Sepotong Memori Dalam Labu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepotong Memori Dalam Labu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:18 Rating: 4,5

Sepotong Memori Dalam Labu

 “Hei, kudengar abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud sampai ke Yogyakarta. Di televisi, jalanan Yogya putih semua. Seberapa parah di rumahmu?”

Pesan teks itu dikirim kawanku yang berdomisili di Jakarta. Pesan itu pula yang membangunkanku dari tidur malam yang tak nyenyak. Kulihat penunjuk waktu di sudut layar. Baru pukul enam. Total, aku baru tidur tiga jam. 

Masih berbaring, aku menatap jendela. Benar saja, atap rumah seberang diselimuti abu keperakan. Aku yakin, rumahku bernasib sama. Aku sempat menonton berita tengah malam tentang erupsi Gunung Kelud, tapi tidak menyangka abu yang dikirim ke tempatku sebanyak ini.

Melihat rintik abu yang menyerupai salju, sepotong memori di sudut pikiranku yang berdebu membawaku ke empat tahun lalu.

Aku menggeliat, memutar badanku hingga berbaring menghadap kiri. Sepasang bola mata gelap menyapa pagiku. Dia berbaring menghadapku, dengan mata kuyu dan senyum tipis yang selalu memabukkan. Rambut hitam panjangnya terlihat kusut, tapi tetap menawan. 

Bagiku, dia adalah bukti nyata jika perempuan terlihat paling cantik ketika baru bangun tidur.

“Hei,” sapanya lirih. “Sudah bangun?”

Dia ikut menggeliat, meregangkan tangan dan kaki kuat-kuat. Ketika matanya menangkap pemandangan di luar jendela, dia bergumam, “Sudah tebal, ya, abunya.”

Aku mengerang tidak jelas. Mataku kembali terpejam. Dalam kamusku, kegiatan akhir pekan baru dimulai pukul sembilan. Masih banyak waktu untuk mengais jam-jam tidur yang terlewatkan sepanjang minggu karena lembur. Kesunyian singkat itu diakhiri dengan tangisan nyaring dari ranjang bayi, tak jauh dari tempat tidur kami.

“Bangun, Yah. Masa kalah sama anaknya.” Dia tertawa kecil sebelum bangkit untuk menyusui anak kami. Putri kecilku yang baru berusia satu tahun. Aku menjawab gurauannya dengan tersenyum, lalu membenamkan wajah pada bantal, melanjutkan mimpi yang tertunda.

***
Sudahkah kukatakan kalau aku membenci waktu? Terdengar konyol, memang. Tapi, aku benci terbawa arus yang tak bisa kulawan. Seperti saat ini. Sejak kapan langit-langit kamarku dipenuhi bercak kecokelatan? Sejak kapan buku-buku koleksiku bertebaran di lantai kamar? Mengapa aku tak pernah menyadarinya? Waktu berjalan cepat, terlalu cepat untuk kukejar. 

Kuketik sebaris pesan di ponsel untuk membalas pertanyaan temanku. “Ya, cukup tebal. Sepertinya tidak bisa ke mana-mana.”

Aku menghela napas panjang, kemudian bangun dari tempat tidur. Melewati ruang makan, aku langsung menuju teras belakang. Tidak kuhiraukan abu yang masih turun menyerupai gerimis. Masker juga tidak kukenakan. Ini semua demi sepotong memori yang lama tak kusentuh.

Senyumku terkembang ketika melihat dia menyirami tanaman dengan selang biru panjang. Masker hijau menutupi hidung dan mulutnya. Abu vulkanik sedang tebal-tebalnya menyelimuti halaman belakang. Semua terlihat putih, seolah salju baru saja turun di negeri tropis ini.

Dia, yang menyadari keberadaanku, menoleh. “Tukang tidur sudah bangun? Itu, sarapannya di meja makan. Aku sudah makan tadi.”

Aku beranjak ke meja makan, lalu kembali membawa kopi hangat dan sepiring nasi goreng. Aku menonton kegiatannya dari bangku teras, di samping meja kaca bundar tempat kopinya yang telantar berada. Lantai yang harusnya diselimuti abu, sudah bersih. Kutandaskan sarapan, kuseruput kopi, namun dia masih sibuk membersihkan abu sambil mengoceh.

“Kenapa abunya tebal sekali, sih? Lihat tanaman cabai ini. Kasihan kalau sampai rusak.”
Istriku suka bercocok tanam. Dia menjadikan halaman belakang rumah kami sebagai laboratoriumnya. Ada berbagai macam tumbuhan di sana. Mulai dari cabai, jeruk, pepaya, hingga pohon mangga yang tumbuh kekar di sudut.

Dia bukan sarjana biologi, apalagi pertanian. Dia terbiasa mengurusi masalah orang lain dalam pekerjaannya sebagai psikolog. Sama seperti dokter yang terkadang jajan sembarangan, dia tidak sepenuhnya bijaksana. Di rumah mungil kamilah dia menjadi dia: santai, cerewet, dan paling sebal jika tanaman peliharaannya rusak.

Aku berusaha menarik perhatiannya. “Masih pagi. Siapa tahu ada abu susulan. Untuk apa membersihkan sekarang?”  Dia menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.

“Kemarilah. Kopimu keburu dingin.”

“Minum saja. Aku masih mengurus si cabai.”

“Ayolah, kau lebih memedulikan cabai daripada suamimu?”

Memang tidak mudah untuk membujuknya. Kepalanya sekeras batu. Kalau boleh, aku memilih membujuk kucing peliharaan kami yang tidur manis di sofa ruang tamu. Setidaknya, kucing kami akan menurut bila diberi makan. Sementara istriku? Ikan paus lewat di depan rumah pun tidak akan menarik jika dia sedang mengurus tanaman.

Baru lima belas menit kemudian, setelah yakin kebun kecilnya terlihat lebih bersih, dia mengistirahatkan diri di sebelahku. Peluh mengalir dari pelipisnya. Tangannya terayun sia-sia di sekitar leher untuk menciptakan sedikit angin. 

Dia menyesap kopinya yang sudah dingin, lalu berkata dengan semangat, “Sepertinya aku harus beli bibit. Banyak tanaman yang rusak.” 

Aku mengangguk. Memang, taman kecilnya terlihat menyedihkan. “Tunggulah sampai semua mereda. Percuma kalau menanam sekarang.”

“Memang. Abu ini menyebalkan,” keluhnya. “Bahkan sampai masuk rumah. Kasihan si kecil kalau sampai menghirupnya.”

“Lebih kasihan lagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal karena ini,” sahutku. 

“Ya. Kadang-kadang aku pikir, sebaiknya kita pindah ke tempat yang lebih aman dari bencana.”
Aku tergelak. “Yogyakarta enggak seburuk itu, tahu. Tanya siapa pun temanmu yang pernah ke sini, pasti ingin balik lagi.”

Dia mengangkat bahu. Dua kakinya dinaikkan ke kursi, sementara tangannya memegang cangkir kopi. “Menurutku, yang terpenting si kecil nyaman. Aku enggak sabar melihat dia, beberapa tahun dari sekarang, pergi ke sekolah untuk pertama kalinya. Dia bakal nangis enggak, ya? Kuharap, sih, enggak. Dia anak yang hebat, kok.”

Pagi itu kami habiskan dengan merangkai angan dan bertukar cerita. Dua cangkir kopi yang kosong menandai berakhirnya bincang pagi kami, karena si kecil harus sarapan.  Sementara istriku menyiapkan makanan, aku memandangi langit yang muram. Tidak membiarkannya menodai rasa syukurku atas keluarga kecil yang kumiliki.

***

Aku duduk termenung di teras belakang, meracuni paru-paru dengan partikel abu yang melayang-layang di udara sebelum hinggap di rumput, lantai, atau saluran pernapasanku. Sudah sering kudengar bahaya abu vulkanik. Ha. Kalau aku mati karena menghirup terlalu banyak, bisa dipastikan aku mati bunuh diri. Karena sebagian diriku menginginkan itu. 

Matahari masih bersinar malu-malu di balik kepungan abu, tapi aku tahu, hari beranjak siang ketika pintu yang menghubungkan teras belakang dan ruang makan terbuka keras, mencabut paksa sepotong memori yang sejak tadi menggangguku. Istriku berdiri di ambang pintu, wajahnya diliputi kecemasan. “Si kecil panas. Tadi pagi sudah agak hangat, tapi suhu badannya meninggi sampai siang ini.”

“Oh, ya?” Aku menatap lapisan abu yang masih tebal, lalu berpaling padanya. “Kita enggak punya obat penurun panas?” Terlalu berisiko untuk membawanya ke rumah sakit. Di luar sana abu pasti beterbangan karena jalanan yang dilewati kendaraan.

Dia memijat pelipisnya sambil menggeleng. “Aku lupa membeli persediaan. Apa kubeli saja di apotek?”

Ada satu apotek yang buka dua puluh empat jam di dekat rumah. Mungkin itu ide yang bagus. “Jangan lupa pakai masker,” ujarku.

Dia mengangguk. Lalu, tanpa kuduga, dia mencondongkan tubuh dan mencium pipiku. “Aku segera kembali,” bisiknya.

Aku mematung sampai dia menutup pintu. Rambutnya yang tergelung asal-asalan menjadi pemandangan terakhir sebelum debam pintu kayu menandakan kepergiannya.

Lalu aku menunggu, dan menunggu.
Aku menenangkan si kecil yang menangis, sambil menunggu.
Tapi, dia tidak pernah kembali.


***
Dari pintu yang terbuka, kudapati sosok yang kutimang empat tahun lalu. Dia menjulurkan kepala dari balik pintu. Seperti yang dilakukan istriku kalau aku sedang membaca koran di teras belakang, untuk memastikan bahwa dia tidak mengganggu.

Dan, aku mulai menangis.
Aku terisak seperti anak kecil di bangku teras belakang, disaksikan tanaman yang telah berubah liar. Tidak ada tanaman cabai. Tidak ada tanaman jeruk. Yang tersisa hanya rerumputan berselimutkan abu keperakan, terlihat mati. Tidak ada yang menyirami mereka dengan selang biru. Tidak ada yang peduli.

Aku ingat dengan jelas terakhir kali aku menangis seperti ini. Empat tahun lalu, saat Gunung Merapi memuntahkan isinya. Di rumah sakit, segera setelah aku mendapat kabar kalau istriku tertabrak mobil ketika hendak menyeberang jalan raya. Obat penurun panas masih berada dalam genggamannya ketika dia dinyatakan meninggal di tempat.

Aku membenci waktu, karena aku tidak bisa memutarnya. Mengapa bukan aku yang membeli obat penurun panas? Aku tidak melakukan apa-apa siang itu. Akan lebih baik jika istriku di rumah, menemani si kecil. Apa yang kupikirkan?

Isakanku terhenti ketika lututku disentuh. Kupaksakan diri untuk membuka mata, mengusir pedih, meski itu sia-sia. Kudapati sepasang manik hitam menatapku cemas. Dua tangan mungilnya merangkum wajahku.

“Papa kenapa nangis? Papa kangen Mama,  ya?”

Putriku, si kecil yang kini berusia lima tahun, adalah miniatur ibunya. Terkadang aku merasa Tuhan menghukumku. Dia begitu mirip, seakan waktu berputar dan aku bertemu dengan istriku yang masih kecil. 

Kupaksakan seulas senyum seraya merengkuhnya ke dalam pelukan. “Malaikat kecil Papa sudah bangun?”

Di pundakku, dia mengangguk. “Abunya tebal banget, Pa. Papa enggak kerja? Ini kan hari Jumat.”
“Enggak. Papa di rumah saja, menemani kamu.”  Lagi pula, aku yakin perkantoran dan sekolah akan tutup karena abu tebal ini.

Kalau istriku masih hidup, dia pasti marah karena si kecil keluar kamar, terekspos butiran abu tebal yang masih turun dari langit. Lalu dia akan menunggu sampai hujan abu reda untuk menyirami tanaman.

Maka, aku mengangkat si kecil, dengan kepalanya yang terkulai di pundakku, untuk masuk ke rumah. Membawa sepotong memori yang tersimpan di sudut pikiranku, berselimutkan abu empat tahun lalu. (f) ***

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arstya Khumaira 
[2] Pernah terssiar di surat kabar "Femina"

0 Response to "Sepotong Memori Dalam Labu"