Lelaki Yang Kuantar Kawin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Lelaki Yang Kuantar Kawin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:27 Rating: 4,5

Lelaki Yang Kuantar Kawin

MOBIL Land Cruiser itu saya tatap sampai menghilang di belokan. Tetangga saya pada keluar rumah. Pasti mereka ingin tahu, siiapa yang bertamu ke rumah saya pakai mobil sebagus itu. Tapi, meski mereka tahu mobilnya bagus, pasti tidak ada yang menyangka harganya hampir dua miliar rupiah. Sebelum mereka bertanya, saya cepat masuk ke rumah. Istri saya sudah menunggu di balik pintu.   "Ada apa?" tanyanya. "Kenapa dia menangis?"      Pak Sutardi tamu yang barusan pulang memang menangis. Menangis di hadapan saya. Tangannya menutup wajah, badannya berguncang ngagukguk seperti yang sangat sakit. Sakit hati. "Ditanya kok malah melamun?" Saya tersenyum. Ingatan saya pun belum sepenuhnya kumpul.   "Dia menangis... ingin miskin," kata saya. Istri saya melohok.

DULU, belasan tahun yang lalu, saya pernah dekat dengan Pak Sutardi. Dia adalah tetangga waktu saya mengontrak sebuah kamar di Rancaekek. Waktu itu saya belum punya anak, baru menikah beberapa bulan. Pak Sutardi sudah mempunyai dua orang anak. Anak pertamanya sudah kelas lima SD. Kami sama-sama kerja di pabrik tekstil.

Ketika terjadi PHK, saya dan Pak Sutardi termasuk yang dikasih surat pemutusan hubungan kerja. Uang pesangon yang tidak seberapa saya belikan motor bekas, tua, dan saya jadi sales kripik singkong. Pak Sutardi lama tidak bekerja. Sering saya mendapatkan dia dan keluarganya makan nasi raskin dan kerupuk. Kadang hanya makan singkong rebus.

"Payung Kehidupan" karya Dede Saepuloh
Layaknya tetangga di kontrakan murah, hampir setengah makanan yang saya dapatkan saya bagikan buat tetangga yang kesusahan. Tapi, itu semua tidak menolong keluarga Pak Sutardi. Istri dan anaknya mpulang ke orangtuanya. Mertuanya mendesak Pak Sutardi untuk segera menceraikan anaknya.   Setiap bertemu, Pak Sutardi sendiri terasa cepat tua, lusuh, kusut.

Suatu malam, dia memanggil saya ke kamar kontrakannya. "Bapak mau kawin lagi. Tolong antar Bapak," katanya. "Dan juga, Bapak tidak punya untuk ongkos. Tolong pinjamkan seratus atau dua ratus ribu rupiah."

Saya tersenyum. Tentu saya gembira. Karena keinginan menikah sama dengan semangat, harapan, yang mulai tumbuh. Tapi, saya tidak melihat sinar hidup itu di wajah Pak Sutardi.

**
SAMPAI ke sebuah kampung -- yang entah kampung apa namanya-- matahari sudah sampai di atas kepala. Lalu naik ojek sampai ke tepi hutan. Saya tidak bertanya apa pun. Saya pikir, Pak Sutardi menikah dengan orang kampung. Tapi, begitu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak, saya tidak bisa lagi menyembunyikan keheranan.

"Kita ke mana, Pak?" tanya saya.

Pak Sutardi tiba-tiba menggenggam tangan saya. "Mohon, Bapak mohon jangan protes apa pun," katanya dengan suara bergetar. "Antar saja. Bapak janji akan melakukannya dengan sesegera mungkin."

Saya mulai berpikir yang tidak-tidak. "Istigfar, Pak, istigfar!"seru saya. "Kita pulang sekarang!"

"Mohon, Bapak mohon jangan halangi. Antar saja." Pak Sutardi mau menangis. "Dan jangan berdoa apa pun. Jangan istigfar."

Jalan setapak itu semakin melebar. Tidak jauh dari sana, sampai ke sebuah gerbang kota. Jalan berhotmik begitu bersih. Bangunan-bangunan megah, arsitektur cantik, dan orang-orang yang memandang. Dua penjaga gerbang menyambut kami, mengantar ke sebuah gedung yang lebih megah dibandingkan dengan bangunan megah lainnya.

Seorang gadis --yang cantiknya susah saya ceritakan--menyambut kami. Senyumnya seindah bunga mawar merah yang sedang mekar. Sampai dengan hari ini, saya masih ragu memercayai bahwa pengalaman itu nyata saya alami. Saya tidak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya. Ijab kabul perkawinan itu terjadi begitu cepat. Sesuatu yang selalu menempel di ingatan saya adalah ucapan ayah gadis cantik itu.

"Sekarang kalian adalah suami istri. Istri wajib membantu apa keinginan suami. Suami sudah bukan lagi manusia murni. Karena itu, jangan lagi kamu memakai perasaan manusia," kata ayah gadis itu.

Berjalan pulang kesadaran saya mulai berkumpul. Saya beristigfar. Tiba-tiba, jalan yang lebar dan bangunan-bangunan megah itu berubah menjadi sebuah gua yang gelap dan tingginya hanya stengah badan. Tanah yang dipijak terasa basah. Saya berjalan sambil membungkuk. Ketika mendekati mulut gua, begitu banyak ular yang membuat saya memegangi tangan Pak Sutardi begitu keras.

"Ada apa? Kenapa?" tanya Pak Sutardi heran.

**

ITULAH terakhir kali saya bertemu dengan Pak Sutardi karena kemudian dia pindah kontrakan. Kabarnya, dia membuka warung lalu menjadi agen banyak barang dagangan. Ada kabar juga menjadi pemborong bangunan. Ada yang cerita juga Pak Sutardi membuka kolam pemancingan, pabrik roti, travel, dan vila-vila yang disewakan. Istri dan anaknya kembali. Ada kabar juga Pak Sutardi menikahi beberapa wanita muda.

Dalam belasan tahun tidak bertemu, Pak Sutardi sudah menjadi pengusaha yang kekayaannya sulit saya bayangkan. Saya sendiri bisa melepaskan diri dari kontrakan pengap. Saya membeli rumah di perumahan pinggiran kota yang tidak laku. Perumahan yang tidak selesai dibangun, berdindin batako, beratap asbes, yang saya beli seharga 20 juta rupiah.

Suatu sore, sehabis hujan, tamu bermobil Land Cruise itu datang. Tentu saya takjub karena orang sekaya Pak Sutardi masih mengingat saya. Tapi, saya tidak menyangka kalau kemudian dia menangis. "Berbulan-bulan Bapak sudah tidak bisa tidur tenang lagi, tidak bisa makan enak lagi," katanya mengeluh. Saya perhatikan pakaiannya yang bagus, rambutnya yang kelimis, wajahnya yang bersih, tapi semuanya tidak bisa menyembunyikan gelisah hatinya. "Bapak ingin miskin lagi."

Lalu Pak Sutardi menangis. Kedua tangan menutup wajahnya, badannya berguncang-guncang. "Uang yang bapak buang selalu kembali," katanya pelan. "Waktu pemilihan kepala desa, Bapak keluarkan miliaran rupiah untuk memilih calon yang sangat tidak diunggulkan. Eh, dia malah menang. Uang Bapak malah semakin banyak. Itu semua karena si Centringmanik itu, istri yang dulu Bapak kawini itu. Bapak ingin menceraikannya."

Sampai Pak Sutardi pulang, saya masih belum mengerti seratus persen apa yang terjadi. Lalu terlupakan lagi karena kesibukan saya berjualan keripik singkong. Suatu hari, saya melihat di televisi, Pak Sutardi ditangkap polisi karena menyuap untuk mendapatkan proyek pemerintah. Suatu malam, empat orang polisi mengetuk pintu rumah saya.

"Bapak kami tangkap, ini surat perintahnya," kata polisi itu.

Tentu saja saya terkejut. Saya takut. Tidak mengerti. Tapi, yang membuat saya tenang, saya merasa tidak pernah mengerjakan kesalahan apa pun. Istri dan anak saya menangis. Ternyata saya dibawa ke sel tempat Pak Sutardi dipenjara.

"Maaf, Bapak yang melakukan semuanya." kata Pak Sutardi saat memeluk saya. Wajahnya sangat lusuh, jauh dari bayangan saya tentang orang kaya yang dipenjara. "Kekayaan Bapak akan habis. Uang yang dipakai kemewahan di penjara ini uang yang masih Bapak pegang. Tapi, Bapak tidak peduli lagi. Bapak ingin bertobat. Tolong Bapak. Bagaimana caranya Bapak bertobat?"

Kemewahan di penjara yang dimaksudnya, selain membawa saya dengan cara tadi, juga sel yang nyaman, jauh dari segala sesuatu yang bisa dipakai bersembunyi ular.

"Wanita ular siluman itu pasti tidak mau terima Bapak ceraikan," katanya. "Tolong Bapak, bimbing Bapak untuk bertobat." Pak Sutardi menangis lagi.

"Kalau begitu, besok saya datang lagi dengan ustaz Wahyu," kata saya.

Ustaz Wahyu adalah guru mengaji, imam di masjid kecil di perumahan saya. Waktu saya ceritakan kisah Pak Sutardi, dia langsung mengajak saya ke penjara. Pagi itu, saya dan ustaz Wahyu datang ke penjara. Tapi, betapa terkejut saya ketika sipir memberi tahu, "Pak Sutardi meninggal subuh tadi. Semalam, kakinya menginjak peniti bros. Darah keluar tidak berhenti dari luka kecil itu sampai dia kehabisan darah."

Saya terpana waktu melihat bros berpeniti kecil yang terinjak Pak Sutardi. Bros sederhana yang di atas penitinya ada ukiran ular dari perak. ***

Pamulihan, 27-28 Januari 2015

*) Yus R Ismail, menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Beberapa cerpen dan carponnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yus R Ismail
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Lelaki Yang Kuantar Kawin"