Kehormatan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kehormatan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 21:04 Rating: 4,5

Kehormatan

SEBUAH perayaan sedang berlangsung di depan Matsumoto. Ada meja panjang berbendera. Ada pohon cemara berlampu. Orang-orang berpakaian serbabaru. Jemari Matsumoto bergetar. “Entah apa yang kulakukan di sini,” gumamnya. Seorang muda melangkah menuju podium kecil, melewati orang-orang yang mengangguk hormat kepadanya. Di podium, pemuda itu sejenak diam sebelum meraih mikrofon. Ia menatap kerumunan di depannya. “Terima kasih telah menghadiri acara ayah kami. Beliau wafat dua hari lalu. Tentu kami sedih, tetapi juga bangga. Bangga mengenai segala sesuatu dalam hidupnya dan bahagia dengan apa yang ia capai. Sebagai veteran perang – dengan semua tragedinya – ia berhasil bertahan.” Bibir Matsumoto terkatup. Ya. Entah apa yang dilakukannya di tempat itu. 

PULAU yang dikuasai Jepang itu belum ditandai dalam peta, tapi di depannya terbentang Staring Bay yang oleh Jepang sedang dipersiapkan menjadi Prime Naval Base1 untuk Misi Operasi Selatan menaklukkan Australia. 

Dua malam sebelumnya, langit di atas pulau mendadak terang oleh cahaya merah. Suar menerangi angkasa, lalu tanah bergetar, seperti dentuman petir yang menghantam tanah. Mortir-mortir—entah berapa banyaknya – meledak silih berganti, menyasar barak, menghancurkan apa saja, dan mungkin telah membunuh separuh prajurit Jepang di tempat itu. 

Yoshiro Matsumoto bertahan. Sepuluh menit sebelum serangan itu datang, entah bagaimana, Matsumoto memutuskan berjalan ke arah hutan untuk menenangkan diri. Gelombang kejut dari mortir tiba-tiba menjatuhkannya ke tanah dan membuatnya pingsan.

"Celah Gelap Dari Cinta" karya Zulfa Nasrulloh
Namun, sebuah ledakan lain – kelak ia ketahui sebagai ranjau darat – segera menyadarkannya. Pikirannya berputar sebentar, lalu ia berusaha fokus pada dirinya, menatap ke arah barak dan menyadari bahwa induk pasukannya telah diserang. Serangan yang mungkin membuat rekan-rekannya terbunuh atau tertangkap karena sekelilingnya kini mendadak hening. Sejenak, tak terdengar tembakan dan ledakan mortir. 

Matsumoto merendahkan tubuh. Dalam diam, sebagai seorang prajurit terlatih, ia merangkak dalam kegelapan. Di tepian sebuah lubang bekas ledakan, tampak sesosok tubuh yang tak bisa ia kenali karena gelap yang nyaris pekat. Matsumoto mendekat. Ia sadar, posisinya kini sangat berbahaya.

Di depannya itu, ada tubuh seorang pejuang kemerdekaan. Dalam jarak sedekat itu, Matsumoto dapat melihat kaki kanan pria itu hancur. Pria itu mengeluarkan erangan lirih. Matsumoto kaget. Tak ia sangka, pria itu masih hidup.  

Pekatnya malam kembali diterangi cahaya kemerah-merahan. Hidung Matsumoto membaui asap suar di udara. Ia menyentuh pistolnya. Perutnya melilit. Ia dorong tubuhnya agar lebih dekat dengan pria itu. Diamatinya wajah pria itu, lalu ia angkat barel kosong berwarna abu-abu untuk menopang pelipis pria itu. Udara basah dan kering angin laut seperti bercampur malam itu.

Perlahan Matsumoto bangkit. Tangannya bergetar. Ia rapatkan bibir mencoba mengusir gigil. Ia tarik napas dalam-dalam. Lubang hidungnya melebar. Matsumoto berusaha fokus. 

Di kejauhan, terdengar teriakan kawan-kawabnnya, melawan serangan dengan semangat jibaku2. Pria di depannya ini adalah musuh. Matsumoto teringat sumpah sebagai prajurit kekaisaran Jepang yang akan membela nama kaisar dengan segala kehormatan.

Matsumoto mengunci rahang, mengarahkan laras pistolnya ke pelipis pria itu. Perlahan, jemarinya bergerak meremas picu. Namun, pria itu mengerang dan menyentuh lengannya. Keraguan tiba-tiba menyergap Matsumoto. 

Erangan pria itu akrab di telinganya. Seperti erangan kawan-kawannya yang roboh dalam pertempuran, Matsumoto merendahkan kepala hingga cukup dekat untuk melihat ke dalam mata pria itu dan menemukan kehormatan sedalam telaga. Itu membuat Matsumoto teringat kembali kepada sumpahnya, kehormatan sendiri. Susah payah ia redam rasa sakit di hati dan ketegangan yang membuatnya cemas. Tangan Matsumoto gemetar, tapi ia merasa lebih siap untuk kembali menarik picu.

Pria itu tiba-tiba berguling dan telentang, membuat Matsumoto refleks mengarahkan pistol. Perlahan, mata pria itu membuka, seperti berusaha membisikkan sesuatu. Bibirnya hanya bergerak-gerak, tanpa suara. Keringat Matsumoto jatuh dan memercik ke dahi pria itu. Pria itu berkedip, membuat Matsumoto segera menyadari apa keinginan pria itu.

Air. Ya, pria itu menginginkan air. Matsumoto menoleh ke belakang, mencari-cari, lalu kembali melihat pria di depannya. Tatapan mereka bertemu. Saat itu, sumpah kembali terngiang, mengingatkan Matsumoto agar segera mengarahkan laras pistol ke kepala pria itu. Demi kehormatannya dan kehormatan rekan-rekannya, Matsumoto hanya harus menarik pelatuk pistol. Namun, di mata pria itu, Matsumoto seperti sedang melihat dirinya sendiri. 

**
MATSUMOTO menggunakan daun kelapa untuk menampung air dan meneteskannya ke mulut pria itu. Ia merobek baju, menggunakannya sebagai perban, lalu membebat kaki putus pria di depannya sekencang mungkin. Dengan sisa kain di lengannya, Matsumoto menutupi tulang yang menyembul. Matsumoto berulang-ulang meneteskan air ke mulut musuhnya.

“Aku tak menyangka kalian akan menyerang,” Matsumoto menatap pria di depannya.

“Namaku Syamsul. Terima kasih memberiku air dan menutup lukaku.”

“Tenanglah. Jangan bergerak dulu. Lukamu cukup banyak mengeluarkan darah,” Matsumoto bicara dengan bahasa Melayu yang terbata-bata. “Aku Matsumoto.”

Syamsul mengangguk.

“Aku tak seberuntung dirimu, Syamsul.” Matsumoto menyarungkan pistol. Tangannya kembali terulur, meneteskan air ke mulut Syamsul.

Tiba-tiba cahaya merah berpendar di sekeliling mereka. Sebuah kilatan membutakan Matsumoto, disusul teriakan melewati kepalanya, membentaknya, memerintahkan Matsumoto agar tak bergerak. Darah Matsumoto mengalir cepat, membuat mentalnya seperti runtuh. Saat itu, ia dengar banyak suara senjata dikokang bersamaan.

Matsumoto tiba-tiba dikepung sepasukan pejuang kemerdekaan. 

Sebuah perintah terdengar menyuruhnya berdiri. Ada tangan yang merenggut daun kelapa berisi air dari tangannya. Matsumoto patuh. Ia angkat dua tangannya ke atas kepala. Sobekan bajunya yang tersisa, menggantung pada strip di pinggangnya.

Seseorang pejuang segera memeriksa Syamsul yang terluka di dekat Matsumoto. Mereka seperti panik. Mereka menunjuk-nunjuk sisa sobekan baju Matsumoto di tubuh Syamsul, terikat erat di kaki rekan mereka.

Bagi Matsumoto, entah apa yang menghentikannya membunuh pria itu. Alasan kini tak penting lagi sebab apa pun yang telah menghentikannya menembak kepala pria itu sekaligus telah melucuti kehormatannya.

Tidak! Matsumoto tak bisa menerima kehinaan ini. Dalam sekali sentakan, Matsumoto berlutut dan menyorongkan dahinya ke laras senapan seorang pejuang. “Utsu!3 teriak Matsumoto. Ia menangis.
Pejuang itu diam saja. Ia hanya menatap Matsumoto.

Ke mana kehormatan semua lelaki di depannya ini? Matsumoto mendorong dahinya lebih keras ke laras senjata. “Utsu!” teriaknya sekali lagi.

Namun, tak seorang pun pejuang yang memenuhi permintaannya.

Bagi prajurit kekaisaran seperti dirinya, gugur atau berhasil membunuh musuh di medan perang adalah kehormatan tertinggi. Di mata Matsumoto, para pejuang di depannya itu tak memahami arti sebuah kehormatan, yang tidak bisa mereka berikan pada Matsumoto dengan menembaknya saat itu juga.

“Utsu! Utsu!” Matsumoto kesetanan.

**
MATSUMOTO seperti menemukan dirinya di sebuah jalan di tengah ibu kota negaranya. Di sekelilingnya, bertebaran wajah kesakitan. Wajah-wajah yang kalah. Wajah-wajah penuh derita karena kehilangan kehormatan.

Untuk mereka, Matsumoto menangis. Kehormatan sudah pergi darinya. Rasa malu membuat Matsumoto menolak pulang. Seusai kaisar mengumumkan kekalahan negaranya, ia memilih tinggal di antara orang-orang yang dianggapnya tak memahami kehormatan.

Di antara orang-orang yang tak kunjung memahaminya. Matsumoto membangun kehidupan. Ia menikah, bekerja dengan rajin, dan menabung untuk hari tua. Namun, Parkinson datang dengan terburu-buru, membuat sarafnya melemah. Matsumoto tak pernah bertemu Syamsul sejak pria itu dibawa pergi oleh rekan-rekannya.

Ketika seorang anak Syamsul menemukan jejaknya dan memintanya menghadiri sebuah acara, Matsumoto masih merasa bahwa Syamsul merenggut kehormatan yang seharusnya bisa ia dapatkan. Pria yang ia selamatkan dalam perang. Pria yang seharusnya ia bunuh 69 tahun silam demi sebuah kehormatan. 

“Ini keinginan ayahku selama puluhan tahun.” Pemuda itu sudah berdiri di depan Matsumoto. “Ayah sangat ingin bertemu orang yang ia hormati dan menyampaikan terima kasih kepadanya. Orang yang telah menunjukkan kehormatan dengan sangat berani. Orang yang berjuang di sisi ayahku dalam perang.” Nada suara pemuda itu tiba-tiba meninggi saat ia dan semua keluarganya membungkukkan tubuh ke arah Matsumoto.

“Kami berterima kasih kepada Anda, Tuan Yoshiro Matsumoto. Anda menyelamatkan hidup ayah kami, membuat kami setiap saat mensyukurinya. Karena Anda kami bisa berkumpul hingga hari terakhirnya. Tuan, terimalah hormat setinggi-tingginya dari kami.”

Matsumoto gamang. Di tengah orang-orang yang selama ini ia anggap telah merempas kehormatannya – untuk pertama kali sejak 69 tahun lalu – semangat menjalari tubuhnya. Mereka membungkuk hormat kepadanya, bertepuk tangan untuknya. Matsumoto menemukan kehormatan yang sesungguhnya tak pernah pergi darinya. ***

Molenvliet, Oktober 2014


Catatan:
1. Pangkalan Angkatan Laut Utama
2. Berani mati
3. Tembak

*) Ilham Q Moehiddin, banyak menulis cerpen. Buku “Perempuan-perempuan Liguria” (2015) adalah kumpulan cerpen terbarunya. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ilham Q. Moehiddin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" 22 Maret 2015


0 Response to "Kehormatan "