Sepotong Lidah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepotong Lidah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:30 Rating: 4,5

Sepotong Lidah

TEPAT pukul 08.00 pagi ketika sepotong lidah berjalan dengan menekuk dan meluruskan tubuh semacam cara berjalannya cacing itu sampai di depan pintu rumah Mia. Di belakangnya, orang-orang yang ia temui sepanjang jalan tadi lalu mengikutinya karena merasa aneh melihat sepotong lidah berjalan sendiri dan bertanya arah rumah Mia, berdiri bergerombol. Mereka seperti memberi ruang kepadanya dengan berdiri di halaman rumah tersebut. Dan sepotong lidah itu kemudian mengetuk pintu itu dengan cara melengkungkan tubuh, menciptakan tenaga tambahan dari tekanannya dengan lantai untuk melenting dan menubrukkan dirinya dengan pintu-pintu yang terbuat dari kayu jati emas itu. 

Semua orang yakin Mia belum akan bangun dari tidurnya pada pukul delapan pagi. Beberapa tetangga terdekatnya kerap bercerita kepada banyak orang bagaimana akhir-akhir ini tidur mereka terganggu karena, paling tidak, sampai pukul tiga pagi, lampu rumahMia masih menyala dan terdengar Mia tengah berbicara. Dan karena mereka tidak mendenga suara lain selain suara Mia, maka mereka yakin bahwa Mia sedang berbicara melalui telepon. Tapi begitulah, suara Mia cukup keras untuk mengganggu tidur mereka, namun terlampau samar untuk bisa didengar apa saja yang tengah dibicarakan Mia.

"Mungkin Mia berbicara dengan tunangannya lewat telepon. Biasalah, mereka kan lagi kasmaran-kasmarannya. Waktu duapuluh empat jam sehari terasa kurang melulu hehehe..." kata seseorang. Dan seseorang yang lain segera menimpali, "Sekarang mesra-mesraan, nanti kalau sudah jadi menikah ya masa bodo masa bodoan hahaha..." Lalu ada yang menyahut, "Siapa bilang mesra-mesraan terus? Semalam aku dengar Mia bertengkar. Suaranya seperti orang yang sangat marah." "Masa sih?" "Iya." "Oooo..."

Lepas dari kebiasaan Mia mengganggu ketenangan tidur tetangganya dan anggapannya bahwa jam delapan pagi masih termasuk dini hari hingga ia tidak merasa harus sudah bangun pada jam delapan pagi, segenap orang meyakini bahwa Mia dan tunangannya adalah pasangan paling serasi di jagat raya ini. Secara fisik, Mia begitu sempurna sehingga kadangkala menjerumuskan orang-orang pada anggapan bahwa ia tidak berasal dari bumi, melainkan diturunkan Tuhan langsung dari surga. Sedang tunangannya adalah seorang polisi dengan karierdan masa depan yang seperti tidak memberi ruang bagi ketidakbahagiaan untuk ikut ambil bagian di sana. Sederet prestasi menakjubkan telah membuat tunangannya menjadi legenda hidup dalam usia yang masih teramat muda. Namun tunangannya telah menjadi sebuah kosakata dalam kamus besar yang bermakna harapan dan kebesaran bagi para penegak hukum bagi mereka-mereka yang dianggap pelanggar hukum.

Ilustrasi karya Joko Santoso
Tunangan Mia adalah seorang pahlawan.Oh, tidak, tunangan Mia adalah seorang pahlawan super. Cerita-cerita tentang lelaki itu melekat begitu erat dalam benar setiap orang dan setiap orang itu kemudian menjadikan cerita tersebut sebagai dongeng pengantar tidur bagi anak-anak mereka dengan harapan dan doa agar anak-anak itu kelak tumbh dewasa dan menjadi seperti tunangan Mia. Bila kau orang luar dan ingin mengerti hal-hal hebat tentang tunangan Mia, bertanyalah pada sembarang orang yang kau temui dan akan kau dengar bagaimana pada suatu ketika, tunangan Mia berhasil membongkar sindikat pengedar narkoba terbesar di Asia dengan barang bukti seratus ton sabu-sabu dan tujuhpuluh lima ton heroin. Atau ketika ia menangkap pembunuh berantai yang telah menewaskan tigapuluh lima orang dalam jangka waktu setahun yang selalu memperkosa korbannya, baik laki-laki maupun perempuan, sebelum memenggal kepala mereka dan menjadikan kepala itu hiasan dinding setelah direndam selama tiga hari dalam larutan formalin.

Namun dari itu semua, yang paling membuatnya istimewa adalah perannya  yang tidak terkira besarnya dalam menyelamatkan negara ini dari hasutan dan gerakan para pemberontak yang hendak kudeta di sebuah tahun ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan menuntut presiden mundur. Dialah yang menculik para provokator dan para pimpinan gerakan bawah tanah, menjadikan mahasiswa surut setelah demonstrasi tak henti-henti selama seminggu. Dan membuat pemerintahan yang sah aman dari segala ancaman.

Dan kini, seminggu sebelum hari pernikahan Mia, sepotong lidah yang di pangkalnya masih meneteskan darah sehingga membentuk jejak panjang di sepanjang jalan yang dilaluinya, berjalan sendirian menuju rumah Mia. Si tukang sayur adalah orang pertama yang melihatnya. Ia ingin terkejut, tapi tak sempat melongo karena lidah itu mengeluarkan suara, sebuah pertanyaan, dan mau tak mau, sebagai orang yang sejak kecil telah diajari sopan santun, si tukang sayur menjawab pertnayaan sepotong lidah tersebut.

"Di mana rumah Mia?"

"Di sana. Lurus, ada perempatan, belok kiri, jalan terus, rumah bercat hijau."

Lalu orang lain menerima pertanyaan yang serupa. Lalu orang lain lagi. Lalu orang lain lagi. Dan begitulah terus sepanjang jalan menuju rumah Mia. Dan siapa pun yang ditanya dan menjawab, meninggalkan aktivitas mereka untuk mengikuti sepotong lidah tersebut.

"Lidah siapa itu?"

"Entahlah."

"Begitu ajaib."

"Ya. Begitu ajaib."

"Kenapa dia mau ke rumah Mia?"

"Mungkin lidah itu bermaksud jahat."

"Maksudmu?"

"Mungkin itu lidah pencuri. Atau pembunuh. Atau bandar narkoba yang dipotong tunangan Mia."

"Mungkin itu lidah aktivis atau demonstran. Mereka kans uka menghasut dan meneriakkan tuduhan-tuduhan palsu pada pemerintah. Hukuman bagi orang-orang kayak gitu kan emang mesti dipotong lidahnya."

"Ah, masa iya? Masa idah itu mau berorasi atau pidato di rumah Mia?"

"Bodoh! Lidah itu akan meneror Mia sebagai wujud balas dendamnya kepada tunangan Mia."

"Kalau begitu kita harus menolong Mia."

"Jangan bodoh dengan mencampuri urusan yang bukan urusanmu. Nanti lidah itu malah akan menerormu dan keluargamu. Mau kamu?"

"Tidak! Tidak. Itu mengerikan."

Sepotong lidah itu masih terus berupaya mengetuk. Orang-orang masih yakin Mia masih tertidur. Dan tak ada yang menduga bahwa di dalam rumah, Mia tengah merias wajah dan memilah baju yang paling bagus. Ia ada janji pagi ini. Janji untuk bertemu dengan lelaki yang membuatnya betah menelepon berjam-jam hingga dini hari setelah tunangannya pulang dari rumahnya. Lelaki yang ia temui secara tidak sengaja di taman kota tiga hari setelah Mia menerima lamaran lelaki yang kini jadi tunangannya. Lelaki yang salah satu sms-nya lupa tidak dihapus Mia kemarin sehingga tunangannya menggebrak meja dan pergi dari rumah Mia tanpa mencicipi kopi setelah memeriksa ponsel Mia.

Ah, saya tidak hendak mengatakan bahwa sepotong lidah yang berjalan sendirian ke rumah Mia itu adalah lidah lelaki yang ditunggu Mia, yang berkata ingin mengatakan betapa ia mencintai Mia secara langsung dan tidak lewat telepon, yang telah dipotong oleh tunangan Mia yang telah dianggap sebagai pahlawan super itu. [] - g

Mojokerto 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" pada 29 Maret 2015

0 Response to "Sepotong Lidah"