita Tukang Teluh

‘’DENGAR, Anak Muda! Bagi kami, peristiwa pembakaran Ujud cukup men- jadi potret suram pada era lalu. Tak ada guna merenda kembali sobekan-sobekan tragedi itu seperti yang tengah kamu lakukan sekarang. Toh aksi pembantaian tukang teluh tak hanya terjadi di kam- pung ini saja, tapi juga di berbagai dae- rah lain seusai Orde Baru tumbang. ‘

’Mudah-mudahan kamu tak meny- inggung penampakan hantu gosong. Hantu yang konon selalu muncul pada malam Selasa Pahing, malam saat Ujud tewas dibakar hidup-hidup. Kalau kamu memasukkan hantu gosong, yang katanya adalah arwah gentayangan Ujud, ke dalam daftar pertanyaanmu, lebih baik kamu enyah dari rumahku sekarang juga! Waktu senggangku terlampau mahal untuk membahas cerita omong kosong itu.’’ 

‘’Saya cuma tertarik dengan cerita tukang teluh.’’ 

‘’Syukurlah, akal sehat masih terpatri di otakmu.’’ 

‘’Apa benar, Bapak satu-satunya warga yang dulu melihat langsung peristiwa pembakaran Ujud?’’ 

‘’Saat mereka membakar Ujud, aku baru keluar dari rumahnya, namun aku memang menyaksikan kejadian itu dari tempat tersembunyi.’’

‘’Bapak sempat berada di rumah Ujud, padahal ia orang asosial. Ini berarti Bapak dekat sekali dengannya.’’ 

‘’Tahukah kamu, Anak Muda? Ucapanmu itu bisa membahayakan jiwaku. Andai orang tahu bahwa aku sebenarnya mantan asisten Ujud, barangkali nasibku dari dulu sudah seperti dirinya, hangus! Tapi mengingat kamu telah datang jauh-jauh dari Ibukota untuk menemui aku untuk menggali informasi bahan penelitianmu, aku tak ragu mengakui kedekatanku dengan Ujud. 

‘’Malam itu tiba-tiba datang empat buah truk di kampung kami, yang mem- bawa puluhan lelaki kekar. Entah dari mana mereka datang, tak ada satu pun yang aku kenali. Mereka bergerak menu- ju rumah Ujud. Mulut mereka meneror Ujud dengan teriakan-teriakan: ‘Bunuh Ujud! Cincang tukang teluh itu!’Sambil mengepung rumah Ujud, mereka mengacung-acungkan parang. Aku masih ingat, tiga dari mereka yang menggedor pintu rumah Ujud membawa pistol.’’ 

‘’Ujud bersembunyi?’’ 

‘’Ujud justru membukakan pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Ia terlihat tenang sekali menghadapi orang- orang kalap itu. Tanpa basa-basi, mereka ramai-ramai mendaratkan tendangan dan pukulan pada Ujud. Tapi ia sedikit pun tak meringis kesakitan. Ia justru tersenyum mengejek mereka sambil duduk bersila dengan mulut komat- kamit.’’ 

‘’Ujud memiliki kekebalan.’’ 

‘’Rupanya rumor tubuh kebal Ujud telah menjalar begitu jauh. Sampai kamu bisa mengetahuinya. Andai kamu dulu berada di posisiku, kamu akan seperti orang-orang itu yang tercengang pada kesaktiannya. Betapa parang-parang mereka bagai guling empuk saat menebas tubuh cungkring Ujud. Bahkan, timah panas yang berdesingan dari moncong pistol, tak ubahnya gigitan nyamuk dirasakan kulit keriput Ujud.’’ 

‘’Itu yang menyebabkan Ujud akhirnya mereka bakar.’’

 ‘’Sepertinya memang begitu. Mereka terlihat frustasi dan akhirnya memutuskan membakarnya hidup-hidup. Ujud

akhirnya tewas di dalam rumahnya yang ludas terbakar.’’ 

‘’Apa sama sekali tak ada aparat, atau warga yang mencegah aksi keji mereka?’’ 

‘’Apa kamu lupa, Anak Muda? Masa-masa itu aparat selalu galau meng- hadapi amuk massa. Aparat lebih nya- man melakukan pembiaran dibandingkan pencegahan. Sementara warga kampung sini tak bisa menolong Ujud. Orang- orang itu telah memblokir jalan menuju rumahnya yang terpencil di kaki bukit. 

Selama belasan tahun, warga kam- pung sini seperti kompak membisu. Tak ada yang berani berkicau pada wartawan, atau polisi. Terlebih, mereka memang tak seperti aku yang melihat langsung keja- diannya.’’ 

‘’Ada kekuasaan yang mengancam warga.’’ 

‘’Aku pun berpikir seperti itu. Seperti angin, kejadian itu dibiarkan berlalu sampai kamu datang mengusiknya kem- bali.’’ 

Kamu mengangguk-angguk sambil menyeruput teh panas yang kusajikan di atas meja. 

‘’Bapak bisa dikatakan paling mengenal sosok Ujud. Benarkah ia tukangteluh?’’ 

‘’Fitnah itu gela- gatnya masih berembus sampai sekarang. Kala Ujud masih hidup, ia dituduh tukang teluh. Saat ia telah meninggal, arwahnya disebut menjadi hantu gosong. Itu tidak benar, Anak Muda! Ujud bukan Tukang teluh! Ia memang memiliki kelebihan, namun ia hanya cenayang yang tak pernah menzal- imi orang.’’ 

‘’Keterangan Bapak semakin mem- perkuat hipotesis saya. Ada latar politik di balik aksi pembantaian tukang teluh belasan tahun lalu, termasuk dalam kasus Ujud ini.’’ 

‘’Politik? Yang benar saja, Anak Muda! Ujud itu cuma dukun kampung. Mana mampu orang tua itu masuk dunia politik? Pemikiranmu jelas off side.’’ 

‘’Ujud adalah penasihat spritual bupati yang kala itu tengah tersandera politik.’’ 

‘’Informasi dari mana itu? Kamu salah! Ujud bukan penasihat spritual bupati melainkan mitra seorang artis lokal kekasih gelap bupati. Ujud adalah tumbal dari perselingkuhan si Bupati yang tercium istrinya. 

‘’Kenapa, Anak Muda? Terkejut atas pernyataanku tadi? Kamu belum pernah mendengar informasi seperti itu, bukan? Agar lebih mencerahkan pikiranmu, aku akan beberkan fakta sebenarnya. Menjelang kematiannya, artis lokal itu sering aku antar menemui Ujud di rumahnya, untuk berkonsultasi tentang koleksi batu safir tanda cinta dari si bupati. Selain cenayang, Ujud juga paham tentang batu mulia. 

‘’Tiba-tiba datang kabar menghirukkan masyarakat di sekitar sini. Ditemukan sesosok mayat perempuan mengambang di atas Sungai Citandui, yang ternyata mayat si....’’ 

‘’Si Artis yang dibunuh.’’ 

‘’Keingintahuanmu begitu tinggi sam- pai harus menyela ceritaku. Bisa jadi artis itu memang dibunuh, tapi anehnya polisi tak tuntas mengusut kematian- nya. Asal kamu
tahu, teramat banyak saksi mata men- dadak bermuncu- lan kala itu. Kesaksian mereka seragam, pada malam itu si artis sempat terlihat berdiri di atas pagar jembatan Sungai Citandui. Ia kemudian menjatuhkan dirinya ke Sungai Citandui.’’ 

‘’Rupanya ia bunuh diri. Tapi apa hubungannya kematian artis itu dengan kasus pembakaran Ujud?’’ 

‘’Kabar burung cepat beredar luas. Ujud telah meneluh artis itu agar bunuh diri dengan melompat dari atas jembatan Sungai Citandui. Konon, Ujud meneluh si artis karena tergiur batu safir yang diti- tipkan kepadanya.’’ 

Cukup lama kamu tertegun. Mudah- mudahan ceritaku ini mampu meron- tokkan teori yang telah tersusun rapi di kepalamu. 

‘’Tampaknya Bapak ingin mengata- kan, Ujud adalah korban fitnah untuk menutupi dalang utama pembunuh artis itu, yang tak lain istri bupati.’’ 

Giliran aku yang mengangguk.

‘’Memanfaatkan isu tukang teluh yang sedang marak pada tahun itu, mere- ka menjadikan Ujud tak cukup sekadar kambing hitam, tapi kambing gosong.’’ 

Kembali kamu tertegun, namun tak lama. 

‘’Ah, saya baru ingat! Ujud kan menguasai Aji Jaya Brama, mana bisa ia tewas terpanggang api?’’ 

Kata-katamu memeranjatkan aku. ‘’Dari mana kamu beroleh kabar bahwa Ujud memiliki ilmu mendinginkan api itu? Selain aku, tak ada orang yang tahu, Ujud telah mengua- sai Aji Jaya Brama. Aku sungguh tak menyana, kamu telah mengetahuinya juga. 

‘’Sepertinya kali ini aku tak bisa mengelak lagi dari permintaan takdir. Telah tiba saatnya, aku harus men- gungkap rahasia itu kepadamu. 

‘’Aku ralat ceritaku tadi. Ujud tidak mati walau api membakar sekujur tubuh- nya.’’ 

Bola matamu tampak berbinar. Kamu antusias sekali mendengar kabar, Ujud masih hidup. 

‘’Orang-orang itu tak sadar, di dalam tumpukan puing-puing rumah, terkubur raga Ujud yang masih bernyawa. Sama sekali tak ada daging hangus pada tubuh- nya. Semua masih utuh seperti sedia kala. Setelah mereka membubarkan diri, aku segera datang dan membantu mengeluarkan Ujud dari tumpukan bara. Ia kemudian aku sembunyikan di rumahku.’’ 

Dan seperti yang aku kira, kamu segera menanyakan keberadaan Ujud sekarang. 
‘’Ia meninggal seusai meneguk kopi tubruk yang aku hidangkan untuknya.’’ Kamu terperangah. 

‘’Tunggu! Jangan menyela lagi! Dengarkan dahulu keteranganku sebelum kamu berpikir, kopi tubruk kok bisa membunuh orang sakti itu? Tubuh Ujud memang kebal terhadap aneka sen- jata maupun kobaran api, namun itu tak berlaku untuk organ dalamnya. Jeroan Ujud sama lemahnya dengan kita. Seketika lambungnya berantakan begitu terisi kopi tubruk yang mengandung sianida.’’ 

Mulutmu menganga. 

‘’Agar mulutmu tidak berlama-lama menganga, sebaiknya kujelaskan saja, apa yang melatari aku hingga tega mera- cuni Ujud. Batu safir! Ya, pesona batu itu yang menjadikan aku gelap mata. Jadi bukan Ujud yang tergiur dengan batu safir titipan artis itu, namun justru aku yang ingin merampasnya. Aku tahu di mana lokasi Ujud biasa menyimpan batu mulia.’’ 

‘’Bagaimana Bapak....’’ 

‘’Cukup! Tak ada pertanyaan lagi, Anak Muda! Telingaku sudah jenuh mendengar pertanyaanmu. Kesaksian yang aku ceritakan padamu telah sangat benderang. Kamu, bahkan terlampau banyak tahu. Jika masih belum puas juga, kamu bisa bertanya langsung pada Ujud nanti. 

Sebagai penutup cerita, aku akan utarakan satu rahasia lagi. Pada secangkir teh yang kusajikan untukmu ini, telah aku larutkan cairan yang dulu pernah digunakan untuk menghabisi Ujud.’’


Kota Cimahi, Maret 2015

— Yus Is yang menulis kisah demi membunuh stres ini bermukim di Kota Cimahi


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yus IS
[2] Perah tersiar di surat kabar "Suara merdeka" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Cerita Tukang Teluh"