Kampung Kayu Kembang - Kampung Batu Tua - Secagkir Kopi Ibu - Perjalanan Pulang - Senyum Nabi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kampung Kayu Kembang - Kampung Batu Tua - Secagkir Kopi Ibu - Perjalanan Pulang - Senyum Nabi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:18 Rating: 4,5

Kampung Kayu Kembang - Kampung Batu Tua - Secagkir Kopi Ibu - Perjalanan Pulang - Senyum Nabi

Kampung Kayu Kembang

Ada banyak yang berubah
Dulu sarang burung begitu ramai bergelantungan
Ada perkutut, jalak, bahkan kenari yangberbunyi
sambil menari
Pohon rindang di bawah rumah kayu
Tempat duduk menghirup angin, menjemput fajar
Menunggu asar
Tempat merekam siul kepodang dan teriakan jalak hitam
Sumenep, 2015

Kampung Batu Tua

Di ujung perempatan desa, kau menetas dari batu tua
Merangkak, menjalani setapak tubuhmu lurus gerhana
Matamu menatap tegak meski kakimu bisu tanpa gerak
Sambil menghitung senyum yang jatuh satu demi satu

Memaksa kau berdiri mematar langit yang kian mengarat
Air mata berjatuhan bersama gerhana yang pelan-pelan 
berguguran
Sumenep, 2015

Secangkir Kopi Ibu

Sebelum asap mengepul
Kuminum secangkir rindu dari hitam kopimu
Gula waktu yang larut dalam dekap hangatmu
Menenangkan ombak rindu yang menggebu

Seperti gelisah yang cair pada tanganmu hidungku mengalir
Serupa percikan air berlinang pada rinduku yang mengering
Kini aku kembali merakit perahu
Kembali berlayar di laut senyummu

Perjalanan Pulang

Dari pagi yang membawaku pada petang
Dario kota-kota, dingin dan panas menelan rindu
pada kampungku
Bus kota melaju dari kota rantauku menjauh,
Malang-Surabaya, dari neon-neon yang menyala
Barangkali semua adalah lampu kota sebagai simbol
Indonesia Merdeka

Surabaya, di jalanan tangan-tangan tengadah
Pengemis mengaduhkan hidupnya pada si kaya
Ada yang mengamen bermodal mental
Mengumpulkan recehan untuk mengunyah sebutir makanan

Aku berjalan melintas lautan
Lalu kuucap salam di laut Bangkalan
Sebelum aku bertukar pandang, menukar senyum
menyapa Pameksana.
Kotaku tak jauh lagi, sampailah aku kembali
Pada langit yang memerah, desaku pecah ditengahnya
Wangi lanhang pohon siwalan segala rinduku lepas dari
kasang waktu
yang mendalam.

Senyum Ibu

Kita saling terlahir suci
Sebelum mandi lumpur dan air keruh
Entah yang mana akan kau  selami
Lumpur atau air jernih serupa senyum para Nabi


Nikris Riviansyah, lahir di Batang-Batang   Sumenep Madura, mahasiswa Unitri Malang.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nikris Riviansyah
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Mingggu Pagi" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Kampung Kayu Kembang - Kampung Batu Tua - Secagkir Kopi Ibu - Perjalanan Pulang - Senyum Nabi"