Penjual Fitnah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penjual Fitnah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:59 Rating: 4,5

Penjual Fitnah

PASAR kampung masih saja tampak ramai siang ini. Aku yang tak pernah pergi berbelanja ke pasar, sedikit kaget melihatnya. Kupikir, aktivitas pasar bakal tak seramai pagi harinya. Tapi aku keliru.

Aku lalu berjalan mengelilingi pasar. Menyusuri setiap lorong-lorongnya. Sibuk emncari bahan kebutuhan dapur pesanan ibu.

Sampai di pojok pasar, aku tetegun melihat tingkah anehseorang penjuallaki-laki. Ia duduk bersla sambil memejamkan mata. Lapak di depannya sudah tampak kosong. Hanya ada laptop yang masih menyala di depannya.

"Sepertinya, dagangannya sudah habis diborong orang. Tinggal laptop itu saja yang belum terjual tampaknya," pikirku.

Lalu aku mendatangi lapaknya.

"Mas, harga laptopnya berapa?" tanyaku mengagetkannya. Matanya langusng terbuka.

"Nggak dijual, ini buat jualan saya," jawabnya. Aku mengernyitkan dahi.

"Ooo, maksudnya jualan online gitu ya," ujarku.

Masnya menggeleng.
"Lha terus jualan apa?" tanyaku heran.

"Jual fitnah," jawabnya.

Semakin tak mengerti aku dibuatnya.

"Fitnah kok dijual, kamu sudah gila ya." kataku kaget. Masnya hanya diam saja. Lalu aku beranjak meninggalkan lapaknya. Pulang ke rumah.

Di rumah, aku masih terpikirkan seseorang yang mengaku penjual fitnah tadi.

"Fitnah kok jadi barang jualan. Mana laku jualan seperti itu." Aku benar-benar prihatin.


***
HARI berikutnya, aku sering mendengar cerita mulut ke mulut soal lapak si penjual fitnah yang semakin laris diserbu pembeli. Bahkan kabarnya, ada yang langsung terkenal di seantero negeri setelah datang ke sana. Aku pun tergiur ingin mencobanya.

Pagi-pagi sekali, aku pergi ke tempat lapak si penjual fitnah berada. Tampak olehku, lapaknya dikerumuni orang. Aku pun ikut membaur ke dalam kerumunan.

"Mas, bisa kasih tahu nomor togel yang keluar nanti malam?" Aku lihat seorang ibu bertanya sambil membawa sebuah pulpen dan secarik kertas kosong.

"Sebaiknya ibu tanyakan sama orang gila atau lihat nomor polisi kendaraan yang habis tabrakan," jawab si penjual fitnah acuh.

Si ibu tak menyahut lalu bergegas pergi dengan mimik muka kesal.

Aku merangsek maju. Si penjual fitnah tampak kaget melihat kehadiranku.

"Perlu apa lagi kamu?" tanya si penjual fitnah tegas.

"Mau beli fitnahmu," jawabku tak kalah tegasnya.

"Fitnahku tak aku jual murah. Apa kau sanggup membayarnya?"  Si penjual fitnah bertanya lagi. Aku mengangguk pelan. Si penjual fitnahmenatap tajam mataku. Mencari tahu apakah aku serius atau tidak. Kami berdua saling bertatapan mata hingga kerumunan orang bubar sendirinya.

"Baiklah, tampaknya kau serius," kata si penjual fitnah melepaskan tatapan matanya. Aku menghela napas lega.

"Fitnah apa yang mau kau beli?" tanya si penjual fitnah.

"Fitnah apa yang kau jual?" Aku balas bertanya. Si penjual fitnah tersenyum mendengarnya.

"Ada fitnah buruk sampai jahat. Tinggal pilih saja," jawab si penjual fitnah.

"Adakah fitnah biar cepat terkenal?" tanyaku.

"Ada, tapi fitnah paling jahat. kau mau?" si penjual fitnah balik bertanya.

"Boleh-boleh," jawabku antusias.

"Tapi ini sangat mahal harganya"

Aku mengangguk. lalu ia menunjukkan beberapa gambar dan tulisan di laptopnya.

"Semudah itu?"

"Iya, kamu tinggal mengunduhnya ke ponsel atau laptop yang kamu bawa. Lalu menyebarkannya dan tunggu sampai banyak lagi yang sebarkan. Maka uang dengan sendirinya akan datang padamu," sahut si penjual fitnah meyakinkan. Aku percaya saja.

Ponsel yang kubawa, aku serahkan pada si penjual fitnah.   Lalu dengan cepat, ia memindahkan gambar dan tulisna yang ada di laptponya ke ponselku.

"Ini, sudah selesai," katanya sambil mengembalikan ponselku. Aku tersenyum.

Uang segera aku berikan. Si penjual fitnah langsung menghitungnya di depanku.

"Ini masih kurang banyak."

Aku memeriksa saku dan dompetku. Mencari tambahan uangnya.

"Tak ada, cuma itu," kataku.

"Ya sudahlah tak apa. Anggap saja, aku beri diskon. Tanda tangan di sini," pinta si penjual fitnah.

"Untuk apa?" Aku mengernyitkan dahi, heran dbuatnya.

"Sebagai jaminan kalau kamu pasti akan sebarluaskan jualan fitnahku di dunia maya."

Aku menurut saja lalu membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai. "Tapi kalau fitnah itu tak kau sebarluaskan, kau harus ganti rugi mahal atau akan dianggap sudah mnipuku. Kau bis amasuk penjara." Ingat si penjual fitnah.

Aku mengangguk. Lalu beranjak pergi. Dalam perjalanan pulang aku ragu, apakah harus segera kusebarluaskan fitnahan itu atau malah mengembalikannya. Hati dan pikiranku masih belum mau satu suara. Lalu kuputuskan mengembalikannya saja, pada keeseokan hari.

Aku tahu si penjual fitnah akan marah lalu menyuruhku membayar ganti rugi yang banyak. Tapi aku tak peduli. Tekadku sudah bulat.

Esok harinya, aku kembali ke pojok pasar. Di sana, aku kaget melihat llapaknya sudah tak tampak lagi. Lalu berusaha menanyakan keberadaan si penjual fitnah kepada seorang perempuan tua, warga sekitar pasar.

"Mbah tahu kemana laki-laki aneh yang jualan di sini?" tanyaku sambil menunjuk lapak yang kini kosong.

"Kemarin ditangkap polisi, Mas. Sekarang kabarnya ada di penjara. Katanya, dia suka sebarkan fitnah," kata perempuan itu.

"Fitnah?"

Aku sudah tak kaget lagi mendengarnya. Lalu setelah berterimakasih, aku berjalan keluar pasar.

"Untunglah, aku belum sebarluaskan fitnahannya. Kalau sudah, aku memang akan terkenal tapi tak bisa hidup sebebas merpati lagi karena di penjara."

Aku bersyukur. Kini langkah kakiku sekarang menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Serasa beban berat sudah terlepas dari seluruh tubuhku.

Tapi aku tahu ini hanya sementara. Si penjual fitnah pasti tak mau sendirian merasakan dinginnya jeruji besi. Ia pasti akan membawaku dan juga beberapa pembeli lain yang belum sebarluaskan fitnahya untuk ikut masuk penjara. Entah kapan.

 [] Yogyakarta, 21 Maret 2015.

Herumawan Prasetyo Adhie
Pringgokusuman GT II, Yogyakarta 55272

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo Adhie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Penjual Fitnah"