Misteri Pengkolan Jalan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Misteri Pengkolan Jalan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:33 Rating: 4,5

Misteri Pengkolan Jalan

WAKTU mengaji sudah selesai. Biasanya setelah mengaji, dapat cerita dari pak istadz. Kali ini ceritanya sedikit menakutkan. Pak ustaz bercerita tentang hantu pengkolan jalan yang suka menggangu anak-anak nakal. Yang ada di situ, yanghabis mengaji, melotot semua, dan memegang dada masing-masing karenda merinding. Panjang lebar dan menarik pak ustaz menyelesaikan butir-butir cerita yang menyeramkan itu. Tandanya mengaji sudah diakhiri.

"Cukup dulu mengaji hari ini, kita lanjut besok pagi," ucap pak ustaz sambil merapikan kopiahnya.

Desi mengayuh kembali sepedanya lebih cepat karena tidak ada teman lagi. Sampai rumah Desi langsung berganti pakaian. Berlari ke ruang makan. Sambil duduk di kursi, Desi menikmati santapan makan malamnya. Kepala Desi masih terngiang-ngiang cerita pak ustaz tadi.

"Bu aku mau tanya sesuatu sama Ibu," tanya Desi sambil melompat ke sofa yang ada di depan televisi.

"Mau tanya apa Nak, kan biasanya kamu habis ngaji langsung belajar, udah sana belajar dulu."

Desi memaksa ibunya bercerita. Yang ia ceritakan sama dengan yang diceritakan pak ustaz, di pengkolan jalan ada hantu seorang ibu yang tidak bisa berjalan. Hantu itu sering mengganggu orang-orang yang tertawa terbahak-bahak ketika melewati pengkolan itu. Hantu itu menganggap, setiap orang yang tertawa menertawakannya karena ia tidak bisa berjalan. Banyak orang terjatuh di sana akibat dijahili hantu itu.

***
Kamis sore jadwal desi mengaji. seperti biasa Desi berangkat bersama Laila dan Tika. Di rumah pak ustaz, sambil menunggu, Desi bertanya pada temannya.

"kalian percaya nggak tentang hantu pengkolan itu?" tanya Desi pelan.

"Enggak.. aku nggak percaya," kata Laila.

Pak ustaz tiba-tiba datang dengan membawa kopiah yang belum dipakai. Desi, Laial, dan Tika mengakhiri pembicaraan. Sekarang tidak hanya Desi yang penasaran, Laila dan Tika juga.

Mengaji dimulai. Tiba-tiba cuaca terlihat mendung dan petir menyambar-nyambar. Hujan pun turun dengan lebatnya. Lampu rumah pak ustaz pun mati, akhirnya mereka mengaji dengan potongan lilin yang dinyalakannya  di atas meja. Mengaji sudah selesai, lampu juga belum menyala. Pak ustaz melarang mereka pulang.

"Jangan pulang dulu, ya."

"tapi pak, ini kan sudah malam," ujar Tika.

"Kalau kalian pulang, jalan sangat gelap Nak, kalian nggak takut?"

Mereka menunduk mematuhi perkataan pak ustaz. Kurang lebih 45 menit mereka menunggu lampu menyala. Sampai saat itu lampu tidak menyala. Orang tua mereka juga tidak menjemput. Desi meminta izin pada pak ustaz. Akhirnya pak ustaz pun mengizinkan mereka dengan pesan untukhati-hati di jalan.

Mereka mengayuh sepeda dengan pelan-pelan karena jalanan terlihat sangat gelap sekali hanya ada bintang yang menyinari. Bisik-bisik Tika mengajak bicara Laila.

"La, gimana nih, bentar lagi kan kita melewati pengkolan itu?"

"Aku nggak tahu, entar kita ngebut aja." Raut muka yang gelisah dan ketakutan.

"Udah tenang aja nggak ada apa-apa kok," sambung Desi.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dengan tenang, serasa tidak akan terjadi apa-apa pada mereka. Sampai di pengkolan jalan yang sangat seram dan ada sebuah pohon besar yang sangat membuat mereka merinding. Tiba-tiba mereka mendengar suara aneh yang belum pernah mereka dengar.

"Hiiiiiiiii...."

Mereka saling bertatap muka dan wajah mereka terlihat merah. Mereka langsung menambah kecepatan mengayuh pedal sepedanya. Tidak terasa karena mereka ngebut sudah sampailah pada perpishaan seperti biasanya.

"Udah dulu des."

Desi bersepeda sendiri. Lampu tiba-tiba hidup. Hati Desi sangat senang. Desi tidak terlalu ketakutan lagi. Semua sudah terang. Lampu-lampu pada menyala.

Sampai di rumah des tidak langsung makan, tetapi menyusul ibunya yang sedang menonton televisi di sofa coklat, dan makan cemilan yang kelihatan sangat gurih.

"Kok malah ke sini nggakmakan dulu Nak?"

"Nantilah Bu, Desi mau cerita sama ibu."

"Cerita apa lagi. Makan dulu sana!"

"Nantilah Bu."

"Ya udah cepetan cerita. Nanti kalau sudah selesai makan terus belajar ya!"

"Iya, iya beres pokoknya."

Desi bercerita panjang lebar pada ibunya. Desi menceritakan yang terjadi tadi saat Desi pulang mengaji. Ibu menanggapi dengan senang hati. Desi pergi ke kamar tanpa permisi pada ibunya. Ibunya geleng-geleng kepala terheran-heran dengan Desi.

***
PAGI menunjukkan pulul 06.30. Berpakaian rapi merah putih rambut dikepang, Desi siap berangkat sekolah. Desi berpamitan pada ibunya yang sedang memasak di dapur. Dengan suara lantangnya Desi berteriak.

"Aku berangkat."

"Ya.." Ibu menjawab.

Di tengah perjalanan menuju sekolah. Desi berhenti, mendengarkan percakapan ibu-ibu. Desi mendengar kalau ada orang meninggal di pengkolan jalan karena terpeleset. Kata ibu-ibu itu orang yang meninggal di pengkolan akan dijadikan tumbal penunggu di situ. Desi tercengang mendengarkankan berita tadi. Ketakutan desi makin bertambah. Desi gelisah. Desi ingin cepat-cepat bercerita pada Laila dan Tika.

Sampai di sekolah Desi langsung duduk di dekat Tika yang sudah duluan berangkat. Desi menceritakan semua yang didengarnya tadi. Laila dan Tika kaget. Panjang lebar Desi bercerita bel masuk kelas berbunyi. Mereka belajar.

Sore hari telah tiba. Desi dan teman-temannya bersiap berangkat mengaji. Seperti biasa mereka bersepeda santai menikmati udara sore hari. Desi masih penasaran dengan hantu yang marak dibicarakan itu. Desi mempunyai cara lain untuk membuktikannya. Desi juga ingin bertanya pada pak ustaz tapi Desi tidak berani.

Sepulang mengaji Desi ingin membuktikannya. Desi sengaja mengajak bercanda teman-temannya. Laila dan Tika pun mengikuti alunan canda Desi. Mereka tertawa terbahak-bahak entah apa lelucon yang membuat mereka heboh. Mereka tak henti-hentinya tertawa. Tepat di pengkolan jalan itu Tika terjatuh dari sepedanya. desi dan Laila berteriak minta tolong. Tika diantar ke rumah oleh salah seorang bapak yang menolongnya. Desi menyesal dengan kelakuannya. Akibat Desi memancing Tika tertawa. Desi juga berhasil membuat hantu pengkolan itu bangun dari tidur lelapnya. Desi percaya bahwa hantu itu benar-benar ada. []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Septi Muliana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 22 Maret 2015


0 Response to "Misteri Pengkolan Jalan"