Sampan Cahaya - Kautimbun-Timbun Masalalumu - Jika Pertemuan Melukai Hatimu - Engkau Selalu Saja Tidak Memarahiku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sampan Cahaya - Kautimbun-Timbun Masalalumu - Jika Pertemuan Melukai Hatimu - Engkau Selalu Saja Tidak Memarahiku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:55 Rating: 4,5

Sampan Cahaya - Kautimbun-Timbun Masalalumu - Jika Pertemuan Melukai Hatimu - Engkau Selalu Saja Tidak Memarahiku

Sampan Cahaya

kenapa kau ragu-ragu masuk ke dalam pelabuhan?
sampan cahaya masih kusandarkan di dermaga ujug selatan
masuklah! bukankah engkau sangat suka aroma laut?
atau kau sudah lupa pada sebongkah batukarang di ceruk selat
tempat kita dulu berdendang dan menulis puisi?
masuklah, segera kita naik sampan cahaya
jika kau ingin mengayuh sampan lebih jauh
kita bisa sampai ke ujung selat
kita bangun rumah kecil dari pasir dan kerang
jauh dari hiruk-pikuk
tapi apakah kauyakin untuk semuanya itu?
engkau mengangguk rupanya
menerabas gerbang pelabuhan
kau berlari ke dermaga ujung selatan
kau melompat ke sampan cahaya
katamu: kayuhlah sampan ini bung penyair!
aku pun mengayuh sampan dengan dada berdebar
peluh dan darahku mengucur membasahi pendayung dan pendar-hatimu.

Cilacap, 05 Agustus 2014

Kautimbun-Timbun Masalalumu

kautimbun-timbun juga masalahmu dengan humur cintamu
kautampung-tampung hujan siang ini
kaulapang-lapangkan hatimu
kataku; cinta mesti berbagi
kauremuk-remuk batu rindu
katamu; cinta mestinya menyenangkan
kaucari-cari mawar di tubuhku
kauhirup-hirup wanginya!

Cirebah, 04 Agustus 2014

Jika Pertemuan Melukai Hatimu

jika pertemuan hanya melukai hatimu
dan gerimis ini pagi terasa nyeri
hapuslah seluruh memori laut yang menghempas 
kabut yang menyibak di lembah
airmata yang gugur sepanjang bukit
juga nyala sekam dalam rumahmu.

Cirebah, 03 Agustus 2014

Engkau Selalu Saja Tidak Memarahiku

sekali waktu marahilah aku sepuasmu
sampan yang kukayuh menerabas kabut
membentur karang
tapi laut masih bersahabat
sampanku tak pecah
dengan segala kemampuan
sisa tenagaku mengayuh
membelah selat
bersandar di dermaga hatimu jua
aku melihat sorot matamu berkilat
benarkah engkau selalu mencemaskanku bila melaut
menangkap ikan mencari sesuap nasi
engkau kemudian begitu erat memelukku 
seribu puisi yang belum kautulis kaubisikkan ke telingaku
dan engkau selalu saja tidak memarahiku

Cirebah, 02 Agustus 2014

*) Eddy Pranata PNP, tinggal Cirebah pinggiran Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku antologi puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997) dan Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012). Puisinya juga terhimpun dalam sejumlah antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (20120, Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2015) dan lain-lain. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eddy Pranata PNP
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 22 Maret 2015

0 Response to "Sampan Cahaya - Kautimbun-Timbun Masalalumu - Jika Pertemuan Melukai Hatimu - Engkau Selalu Saja Tidak Memarahiku"