Rencana Perpisahan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rencana Perpisahan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:22 Rating: 4,5

Rencana Perpisahan

    “Kau tidak berpikir kalau aku sudah bosan denganmu, ‘kan?” Untuk kesekian kalinya pertanyaan itu keluar dari mulut si lelaki, bergentayangan di udara, dan bercampur dengan bau tengik kotoran-kotoran binatang yang telah begitu lama menggumpal di dalam dada.

*****
    Minggu pagi yang mendung. Sepasang kekasih terus bergandengan tangan. Melewati kandang demi kandang tanpa sedikit pun menaruh perhatian pada nasib binatang-binatang malang yang terlihat begitu kesepian, menggigil kedinginan dan terkurung di antara tembok-tembok tebal yang menjulang tinggi, atau di tengah-tengah kepungan jeruji besi. Tiga ekor gajah kurus berwajah murung, sekawanan monyet yang tertunduk lesu atau entah sedang khusyuk menekuri tanah, seekor buaya tua bermata sendu, juga sekumpulan kanguru yang melompat-lompat dengan malasnya. Mungkin sama-sama sedang merasa nelangsa ketika kandangnya mereka lewati --tanpa sedikit pun menoleh-- begitu saja.

    Pasangan kekasih itu benar-benar tidak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya. Pada pasangan-pasangan kekasih lain yang juga saling bergandengan tangan dan lama melamun di depan kandang, mungkin agar terlihat ikut merasakan penderitaan para binatang. Juga pada tumpukan kacang kulit yang dijual warung-warung di sepanjang jalan yang biasanya digunakan para pengunjung untuk memberi makan para binatang, meski jelas-jelas di  tiap kandang ditempelkan sebuah papan peringatan “Dilarang Keras Memberi Makan Binatang!” 

Bahkan, mereka juga tidak peduli bahwa setelah keluar dari kebun binatang yang membosankan itu, tempat di mana mereka sepakat menjalin sebuah hubungan, sesuai kesepakatan bersama, mereka akan mengakhirinya. Membebaskan hati masing-masing dari jerat ikatan percintaan yang melelahkan. Mereka ingin mengakhiri hubungan itu di tempat yang sama seperti saat mereka memulainya dulu.

    “Kau benar-benar tidak berpikir kalau aku sudah bosan denganmu, ‘kan?” si lelaki mengulangi pertanyaannya, sekali lagi.

    “Ya, tenang saja. Aku mengerti.” Kekasihnya tersenyum. “Aku   juga merasakan hal yang sama denganmu. Melelahkan, ya?”

    “Apanya yang melelahkan? Perjalanan ini, atau hubungan kita?”

    “Hubungan kita. Kalau cuma jalan kaki seperti ini aku sudah biasa. Lagi pula, kita sudah sering melakukannya, ‘kan?” 

           Mereka berdua tertawa, hampir di saat yang bersamaan.

    “Ya, hampir  tiap minggu malah. Apa kamu tidak bosan? Padahal  tiap kali ke sini kita hanya berjalan-jalan, berkeliling menyusuri tiap sudut kebun binatang tanpa ada tujuan yang jelas. Dan satu lagi,  bukankah ini sangat konyol karena kita sedang berada di kebun binatang, dan mungkin dari sekian banyak pengunjung hanya kita berdualah yang sama sekali tidak peduli pada binatang-binatang yang ada di sini.” 

          Lagi-lagi, hampir di saat yang bersamaan, mereka berdua pun tertawa.

    “Ya, konyol sekali. Seharusnya kalau cuma jalan-jalan kita bisa melakukannya di mana saja, selain di sini tentunya. Tapi, mengingat kesepakatan kita dulu, aku kira ini hal yang sangat wajar.”

    “Ya, aku juga masih ingat. Itu cukup adil, bukan?”

    “Sangat adil, meskipun juga terkesan sangat aneh. Kita sama-sama pencinta binatang, namun bedanya sejak kecil kau sangat suka pergi ke kebun binatang, dan aku sebaliknya.”

    Dari samping kiri mereka terdengar auman singa yang mengantuk. Mereka terdiam sejenak. Saling merapatkan badan sambil terus berjalan, tapi sedikit pun tak menoleh ke arah kandang singa di sebelah mereka. Di hadapan mereka daun-daun berguguran, membentuk sebuah jalan yang, mungkin, menuntun mereka ke arah gerbang perpisahan.

    “Ya,” si lelaki melanjutkan, “kau tak suka ke sini karena tak tega melihat wajah binatang-binatangnya yang menyedihkan, bukan?”

    “Wah, ternyata kau benar-benar masih mengingatnya.” 

           Saat kekasihnya tersenyum, angin berembus dan dengan lembut membelah rambut poninya. Si lelaki tersenyum melihat jidatnya yang seluas lapangan sepak bola.

    “Sebenarnya aku pun sering berpikiran sepertimu. Aku sering kasihan melihat wajah binatang-binatang itu. Sepertinya mereka tersiksa sekali terkurung di dalam sana. Tapi, dulu ketika masih kecil, aku sering berpikir kalau hidup seperti mereka itu enak. Tidak harus capek-capek berangkat ke sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka hanya diam dan melamun, atau tidur-tiduran, tapi tetap saja diberi makan. Coba kalau aku hanya malas-malasan seperti mereka, pasti orang tuaku akan marah dan mengancam tidak akan diberi makan.”

    “Aku  juga pernah berpikir seperti itu. Tapi….”

    “Tapi apa?”

    “Aku juga ingin hidup bebas. Bukan hanya bebas berkeliaran, tapi juga bebas berpikir dan melakukan apa pun. Aku tidak mau kegiatanku, apalagi pikiranku, terbatas tembok-tembok atau jeruji-jeruji besi itu. Lagi pula, aku selalu membayangkan pasti akan sangat mengenaskan bila kita mati di dalam kandang. Sampai urusan mati pun kita tidak bisa bebas memilih tempatnya.”

    “Ya, kalau urusan itu, manusia sekalipun tidak bisa memilih mau mati di tempat seperti apa, seperti yang mereka inginkan.”

    “Itu jelas. Tapi setidaknya tidak mati di dalam kandang.”

    “Seandainya saja kita bisa memilih kapan dan di mana kita akan mati, ya.”

    “Memangnya jika bisa memilih, kau ingin mati di mana?”

    “Ehm….” Wajah si lelaki tampak begitu serius, mengernyitkan dahi, seperti memikirkan sesuatu yang sangat penting. “Aku ingin mati di dalam pelukanmu.”

    Wajah kekasihnya memerah. Tanpa terduga sebuah cubitan lembut mendarat di lengannya.

    “Dasar kau ini. Sudah mau berpisah, tapi masih sempat-sempatnya menggombal. Jangan-jangan, kau masih belum rela berpisah dariku, ya?”

*****
    “Tapi ngomong-ngomong, kau benar-benar tidak berpikir kalau aku sudah bosan denganmu, ‘kan?”

    Tanpa terasa mereka sudah berdiri di bawah gerbang yang bertuliskan “Selamat Jalan”. Tangan mereka masih bergandengan. Makin erat. Mungkin sedang sama-sama menghafal bentuk garis tangan masing-masing, agar kelak jika usia  makin menua mereka bisa mengingatnya, kalau pernah menjadi salah satu garis di tangan yang sedang mereka genggam itu.

    “Ya, aku paham. Sudah kubilang, aku pun   merasakan hal yang sama denganmu.”

    “Kau wanita terbaik yang pernah kutemui sampai saat ini.”

    “Ya, begitu juga denganmu. Mungkin justru karena itu kita merasa lelah seperti ini.”

    “Mungkin. Kau terlalu baik dan sempurna. Karena itulah kau menjadi terlalu mudah kurindukan. Bila sedang tak berada di dekatmu, aku tidak bisa melakukan apa pun. Semuanya menjadi serba tak tenang. Tiap menit aku selalu ingin bertemu denganmu, karena itu aku tidak bisa khusyuk membaca buku. Tiap detik, hanya kau yang terlintas di pikiranku, dan aku tidak pernah bisa menulis jika sedang berada di keadaan seperti itu. Benar-benar melelahkan, ya? Padahal, kita sudah sama-sama dewasa. Masih banyak hal lain yang mesti kita pikirkan.”

    “Tentu. Aku juga punya pikiran yang tak jauh beda denganmu. Cita-cita, masa depan, ehm… masih banyak sekali yang mesti kita pikirkan, ya? Ah, hidup ini memang sungguh melelahkan.”

    Mereka saling bertatapan. Menghujani mata masing-masing dengan sejuta kegelisahan. Kedua tangan mereka saling menggenggam. Lama sekali mereka seperti itu. Mungkin mereka sedang berharap, sepuluh tahun kemudian di tempat mereka berdiri dibuat sepasang patung, dengan posisi yang sama persis seperti mereka saat ini. Atau, diam-diam sedang berdoa agar Tuhan mau berbaik hati mengutuk mereka menjadi sepasang patung itu?

*****
    “Lalu, sampai kapan kita akan terus bergandengan tangan seperti ini?”

    “Aku tak mau melepasnya lebih dulu,” jawab si lelaki. “Kau saja yang melepaskannya.”

    “Bagaimana kalau kita suit saja supaya adil? Yang kalah melepaskan genggaman tangannya lebih dulu. Bagaimana?”

    “Baiklah. Ide bagus.”

    Pertarungan suit pun dimulai. Tiga kali suit, semuanya dimenangkan si lelaki. Mereka berdua tersenyum, mungkin lebih tepatnya mencoba tersenyum. Kini tangan mereka tak lagi saling menggenggam.

    “Melangkahkah terlebih dahulu, dan janganlah menoleh kepadaku.”

    “Baiklah.” 

          Kekasihnya tersenyum. Perlahan tapi pasti ia mulai melangkahkan kaki. Tapi, baru beberapa meter ia melangkah, dari belakang terdengar suara si lelaki memanggilinya.

    “Sayang….”

    (Mantan) kekasihnya menoleh, “Ada apa lagi?”

    “Tapi… kau sungguh-sungguh tidak berpikir kalau aku sudah bosan denganmu, ‘kan?”

    Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya langkah-langkah kaki dari wanita yang --baru saja ia menyadarinya-- akan dicintainya sampai mati. Dan suara langkah-langkah kaki itu akan terus menghantui si lelaki. Bahkan, sampai ia mati.(f) ***


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Azwar R. Syafrudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina"


0 Response to "Rencana Perpisahan"