Guru Kehidupan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Guru Kehidupan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:36 Rating: 4,5

Guru Kehidupan

"Mutasyakirin awy. Allah yuwaffiq insya Allah," ucapan terima kasih sekaligus untaian doa itu keluar dari lisan seorang pria berusia senja yang kutemui di Distrik 7, tak jauh dari lokasi tempatku berkuliah di Kairo, Mesir.

Tubuh renta itu berada di ujung jalan. Bagaikan sebongkah batu yang lama tak disentuh. Diam seakan menanti malaikat maut datang. Sesekali membenarkan duduknya mengurangi rasa dingin.

Musim dingin telah datang. Bulan Desember tiba, suhunya kian merasuk ke tulang. Dua hari yang lalu hujan turun tanpa rasa malu. Menghantam bumi Kinanah yang berdebu.

Aku hanya tersenyum sambil berlalu. Hanya kata dalam hati yang bisa kujawab. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya. Aku tak begitu mengenal sosok itu, tetapi kehadirannya tak asing.

Kakek tua yang entah dengan alasan apa menggantungkan hidupnya dari uluran tangan orang lain. Setidaknya tiga tahun waktu yang cukup untuk mengenal. Walaupun kami tidak penah berkenalan. Entahlah apa hari itu bisa menjadi awal perkenalanku dengannya.

***
"Kapan kamu pulang ke Indonesia, Alifah? Kamu nggak kangen kumpul bareng kayak dulu?" Pertanyaan rutin yang selalu dilontarkan Zahra, sahabat karibku melalui BBM. Selalu dan selalu.

"Doain ada rezeki," jawabku sekenanya. Aku pun tak tahu harus menjawab apa. Kalau saja dia tahu aku begitu rindu canda tawa bersama. Menghabiskan malam dengan cerita khalayan. Merangkai masa depan lewat bintang malam. 
Mencoba mengukirkannya dalam bulan. Indah sekali masa itu.

Masih terngiang dalam ingatan. Aku masih mengingatnya seakan kejadian ini baru kualami. Hari itu, Sabtu, 29 Agustus 2009. Obrolan sederhana yang membawa kami menyelami dunia masing-masing. Cita-cita dan ma sa depan. Sungguh tema ini menjadi favorit. 

Terkadang kami lupa waktu hanya membicarakan cita-cita. Tapi, ingat, Kawan, hal besar berawal dari hal kecil. Langkah seribu dimulai dengan langkah pertama. Masa depan sukses berawal dari khayalan. Kalimat manjur yang selalu kami gunakan. Konyol memang, tapi kami telah membuktikan kehebatannya.


***
"Akhirnya sampai juga." Gumamku dalam hati.

Aku cepat-cepat turun dari bus merah. Bus umum yang setia menemani ke mana pun kita pergi. Hanya dengan 1 LE kita bisa menikmati perjalanan ke jalur protokol Kairo. Agaknya aku masih belum terbiasa menaiki mobil yang satu ini. Jam kerja membuat bus ini selalu dinanti siapa pun. 

Entah tuan berdasi, ibu-ibu dengan cadarnya, atau pemuda dengan penampilan nyentrik persis lampu lalu lintas. Atau juga mereka yang berpenampilan ala kadarnya membawa tas dengan tujuan kuliah. Salah satunya aku.

Aku berada di kerumunan manusia raksasa menurutku. Mereka tinggi besar tak ubahnya tiang listrik. Itulah bedanya ras Mongolia dan ras Nomad. Perbedaan yang sangat mencolok.

Aku masih belum sadar di mana aku berada sekarang. Aku menginjakkan kaki untuk pertama kali. Langsung saja aku sapu pandangan sekitar. Memperhatikan tiap jengkalnya. Mencoba merekam untuk disimpan dalam memori kepala. Tempat ini akan menjadi tempat yang paling sering aku kunjungi. Setidaknya empat tahun ke depan. Ya, itu kampusku. Universitas Al-Azhar 

***
"Kau tahu, Teman, hidup di negeri orang sangat susah?" Aku mulai cerita pagiku dengan Zahra. 

"Loh, bukannya enak? Bisa dapat pengalaman baru. Teman baru. Yang pasti bisa mengenyam ilmu yang banyak langsung dari sumbernya." Dia menjawab dengan santai.

"Itu benar banget, tapi ada satu hal yang membuat kami benar-benar dalam kondisi yang mengenaskan," kataku yang lantas membuat Zahra penasaran.

Aku melihat balasan pesan. Emosi terkejut yang banyak. Disusul dengan tulisan "Apa itu?"

"Bila nilai dolar sedang naik, kami di sini tercekik. Pasalnya rupiah yang dikonversikan ke pound, mata uang Mesir, nilainya berkurang. Tandanya jatah bulanan yang kami terima pun berkurang. Berarti kita harus lebih menghemat. Apa itu tidak mengerikan, Kawan?"

"Ooh begitu. Iya juga sih. Semakin naik nilai dolar, nilai rupiah menurun. Itu artinya, nilai rupiah semakin kecil dibanding mata uang lainnya," balas Zahra. 

"Tapi, itu bukan permasalahan kami yang di sini saja. Aku rasa mereka yang menempuh jenjang pendidikan di luar negeri mengalami hal yang sama."

"Selama Indonesia masih menumpuk koruptor dengan topeng pejabat, selama itu pula Indonesia seperti ini. Mudah mudahan Indonesia kembali menjadi rumah yang tenang saat aku menyapanya nanti," lanjutku.

"Semoga. Itu harapan yang mungkin susah tercapai, tapi kita harus selalu mendoakan yang terbaik buat Indonesia," ujar Zahra. 

"Amin. Aku pamit, ya, salam," tulisku. 

"Sebentar lagi masuk kelas. Aku belum siap ujian. Gimana dong, Putri?" Tanya Nisa, teman kelas.

Aku mencoba menanggapi kerisauannya tanpa memalingkan dari buku kesayangan selama dua hari yang lalu. "Sama, Nis. Aku juga belum siap ini. Materinya memang susah."

"Kita usaha dulu saja, deh."

"Yup. Daripada kita mengeluh."

Sebagai mahasiswa asing, tak jarang kami mengalami kesusahan. Ketika ujian datang, saat itulah kegalauan dimulai. Pernah tebersit ide jahil, bahasa Arab diajarkan di semua sekolah negeri maupun swasta di Indonesia. Lebih asyik sepertinya. Jangan mau kalahlah dengan bahasa Inggris yang banyak menjamur di mana-mana. Tapi, itu hanya pikiran liar. Sekali lagi pikiran liar. Batinku.

***
Hari itu pertama kali aku melihatnya. Aku langsung tertarik padanya. Lelaki tua dengan jalabiya yang rombeng di sana-sini. Aku yakin lelaki itu tak menggantinya, setidaknya untuk tiga hari yang lalu. Satu yang membuatku begitu tertarik.

Seorang tua renta duduk bersimpuh tanpa alas. Pakaian yang sudah tak layak untuk sekadar menutup tumpukan kardus. Badan yang kurus kering bak tanaman yang terkena musim gugur dengan sadisnya hanya menyisakan ranting yang ringkih. Perasaan itulah yang membuatku bersimpati.

Perawakan lelaki tua itu tak terlalu tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Termasuk kecil untuk perawakan Mesir. Dengan kulit yang termakan usia serta selembar kain putih yang mirip serban. Warna putih yang berubah kecokelatan itulah yang menandakan kain putih itu sudah lama menjadi teman setia di pinggir jalan. 

Namun, aku tidak pernah melihat mukanya. Muka itu praktis tertutup. Tak sekali pun aku melihat. Tidak untuk pertama kali aku bertemu. Tidak juga setelah tiga tahun mengenalnya. Ada apa gerangan?

Aku terus bertanya dalam hati. Pertanyaan itu terus saja muncul setiap aku lewat di depannya. Mungkinkah kakek itu malu dengan apa yang dilakukannya? Lantas mengapa dia melakukannya.

"Ah, sudahlah. Tak usah dipikirkan." Batinku.

***
Kakek itu masih berada di tempat yang sama. Seakan dia mempunyai tempat langganan di sebuah kafe padahal hanya pinggiran jalan dengan alas kardus dan sandaran tembok. Kakek tetap sama. Pakaian kumal dan kain putih kecokelatan. Pertanyaanku pun tetap sama. Mengapa wajah kakek itu tertutup. Pertanyaan yang belum terjawab. Rasa penasaranku semakin besar. 

Ingin rasanya bertanya langsung. Setiap ada niatan tersebut selalu kuurungkan. Aku takut menyinggung perasaannya. Menyinggung perasaan seseorang apalagi orang tua sama halnya menyinggung perasaan orang tuaku.

Aku mulai menebak kemungkinan alasan sang kakek. Pengemis bukan cita-cita ataupun tujuan hidup. Tapi, terkadang itu adalah pilihan. Saat tubuh tak kuat bekerja sedangkan keluarga tak peduli namun kehidupan tetap berjalan. 

Tak jarang aku mendengar anak yang tega menitipkan orang tuanya ke panti jompo dengan alasan sibuk. Itu kalau sang anak mempunyai uang. Bagaimana kalau tidak? Jangankan untuk menghidupi dua kepala, mencukupi kehidupan sendiri pun tak bisa. Mungkin kakek itu termasuk yang kedua. Apa pun alasannya aku tetap tertarik dengannya.

Aku belajar sesuatu dari sang kakek. Sejatinya kehidupan terlalu keras dan kejam. Tak ada yang tahu apa di hadapan. Hanya pada satu Zat kita semua berserah diri, Allah. Aku keluarkan uang dengan selipan doa untuk sang kakek.

"Semoga hari ini banyak manusia bertangan malaikat memberikan sedikit rezeki untuk sang kakek menyambung hidup."


*Mahasiswi Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Juara I Bilik Sastra Award RRI 2014


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putri Rezeki Rahayu
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Republika" 22 Maret 2015

0 Response to "Guru Kehidupan "