Pai Apel Musim Panas (2) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pai Apel Musim Panas (2) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:55 Rating: 4,5

Pai Apel Musim Panas (2)

Kisah sebelumnya:

ibarat roda, hidup Abigail sedang berada di bawah. Thomas, suaminya, baru saja di-PHK dan memilih alkohol sebagai pelarian. Di saat keuangannya sedang terpuruk, ia berusaha mencari tambahan penghasilan dengan menjadi asisten seorang ibu tua. Di kafe tempatnya bekerja, ada Morris si pembuat roti yang sering menggodanya. 


ABIGAIL BARU SAJA mengenakan mantel ketika Phillipe membukakan pintu dengan kunci mobil di tangan. “Ma sudah tidur. Pulas seperti bayi sampai pagi, lebih seringnya sampai esok tengah hari malah. Tak apa bila ditinggal sebentar.” Senyum Phillipe kali ini tumben-tumbenan terlihat agak kikuk. “Aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu. Aku bisa—“ Abigail sudah hendak menarik kepala ke belakang karena mengira Phillippe yang tiba-tiba menghambur ke arahnya akan mencium. Ternyata ia hanya mengibaskan tangan di sekitar pundak Abigail. 

“Laba-laba,” katanya.

Laba-laba di rumah sebesar dan semewah dan bahkan tak terdapat setitik debu di bagian mana pun? 

Abigail hendak memprotes namun Phillipe sudah mempersilakannya keluar. “Ayo,” katanya. “Bila tak bersegera kau bisa kemalaman. Aku juga tak mau meninggalkan Ma lama-lama, meski ia tidur pulas hingga mendengkur seperti bayi kucing.”

Abigail tak ada pilihan lain, kecuali menurut. 


ABIGAIL MERADANG saat tak menemukan simpanan uangnya di mana-mana. Kemarin baru saja ia menggunakannya untuk membetulkan motor yang ringsek. Ia menyimpan sisanya dalam amplop dan diletakkan dalam laci di bagian bawah lapisan kayu dalam lemari baju. 

Bila bukan Thomas, siapa lagi? Tak ada orang lain yang tinggal bersama mereka kecuali maling masuk dan mencuri dengan begitu teliti, mengerti betul letak kunci sehingga pintu almari tak dibongkar dan tumpukan pakaian tetap tersusun rapi. 

Suaminya kelayapan tak pulang ke rumah sudah lebih dari seminggu. Abigail tak tahu ke mana harus mencari. Ia sempat bertanya pada seorang teman di hotel tempat kerja terakhir sebelum suaminya diberhentikan karena membikin ulah. Thomas berkelahi di lobi. Abigal tak mengerti betul cerita sesungguhnya, hanya secara garis besar: suaminya menjotos salah satu tamu. Akibat perbuatannya tersebut, tak bisa ditoleransi, ia diberhentikan dari pekerjaan. Dengar-dengar Thomas juga tak mau repot-repot mengucap maaf. Ia diam dengan mengeraskan rahang saat mencopot seragam dan keluar begitu saja. Sejak saat itulah kehidupan rumah Abigail dan Thomas menjadi tidak keruan. 

“Memang benar seperti itu, tapi kau juga harus tahu cerita selengkapnya,” kata teman tersebut. “Thomas membela salah seorang teman kami, Silvie. Kau tak perlu cemburu. Salah seorang tamu pria tolol dari luar negeri, ia berpakaian resmi jas seperti pejabat, mengira semua perempuan di Prancis bisa mudah diajak tidur. Ketika Silvie menolak, bokongnya ditepuk dan dikata-katai dengan kalimat tidak sopan. Silvie gadis kecil, tak bisa membalas apa-apa kecuali langsung menangis. Orang itu dan teman-temannya malah tertawa-tawa. Thomas yang kebetulan lewat bertanya ada apa. Orang itu malah makin berkata-kata tidak baik. Thomas meminta mereka meminta maaf dan menarik semua ucapan. Tidak ada yang sudi, yang kemudian membikin Thomas tak dapat menahan diri dan menjotos orang kurang berpendidikan tersebut.”

Thomas bisa sedemikian marah dan membela teman perempuanya? batin Abigail, pedih. Dan sekarang membawa kabur seluruh simpanan uangku! Siapa tadi nama perempuan itu... Silvie?

“Aku tak tahu di mana Thomas sekarang.” Raut muka teman itu meminta maaf. 

Abigail berpamitan setelah mengucap terima kasih. Bukannya mendapat keterangan di mana Thomas, ia malah mengetahui sebuah kenyataan pahit. 

Seminggu sebelum Thomas tak jelas lenyap ke mana, Abigail melarang Thomas menggunakan motor yang telah ia perbaiki menggunakan uang gaji dari bekerja di tempat Phillipe. 

“Aku memerlukan untuk mempersingkat waktu karena harus bekerja di dua tempat.”

Abigail sedikit menyesal saat memperhatikan air muka Thomas menjadi keruh saat mendengar kata bekerja. Namun, mau bagaimana lagi? Dalam berumah tangga dibutuhkan kejujuran dan keterbukaan, tapi bila mengucapkan satu kata tertentu saja sudah bisa membikin runyam… pertanyaan sama yang terus saja kembali berulang; masihkah harus dipertahankan?

Abigail buru-buru mengalihkan pikiran dan menyibukkan diri dengan mencelupkan roti ke dalam teh susu. Sempat Thomas bertanya mengapa ia kini gemar menambah sedikit susu manis ke dalam teh, padahal sebelumnya tak pernah sama sekali. 

“Tiba-tiba kepingin,” jawab Abigail, yang merasa nafsu sarapan mendadak menguap pergi. Pernyataannya sendiri mengenai kejujuran dan keterbukaan dalam mengarungi biduk rumah tangga dan kebiasaan barunya: mencampurkan susu dalam teh, telah menyindir nuraninya sendiri. Ia telah tak jujur dan tak mau menjelaskan mengapa ia tiba-tiba menyukai teh dengan susu. 

“Karena kau tak lagi membikin pai apel kesukaanku,” tambah Abigai,l mengada-ada. Dusta yang satu pasti akan selalu disusul dusta yang lain, keluh perempuan itu kembali dalam hati. Untuk selanjutnya ia memutuskan diam ketimbang kalimat berikutnya akan semakin membuka cerita mengenai sosok laki-laki lain yang kini sedang mengisi hati dan memenuhi hari-hari dengan bayang-bayang mengenai dirinya. 

Thomas tepekur panjang ketika mendengar lontaran pai apel dari mulut istrinya, tapi tak bertindak apa-apa. 

“Aku harus pergi sekarang.”

Barangkali Thomas membutuhkan uang itu untuk pelesir bersama Silvie, batin Abigail muram.


BARANGKALI MENGERTI KESEDIHAN dalam hati Abigail atau bagaimana, hari menjadi hujan sesaat Abigail pulang bekerja. Ia telanjur menolak tawaran Morris yang ingin mengantarnya pulang. Tepat ketika teman-temannya sudah berpencar dan Morris melaju jauh dengan sepeda motornya, tak diduga dan di luar kebiasaan, hujan turun deras. 

Abigail nekat berlari menuju stasiun menghindari kuyup supaya tak seperti tikus kecemplung got (kayak kamu pernah memperhatikan tikus masuk comberan saja, begitu kata Thomas seandainya ia sedang bersama Abigail). Sempat ia berhenti mengatur napas dan bimbang sejenak sebelum memutuskan…


“MA PETITE!” seru Phillipe saat membukakan pintu. “Ada apa? Kau baik-baik saja?” 

Laki-laki itu segera menutup pintu dan menudungkan handuk besar yang diambilnya cepat-cepat ke kepala Abigail. Digosoknya perlahan hingga rambut Abigail kering.

“Akan aku carikan pakaian yang seukuran denganmu,”

Selama Phillipe panik bertanya ada apa dan berusaha menjaga supaya tubuh Abigail tetap hangat…

“Aku juga akan buatkan kau susu cokelat.”

Abigail hanya bisa berdiri diam dan menikmati semua perhatian itu. 

“Kau baru pulang kerja dari kedai dan langsung ke sini. Kasihan sekali. Berjalan jauh, berdesakan dalam metro, lalu masih harus berlari-larian sebelum tiba di rumah….”

Phillipe kembali dengan membawa kemeja miliknya yang kering. “Aku tak bisa menemukan pakaian lain.”

Abigail telah mengganti seluruh pakaian basahnya dengan kemeja gombrong milik Phillipe. Ia tampak tenggelam dalam pakaian kebesaran tersebut. Saat menyusul ke dapur, Phillipe yang baru saja selesai menyeduh secangkir cokelat panas tertawa melihat betapa mungilnya Abigail dalam pakaiannya yang gede

Alo, liliput,” goda laki-laki itu. Abigail hanya bisa nyengir, tak bisa membalas perkataan bosnya. Saat menyeruput secangkir cokelat panas, ia ingin sekali mencurahkan semua beban di hati dan pikirannya. Tapi teobromina melenyapkan semua himpitan masalah dalam sekejap. Hangat karena pakaian kering dan cokelat, seusai menghabiskan minuman Abigail mengantuk bukan main. Philippe memintanya menunggu sebentar. Saat kembali ia telah menyiapkan tempat tidur untuk Abigail di kamar yang sengaja disediakan bila ada tamu menginap. 

“Anda repot-repot, Monsieur Phillipe.”

“Aku tak repot, dan jangan panggil aku monsieur. Phillipe saja, Phillipe sudah lebih dari cukup.”

Abigail tidur lelap sekali malam itu dalam dekapan… aroma harum dan lembut kemeja Phillipe. 


“APAKAH ITU KEMEJA SUAMIMU?” tanya Morris sambil memperhtikan Abigail yang baru saja datang dan mengucap selamat pagi. “Seminggu belakangan kau mengenakan kemeja laki-laki yang agak kebesaran. Kalian sudah berbaikan?”

Abigail menyadari keteledorannya. Sepulang bekerja hari ini ia akan pulang dan membawa bebrapa potong pakaian untuk ganti. Ia tak menyadari bahwa Morris akan memperhatikan sedemikian rupa. Sudah hampir dua minggu ia tinggal di rumah Phillipe. Alasannya hanya untuk kepraktisan saja; tidak lebih. Sungguh. Sepulang bekerja dari kedai, Abigail masih bisa membantu Maman sebelum berangkat tidur. Tengah malam bila wanita tua yang dikasihi Phillipe tiba-tiba terbangun untuk kencing atau sekadar bermimpi buruk, Abigail bisa sigap dan lebih cepat membantu. Hanya demi alasan kepraktisan, hanya alasan kepraktisan, ulang Abigail kembali dalam hati. 

“Aku harus segera mengganti seragam.” Abigail tidak menjawab pertanyaan Morris dan segera berlalu.

“Kau tak lagi mengantuk hingga sampai menguap berkali-kali saat bekerja. Wajahmu juga terlihat lebih segar ketimbang sebelum-sebelumnya yang kusam dan kusut masai.” Sayup masih terdengar suara Morris mengejar dengan pertanyaan. “Sungguh, kau dan suamimu sudah berbaikan dan menyelesaikan masalah di antara kalian?”

Tiba-tiba ada perasaan amat sangat bersalah menyelusup dalam hati Abigail. Tapi ia tak melakukan apa-apa bersama Phillipe. Sungguh.


HANYA SARAPAN BERSAMA

Pagi sekali saat Maman belum terbangun, Phillipe selalu sudah tampak segar dan sudah sibuk di dapur. Begitu Abigail muncul, di meja telah tersedia selapis roti isi daging cincang bikinan sendiri yang masih hangat, secangkir kopi yang disanding dengan cangkir kecil berisi susu manis (kadang kopi diganti dengan teh biasa, kadang pula teh hijau, kadang jeruk manis). Mereka berdua duduk semeja dan mengobrolkan apa saja. Pernah suatu kali sebelum pergi, Philippe mencondongkan badan dan menahan Abigail yang beranjak. Perempuan itu kembali duduk dan merasa salah tingkah saat Phillipe menghapus bekas putih susu di dua ujung bibirnya. 

“Terima kasih,” kata Abigail kikuk. 

Abigail menjadi tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Dalam satu siang saja beberapa kali ia harus bolak-balik menukar menu yang salah dicatat. Beruntung pemilik kedai sedang tak berada di tempat. Ia pergi ke luar kota untuk urusan membuka cabang kedai baru. 

“Suamimu membuat masalah lagi?” Morris menggeleng tidak mengerti saat Abigail mengembalikan baki dan mengempas duduk dengan menahan kepala. Bila ada orang lain yang melihat pasti akan mengira perempuan itu sedang sakit kepala. 

“Tidak.” Abigail sigap berdiri kembali saat mendengar bel pintu berdenting. “Berhenti menanyaiku, aku sedang tak bisa menanggapi semua gangguanmu dengan ramah seperti biasanya.” 

Morris berteriak saat Abigail membuka pintu pembatas antara dapur dan ruang tengah. “Hei, tumben-tumbenan kau mengumpat. Bila butuh pundak untuk bersandar dan hati yang lapang untuk kau keluh kesahi….”  

Pintu kembali menutup meninggalkan Morris yang nyengir sendirian. 

Memang kejadian kemarin sudah bisa diduga, tapi Abigail tetap kaget saat mendengar Phillipe mengutarakan perasaan suka. “Tinggalkan suamimu.”

Seandainya yang meminta barusan adalah Morris, tentu dengan cepat Abigail menolak. Pria selalu mengira hati perempuan adalah karang yang bila terus ditetesi air akan berlubang, sekeras-kerasnya hati perempuan bila terus diberi perhatian tentu akan melunak juga. Tapi, tidak tepat begitu karena ‘tidak’ adalah kata mutlak bagi Morris. Tapi, Monsieur Phillipe?

“Tidak.” Suara Abigail bergoyang; ragu. Bila kemudian Phillipe kembali meminta sembari setengah memaksa, akan menjadi mudah bagi Abigail untuk terus setia. Namun laki-laki itu malah memberi tatapan simpatik yang dilanjutkan dengan, “Ya. Aku mengerti.”

Apa yang kau mengerti, Tuan? Mengapa kau tak merengek dan setengah memaksaku lagi untuk meninggalkan Thomas sehingga aku memiliki alasan kuat dan juga perasaan yang tak begitu bersalah bila aku menuruti permintaanmu?

Hari ini, usai bekerja di kedai Abigail memutuskan pulang ke rumah. Sebelumnya Phillipe menelepon memintanya mampir; sejenak makan malam dan Abigail akan diantar pulang, tapi perempuan itu menolak. Ada hal penting yang harus diselesaikan.

Phillipe mengakhiri telepon dengan kalimat yang menambah kebimbangan; “Sejak pertama kali kau, Ma petite¸datang mengajukan lamaran dan berlanjut ke hari-hari berikutnya, aku tak pernah berhenti memikirkanmu.”

“Phillipe,” desah Abigail sembari berusaha sekuat tenaga laki-laki itu tak menangkap rasa nelangsa dalam suaranya. 

“Kau datang menemuiku di hari hujan, bukan pulang ke rumahmu sendiri, merupakan hari yang sangat membahagiakan untukku.”

Telepon ditutup. Setiba di halaman depan rumah, Abigail memutuskan akan membikin keputusan bila Thomas….

Abigail yang pikirannya kalut tanpa sadar telah masuk rumah. Ia berhenti di dapur dan memerhatikan meja dengan saksama. Remah-remah yang terserak di atas meja di dapur membentuk pola tertentu, lingkaran loyang pai apel tapi tak begitu sempurna.

Thomas! 

Abigail berkeliling mencari suaminya namun ia tetap tak dapat meemukannya di mana-mana. 


MORRIS MELEMPAR KUNCI MOTOR ke atas meja yang membuat Thomas terbangun. Laki-laki itu cekikikan begitu melihat temannya terlihat linglung sejenak. Seloyang pai apel telah tersedia. Morris segera saja mengambil garpu dan mencicipi pai apel bikinan Thomas. Dirasakannya sejenak. Raut muka menimbang-nimbang sebelum akhirnya memuji kue buatan sobat baiknya sejak bekerja di hotel beberapa tahun lalu. “Lulus. Buatanmu telah terjaga kualitasnya, rasanya sama dari waktu ke waktu. Aku tak perlu khawatir karena aku yang merekomendasikanmu bekerja di sana.”

Thomas menelungkup kembali ke atas meja. Bukan karena mengantuk, tapi lega. Selama beberapa minggu ia tinggal sementara di rumah Morris untuk belajar membikin kue. Bos kedai tempat Morris bekerja membuka cabang kedai kopi dan bakeri baru, dan membutuhan tukang kue. Morris yang memberi kabar pada Thomas dan bersedia mengajarinya membikin kue-kue selain pai apel.

“Abigail terlihat gundah beberapa hari ini.”

“Apa ada hubungannya dengan Phillipe?” tanya Thomas. Lalu ia melanjutkan dengan sedih. “Abigail menginap di tempat laki-laki itu selama lebih dari seminggu. Menurutmu, Phillipe telah berhasil memikat istriku dengan segala ketampanan dan kekayaannya?”

Ini yang tidak diketahui Abigail; Morris adalah teman baik Thomas saat masih bekerja di hotel. Morris pindah bekerja dari tukang masak hotel menjadi tukang bikin kue di kedai kopi dan bakeri tempat Abigail bekerja. Ia mengenali Abigail sebagai istri Thomas karena Thomas pernah menunjukkan foto yang dibarengi cerita betapa ia sangat mencintai Abigail. 

Begitu Thomas dikeluarkan dari pekejaan dan menjadi luntang-lantung pengangguran dengan nasib menyedihkan, ia meminta bantuan Morris mengawasi istrinya. Thomas cemas apabila Abigail menjadi tidak lagi setia. Morris menyanggupi dengan selalu merayu Abigail supaya segera meninggalkan Thomas. Thomas lega karena Abigail selalu bergeming, tapi kelimpungan ketika kemudian Phillipe hadir. Ia menyadari bahwa bila ia tak segera membenahi hidupnya, Abigail akan benar-benar pergi. 

Tepat Thomas memiliki keinginan berubah, Morris datang membawa kabar bahwa pemilik kedai kopi dan bakeri tempatnya bekerja membuka cabang baru dan membuka lowongan kerja. Morris meminta Thomas belajar membikin roti lain selain pai apel unggulannya. Sebelum bekerja di hotel, sesungguhnya Thomas memiliki kesenangan membikin kue-kue dan roti. Hanya saja waktu itu menurutnya, yang disetujui Abigail, bila Thomas bekerja dengan mengandalkan tenaga, di hotel misalnya, mereka akan mendapatkan uang lebih cepat ketimbang harus bertekun-tekun mengolah adonan. Bukan masalah tidak menuruti passion atau bagaimana, hanya keadaan memaksa mereka berpikir praktis. Kadangkala perlu menempuh jalan memutar sebelum akhirnya kembali ke tujuan atau passion utama.

Morris mempersilakan Thomas belajar membikin kue menggunakan peralatan dan oven miliknya di rumah, tapi tak menyediakan bahan-bahan. Uang Thomas tersisa sangat sedikit setelah digunakan mengganti kerusakan yang ia timbulkan dari kejadian beberapa waktu lalu. Akhirnya, meski dengan berat hati dan risiko akan menyakiti perasaan Abigail, Thomas memutuskan ‘meminjam’ simpanan uang istrinya untuk membeli bahan kue. 

Sebulan lalu ia telah melakoni tes di kedai kopi dan bakeri cabang baru dan dinyatakan diterima. Selama dua minggu ini ia sudah bekerja di sana. Thomas meminta Morris tak memberi tahu Abigail. Bila sudah menerima gaji pertama, ia akan menyerahkan seraya meminta maaf dan memberi tahu alasan ia mencolong uang simpanan Abigail. Juga bila memungkinkan, meminta pada bosnya supaya Abigail bisa pindah tempat kerja di kedai yang sama dengannya. 

“Ya, barangkali. Abigail teguh terhadap godaan dan rayuanku karena aku tak tampan dan menarik dan tak tajir, tapi Phillipe….”

“Apa yang sebaiknya aku lakukan?” tanya Thomas dengan raut muka semakin muram.

“Pulang. Dan beri kejutan. Kejutan manis.”


INI HARI TERAKHIR ABIGAIL mengambil keputusan. Ia minta waktu pada Phillipe untuk menimbang sebelum kemudian memberi jawaban (karena keputusan yang ada hubungannya dengan Thomas tidak bisa diambil begitu saja tanpa pertimbangan masak-masak). 

Di kedai, Morris memperhatikan sambil sesekali melempar pertanyaan. Abigail sama sekali tak menggubris. Ia pulang dengan beban pikiran menggelayut di kepala. Ia membuka pintu halaman rumah tanpa bersemangat. Lampu rumah mati. Thomas tak pulang kembali. Abigail telah berusaha mencari sesempatnya (bertanya teman saat tak harus bekerja di rumah Phillipe), tapi tak ada informasi apa pun mengenai suaminya. Jauh di sudut hati, ia merindukan Thomas.

Abigail menangis dengan kepala menelungkup pintu. Lama sekali ia baru beranjak ke dapur. Saat menyalakan lampu Abigail kehilangan kata-kata. Seloyang pai apel dan segelas jus jeruk dengan embun-embun dingin menempel di permukaan gelas tersedia di meja. Ia mendekat dan sebuah pelukan dari belakang mendekapnya erat. 

“Aku minta maaf yang begitu besar.”

Abigail tak bisa bergerak, bahkan sekadar menoleh. Kepala Thomas ditumpukan di pundaknya sambil terus berkata-kata. Kembali meminta maaf bahwa ia telah mengacaukan hidup rumah tangga mereka selama hampir setahun, atau hanya beberapa bulan, ralatnya kurang yakin, juga mengambil uang simpanan dan berjanji akan segera mengembalikannya dalam beberapa bulan ke depan. Ia telah mendapat pekerjaan dan bos mereka sedang menimbang ulang untuk memindah Abigail di tempat yang sama dengan Thomas (sepertinya iya), dan banyak hal lain. 

Abigail membalik badan dan merapat balas memeluk Thomas. Ia tidak mengira akhir permasalahan rumah tangganya akan selesai dengan cara sesederhana ini. Hari ini ia baru tahu bahwa cinta kadang berlaku rumit seperti jalinan tambang yang sulit diurai, kadang juga sesimpel orang bersin. Hatsyih... dan segalanya menjadi beres.

Thomas melonggarkan pelukan.  Ia menyuapi Abigail potongan kecil pai apel.

“Kau sangat menyukainya,” katanya.

Abigail turut mengambil potongan pai apel. Ia sempat berhenti sebentar, urung balas menyuapi Thomas. Selanjutnya potongan pai itu ditepukkan ke pipi Thomas dengan tidak begitu keras. Remahannya berhamburan mengotori bagian pundak kemeja suaminya.

“Ini karena karena perbuatanmu yang selalu membuatku kesal, tapi lebih seringnya khawatir!”

Thomas kembali memeluk Abigail seraya mengulang permohonannya, “Maafkan aku, maafkan aku, aku menyayangimu, Ma chéri, maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.”

Abigail kembali menangis sekeras-kerasnya dan sepol-polnya malam itu. Menangis dalam dekapan hangat suami yang dirindukannya selama beberapa waktu terakhir ini. Bukan tangis sedih, tapi lega luar biasa. Pai apel musim panasnya telah kembali. 


ABIGAIL MENYORONG PINTU. Di sudut ruangan Phillipe yang sedang menyeruput secangkir kopi melambai. 

Monsieur…” Abigail duduk di sofa. 

“Ah! Monsieur, berhenti memanggilku monsieur.”

“Phillipe,” ralat Abigail. 

Senyum simpatik khas laki-laki paruh baya itu mengembang. 

“Tidak,” lanjut Abigail tanpa tedeng aling-aling.

Caranya mengatakan ini barangkali akan menyakiti hati laki-laki berhati lembut di hadapannya, tapi Abigail tak ingin berbasa-basi. “Aku tak akan berpisah dan tak akan meninggalkan suamiku.”

Phillipe menggeleng tak percaya. Mukanya keruh, namun masih berusaha sabar.

“Tapi laki-laki itu menyusahkanmu,” katanya serak.

“Keadaan sudah membaik.”

“Keadaan buruk akan terulang kembali. Kau tahu, Ma petite, hidup itu seperti roda, selalu berputar. Atas ke bawah, bawah ke atas. Keadaan buruk menjadi baik. Keadaan baik berputar menjadi buruk.”

“Kami akan selalu saling menguatkan.” Abigail mengutip kalimat barusan dari novel percintaan yang pernah ia baca demi membunuh waktu luang. Ternyata pas juga digunakan sebagai jawaban untuk situasi seperti sekarang. 

“Aku akan memberimua dua kali gaji.” Tangannya mencoba meraih tangan Abigail. Kentara sekali Phillipe terlihat putus asa. Namun, pilihan kalimatnya barusan salah. Sangat salah. 

Monsieur menghargaiku terlalu rendah.” Abigail menarik tangan.

“Tiga kali gaji?”

“Monsieur sama sekali tak mengerti maksud perkataanku!” 

“Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil jatuh cinta, dan kau mengacaukannya, Ma petite.” Phillipe mulai tak bisa mengendalikan diri. “Kenaikan empat kali gaji adalah penawaran tertinggiku, bagaimana?”

“Tak perlu repot-repot. Aku berhenti bekerja untuk Monsieur.” Abigail memundurkan kursi. 

“Tapi mencari perawat pengganti membutuhkan banyak waktu.”

“Aku sangat menyayangi ibumu. Salam untuknya.”


SISA MUSIM PANAS ini perlahan terasa menyenangkan bagi Abigail. Pai apel dan es teh atau jus jeruk menunggunya di rumah. Ia dan Thomas akan mengadakan sedikit perayaan. Abigail berhenti di halaman depan dan melihat ke bagian dalam rumah yang lampunya sudah dinyalakan. Tampak suaminya sibuk menyiapkan segalanya di meja dapur. Kertas krep warna-warni norak dipasang demi menghias ruangan. Tidak apa-apa. Kebahagiaan memang kadang perlu dirayakan dengan norak.

Alo, Ma Chéri.” Thomas mendongak begitu mendapati Abigail telah masuk dan bersandar di kosen pintu. 

Pernikahan itu: 30% cinta, 30% saling memaafkan, dan 40% saling menguatkan. (Tamat)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dayita Manah Hapsari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Femina" edisi 28 Februari - 6 Maret 2015

1 Response to "Pai Apel Musim Panas (2)"

widia nasrul said...

Suka sekali dengan cerita ini :* ahh perasaan ku campur aduk bacanya, seperti adonan kue pai.