Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (11) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (11) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 23:33 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (11)

SAMPAI suatu ketika, tatkala gerimis rinai, setelah empat tahun dilakoninya sebagai salah satu karyawati di tempat bursa syahwat itu, Zaitun di usia separuh baya, duduk di birai katil di depan Mamah Sam, satu dari sederet induk semang di lokalisasi kumuh itu. Wajahnya kusut terlipiat waktu. Rambutnya masai, tak tersisa lagi hair do yang modis. Uban di sana sini.

"Sakitmu kian parah, Tun. Sebulan ini kamutidak kepayon. Utangmu menumpuk. Kamu tahu pemetuku semata-mata dari menyewakan kamar. Penghasilanku tidak seberapa. Kamu tentu paham itu," ujar Mamah Sam sember meski diupayakan sareh.

"Rasanya aku tidak kuat lagi menanggungmu. Hari ini kamu harus pergi." Mamah Sam mengulurkan selembar puluhan ribu rupiah. Kamar pengap terasa begitu sumpek bagi Zaitun. dan ia harus pergi, memang. Tak perlu ditunda. Semakin cepat sesuatu hal memburuk, semakin segera hal itu akan membaik. Zaitun pun bingkas dari timpuhnya.

"Aduh."

Zaitun menyeringai, dada kirinya terasa nyeri. Sudah setahun dadanya diganjal empat klem untuk membantu metabolisme jantungnya. Sebulan sekali ia harus cek ke rumahsakit, dan setiap hari musti ditelannya kapsul-kapsul yang menyedihkan itu. Maka sudah setahun pula Zaitun berhenti merokok. Zaitun memang harus memilih, rokok atau obat. Kalau pilihannya jatuh nomor dua, berarti dia harus kerja keras untuk menyambung hidup. Bukan dalam arti kiasan. Karena tanpa kapsul dan cek dokter --yang memang menguras tabungannya-- empat klem di dalam dadanya mungkin benar-benar akan meloncat keluar setiap dia batuk. Kemudian, pada batuk yang keempat nyawanya akan ikit mabur sekalian.

Dan tepat saat matahari mengangkang garang di atas pelipis, Zaitun tertatih keluar dari lokalisasi tanpa harus resign. Tanpa angin. Tanpa mega. Tanpa kopor, tanpa maskara. Tanpa bekal, tabungan apalagi. Sinta, Uci, Wati, Asih, teman-temannya bermain kartu ceki, semua membanting muka. Sempoyongan Zaitun berjalan di bawah tatapan bengis malaikat penjaga Firdaus. Badannya demam. Mungkin karena sipilis menggerogoti tubuhnya, barangkali karena tudingan pedang menyala sang malaikat dengan wajah dengkinya. Entahlah.

"Gusti paringana kakiyatan," sergah Zaitun. Matanya merah sembab. Bibirnya kering. Gusinya berdarah. Dan sakit jantungnya kumat. Sudah dua bulan ia tidak menebus resep dokter untuk obat jantung dan penurun kolesterol, karena bahkan untuk makan sehari-hari pun ia musti ngutang Mamah Sam. Ia merawat jantungnya hanya dengan jamu tradisional.

Dan kekiyatan itulah sumber daya yang menuntun Zaitun secar ajaib sampai ke tempat praktik dokter Willy yang siang itu dijejali pasien sebagaimana biasa. Bedanya, kalau dulu iamenunggu giliran dengan tertib, Kini para pasien berserabutan menyibak sambil menutup hidung. Suster pun tanggap. Dengan sigap Zaitun ditarik masuk ke ruang periksa, dan kali ini tidak ada yang memrotesnya.

"Maria Zaitun, utangmu banyak. Kamu paham?"

Zaitun mengangguk lesu.

"Sekarang uangmu berapa?"

"Sepuluh ribu rupiah."

Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.

Ia kesakitan waktu melucuti pakaiannya dari tenun gringsing yang kusam, sebab bajunya lengket dengan borok yang bertebaran di selangkangan, ketiak dan payudaranya yang lusuh.

"Cukup!" Dokter urung memeriksa. Hidungnya kembang kempis bau wengur.

"Kasih ia suntikan vitamin C," bisiknya ke suster.

"Vitamin C? Paling tidak ia perlu Salvarzan, Dok, atau Amoksilin."

"Ngapain? Ia tidak bawa uang. dan hampir mati. Suruh berobat ke klinik Tong Fang."

"Tong Seng, Dok?" Suster kebngungan.

"Tongseng gundhulmu," sengau dokter.

Jarum suntik menusuk uratnya, mengalirkan vitamin C ke tubuh ringkihnya, bersamaan malaikat penjaga Firdaus dengan wajah dengki dan pedang menyala meuding ke paras Zaitun yang gemetaran; hilang rasa, hilang akal, ia penjaja syahwat yang nestapa.

"Gusti, aku mengundang-Mu masuk ke dalam hatiku, dalem nyuwun kekiyatan."

Zaitun menyusuri jalan kemarau selepas dari tempat praktik dokter. Jam menunjuk pukul satu. Matahari masih menyetel panasnya. Zaituyn nyeker, tanpa sandal, dan aspal lumer di bawah kakinya.

Dan kekiyatan itu pula, lagi-lagi, menuntunnya secara ajaib ke gereja. Tapi terlambat. Pintu gereja yang kokoh itu sudah digembok, karena was-was rumah Allah itu akan disatroni pencuri. Zaitun menuju pastoran dan menekan bel.

Tak berapa lama okster berwajah tirus keluar dan melontarkan secebis pertanyaan: "Kamu mau apa? pastor sedang makan siang. Dan ini bukan jam bicara."

"Maaf. Saya sakit. Ini perlu."

Koster meneliti tubuhnya yang dekil dan apak. Hidung Koster kembang kempis.

"Tunggu di luar. Aku tanya pastor apa bisa menerima kamu." Koster masuk sembari menutup pintu rapat-raoat. Menguncinya dua kali. Nah, anijng Herder pun tak akan bisa masuk.

Di bawah kerindangan Methuselah, Yew, Arbol de Tule, dan pohon penjara Boab, Maria Zaitun menunggu sabar dengan peluh berdliweran. Matanya tertuju ke pintu dengan penuh harap seolah itulah pintu surga. Berkali-kali ia menyeka keringatnya yang terasa lanug. Seekor kupu-kupu Troides Helena melintas riang, kemudian bertengger di kelopak kembang krisan, sembari menyerahkan penatnya setelah seharian  mengepakkan keindahan warna. Tujuh puluh menit ia menunggu di siang yang gemeratak itu barulah pastor keluar sembari mengorek sisa makanan dari giginya yang rumpang. Dinyalakan cerutu flavorcigar di apitan bibirnya yang hitam seperti belangkin.

"Kamu perlu apa?" tanyanya parau. Bau anggur barbarosa crape berhamburan dari mulutnya. Ia berdiri kekar dengan selop kulit buaya. Jubah putihnya yang gombor kurang sukses menyembunyikan perut tambunnya.

"mau mengaku dosa."

"ini bukan jam bicara. Ini waktu saya untuk berdoa."

"Saya mau mati."

"Ohh, kamu sakit?"

"Rajasinga."

"Santo Petrus." Pastor mundur dua tindak. Mukanya mungkret.

"Apa kamu, hmmmm, kupu-kupu malam?"
 Maret 2051
Maria Zaitun mengangguk. "Saya pelacur."

"Santo Pterus." Pastor terbelalak. "Tapi kamu Katolik!"

"Ya. Maria Magdalena baptis saya."

"Santo Petrus." Pastor memandangnya takjub. []
(bersambung)-c


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 22 Maret 2015


0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (11)"