Hari Eksekusi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hari Eksekusi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:58 Rating: 4,5

Hari Eksekusi

DUA orang prajurit membawa saya ke sebuah tiang panjang di tengah lapangan luas di dalam loji. Tangan dan kaki saya diikat rantai besi yang saling terhubung dengan gelang-gelang dari baja. Kepala saya sebentar lagi akan ditutup kain hitam.

Tidak seorang pun dari pengikut saya yang terlibat dalam kerusuhan diperlakukan seperti ini. Rata-rata mereka mati ditembak atau digantung di mana-mana secara hina sesuai keadaan dalam perang. Sementara kematian saya akan dihormati dengan sebuah upacara: kata sambutan dari pejabat kompeni yang dihadiri dengan khidmat oleh beberapa penghulu dari daratan yang jauh-jauh datang ke muara untuk menyaksikan saya mati.

Saya masih bisa membayangkan bagaimana kami membakar beberapa bangunan loji. Api menyala dan nyalanya semakin berkobar ditiup angin kencang dari arah pantai. Setelah peristiwa itu, kami kemudian diburu selama berminggu-minggu; pasukan tambahan didatangkan dari ibu kota residensi. 

Dan kini, saya masih bisa menyaksikan hasil keberanian kami itu: bangunan-bangunan yang kami bakar itu tinggal puing-puing, sebagian lagi nyaris hanya menyisakan tanda hitam pada tanah. 

Saya tidak pernah menyesal jika akhirnya kami kalah. Saya juga tidak pernah menyesal jika akhirnya saya akan ditembak. Saya hanya menyayangkan tidak bisa menyaksikan bunga api yang keluar dari moncong senjata-senjata pengeksekusi yang kelak akan membunuh saya itu karena mata saya harus ditutup kain hitam.

Di sisi lain, sesungguhnya saya juga masih berharap bisa mati tidak dengan cara seperti yang akan terjadi sebentar lagi. Seandainya saya bisa menawarkan cara saya mati kepada mereka, saya lebih memilih mati dengan kepala dan badan terpisah.

Detik-detik saat kain hitam disorongkan ke kepala saya adalah saat-saat saya menyadari kalau saya betul-betul akan ditembak, tidak dipancung seperti saya inginkan. Pada detik-detik itu pula saya menyadari, ternyata saya tidak sedang sendirian di tanah lapang itu. 

Dua orang prajurit kompeni lainnya masuk ke lapangan yang sama sambil menggotong seorang laki-laki.

Saya melihat tubuh Ayah saya yang tua dan ringkih digotong. Kedua kaki dan tangannya dirantai seperti saya. Dan sebentar lagi tubuhnya tentu juga akan berlubang-lubang dihantam peluru. 

Ilustrasi karya Munzir Fadly
Ayah berjalan melewati saya, menuju ke tiang kayu yang barangkali juga disediakan untuknya. Sesaat Ayah melihat ke arah saya dan tersenyum. Saya membalas senyum tipis Ayah dan mersa kami akan baik-baik saja setelah ini. Kami akan menuju tempat yang lebih baik, dilahirkan kembali, dan menjadi orang-orang yang lebih terhormat di kemudian hari.

Tapi saya masih juga berharap bahwa saya (dan juga Ayah saya) akan mati dengan kepala terpenggal. Tidak mati ditembak. Dan yang tampak dari sisa tebasan di leher kami itu kelak adalah warna putih tulang-tulang rawan belaka, bukan lubang-lubang peluru yang menganga pada badan, yang mengucurkan darah.


ROMBONGAN pemain debus dari pantai timur datang ke dusun kami nun jauh di masa lalu. Mereka memainkan sebuah pertunjukan yang sama sekali baru bagi dusun kami.

Dalam pertunjukan itu saya melihat salah seorang pemain terluka. Lukanya besar ternganga. Darah dari luka itu berceceran ke tanah. Namun seketika luka itu direkatkan, seolah tidak pernah ada, begitu si pemimpin rombongan mengusapnya. 

Pemimpin rombongan itu mereka sebut kulafah--nama yang asing bagi kami. Sebagaimana nama permainan itu sendiri yang juga asing; debus.

Rombongan dari timur itu mementaskan pertunjukan debus pada sebuah acara panen raya jauh sebelum orang-orang kulit putih itu datang dan membakar habis dusun kami. Ketika itu kehidupan dusun masih makmur dan sentosa. Hasil panen melimpah ruah. Dan perdagangan ke timur ramai dilakukan para lelaki dusun.

Acara panen raya itu dimeriahkan acara-acara kesenian; kampung kami mengundang kelompok pemain debus, yang di kota pesisir timur begitu terkenal. Rombongan itu datang membawa tambur-tambur mereka yang besar; gong, dan rabab yang berimpit-impitan di atas kuda-kuda beban yang kepayahan.

Saya menyaksikan mereka dengan mata kanak-kanak yang takjub. Ayah saya bercerita di hari lain setelah seluruh rombongan pemain debus itu meninggalkan dusun kami, bahwa ia pernah merasakan kemeriahan di kehidupan di kota-kota di pesisir timur.

Itu dulu, ketika Ayah saya mengumpulkan lelaki-lelaki dusun yang kuat-kuat dan pemberani, membentuk karavan dan melakukan perdagangan ke pantai timur. Oleh sebab itulah barangkali ketika rombongan pemain debus itu datang ke dusun kami, saya masih ingat, Ayah tampak begitu cepat akrab dengan mereka, serta menyediakan rumah gadang kaum kami sebagai tempat menginap rombongan itu. 

Penduduk laki-laki menyembelih seekor kerbau. Perempuan-perempuan mencari cempedak hutan dan menggulainya. Mereka menghidupkan tungku di tengah kampung dan mulai memasak untuk menjamu para tamu.

Ayah saya, kepala kampung, tentu akan mengerti: panen raya yang berlimpah, hasil hutan yang bisa dijual mahal ke pelabuhan di timur, hidup mudah dan tercukupi--semua itu adalah hasil dari kerja keras. Tetapi mereka juga percaya bahwa roh-roh peneruka terdahulu telah membuka kampung untuk mereka kini, membantu menebas hutan dan membuka belukar raya. Roh-roh itu telah turut serta membisiki mereka dengan nujum-nujum untuk membangun sejarah mereka sendiri lewat berbagai pengetahuan bercocok tanam, menata kampung, membuat peralatan bertani dan menangkap ikan, membaca sudut bintang dan besar bulan sebagai pertanda untuk memulai musim tanam.

Untuk itulah para peneruka terdahulu itu harus dikirimi doa, dihormati dan disenangkan di alam atas sana. Itulah kenapa kepala kerbau yang telah disembelih itu ditempatkan di tempat yang tinggi, ditaburi bunga-bunga tujuh rupa yang harus, diasapi kemenyan selama acara panen raya berlangsung. Semua itu penghormatan bagi nenek moyang kami.

Pada suatu hari di panen raya itu, saya ikut mendengarkan Ayah berbicara tentang pertunjukan debus itu dengan si kulafah. Ingatan kanak-kanak saya tak bisa mencerna begitu banyak persoalan yang mereka bicarakan ketika itu. Tetapi puluhan tahun kemudian saya bisa menyimpulkan dengan ragu-ragu bahwa apa yang mereka bicarakan merupakan ajaran baru yang dibawa rombongan pemain debus itu dari pantai timur sana. Ajaran baru, agama baru.

"Karena yang merasakan sakit hanyalah roh. Karena senjata-senjata itu hanya melukai tubuh, tidak melukai roh. Roh telah menyatu dengan pemiliknya," kata kepala rombongan itu kepada Ayah.


SAYA masih mengingat banyak hal dari masa kanak-kanak saya. Tapi kini, di usia yang sependek ini, saya telah mengalami berbagai perubahan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya dalam hidup saya.

Saya ikut dalam rombongan peneruka ketika usia saya masih kanak-kanak dan merasakan bagaimana dusun kami lahir dan berkembang; saya bertemu rombongan pemain debus yang membawa ajaran baru. Ketika dewasa, saya bersua orang-orang kulit putih di pantai barat dan ajaran yang mereka bawa, ajaran yang berbeda dengan ajaran yang diperkenalkan pemain-pemain debus dari pantai timur itu; saya begitu takjub pada kapal-kapal mereka yang besar dengan meriam yang berjejer pada lambungnya. Dan pada akhirnya saya memimpin ratusan pemuda dusun yang kuat-kuat dan pemberani untuk berperang dengan orang-orang berkulit putih itu.

Saya hidup dalam kaum yang menghormati keluarga kami sebagai keturunan cenayang yang menyeberangi hutan-hutan untuk mencari hidup dalam kedamaian dan kemakmuran bagi semua orang. Kakek saya, Ayah saya, lalu kini saya: kami mewarisi kepandaian menghubungkan antara alam nyata dan alam roh. Agama yang dibawa pemain itu tidak bisa melenyapkan kepercayaan nenek moyang kami. Tapi sebentar lagi semua itu akan berakhir di tangan tentara-tentara berkulit putih. Saya merasa terhormat sekaligus sakit. Saya merasa bangga pada diri saya sendiri sekaligus terluka dan putus asa. 

Saya tak pernah membayangkan akan mati bersama Ayah di hadapan bedil prajurit-prajurit itu.

Tetapi saya memang pernah bermimpi. Saya melihat tubuh saya digotong serdadu-serdadu dalam mimpi itu. Kepala saya remuk. Sekujur tubuh saya tak dikenali. Dan tambur-tambur dimainkan. Akordeon-akordeon dimainkan. Sukacita dinyanyikan. Dan Ayah menangis di tengah suka-cita itu. 

Saya mengingat lagi mimpi itu tepat ketika tubuh saya benar-benar digotong paksa prajurit-prajurit itu ke tiang eksekusi. Saya merasa mimpi saya telah menjadi nyata. Kedua tangan saya telah diikat dengan rantai. Kini, kedua kaki saya juga telah dipasung balok hitam yang berat. Hujan turun lebat dan saya tak lagi melihat matahari. 

Saya digotong lewat koridor-koridor loji yang panjang. Pemimpin pasukan yang dengan gagah dan berani menyerbu loji ini tiga minggu yang lalu, kini harus mati. Saya masih mendengar deburan ombak mengempas dinding kapal, pantai, atau pangkal pelabuhan di antara lesap angin badai. Saya masih menyaksikan diri saya tengah berteriak-teriak memekik di tengah pasukan kami. Di atas kuda, saya pasti tampak begitu gagah. Tetapi kini....

Saya masih membayangkan masa ketika Ayah membawa saya melihat rombongan pemain debus ketika umur saya masih tujuh tahun. Bayangan itu seketika lenyap ketika letusan senjata terdengar beruntun bagai bunyi tambur yang ditabuh berulang-ulang oleh seorang pemain debus. Telinga saya berdenging, seperti ada jutaan lebah yang terbang mengerubungi saya. Hingga letusan terdengar dari moncong senapan pengeksekusi itu, saya hanya bisa mengingat keinginan masa kanak-kanak saya: ketika saya terpesona namun sekaligus cemas pada kekuatan gaib para pemain debus pada pesta panen raya itu, yang mampu menghapus sepenuhnya luka-luka pada raga mereka.

Sampai detik ini, ketika saya ditembak, saya sesungguhnya masih berharap akan bisa mengeluarkan peluru-peluru itu dari tubuh saya dan menghapus nganga luka saya secara ajaib dengan sapuan telapak tangan.


Padang, 2014-02-27

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Deddy Arsya
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar "Koran Tempo" 22 Maret 2015


0 Response to "Hari Eksekusi"