Eksekusi Mati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Eksekusi Mati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:31 Rating: 4,5

Eksekusi Mati

SUDAH lama ayah Sukarti meninggal lantaran sakit yang tak tersembuhkan. Bila mengenang nasib buruk ayahnya, Sukarti yang hanya tamatan SD itu selalu meneteskan air mata. Sebagaimana Darsini emaknya yang hanya buruh gendong, Sukarti yang kesehariannyabekerja sebagai tukang cuci itu hanya sanggup mengobatkan ayahnya ke puskesmas seminggu sekali.

Beban hidup Sukarti semakin berat sepeninggal ayahnya. Bila dijumlahkan, penghasilan Sukarti dan emaknya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Upah per bulannya hanya habis digunakan untuk membayar kontrakan rumah, tagihan listrik, membeli gas, berbelanja sayuran dan beras yang harganya kian membubung.

Sejak bayi, Sukarti hidup dalam kemelaratan. Karena kemelaratannya itu, mendiang ayahnya pernah meminta Darsini untuk menghanyutkan bayi merah Sukarti ke sungai. Karena cintanya pada bayi itu, Darsini tak terpengaruh oleh hasutan iblis yang bersarang di benak suaminya.

Karena tak pernah memiliki usang banyak, Sukarti gagal melanjutkan pendidikan SMP-nya. Sewaktu SD, Sukarti terpaksa membiayai sekolahnya sendiri dengan mengamen di perempatan jalan dari lepas siang hingga ambang senja. Bermodalkan tamborin bekas dan suara fals.

Lantaran Sukarti kecil dikaruniai wajah manis dan tubuhnya yang bersih, banyak pengguna jalan iba kepadanya. Hingga penghasilannya sebulan dalam mengamen bisa untuk melunasi SPP perbulannya, seragam sekolah dan olahraga, sepatu, buku pelajaran, serta alat tulis.

Sepeninggal ayahnya, Sukarti yang semakin terpuruk hidupnya itu berniat menyabung nasib di kota lain. Bukan bekerja di toko, pabrik, dan apalagi di perkantoran. Sukarti berniat menjadi pekerja seks komersial di lokalisasi liar dekat pantai. Lantaran dengan pekerjaan itu, Sukarti berpikir akan dapat mengumpulkan uang sejuta per malam. Namun niat itu diurungkan, sesudah Sukarti mendengar khotbah Abah Salim. "Melacurkan diri merupakan pekerjaan paling hina di dapapan Allah. Pada hari pengadilan; mulut, kedua payudara, dan vagina seorang pelacur akan ditusuk tombak api oleh malaikat."

Sejak mendengar khotbah Abah Salim, Sukarti berniat mencari nafkah dengan cara halal. Menekuni pekerjaan baru sebagai tukang cuci. Mendatangi rumah demi rumah di kawasan perumahan elite untuk menawarkan jasanya. Namun dari usaha jasanya itu hanya cukup memenuhi kebutuhan dapur. Karena, sebagian besar epnghuni perumahan elite itu sudah memiliki pembantu sendiri yang bekerja rangkap. Memasak, mengepel lantai, mencuci, dan menyeterika pakaian, serta terkadang sebagai kawan tidur tuannya saat sang istri bepergian.

***
SEPULANG dari rumah Tuan Dicco, wajah Sukarti berbunga-bunga. Lantaran lelaki berkulit bule yang baru sebulan menempati salah satu rumah berlantai tiga di perumahan elite itu memberikan upah 20 kali lipat pada Sukarti atas jasanya. Dengan membawa pulang uang 2 juta, Sukarti berbelanja ayam potong. Digoreng dan disantao bersama emaknya saat makan malam.

"Uang dari mana, kau dapat membeli ayam potong?" tanya Darsini pada Sukarti sambil mengunyah paha di ruang makan sederhana. "Bukan dari uang kharam kan, ndhuk?"

"Sejak kapan anakmu ini memperoleh uang dengan cara haram, Mak?" Sukarti meneguk segelas air outih sesudah menghabiskan makan malamnya. "Berkat kemurahan hati Tuan Dicco, kita dapat menikmati ayam goreng. Bahkan sebulan lagi kita akan dapat makan dengan lauk daging. Karena mulai besok pagi, Tuan Dicco akan mengangkatku sebagai karyawannya.  Mengantar barang-barang elektronik dengan gaji lumayan besar. Sepuluh juta perbulan."

"Syukurlah, Nduk. Tuhan mengabulkan doa kita!" wajah Darsini menyemburat jingga. "Oh, ya. Kalau boleh tahu siapakan Tuan Dicco itu?"

"Yang aku tahu, Tuan Dicco adalah orang terkaya yang belum lama tinggal di perumahan elite itu," jawab Sukarti dengan wajah berbunga-bunga. "Karenanya, Mak. Mulai besok pagi, Mak tak perlu bekerja lagi sebagai kuli gendong di pasar. Biarlah aku sendiri yang harus banting tulang."

Mendengar penuturan Sukarti, Darsini merasakan kebahagiaan mengalir bersama darah di sekujur tubuhnya. Sungguh! Pada amlam itu, Darsini sangat bangga atas perjuangan anaknya. Perjuangan panjang yang sebentar lagi akan membawa hasil gemilang.

***
PAGI yang cerah. Sukarti mengayunkan langkah kaki menuju rumah Tuan Dicco. Setiba di tujuan, Tuan Dicco memberikan seragam kerja pada Sukarti. Sesudah memasukkan kotak-kotak kardusyang diambil dari gudang bawah tanah rumah Tuan Dicco ke dalam mobil boks, Sukarti memasuki mobil itu. Duduk di jok depan di samping sopir. Perlahan-lahan, mobil itu meninggalkan halaman rumah Tuan Dicco. Merayap di jalan raya yang padat.

Baru saja melintasi batas kota, mobil boks yang ditumpangi Sukarti itu dihadang tiga mobil patroli. Sebagaimana Sukarti, sopir mobil boks itu tersentak. Manakala duabelas polisi yang keluar serempak dari ketiga mobil patroli itu menodongkan moncong senapan ke arah wajahnya.

"Keluar!" Salah seorang polisi bertubuh kekar memerintah Sukarti dan sopir untuk keluar dari mobil boks. "Angkan tangan!"

Sesudah mendapatkan kontaknya, polisi lainnya membukan pintu belakang mobil boks. Beserta enam polisi, polisi itu mengeluarkan seluruh kotak kardus dari mobil boks. Memeriksa isinya. Tak hanya sopir itu, Sukarti pun terkejut. Manakala mengetahui bahwa salah satu kotak kardus itu berisi sabu. Di mata Sukarti, langit cerah sinag itu sontak kelam. Langit serasa akan runtuh. Mneguburkannya hidup-hidup.

***
DI dalam sel penjara yang pengap, Sukarti tak dapat tidur nyeyak, tak dapat makan enak. Terlebih ketika pengadilan negara men-jatuhkan hukuman mati kepada Sukarti. Perempuan lugu yang terperosok ke dasar jurang petaka, demi membahagiakan Darsini. Emak tercintanya yang tak pernah merasakan kebahagiaan sepanang hidupnya.

Sehari menjelang eksekusi mati, Sukarti beserta sang sopir dipindahkan dari lapas pinggiran kota ke lapas Pulau Keramat. Di pulau itu, tak ada yang dimnta Sukarti pada pengadilan negara, selain bertemu dengan Darsini. Namun, permintaan itu tak dikabulkan. Lantaran Darsini telah bunuh diri, sesudah mengetahui lewat berita televisi bahwa Sukarti akan dieksekusi mati.

Hari eksekusi mati telah tiba. Beserta enam pesakitan lainnya, Sukarti yang kedua matanya tertutup kain hitam itu digiring oleh tujuh penembak jitu ke lapangan. Pada hitungan satu, jantung Sukarti berdegup kencang. Pada hitungan dua, darah dan napas Sukarti serasa mendadak berhenti mengalir. Pada hitungan tiga, Sukarti terkapar di tanah seusai suara tembakan serempak. Bagai cacing yang berkelojotan di bawah teriak matahari, Sukarti berjuang melawan maut.

Suasana senyam. Sukarti berakhir pasrah pada kuasa maut yang akan merenggut nyawanya. Betapa ajaib! Di balik kepasrahannya itu, Sukarti menangkap cahaya Tuhan yang memberikan jalan ke surga. Bersama nyawa Sukarti yang melesat dari lubang dada akibat tembusan timah panas, ketujuh penembak jitu itu terperangah. Manakala mereka menyaksikan seekor merpati putih terbang ke arah pusar langit. Merongga menyerupai pintu surga (k).

[] Cilacap, 06032015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 22 Maret 2015

0 Response to "Eksekusi Mati"