Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:39 Rating: 4,5

Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit

DALAM perjalanan ke suatu tempat, aku sering dibuat takjub justru oleh tempat-tempat yang dilewati, kadang melebihi ketakjubanku pada tempat yang dituju. Barangkali, bisik batinku, tempat bernama kota tujuan telah akrab dikenal, dan kau bakal punya cukup waktu untuk tinggal hingga bosan. Sementara tempat berupa kota kecil yang dilewati hanya lintas sekejap, dari balik jendela bus yang melaju atau kereta yang berlari. Kau tak bisa menyentuhnya, dan kalaupun berhenti, tak bisa lama-lama, mungkin sekian menit di stasiun, seperempat jam di rumah makan atau sebatang rokok saja di warung kopi

Ketika aroma tanahnya mulai membubung ke pangkal hidung dan hiruk-pikuknya mulai diresapi, saat itu lonceng keberangkatan kereta berdentang. Atau kernet yang cekatan mencongkel ban telah selesai dan berkata sambil melap tangan, "Berangkat, berangkat!"

Sekali dua, dalam perjalanan ke kota tujuan, aku mengendarai kendaraan sendiri, namun toh kota-kota yang dilewati tetap saja sebagai kota yang dilewati. Tak lebih. Kota tujuan selalu lebih pasti, sabar menanti. Sebaliknya, membuat kita bergegas, serasa ada terus memanggil. Akan tetapi, ajaibnya, kerap kali kota-kota kecil yang dilewati meninggalkan kesan mendalam, semacam riap penasaran yang membuat takluk. 
Ilustrasi karya Bagus

Setiap kali melewati Caruban, dalam bus Jogja-Surabaya atau Denpasar, aku selalu tergeragap melihat kepala seseorang yang beruban tiba-tiba muncul di tepi jalan, dekat kios rokok, lalu menghilang ke ujung gang. Sebenarnya tak menghilang, sebab pikiranku membuntut, bahkan memintasnya. Ya, kulihat kepala yang disangga badan gempal itu masuk ke sebuah rumah, menyalakan rokok yang baru ia beli, duduk menghadap jendela, di samping komputer yag masih nyala. Aku bayangkan dirinya seperti sosok ayah yang menangis, duduk sendirian dalam gelap, dalam sebuah cerita yang pernah ia tulis.

Di ruangan sebelah, seorang bocah terlelap, dan itu saat yang baik buatnya menggarap apa yang berkelebat di kepala, ke dalam tulisan yang saban minggu ia kirim ke koran-koran. Ia menulis sambil mengasuh anaknya yang terkecil, sedari istrinya yang seorang guru pergi mengajar dan anak-anaknya yang lain berangkat ke sekolah. Kadang tetangganya lancang membuyarkan lamunannya. Seseorang iseng bermain senapan angin, membidik ke arah dapur; seorang ibu suka ribut dengan monyet piaraannya yang ia beri nama Chairil. Betapa!

Lahir  di Soreang, di barat Pulau Jawa, ia kini bergulat dengan hidupnya yang ia sebut "ganjil", di kota kecil Jawa Timur. Aku tak punya bayangan keganjilan lain dari hidupnya, kecuali jika mengasuh setiap anak yang lahir karena istri bekerja di luar rumah, dapat disebut ganjil. Atau caranya bertahan hidup dengan menulis dan menulis, di tengah harga-harga yang mencekik. Tak pernah bosan ia; begitu setia. Bisa jadi sikapnya yang rada keras kepala untuk tidak memerbitkan buku. Bertahun-tahun ia hanya punya Legiun Asing yang sesekali masih dapat dijumpai di lapak buku loak, hal yang mungkin membuatnya merasa tak perlu menerbitkan buku lagi, meski ada saja penerbit meminta karyanya. Dan ia menolak dingin, ah, sebenarnya sinis; namun sembari itu ia tak henti menulis bahkan untuk terbitan kecil komunitas. Tidakkah di tengah pesta-pora dunia terbitan, yang mengelak bisa disebut ganjil?

Orang itu, Anda tahu, Beni Setia, nama yang senantiasa bangkit tiap kali aku melewati Caruban, entah mengapa. Adakah segala sesuatu perlu alasan dan penjelasan? Aku tak punya alasan untuk itu, dan tak bakal sanggup menjelaskannya. Biarlah nama itu bangkit meriap dari jendela bus, seolah rambut yang beruban menjinakkan waktu dengan langkah gontai ke dalam gang. Sekali waktu ia memutar wajah membelakangi kios rokok tepi jalan. Saat itulah mata kami bersirobok tanpa ucapan. Segalanya berlalu dalam keabadian.

***
DARI Caruban, sehabis Madiun, aku pernah menyusur lebih ke pedalaman: Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan. Karena menemani istriku meneliti batik, kedatanganku tak cukup sekali. Jika naik bus dari Jogja tempat kami tinggal, kami turun di Madiun, berganti bus untuk melanjutkan perjalanan ke selatan. Aku akan tergeragap melewati beberapa kota kecil yang merentangkan deja vu: Balong, Slaung, Tegalombo atau Sawo. Jika kami berangkat lewat jalur Klaten dan Gunungkidul, di sekitar Wonogiri aku pun tersirap saat memasuki Jatisrono, Wuryantoro, Baturetno, Purwantoro, Badegan atau Sumoroto.

Itu kota-kota kecil pelintasan di tengah hamparan sawah, di lembah Pegunungan Sewu; hijau dan biru menyatu jadi latar kota, mengaduk perasaanku entah dengan warna apa. Sebab seiring dengan itu nama-nama serentak bangkit, meriapkan ingatanku pada sebuah buku bertuliskan warna merah, di atas latar kusam abu-abu; Madiun 1948. [1]

Anehnya, ketika di Madiun, tiada nama yang terlalu menyengat di pikiran. Satu dua nama teringat, tapi tergenang di kepala, mampet. Sama halnya ketika di Jogja, sesekali saja aku mengingat Soedirman, namun di jalur alternatif Pegunungan Sewu, namanya bangkit beribu, mengharuku. Ya, kota-kota di jalur itu tak hanya menyuguhkan peristiwa longmars tentara merah ke garis demarkasi pada masa agresi pertama, juga jalur gerilya Jenderal Soedirman pada agresi Belanda yang kedua. Tanpa disadari, garis longmars tentara merah dan peta rute gerilya membentuk irisan di beberapa kota, seolah gerhana di semesta sejarah kita.

Bagaimanapun, Madiun dan Jogja identik dengan tujuan utama. Sebagaimana sosok Soedirman, muara segala cerita tentang gerilya. Tandunya menjelma Gunung Wilis dan Lawu di kepalaku; kerucut yang menaung kisah-kisah abadi di buku sejarah. Meski tak ada jaminan anak-anak sekolah terus ingat, toh namanya erat melekat di dinding kelas, plang jalan, rumah sakit dan universitas. Sebaliknya nama-nama (yang terlanjur dianggap) kecil disebut serba sedikit, semacam kota lintasan yang jauh dari tujuan. Tapi, siapa nyana, lantaran itu ia menimbulkan rasa penasaran, tatapan sekilas yang kekal seumur badan.

Itulah kiranya, di kota kecil yang kulewati, nama-nama bangkit bersama peristiwa tak terduga. Di Balong, menjelma tengah hari, di antara deretan pohon mahoni, kulihat bayang-bayang seorang laki-laki tambun menyeberang jalan. Ia merapat, sehingga bayangannya menyatu dengan bayang pohon. Beberapa pemuda dari balik pohon lain mengikuti jejaknya. Dalam gema panjang udara lengang, seolah kudengar mereka bercakap dalam nada tegang. Puncaknya, si tambun melepas tembakan dan seseorng terkapar di seberang. Orang-orang lari berkerumun. Saat itulah si tambun keluar, tangkas membajak sebuah dokar yang lewat.

Ia acungkan pistolnya ke udara, lalu bersama dokar yang dipacu kencang, ia bergerak menuju Sumoroto. Para pemuda yang perhatiannya tadi sempat teralih, segera sadar dan bergegas mengejar naik sepeda. Di Sumanding, dokar berpapasan dengan sebuah mobil yang ternyata berisi para perwira. Maka terjadilah tembak-menembak antara perwira di mobil melawan seorang tak kenal menyerah di atas dokar yang terbuka. Lalu, kuda dokar rebah terjungkal! Ringkik panjangnya terasa bergema di telingaku hingga sekarang. Menyusul laki-laki tambun jatuh berdebum. Sambil memegang dadanya yang sebelah kiri, ia regang kata penghabisan, "Aku Musso, lebih baik mati daripada menyerah. Tapi aku tetap merah putih!"

Kemudian senyap. Hanya mesin bus terdengar pelan merayap. Kaca depannya seolah layar dari mana aku melihat gambar laki-laki tambun terbaring di atas tikar pandan. Tangan gempalnya terlipat ke dada yang buncah oleh darah. O, Musso, jauh dari Moskow, di kota kecil Sumoroto engkau akhirnya terbaring; bersama darah yang tak kunjung mengering!

Waktu itu, 31 Oktober 1948: 11.00...

Tiba-tiba bus yang kutumpangi ngerem mendadak. Ada rombongan pengantin di atas rangkaian kereta kelinci, muncul dari tikungan. Aku tersentak. Dari plang sebuah sekolah kubaca nama tempat kami berhenti: Slaung. Ajaib, hatiku juga terasa suwung. Teringat dulu di Slaung ada juga yang berpapasan di jalan. Sesama kawan, tapi awal mereka berpencar. Alimin bermobil dari selatan, dari utara tiba rombongan Musso beserta Amir. Mereka menepi di sebuah warung berunding. Di Slaung mereka bermalam, untuk akhirnya berpisah karena kelebut subuh, Alimin dan rombongannya sudah berangkat menuju Solo, lewat Baturetno.

Kubayangkan, Musso dan Amir yang kelelahan bangun agak siang, lalu melanjutkan perjalanan. Sesampai di Tegalombo mereka pun berpisah; Musso ke selatan, Amir ke utara. Ketika Pacitan diserbu tentara republik, susah-payah Musso berbalik ke arah Ponorogo. Dan berakhir di Sumoroto, daerah warok dan bekas Kerajaan Bantarangin. Senyap, dingin. 

***
DI Baturetno aku pernah berhenti minum kopi (waktu itu kami membawa kendaraan sendiri), di sebuah warung dekat sawah. Banyak juga orang lain ikut minum, para petani yang mau pulang atau baru datang hendak mengatur air. Mereka bercerita dalam tegur sapa, dan tertawa tanpa prasangka. Cahaya petang menyepuh padi yang berombak, dari mana aku menampak bayang-bayang deretan punggung bergegas di pematang.

Apakah rombongan Alimin yang hendak meminta perlindungan kepada para petani yang sejinak burung-burung tekukur ini?

"Bagaimana kabar Yatno sekarang, Pak De?" seseorang bertanya pada lelaki setengah baya yang duduk mencangking gelas kopinya.

"Masih di Jogja. Tampaknya bakal betah," jawabnya sambil tersenyum padaku. Itu cukup membuyarkan lamunanku; bak menghalau burung tekukur ke padang tutur.

"Jual bakso apa kacamata, Pak De?"

"Kacamata. Ia buka optik di Bantul, di depannya ia tulisi besar-besar 'Optik Tengah Sawah Terkenal Murah'!"

Orang-orang tertawa.

"Memang anak petani, ke mana-mana tak lupa sawah," gerutu seseorang di sudut.

"Lha, iya, wong optiknya benar-benar di tengah sawah," jawab orang yang disapa "Pak De" itu dengan mimik lucu.

"Itulah, Pak De, anak petani mau bikin apa-apa mana bisa jauh dari sawah..."

"Sek, sek, opo hubungane sawah karo rego murah?" laki-laki di sudut tadi garuk kepala.

"Saya tanya cucuk, juga ndak tau. Yatno, anakku, hanya mesem-mesem. Tapi ada benarnya dia. Yang berhubungan karo sawah pasti murah toh? Upah murah, gabah murah..."

"Beras mahal, Pak De!" sambar laki-laki bertopi. 

"Lha, iya, pupuk kan juga mahal..."

Terdengar lagi tawa menyambut.

Aku tahu, di Jogja, perantau Baturetno banyak berjualan bakso dan kacamata. Kini dengan perantara kacamata, lamunanku kembali memintas bayangan punggung di pematang. Ketika salah seorang menoleh ke belakang, sesosok wajah menyengatku. Wajah laki-laki kurus berjenggot tipis: Wikana! Dia yang berdiri rapat dengan Bung Karno-Hatta dalam kumandang proklamasi di langit Jakarta, berselang tiga tahun ia kepalkan tangan di Madiun, untuk akhirnya jadi pelarian di bukit kapur. Di Baturetno ia berpisah dengan Alimin, kemudian di rumah seorang penduduk, ia duduk di depan cermin. Ia copot gigi palsunya, ia cukur jenggotnya (apakah juga mengganti kecamatanya?). Lalu ia kembali ke ibu kota lewat "ppintu belakang": Baturetno-Karangmojo.

Penyamaran yang sempurna! Bahkan aku pun nyaris tak mengenalnya, susah-payah kukembalikan ingatan padanya. Bayangan itu hablur sudah. Sebelum pamit kepada para petani yang jiwanya semurni lumpur sawah, kutandaskan kopiku dalam rasa berbeda: O, dunia, bukan sekadar panggung sandiwara!

***
TIAP melewati hutan jati Ngawi, mataku akan setengah terpejam membayangkan adegan silam yang bukan sandiwara. Penduduk desa terheran-heran melihat ribuan orang tiba-tiba muncul, tak hanya tentara dan penduduk sipil. juga para perempuan dan anak-anak yang digendong di pinggang. Jalan penuh sesak oleh manusia. [2]

Kita tahu, setelah meninggalkan Tegalombo, Amir dan rombongan terus ke utara. Meski berhasil melintasi jalur kereta dan jalan raya utama di hutan jati antara Solo dan Madiun, dekat Walikukun, Ngawi, rombongan Amir tak kalah susah-payah menyelamatkan diri. Mereka menyetop kereta api barang hanya untuk menyeberang seolah permisi hendak lewat. Lalu melintasi jalan raya, membuat kendaraan berhenti dari kedua arah.

Entah megapa pada bagian ini aku teringat cerita waktu di kampung tentang kisah tikus menyeberang jalan. Konon mereka di bawah asuhan Khaidir dan Nabi Sulaiman. Waktu itu, di hulu sungai kampungku ada proyek irigasi yang menggempur bukit dan tebing batu. Maka sosok yang mengerti bahasa binatang dan kasih pada semua makhuk itu menggiring mereka ke tempat aman. Tapi, juru selamat manakah gerangan yang menggiring rombongan Amir? Sebuah insiden malah terjadi di sini. Massa menangkap penumpang sebuah mobil. Mobil mereka dibakar, dan mereka dibunuh. Seorang di antaranya Gubernur Soerjo, veteran Perang Surabaya, yang baru menghadiri pembukaan PON di Solo. 

Di Kedunggalar kini berdiri Monumen Gubernur Soerjo, tangan kiri menekan tongkat tangan kanan menunjuk terangkat. Ia dikawal dua patung  polisi; ke mana yang lain pergi? Ke mana sopirnya yang tertembak lebih dulu? Di kepalaku berkelabat kalimat pembuka novel Kundera tentang lupa dan gelak tawa: Klement Gottwald, ketua komunis Ceko, menghilangkan wajah mantan rekan politiknya pada foto mereka di balkon. Tapi topi yang dia pinjam dari si rekan nangkring abadi di kepala Klement. 

***
DENGAN mata berkaca dan hati yang takzim, engkau tentu pernah membaca kisah-kisah longmars negeri ini. Satu di antaranya perjalanan panjang pasukan Siliwangi dari Bandung ke Jogjakarta. Sedih dan terlunta. Tak hanya fisik, juga mental-psikologis akibat Perjanjian Renville yang hanya menyisakan republik tak lebih sekepal tangan.Namun kisah longmars pasukan merah dari selatan ke utara Jawa tiada kalah menyengsarakan. Dan ironisnya, pasukan Siliwangilah yang mengejar mereka!

Ketika lewat Wirosari, kota kecil dekat Purwodadi, darahku bergolak bagai Bledug Kuwu, membayangkan rombongan berjalan dari Randublatung dan Cepu. Ya, setelah insiden di Kedunggalar, dalam nestapa tak berampun, masih ada seribu satu anggota keluarga  dan delapan ratus pasukan Amir yang bersisa. Mereka terus berjalan. Tak kalah ironis, mereka menuju garis demarkasi di seberang Kali Lusi, garis yang notabene ditoreh sendiri oleh Amir di atas geladak kapal Renville!

Melewati Sukolilo dari Pati, aku menghirup aroma durian di sepanjang jalan kota kecil perbukitan itu. Kubayangkan rombongan pelarian timbul-tenggelam di balik tikungan, memanjang, naik-turun, memikul beban. Dari Wirosari ke Sukolilo, garis demarkasi tak jauh lagi, namun segalanya tetap tak mudah. Bahkan makin dekat, semakin membayang kekhawatiran. Maut dan kemungkinan ditangkap. Maka mereka mendahului menangkap. Lebih dari 20 orang dibawa ke kebun durian, lalu dilepas, dititipi surat ajakan menghentikan perang saudara. Adakah kata terlambat untuk menghentikan pembunuhan sesama bangsa?

Waktu, ternyata punya limitnya sendiri. Sesekali mungkin bisa dijinakkan. Ingatlah langkah gontai pengarang kita di gang Caruban, bersama uban manis di kepala. Tapi lebih sering liar seperti telegraf mengimbau-imbau Musso dari Moskow. Ibarat itulah surat-surat kusam-kelabu di saku tawanan Sukolilo; surat cinta yang datang terlambat, saat revolusi tiba di ujungnya. Hanya ada dua pilihan: mati atau takluk. Membayangkannya saja hatiku remuk. Bersama kalimat yang kubaca dalam buku abu-abu, berkelebat bayangan anjing herder Maladi Yusuf yang berlari melolong-lolong seolah minta tolong kepada langit sehening batu. 

Juga di rawa-rawa Godang. Tiga orang kakap ditangkap. Djokosoejono, Maroeto Daroesman, dan Sardjono. Seolah tak percaya pada langit yang terbuka atau kisah anjing masuk surga, mereka hanya yakin ikhtiar total di bumi. Maka mereka mengaku tak akan menyeberang ke wilayah status quo, kecuali ingin bergabung dengan pasukan Soediarto dan Soejato yang ternyata telah dihancurkan.

Tapi Amir Syarifuddin, mantan perdana menteri yang tertangkap dalam pucat disentri, bukankah masih memegang Injil, kitab langit yang dijanjikan? Sesungguhnya pada-Mu, tak ada yang mustahil. Namun, jika itu lelucon, aku dan Sampeyan, toh masih bisa melihat di peron, bayang-bayang Amir membaca Shakespeare, di kereta langsir, membawanya ke Jogja.

***
AMIR, dalam perjalanan Medan-Sibolga, seharusnya namamu bangkit lebih dahulu, saat di jendela bus kulihat gereja dan masjid bersilih. Ya, kubayangkan seorang pemuda Batak dengan dua kitab suci, masih terus gelisah mencari. Tapi semua sia-sia, maksudku, sosokmu sia-sia jadi utuh di kepalaku. Sadarlah aku bahwa nama-nama tak bisa dibangkitkan. Nama-nama bangkit sendiri bersama peristiwa, perasaan tanpa alasan atau deja vu

Begitulah, di Perbaungan akhirnya bangkit sebuah nama, masih beraroma revolusi, meski tak lama. Dan ia juga bernama Amir. Amir Hamzah. Penyair yang mencintai tanah airnya seperti cintanya kepada ibunda yang memanggil pulang. Gubahan syahdu syair-syair Amir, seperti nasibnya yang berakhir di ujung sangkur para pembakar istana. 

Lewat di Prapat, terbayang Syahrir turun ke air, di tepian danau. Air mengelucak saat ia membasuh muka, Membuat bayang-bayang Syahrir cepat jadi pudar, seolah teraduk ujung dayung Banda Neira. Kueja nama Soekarno dan Agus Salim. Tapi bersama bus yang melaju wajah mereka bersalin jadi deretan cemara gunung. Mungkin saatnya aku melupakan nama-nama, memejamkan mata dalam lelah. Namun begitu masuk Balige, aneh, nama seorang opung mengepungku tiba-tiba: Sitor --Sitor Situmorang!

Siapakah yang meminta sebuah kota dilahirkan? Siapakah yang membuat sebuah nama berkecambah di udara lengang?

Bus berhenti dekat pasar dengan deretan los beratap rumah adat, serupa huta di kaki bukit. Suasananya hiruk sedikit. Lengking pluit tukang parkir. Deru mesin dan decit rem. Irama tortor di kaki lima. Suara-suara kental keras berpilin dalam percakapan akrab. Ah, Balige, kota yang bergerak di antara dua dunia. Dunia dulu dan kini. Ritus dan liturgi. Bioskop, kantor praja dan sekolah berdiri, namun dunia lama tetap meninggi: pasar yang penuh tawar-menawar, upacara demi upacara dirayakan. Kutemukan gerak laju kota itu dalam sosok Situmorang. Dia yang tercengang akan dunia baru, sambil mengenang silau tepian danau di mana ibu diam menunggu. [3]

Kecuali Balige, di nama Sitor kota lain pun bangkit. Kota pertama, Sibolga, yang ia sebut "Kota S", pernah dinyatakannya sebagai:...kota yang tumbuh tak berguna.[4] Kuduga bukan karena tak berguna--sebagaimana diakuinya kemudian--tapi kota itu terlalu kosmopolit bagi jiwanya yang sedang mencari pijakan. Ia berpisah tanpa ikatan, kecuali mimpi samudera dan benua jauh.

Tarutung di lembah Silindung memberinya cinta-kasih tertuntung. Percintaan remaja yang nelangsa oleh ciuman pertama, gugup tertuda. Maklum, selain bioskop, listrik, air ledeng, kantor residen dan tangsi garmisun, di Tarutung ada gereja dan wajah suci bapak pendeta. Dan Balige, kuduga tempat di mana Sitor mula-mula jadi "manusia perbatasan".[5]

O, ternyata bukan hanya kota-kota yang membangkitkan nama-nama, nama-nama pun membangkitkan kota-kota!

Ya, menyebut Sitor tak hanya tiga kota di jantung Sumatera jadi hidup, meski kini perlahan redup: Balige, Sibolga, Tarutung. Juga tiga ibu kota yang kian renta dan sayup: Jogja, Bukittinggi, Jakarta. Bahkan di namanya kota-kota dunia lintas menderap: Singapura, Paris, Amsterdam, Islamabad. Lalu Apeldoorn, dalam dekapan alzheimer...

Kawan, bagiku tak ada yang lebih mendebarkan selain meunggu giliran pijat, tak ada paling menakutkan selain menunggu gigi dicabut, tak ada yang lebih membuat gugup kecuali naik bus dan kita bersiap untuk berteriak, "Stop, Pak Sopir!" Itu semua membuat kencing melimpah di kantong kemih, dan dada serasa mau pecah. Jika ketiganya sudah terlaksana --badan dipijat, gigi dicabut, bus berhenti--segalanya terasa lega, dan kita segera lupa.

Namun, dalam perjalanan ke kota tujuan, debar pada kota-kota lintasan membuatku tak mudah lupa. Terlebih jika ia bersekutu dengan nama-nama. Tak mesti nama dan peristiwa besar, tapi entah mengapa dan bagaimana sanggup membuat kepalaku teleng. Apalagi yang akan kukatakan tentang ini? Kurasa aku harus berhenti. Mumpung bus menunggu penumpang, aku tak perlu berteriak minta turun. Biarlah sesekali kota lintasan kujelajahi, bersama nama-nama yang mungkin sudah dilupakan. Hingga ia pun bernama tujuan, lebih pasti, menanti. Sabar, setia selalu.[6] ***

Balige- Grobogan-Jogja, 2013-2015

RAUDAL TANJUNG BANUA, sastrawan kelahiran Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dia kini mengelola Komunitas Rumah Lebah Jogjakarta, Penerbit Akar Indonesia, dan Jurnal Cerpen Indonesia.


Catatan:
1. Madiun 1948: PKI Bergerak oleh Harry A. Poeze (KITLV-YPI, 2011)
2. ibid, hal. 264. Berbagai adegan dan peristiwa yang berhubungan dengan longmars Amir, dkk. bersumber dan diceritakan ulang dari buku ini.
3. Lihat Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45. Penyair Danau Toba (SH, 1981).
4. Lihat Salju di Paris (Gramedia, 1994)
5. Istilah Subagio Sastrowardoyo dalam Pengarang Indonesia sebagai Manusia Perbatasan (BP, 1989). Dalam kasus ini, menurutnya, Sitor penyair paling parah tingkat keterasingannya.
6. Amir Hamzah, "Padamu Jua".


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raudal Tanjung Banua
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit"