Raden Bekel Tejomantri | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Raden Bekel Tejomantri Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:53 Rating: 4,5

Raden Bekel Tejomantri

SUDAH lewat 15 tahun bertengger pada posisi bekel, tidak membuatnya kecewa. Kedudukan lurah sudah hilang dari harapan. Rupanya, gelar bekel akan disandang sampai akhir hayat. Usia tujuh dua, bukan hitungan pendek. Sebelumnya ia puluhan tahun jadi abdi dalem mahang, kliwon, dan jajar.

"Wong cilik itu sudah terima bagiannya sendiri-sendiri. Tidak ada peluang memilih, apalagi meraih. Semua hanya atas kehdenak para Pengageng. Pangkat kalenggahan itu pemberian, seperti halnya hidup, mati, jodoh, dan rezeki," kata Tejomantri kepada istrinya. 

"Sudah ta. Kalau belum waktunya, tidak bisa nggege mangsa," sambung RB Tejomantri sambil terus memperhatikan seksama istrinya yang terbaring sakit di rumah magersari, rumah sempit temaram. Apalagi dalam suasana mala. Sebuah lampu teplok, mana mungkin menerangi seisi rumah? Berbeda dengan kondisi rumah ketika mereka masih mengabdi dan tinggal di kompleks Dalem Suryaningprang. Di sana mereka beserta segenap nenek moyang mengabdi. 

Ilustrasi karya Joko Santoso
Terhadap kondisi rumah tinggalnya kini, RB Tejomantri berkata kepada istrinya, "Ya, seperti inilah bagian yang diberikan kepada kita. Dinikmati dan disyukuri."

"Sakit kok dinikmati. Disyukuri. Mana bisa, Pakne. Mana tahan."

"Ya harus tahan."

"Didokterkan. Diobati. Dikasih makanan bergizi. Gitu, baru bisa disyukuri."

Nyai Tejomantri sedikit menggeliat membetulkan letak baringnya. Suaminya beringsut sedikit menjauhi dipan reyot tempat istrinya berbaring. Dipan itu sudah tak kuat menerima baring kedua pemiliknya. Karena itu, sudah sejak lama RB Tejomantri pisah ranjang dengan istrinya untuk menghindari nasib buruk keambrukan dipan. "Ya besok saya antar ke dokter Antok."

"Malu, Pak."

"Kenapa?"

"Mosok tiap kali ke dokter Antok. Tidak kali dikasih duwit buat beli obat. Malu."

"Orang miskin dilarang malu."

"Kita juga punya perasaan."

"Elho, dokter Antok saja kelihatannya senang-senang belaka. Rasanya, kalau kita datang, dia senang dan bangga. Kalau pun kita membayar, pasti dia menolak. Bukan karena kita miskin. Tapi, dokter itu mengenali masa lalu."

"Dan sampeyan bangga masa lalu."

"Iya. Dia jadi dokter, aku ini punya andil."

"Selalu gitu. Cerita itu diulang-ulang. Bosen, ah."

RB Tejomantri diam. Ia merasa, sudah terlalu sering bercerita kenangan hidup mendampingi Antok sejak kanak-kanak hingga dewasa. Sejak dari belum bisa buang ingus, sampai Antok lulus dokter, RB Tejomantri menjadi abdi kinasihnya. Nyai Tejomantri selalu melarang untuk mempertagihkan jasa-jasa di masa lalu. Sudah semestinya, sebagai seorang Bekel, masih berdarah biru, dan abdi dalem kraton yang setia, mampu mengatasi beban hidupnya.

RB Tejomantri juga mulai menyadari pula bahwa hidup makin sulit. Segala kebutuhan tidak terjangkau oleh penghasilan. Tidak terkejar oleh keterampilan dan keahlian. Pergerakan usia tidak pula pernah bisa dilawannya. Ketika suasana hidup makin sulit, istrinya sakit-sakitan, banyak hal yang harus dilakukannya. Apalagi, tidak seorang anak pun dikaruniakan kepadanya. Satu-satunya keahlianya adalah menari. Itupun sebatas tarian dalam wayang wong klasik. Malah, ia hanya dikenal sebagai spesial penari untuk peran Togog atau Logak. Selebihnya, tidak ada keahlian lain.

Bahkan, warisan gelar Raden yang melekat pada nama, napas, dan darahnya, tidak bisa menjadi jaminan apa pun dalam kerekatan sosial. Justeru lebih terasa sebagai beban kultural. Pangkat Bekel pun tidak menolongnya. Simbol dan keahlian kultural tidak mampu menimbulkan kalkulasi ekonomikal. Paling banter, jadi bahan komikal, penimbul pingkal.

Akhirnya, pagi-pagi yang ranum RB Tejosumantri berbecak mengantar istrinya ke tempat praktik dokter Antok di kompleks Dalem Suryaningprang. "Dalem ini sudah banyak berubah. Tapi rumah sebelah kok dibiarkan terus-terusan kosong, ya?" pikir RB Tejomantri dalam hati.

Seorang tenaga perawat membuka ruang praktik dan mulai mendaftar pasien. Tentu saja RB Tejomantri mendapat nomor urut pertama. Ia mulai memapah istrinya masuk ke ruang praktik. "Oi, Bekele, Nyai Bekel ini yang sakit. Lama tidak kemari," kata dokter Antok sambil menyiapkan peralatan periksa. Nyai Bekel dibaringkan untuk diperiksa.

Dokter Antok terus memeriksa. Dokter berkata kepada RB Tejomantri. "Sampeyan ini kok le jadi Bekel lama sekali ta? Kapan naik jadi lurah terus wedana gitu. Kangmas ini pantesnya sudah wedana lho. Kami lama menunggu Kangmas jadi wedana."

Dokter Antok memanggilnya Kangmas? RB Tejomantri cukup kaget, tapi perasaan itu disembunyikannya. "Cuman pantesnya, dokter. Tapi nyatanya, tetap bekel."

Kata Kangmas berkecamuk dalam alam pikir RB Tejomantri dan Nyai.

Selesai diperiksa, seperti biasa RB Tejomantri diberi resep sekaligus uang buat menebus obat di apotek. Kali ini dokter Antok memberi pula sesuatu dalam amplop besar yang harus diterima dan tidak boleh dibuka sebelum sampai di rumah. Mereka bergegas meninggalkan ruang praktik, berbecak menuju apotek terdekat. Tukang becak pun dikomando untuk melaju cepat.

Setiba di rumah, sepasang merpati tua itu langsung membuka amplop yang diterimanya dari dokter Antok. Di dalam berisi sejumlah dokumen. RB Tejomantri tidak bisa membaca maksud dari dokumen itu. Ia pun mengundang seorang tetangga magersari yang jadi dosen. Disebut dalam dokumen itu, RB Tejomantri mendapat paringan hak milik atas rumah dan pekarangan di sisi kiri Dalem Suryaningprang. Rumah yang dibiarkan kosong puluhan tahun itu ternyata disediakan baginya. Tapi mengapa bisa begitu? Gelap ceritanya, segelap jawaban atas pertanyaan, siapa ayah kandung RB Tejomantri? [] - k

Karangjati, Desember 2014

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purwadmadi
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 22 Maret 2015

0 Response to "Raden Bekel Tejomantri"