Pelayat Terakhir | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pelayat Terakhir Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 05:20 Rating: 4,5

Pelayat Terakhir

MURSAM diam tak bergerak. Dalam posisi jongkok, ia menatap liang lahat. DIpandangnya jasad Sondak sedang dimasukkan secara perlahan oleh beberapa warga. Kain mori yang membalut tubuh tak bernyawa itu, membawa perasaan asing yang belum perna ia jumpai sebelumnya. Perlahan bulu kuduknya meremang, tubuhnya menggigil ketakutan. Dan dalam kengeriannya, ia merasa dekat dengan Tuhan.

Matanya tak berkedip. Ia amati benar adegan dalam lubang itu. Setelah dihadapkan ke arah kiblat, tali pocong satu persatu dilepas. Kemudian mori yang menutup bagian wajah disibak, sehingga terlihatlah wajah Sondak. Wajah yang gelap dan pucat, kontras dengan kapas yang menutup lubang-lubang pada wajah.

Ketika azan kubur dikumandnagkan Mursam menutup matanya. Ia tak mampu lagi menatap jasad itu. Baginya, Sondak sudah seperti seorang saudara. Mereka telah bersama sejak kecil. Tepatnya sejak sering bermain petak umpet di kebun pisang Haji Mudakir. Sejak saat itu pula, mereka seolah tak terpisahkan. Sebangku di sekolah, menonton orkes dangdut di lapangan, bahkan ketika bermabuk-mabukan saat malam, mereka tetap bersama. Selama azan kubur berkumandang, kilasan ingatan tersebut silih berganti mendatanginya dalam pejam.

Selesai mamam diuruk dan nisan bambu ditancapkan, sekeranjang mawar segera ditaburkan pada tanah yang masih basah itu. Kemudian Haji Mudakir, kaum DUsun Alasjati, membacakan wasiat kubur dan doa untuk arwah Sondak. Sesudah itu, para pelayat yang jumlahnya tak seberapa, satu demi satu meninggalkan kuburan. Akan tetapi tidak dengan Mursam. Ia tetap bertahan di makam Sondak.

Menyadari hal tersebut, Haji Mudakir yang tadinya sudah sampai di gerbang kuburan menghampiri Mursam. 

"Sam, kok tidak segera pulang? Hari sebentar lagi gelap," tanya Haji Mudakir.

Ia tak menjawab.


Dari sikap Mursam, Haji Mudakir seperti tahu apa yang sedang dirasakan pemuda pengangguran itu.

"Aku mengerti perasaan sedih ditinggal teman karib. Aku juga pernah mengalaminya dulu. Sam, aku tahu kamu merasa kehilangan, tapi bukan berarti kamu harus bertahan di sini," kata Haji Mudakir pelan.

"Pulanglah!"

Mursam bergeming. Ia tetap bertahan setelah memberikan gelengan pada perminaan Haji Mudakir. Pria tua itu kemudian meninggalkan Mursam di makam Sondak.

Tinggallah Mursam seorang diri. Ia tetap bertahan setelah memberikan gelengan pada permintaan Haji Mudakir. Pria tua itu kemudian meninggalkan Mursam di makam Sondak.

Tinggallah Mursam seorang diri. Ia menjadi orang terakhir di kuburan itu. Namun, sebenarnya ia tak benar-benar sedang sendiri. Tanpa ia sadari, tak jauh dari tempatnya, sepasang mata diam-diam sedang menatapnya tajam. Disentuhnya tanah basah makam Sondak. Semerbak aroma kelopak mawar, masih segar tercium higungnya. Tak lama kemudian ia memeluk nisan yang tegak menancap. Jika saja ia tak teringat ceramah Haji Mudakir semalam, mungkin ia sudah merekalan kepergian Sondak, dan langsung pulang begitu pemakaman selesai. Namun, ingatan akan ceramah Haji Mudakir betul-betul membuatnya takut. Terlebih ketika ia teringat akan perilaku Sondak semasa hidup.

Sondak pengangguran yang sering bikin onar di Alasjati. Ia kerap mencuri ayam tetangga, berjudi, mengganggu gadis, dan mabuk-mabukan di perempatan saat malam. Mursam tahu kebiasaan buruk tersebut, karena ia selalu bersama Sondak saat semua itu berlangsung.

"Siksa kubur akan dimulai setelah langkah ketujuh dari seorang pelayat terakhir. Saat itu, dua malaikat akan mendatangi kubur dan menanyai sang jenazah dengan berbagai pertanyaan. Jika jenazah tak mampu menjawab, maka berbagai siksaan akan ia terima," ceramah Haji Mudakir berkelebat di kepalanya.

Terbayang siksa kubur akan dihadapi sahabatnya. Mursam yakin betul, Sondak akan mendapat siksa terkait dengan tingkah lakunya semasa hidup. Dan dalam kesadarannya sebagai pelayat terakhir sekaligus sahabat dekat, ia memutuskan untuk bertahan  di makam Sondak. Ia ngeri sekaligus kasihan membayangkan siksa kubur akan menimpa sahabatnya. Pernah ia dengar bahwa pada saat siksaan berlangsung, akan ada kejadian-kejadian ganjil yang terjadi pada makam. Seperti makam yang mengeluarkan bau busuk, makam yang tiba-tiba amblas, suara-suara aneh dari arah makam, atau yang paling mengerikan makam itu akan meledak.

Tak jauh dari tempatnya, sosok yang sedari tadi menatap Mursam mulai bergerak. Ia tahu betul isi hati Mursam, semua perasaan takut dan tekad pemuda itu untuk bertahan di makam Sondak. Baginya, yang sedang dilakukan Mursam tidak bisa dibenarkan. Maka ia memutuskan bertindak. Menyamar sebagai Haji Mudakir, ia berusaha membuat Mursam beranjak dari makam Sondak dan memutuskan pulang. Sosok yang sudah menyamar sebagai Haji Mudakir itu pelan-pelan mendekat.

Sadar kedatangan seseorang, Mursam melepas pelukannya dan menyeka kedua sudut matanya yang lembab. Ia tak tahu bahwa yang mendekatinya sebenarnya bukanlah Haji Mudakir, melainkan jelmaan belaka.

"Sam, tak baik jika terus di sini. Pulanglah!"

"Ah, tidak, Pak Haji. Saya tak mungkin pergi dari sini"

"Kenapa?"

Mursam diam sejenak. Ia ragu untuk mengatakan pikirannya saat itu. Namun, setelah emnyadari bahwa tak ada orang lain selain mereka di kuburan, ia putuskan menghulangkan keraguan tersebut. Baginya, Haji Mudakir orang yang bisa dipercaya, dan mampu memberikan pendapat terkait oikirannya.

"Apakah Bapak masih ingat ceramah di musala semalam?"

Sosok penjelma Haji Mudakir mengangguk.

"Itulah masalahnya, Pak Haji. Ceramah itu membuat saya berpikirtentang siksaan di ala kubur. Bukankah orang-orang yang berdosa akan disiksa? Pak Haji, saya sepenuhnya sadar, bahwa semasa hidup, Sondak bukanlah orang baik. Ia berdosa! Ia akan kena siksa!" Tangis Mursam meledak seiring dengan diungkapkannya pikiran-pikiran di kepalanya tersebut.

"Pak Haji, sejak datang tadi, saya masih tetap di tempat ini. Belum selangkah pun saya lakukan untuk pergi. Karena menurut saya, siksa untuk Sondak akan dimulai setelah langkah ketujuh saya sebagai orang terakhir di pemakamannya," kata Mursam lirih.     "Pak Haji, saya tak akan melakukannya, saya tak bisa pergi dari tempat ini. Saya kasihan."

Sosok itu berpura-pura iba. Ia berusaha menenangkan Mursam. Tapi dalam benaknya, sebenarnya telah disiapkan berbagai cara untuk membuat Mursam pergi dari tempat itu. Lalu, ia mulai dengan cara yang dianggap paling jitu. Cara yang akan membuat pikiran Mursam menjadi ragu.

"Sam, apa kau yakin bahwa Sondak seumur hidupnya hanya berlaku buruk?" 

Mursam terkejut mendapati pertanyaan itu.

"Pak Haji, sebagaimana yang Bapak tahu selama ini. Sudah alam kami melakukan dosa. Larangan-larangan agama kami lakukan sesuka hati, dan perintah-Nya kami abaikan.  Kami sadar telah berbuat dosa, tapi sejujurnya kami merasa lelah. Hanya saja kami tak tahu apa yang harus dilakukan. Dan semalam, ketika berjalan melewati belakang musala sepulang membeli ciu, tak sengaja kami mendengar ceramah Bapak tentang siksa kubur. Kami berhenti, mendengarkan ceramah tersebut," kata Mursam sambil menyeka air matanya.

"Beberapa saat kami terdiam. Kami sama-sama teringat kedua orangtua kami yang sudah meninggal. Terbayang betapa sedihnya mereka ketika melihat anaknya tumbuh sebagaimana kami sekarang. Lama kami berdua merenung, akhirnya satu keputusan bulat saya ambil. Saya ingin bertobat," sambung Mursam.

"Namun, Sondak sepikiran dengan saya. Memang, ia juga berniat bertobat, tapi tidak saat itu. Ia bersikeras ingin menikmati ciu di tangannya itu untuk terakhir kali. Berdalih mubazir, ia mengajak saya menenggak minuman tersebut. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, ada dorongan aneh dalam diri saya untuk menolak ajakannya. Sondak seperti mengerti keputusan saya, lalu ia meninggalkan saya dnegan sebotol besar ciu di tangannya. Saya pun memutuskan untuk pulang. Tak saya sadari, itulah kali terakhir saya melihatnya. Karena keesokan harinya, keeseokan harinya ia, ia ditemukan mati," kata Mursam mengakhiri cerita dengan tangis yang semakin giris.

Senyum tipis mengembang di wajah sosok yang menyamar sebagai Haji Mudakir.

"Sam, sudahlah. Ikhlaskan. Dari ceritamu barusan aku jadi tahu sedikit tentang kalian. Di dunia ini, setiap hal pasti memiliki sisi baik dan buruk. Termasuk sahabatmu Sondak. Ya, kalian memang kondang sebagai pembuat onar di Alasjati. Tapi kalian tetap memiliki sisi baik. Kalian sadar telah berlaku dosa, dan kalian juga memiliki keinginan  bertobat. Sam, perlu kau ketahui, Tuhan sudah mendengar kebaikan hamba-Nya walaupun itu barusebatas niat. Itu akan dicatat sebagai sebuah amal kebaikan. Nah, terkait dengan keinginannya bertobat, maka Sondak juga memiliki catatan kebaikan di hadapan Tuhan."

Mendengar penjelasan itu, Mursam terdiam. Ia baru tahu, meski sebatas niat, ternyata sebuah kebaiakn sudah dicatat sebagai amal kebaikan. Ia jadi mempunyai harapan bahwa Sondak akan terbebas dari siksaan. Akan tetapi lagi-lagi ia teringat akan dosam mereka yang menumpuk.

"Pak Haji, tapi dosa-dosa kami terlampau banyak. Akankah Tuhan mau mengampuni?"

"Perkara ampunan sudah ada yang mengatur.  Setiap manusia pasti akan mempertanggungjawabkan segala tindakannya semasa di dunia. Tobat adalah sebuah bekal penting bagi manusia, dan itu akan dicatat sebagai suatu amal yang akan dipertimbangkan. Artinya, niat tobat yang dimiliki Sondak pasti juga akan dipertimbangkan di alam sana. Percayalah."

Mursam paham penjelasan tersebut. Ia mulai sadar dan tahu apa yang harus dilakukan. Pelan-pelan ia bangkit, lalu memeluk sosok di sampingnya itu.

"Pulanglah!"

Mursam mengangguk.

"Atau sebelum pulang, kau ingin kita berdoa dulu untuknya?"


***
HARI sudah gelap ketika Mursam beranjak dari makam Soncak. Ia melangkah meninggalkan pemakaman. Tujuh langkah pertama telah ditempuh, dan tak terjadi sesuatu yang ganjil pada makam Sondak. Ia pun semakin mantap melangkah pulang.

Di belakang Mursam, sosok yang menjelma sebagai Haji Mudakir tersenyum puas karena siasatnya berhasil. Terlebih, ia tak perlu menggunakan cara-cara lain untuk membujuk Mursam. Lalu, bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berhembus, ia menghilang.

Mursam yang tak menyadarinya terus melangkah pulang. Ia juga tak menghiraukan suara berisik akibat terpaan angin pada daun-daun pepohonan di sekitarnya. Ia menganggap wajar. Tak ia tahu, di balik suara berisik itu sebenarnya ada suara jeritan dari arah makam. Sebuah jerit mengerikan dari makam Sondak. (k)

[] Magelang, Juli-Desember 2014


Arif Wahyu Widodo: Mahasisewa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNY, aktif di Komunitas Kajian Rabu Sore dan Teater Mishbah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arif Wahyu Widodo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Pelayat Terakhir"