Di Langit Selatpanjang - Sepenggal Foto - Berjanji ketika Subuh - Di Sela Jeda - Layar Kuning Perahuku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Di Langit Selatpanjang - Sepenggal Foto - Berjanji ketika Subuh - Di Sela Jeda - Layar Kuning Perahuku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:12 Rating: 4,5

Di Langit Selatpanjang - Sepenggal Foto - Berjanji ketika Subuh - Di Sela Jeda - Layar Kuning Perahuku

Di Langit Selatpanjang

di langit selatpanjang yang biru - aku menyulam sungai,
bakau, dan ruko tionghoa menjadi pernik untukmu.
ketahuilah akan harap yang kau impikan itu telah
menumpuk di dadaku.

di langit selatpanjang yang ungu - aku melipat becak,
gerobak, dan perahu. dan segala gerak dari kampung
juga jaring menjadi mutiara bagimu. anggaplah kau
cermat memilahnya menjadi harap melebihi kata
yang rancu.

di langit selatpanjang yang hitam - aku memeras
air matamu. gigil lampu, sejuk tembok, juga gerak
riak gelombang yang gamang adalah raut
wajahku.
kepadamu kuantarkan awal yang selaras dari
kuras tubuhku.

(selatpanjang, 2015)

Sepenggal Foto

dirimu dingin - seakan lampu tua
berdebu di taman itu. kau hendak
mengenang juga segala remuk biru.

dirimu batu - diam tak bergerak
meski ribut angin atau kesiurnya
membisiki, kita rapuh, ucapmu.

dirimu angin - menuding apa saja
termasuk diriku. kau seenaknya
menganggap dapat terbang,
padahal kau masih di situ.

(selatpanjang, 2015)

Berjanji ketika Subuh

mula-mula aku mengaminkan ucap doa.
menangkup ke muka. degup gigil di tubuh
menyergap tiba-tiba. ahai (ini sebuah kembara
antara aku dan dia) hampir lupa janji duha
pukul delapan itu ketika mentari sepenggal
kepala.

janji-janji berjibaku antara aku dan dia.
catatan demi catatan menggunung. nyaris
tak ada coretannya pada miris ingkarku
padanya. mungkin saja harap harus aku
penuhi, mungkin saja segera dipatuhi
ke segenap janji di awal subuh ini.

(selatpanjang, 2015)

Di Sela Jeda

aku tak membiarkan jeda merongrong
hak untukku berkata ‘’hai penguasa lalim,
akulah tuah dalam hikayat itu!’’ sebab tak
lain kesempatan ada memihakku.
lebih jauh menghentikan kita, tuan
tuk berkata-kata.

di sela jeda, di sela istirah ragu.
aku termangu. menjurus pada tuju itu
ke ungkap-ungkap melayu. bersepai
lalu menuju gelombang yang membuih.
aku akan teriak, ‘’aku tantang dirimu,
kuasamu!’’

(selatpanjang, 2015)

Layar Kuning Perahuku

aku ingin menaiki lancang kuning.
akan kujelmakan seluruh benua
menjadi satu. agar aku mampu dengan
tepat mencumbu hangat melaka, tumasik,
burneo dan pattani. berlanjut andalusia,
usmani, dan arabi.
aku ingin menjelmakan laut. larut patuh
ke pulauku. di sana, tebingtinggi menggeram
dan merbau tak hendak bersimbah darah
kembali. malu puak pada dunia kini.
sebab tak dapat mencapai kepada melayuku.

(selatpanjang, 2015)


Riki Utomi, alumnus FKIP UIR Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis puisi, cerpen, esai, naskah drama di sejumlah media massa, tinggal di Selatpanjang, Riau.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Riki Utomi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 22 Maret 2015


0 Response to "Di Langit Selatpanjang - Sepenggal Foto - Berjanji ketika Subuh - Di Sela Jeda - Layar Kuning Perahuku"