Cukur Rambut - Tiar Percaya Orkes Itu - Sarinah - Syeh Batu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cukur Rambut - Tiar Percaya Orkes Itu - Sarinah - Syeh Batu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:37 Rating: 4,5

Cukur Rambut - Tiar Percaya Orkes Itu - Sarinah - Syeh Batu

Cukur Rambut

Telah aku cukur segala rambut dari kepala
hingga pangkal paha. Agar hari datang
tidak lagi seperti kucing bermuka buruk
dan agar hari pergi tidak lagi serasa paku
ditakik pada batok kepalaku. Dan kini
di atas punggung sapi berjanggut aku mulai
duduk membaca kitab, mengatamkan hikayat
meluruskan cara membangun kalimat
dari reruntuhan kata yang selalu pandai
berkhianat. Kata yang memisahkan telapak
kuda dari tungkainya, yang telah menukar letak
pantat dan kepala keledai, yang menyusun rasi
bintang berbentuk orang mengangkang, dan
membuat kematian paling indah agar pantas
digelaktawakan.

Di atas punggung sapi berjanggut aku duduk
dan kini telah kutuntaskan kitab tentang orang
alim orang keramat berlari di atas danau dengan
pangkal jubah tak sedikitpun basah. Kukhatamkan
hikayat tentang kampung ditenggelamkan
semalam hujan dan kapal terbakar di tengah
lautan dalam. Lantas kutulis sebaris sajak
tentang orang pandir berlari telanjang bulat
sehabis kalah bertaruh judi dadu. Kutulis sajak
ketika sapi berjanggut menggetarkan gelambir
perut dengan lidah terus melipir. Sehabis-habis
suara kuteriakkan nazam tentang cinta terlarang
seorang saudagar kain dengan perempuan
penjual gambir. Telah aku cukur segala rambut
dari kepala hingga pangkal paha. Agar seketika
kutunggangi sapi berjanggut segala bentuk
kepandiran telah lebih dulu kubuat terenggut

2015


Tiar Percaya Orkes Itu

Tiar percaya orkes itu telah menyelamatkannya
dari jangkau nasib buruk
dan beragam marabahaya.

Denging senar sumbing
malam dengan panggung miring
terpal biru robek meneteskan sisa air hujan sore
pertunjukan terus disusun
hari demi hari
dari keping montase.

Tiar percaya orkes itu telah menyelamatkannya
seperti ia percaya sebuah susunan notasi
akan kekal selamanya
mengendap bersama nasib

selagi ingatan lurus
selagi lempengan kenangan tersusun bagus.

Dan Tiar akan terus memainkan lagu
seperti itu
seperti malam itu
malam dengan panggung miring
terpal biru robek meneteskan sisa air hujan sore
terus seperti itu
seperti malam itu
ketika angin tak ubahnya serakan pasir dingin
maut berayun-ayun bersama alun
musik kering mengerisik
penonton bersorak memulangkan bangunan suara
dan remang lampu mempermainkan ruang mata.

Tiar percaya
selagi ia memainkan lagu
seperti itu
seperti malam itu
orkes akan selalu menyelamatkannya.

2015

Sarinah

Pada pangkal ketiakmu aku temukan kota
mengerut serupa kulit limau purut, Sarinah.
Plaza empat puluh tingkat berasitektur paruh
unggas berdiri tegas. Pohon-pohon tumbuh
hitam dengan daun tertabur serbuk garam.
Kota dengan daratan tiap sebentar turun
dikepung air naik ketika gerak gelombang
ditarik bulan datang. Kota dengan dinding
kedai kopi, kedai nasi, hingga kedai lemang
memajang potret orang tua alim lagi bertuah
buat menarik orang datang membeli barang.
"Belikan kutang, uda. Sehelai kutang baru
dengan ragi kain sematang daging mengkudu."

Dan bengkak dadamu itu serupa tanda kelapa
muda dibuai-buai angin limbubu. Puncak sebuah
malam dengan tembakan laser gagal membikin
bubar iringan awan bergumpal. Getar dadamu itu
hasrat purba kuda jantan disiarkan gelombang
radio ke arah dusun paling dusun. Aku temukan
kota, Sarinah, dari pangkal ketiak hingga bengkak
dadamu mengerut serupa seulas papan berulang
terapung dan terbenam dipiuh deras arus muara.
"Jangankan sehelai kutang, Sarinah. Di langit
akan kuputus gantungan bulan, di laut akan
kusauh gulungan gelombang, agar kutang
seisi kedai itu kau bungkus kau bawa pulang!"

Leher panjangmu itu membuatku berdiri tegak
meneropong kota dari ketinggian. Aku melihat
kaum penggila emas penggila suasa memberi
nama-nama asing untuk setiap gundukan tanah
pasir terungguk, serta batu-batu terserak. Kaum
dengan kegemaran memandang air tergenang.
Mereka berhimpun dimana ada air tergenang
merencanakan siasat bercinta paling gila sambil
mengudap goreng pisang raja. Segala padamu
adalah takdir dari kota ini, Sarinah. Kota dengan
sepasang patung bengkuang gadang terjepit
kerampang ditegakkan di gerbang kedatangan
dan gerbang kepergian. "Kulit dalam bajuku
mengerut, uda, kutang baru dengan lingkaran
logam pelancar aliran darah dan pengencang
kulit dijual murah di kedai sebelah."

2015


Syeh Batu

Dari langkat ke Suliki, dari Lahat hingga Senggigi
ia kuak batu ke dalaman kubangan babi
ia cukil batu sampai ke pangkal sungai mati
ia korek batu hingga lubang-lubang di tebing tinggi.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun
sampai ditemukan getah kelenjar buah-buah gajah, sulur
ganggang hitam dan akar lumut biru, daging limau sirah
hingga bulu kuduk sulaiman mengeras diperam mineral
bumi, maka ia percaya hidup dan mati tak lebih dari
menggali dan mengimani batu, batu, dan batu!

Dari Sungai Dareh ke Nareh, dari Gunung Omeh hingga Taeh
dalam duduk dalam berdiri ia mulai mendaras sebuah kitab
tafsir geologi setebal lima senti. Ia membuka dan menutup
kitabnya dengan mengutip pangkal pikiran seorang juru tunjuk
batu dari Banyuwangi: "Kita tak pernah bisa pergi ke kedalaman
bumi kecuali hanya melalu tafsir."

Dari Mukomuko ke Sumedang, dari Lokulo hingga Enrekang
ia terus menggali batu dan menafsir bumi dengan cara sendiri.

2015



Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Kumpulan puisi terbarunya Dalam Lipatan Kain (Katabergerak, 2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 29 Maret 2015

0 Response to "Cukur Rambut - Tiar Percaya Orkes Itu - Sarinah - Syeh Batu"