Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (12) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (12) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:10 Rating: 4,5

Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (12)

TIGA detik hening. Sepi memagut. Matahari terus menyala. Lalu pastor berdehem.
"Kamu telah tergoda dosa."

"Bukan tergoda. Tapi melulu berdosa."

"Setan berhasil membujukmu."

"Bukan pater. Saya terdesak kemiskinan. Dan gagal mencari kerja lain."

"Santo Petrus."

"Santo Petrus! Pater, saya tak perlu nubuatan, dan saya juga tidak perlu tahu asal-usul dosa. Persetan semua itu. Yang nyata, hidup saya gagal. Jiwa saya risau. Saya mau mati. Jantung saya serasa copot. Saya ini penyintas jantung koroner. Saya takut sekali. Saya perlu malaikat atau Bapa Serani untuk menemani saya." Zaitun menceracau dengan kalap. Air matanya porak ditemani setan yang bersorak. Tapi pastor tidak merespons, seolah teriakannya bak gelembung sabun yang ditiup bocah, lalu pecah entah jadi apa, begitu saja.

Muka pastor merah hitam seperti vitis vinifera. Matanya nyalang seolah berkata: "Akulah Mesias." Dadanya turun naik bergelombang.

"Kamu galak seperti singa betina. Barangkali kamu akan gila, tapi tak akan mati. Kamu tak perlu pastor. Kamu tak perlu Bapa Serani. Kamu perlu psikiater, sebab kamu psikopat, kamu mengidap.. hmmm... bipolar disorder tingkat dua."

"Tunggu, Pastor akan ke mana?"

"Pekerjaanku banyak. Bukan hanya mengurusi kamu. Aku harus segera berdoa."

"Pastor, tunggu."

"Biarkan aku menjaga sukmaku, silakan pergi dari sini, sekarang."

Zaitun tak hanya kecewa, tapi murka. Teganya pastor berdusta. Ia teringat novelis Mark Twain pernah mengatakan, perbedaan antara dusta dan kucing ialah bahwa kucinghanya punya sembilan nyawa. Dusta, dengan demikian, jauh lebih sulit sekarat. Ia hanya bisa dihentikan oleh lawannya yang sering disebut sebagai 'kebenaran.' Tapi kebenaran, apapun definisinya, tampaknya kini sudah kelelahan sebelum berhasil mengejar dan menghajar kebohongan.

Zaitun ingat ia pernah membaca cerita tatkala Umar, sahabat nabi, mengangkat para gubernur di istana, pesannya tegas: "Kalian tidak boleh makan roti dari gandum yang baik, dan kalian tidak boleh menutup pintu bagi kepentingan rakyat."

Pintu pastoran ditutup keras, bummm, dan Zaitun meng-getuni perjalanan ke pastoran etrasa sia, karena manusia gagal menjaga sukmanya. "Manusia tak mau mengenaliku, bahkan padri pun menjaga jarak denganku. Rasanya tak mampu lagi aku menapak di jalan-Mu." Zaitun mendesah kelu.

Matanya melongok ruang gereja yang tintrim. Seekor kucing Russian Blue melintas acuh di pelataran. Bulunya pendek, abu-abu metalik. Bunga tasbih berdiri angkuh di sudut. Ia melihat lilin yan menyala seolah berkata, "Jangan takut, Zaitun, selama aku masih ada dan menyala, hidupmu dalam terang."

Itulah harapan. Tapi benarkah Maria Magdalena Zaitun masih boleh memiliki asa, tatkala malaikat penjaga firdaus dengan wajah sombongnya, dan  penuh rasa jijik menusukkan pedang menyala tepat di sela kelangkangannya. Bukankah harapan hanya boleh digenggam oleh pastor dan kaum aulia?! Sementara ia adalah pelacur yang terhina dan kalah, yang tersuruk di bawah matahari sepenggalah?!

***
PUKUL enam sore, Zaitun menyelonjorkan kaki di birai pantai Wodarapayung BInangun. Ia hanya ditemani angin mendayu bertudung sutera senja. Mentari kini melorotkan panasnya. Dengan lega ia melenggut di pasir disiliri desau bakau yang menderai. Tubuhnya terasa pliket, maka ia basuh kaki, tangan, etlinga,d an muaknya.. Lalu ia mulai makan pelan-pelan. Baru sedikit remah-remah makanan yang ia dapatkan dari mengorek sampah itu tertelan, ia berhenti. Badannya semakin lunglai. seleranya padam. Dicelupkan wajahnya, glek glek, ia meminum air meski terasa sedikit asin.

Ditengadahkan wajahnya. Malaikat penjaga Firdaus, tak kau rasakah bahwa senja telah benar-benar rubuh di cakrawala, angin turun dari gunung, dan matahari pun merampungkan tugasnya dengan menebarkan sinar pungkasnya ke seluruh permukaan laut, sebelum akhirnya tertidur? Mengapa pedangmu terus menyala di sela air laut yang terantuk karang?!

Serangga bersuiran. Poohon-pohom dan perdu di tepi laut tampak tenang, dan berkilauan ditimpa sinar bulan. Zaitun berdiri. Ia tak takut lagi. Teringat masa balita dan remajanya, setiap sore berkecipak di sungai dnegan Mbok Yem, pembantu setianya. Memanjat pohon kersen. Mencari jingking dan undur-undur. Berkawan eknangan masa silam, Zaitun tak lagi merasa sepi. dan takutnya pergi, Pikirannya bergegas ingin lebih jauh menelusuri kisah hidupnya, namun lantaran itu ia kembali diingatkan kegagakan hidupnya. Ia pelacur nista dan celaka. Duka meringkusnya erat-erat, dan Zaitun sadar, "Ini tidak baik untuk penyakit jantungku. Siapa berhak menolongku?"

Tapi malaikat penjaga Firdaus dengan wajah dinginnya tidak memberikan jawaban. Sia-sia mencoba bicara padanya. Ia malah membuang muka dengan pedang tetap menyala.

(Waktu. Bulan. Cemara. Belukar. Peluh wengur. Sungai. Borok. Sipilis. Payudara rombeng. Perempuan. Bagai kaca air laut memantul cahaya gemilang. Rumput ilalang berkilatan). Seorang lelaki muncul dari seberang.

"Maria Magdalena Zaitun, engkaukah itu?"

Belum sempat Zaitun menjawab , lelaki itu sudah berdiri di depannya. Berdada bidang dan parasnya elok. Rambutnya ikal dan amtanya lebar, mengingatkan Zaitun akan seorang pesohor. Zaitun berdebar-debar. Dadanya berdegup aneh, ia seperti pernah kenal lelaki itu, entah di mana, yang jelas tidak di ranjang (patut disayangkan, sebab ia menyukai lelaki seerti itu).

"Kita ketemu di sini." Lelaki itu berkata lembut. "Kita dipertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah akan emnjadi bagian epnting atau sekadarnya. Namun tetaplah menjadi yang terbaik di waktu ini. Kita lakukan dengan tulus. Tidak ada yang sia-sia karena tidak dipertemukan untuk satu alasan."

Maria Zaitun terguguk, mulutnya terkunci. Sementara ia terpesona, tiba-tiba lelaki itu membungkuk, mencium bibir keringnya. Zaitun merasa seperti mereguk air kelapa. Belum pernah ia merasakan ciuman speerti itu. Zaitun tak berdaya karena memang suka. Ia menyerah pasrah, dan diizinkan oleh redupnya malam. Mereka bersatu, berkelindan, dan Zaitun pun lupa waktu.
[] (bersambung)-c

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 29 Maret 2015


0 Response to "Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (12)"