Memujamu Hyang Maha Kosong - Pelangi - Aku Mengajari Anakku Membaca | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Memujamu Hyang Maha Kosong - Pelangi - Aku Mengajari Anakku Membaca Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:24 Rating: 4,5

Memujamu Hyang Maha Kosong - Pelangi - Aku Mengajari Anakku Membaca

Memujamu Hyang Maha Kosong

karena pernah Kau pinang aku
maka jadilah aku percaya padaMu

aku mencintaiMu dengan kewajaran percintaan tanpa tubuh
sebab percintaan
adalah tanda
                        di mana tubuh
cuma pelengkap alasan
mengakhiri kenikmatan percintaan
jadi kuyakini tanpa tubuh, tubuhku menjadi sedikit lebih sempurna
tapi ingatkan aku
ke manakah aku harus mencarimu
jika Kau tak ada di tempat di mana Kau janjikan
saat aku tak lagi punya tubuh
atau katakanlah tubuhku tinggal abu laut


Pelangi

namaku pelangi
bintang pelindungku serios
bntang junjungan para serigala
yang lolongannya menghentak kaki kuda para perjaka
                                      sebelum sempat menumpahkan hasrat
di perjamuan anggur dan roti basi

namaku pelangi
seorang lelaki menjadikan aku anaknya
karena darah lelaki
butuh tanda kehidupan dan harus diteruskan
ia cuma sempat memberi tanda di keningku
agar aku tak pernah terpinang olehnya
setelah aku tumbuh tanpa ia kenali

namaku pelangi
aku tak pernah peduli pada warna tubuhku
sebab tarianku jauh lebih sempurna
daripada warna kelahiranku
dan menari adalah takdirku
selebihnya
aku cuma melakukannya
agar aku tampak seperti anak perempuan lain yang berhak hidup

namaku pelangi dan aku tengah menulis tentang diriku


Aku Mengajari Anakku Membaca

membaca adalah membuat setiap garis bahkan noktah menjadi hidup
menjadi memiliki arah, arti dan kekuatan

dan ketika setiap garis bahkan setiap noktah menjadi hidup
setiap kita telah sepakat untuk tetap dijajahnya

setiap garis bahkan setiap noktah punya peluang
membakar lidah oleh vibrasi geligi
dan langit-langit akan semakin retak
oleh hentakan desis yang sebenarnya cuma selaput tipis
setipis selaput genderan telinga
yang masih saja setia mendengarkan pembacaan

setiap garis bahkan setiap noktah
menuntut perayaan kelahiran yang sempurna
sorai tiupan lilin dan nyanyian bintang jatuh
berharap tetap hidup dalam manusia waswas yang mengaku pandai

setiap garis bahkan setiap noktah
mengajari kepatuhan tanpa syarat
sebab bahkan hukum kebenaran pun harus dibaca



IAO Suwati Sideman tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Puisinya-bersama karya Sindu Putra-terbit dalam buku Rumah Ilalang (2003)



Rujukan:
[1] Disalin dari karya IAO Suwati Sideman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 22 Maret 2015

0 Response to "Memujamu Hyang Maha Kosong - Pelangi - Aku Mengajari Anakku Membaca"