Tidak Mudah Menjadi Hantu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tidak Mudah Menjadi Hantu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:26 Rating: 4,5

Tidak Mudah Menjadi Hantu

SULTAN Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas akibat sengatan listrik di ruang tamu rumahnya. Ya, ketika itu usianya 38 tahun, dan apabila ia masih menjalani kehidupan sebagai manusia bernyawa maka kini ia genap 45 tahun.

Sultan Saladdin adalah lelaki baik-baik. Berumur tiga puluh delapan tahun kala itu, menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertama tanpa anak, pernikahan kedua ia beroleh dua orang anak. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah mingguan ternama di ibu kota, dan ia begitu mencintai buku, terutama buku sastra. Ia bergabung dengan komunitas penikmat sastra dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh komunitas di mana ia menjadi anggota, meskipun bukan sebagai anggota aktif.

Kedengarannya memang konyol; dan agak berlebihan, Sultan Saladdin baru mengetahui kematiannya setelah 7 tahun kemudian. 7 tahun. Bukan 7 bulan, apalagi 7 hari. Lalu ke mana saja ia selama 7 tahun setelah kematiannya yang menyedihkan itu? Ia sendiri tampak bingung. Dahinya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Saat ini ia merasa masih hidup. Dan, saat ini ia berada di sini, di rumahnya sendiri, sebagai hantu.

Dengan kondisi masih linglung, Sultan Saladdin berjalan menuju dinding ruang tamu, agak ragu-ragu ia menerabas masuk melalui dinding dan ia berhasil. Ia bisa menembus dinding tanpa terhalang lapisan semen dan batu bata di dalamnya. Ia lolos begitu saja serupa angin yang menembus kelambu. Ia kini di kamar tidur, istri dan anak-anaknya tidak ada di rumah saat ini. Kamar tidur lengang. Ia melihat sebuah sisir yang tergeletak di atas kasur. Dengan tangan kanannya ia berusaha untuk mengambil sisir tersebut dan memindahkannya ke meja rias, namun hal itu tidak bisa dilakukannya. Sisir itu seperti menjelma menjadi air yang hendak digenggam. Sultan Saladdin hanya memegang udara. Sebagai hantu yang baru berada di dunia lain, Sultan Saladdin belum menyadari bahwa untuk memindahkan benda para hantu harus mempelajarinya secara serius, karena dibutuhkan kemauan, kesabaran, kerja keras, dan stamina yang mumpuni. Pada kenyataannya menjadi hantu tidaklah mudah bagi Sultan Saladdin. Ia mulai frustasi.

Sultan Saladdin beranjak dari kamar tidur, ia menembus dinding kamar tidur menuju ruang makan. ia tertegun sejenak.

Ketika tiba di ruang makan, ia berharap mendapatkan suasana yang lebih ceria ketimbang di kamar tidurnya yang muram. Kenyataannya ia menemukan sebuah ruang yang begitu sepi. Ia melihat sekeliling ruangan. Ada meja makan, enam kursi, dan lemari pendingin.

Sebuah jam besar menghadap ke arah Sultan Saladdin, dan ia mengamati jarum detiknya bergerak dengan jemu, seakan menegaskan lambatnya pergantian waktu bagi hantu seperti dirinya.

"Tidak ada siapa-siapa," gumamnya.

Sultan Saladdin menghela napas, bertanya-tanya mengapa ia menjadi hantu setelah 7 tahun kematiannya. Ia memiringkan kepala, berpikir keras lagi.

Menjadi hantu setelah 7 tahun kematian memang sesuatu yang aneh. Namun karena ia memiliki daya ingat yang luar biasa, perlu diingat ia seorang wartawan semasa hidupnya. Samar-samar lantas makin tajam dan jelas Sultan Saladdin ingat ketika masa ia hidup, 7 tahun yang lalu.

***
Sultan Saladdin ingat betul, sehari sebelum kematiannya ia menonton berita di sebuah kafe di kawasan Kuningan dekat kantor KPK. Sambil minum secangkir kopi hitam tanpa gula dengan Salman Rusdie, Sofyan Muharram, dan Sabar Dwisunu. Mereka adalah sesama wartawan dari media yang berbeda. Salman wartawan senior Koran Koma, Sofyan reporter dari Merko TV, dan Sabar selaku juru kamera. Mereka baru saja meliput konferensi pers yang digelar oleh Ketua KPK Ibrahim Saman tentang penangkapan salah satu pimpinan KPK, Bumbung Wijaya Kusumah, oleh Bareskrim Mabes Polri.

Tapi ada yang luput dari ingatan Sultan Saladdin kejadian pada malam musibah itu terjadi. Malam itu Jakarta dicekam musim hujan yang keji.

Tujuh tahun yang lalu, esok hari setelah ia minum kopi di kafe dekat kantor KPK seperti biasa ia pulang dari kantornya dengan mengendarai motor kesayangannya menjelang tengah malam. Ia mengendarai motornya dari seputaran Senayan menuju Tebet, Jakarta Selatan.

Malam itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi dan minuman keras murahan yang masih buka di depan kompleks perumahannya. Semakin malam situasi semakin sepi. Orang-orang yang bergerombol tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba, ketika ia sampai di rumahnya hujan pun telah turun dengan deras.

Setelah membuka pintu pagar dan memarkirkan motornya di depan teras rumah, Sultan Saladdin mendadak merasa ada yang tidak beres dengan istri dan anak-anaknya. Malam itu, tidak seperti biasnaya istri atau anak-anaknya tidak membukakan pintu untuk menyambut kedatangannya ketika deru motor menggerung di depan pintu pagar. Sampai-sampai mereka pun lupa menyalakan lampu teras. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Apakah istri dan anak-anak tidak berada di rumah?

Pernah suatu ketika, saat ia pulang kerja malam hari, keadaan rumah lengang seperti rumah yang tak ada penghuninya. Lampu teras padam, di dalam rumah gelap gulita dan tak terdengar samar-samar suara televisi yang ditonton anak-anaknya. Waktu itu, karena bingung dan ponsel istri dan anak-anaknya tidak bisa dihubungi, ia kembali ke depan kompleks dan bertanya kepada pemilik warung di situ.

"Apakah Bapak melihat ke mana istri dan anak-anak saya pergi?" tanya Sultan Saladdin kepada pemilik warung. Biasanya apabila berpergian dengan kendaraan umum, mereka selalu menunggu taksi atau angkot di depan warung itu.

"Tadi ibu dan anak-anak naik taksi ke arah sana, Pak," jawab pemilik warung menunjuk ke arah Manggarai.

Namun, waktu itu kekhawatiran Sultan Saladdin segera pupus ketika menerima pesan pendek dari istrinya bahwa ia dan anak-anak ke rumah orang tua istrinya karena sang ayah mertua terkena serangan jantung. Legalah hati Sultan Saladdin.

Malam ini berbeda.

Perasaan seorang suami dan ayah dari dua orang anak ini tiba-tiba membuat hati Sultan Saladdin semakin gelisah. Setelah ia mencopot helm yang membungkam kepalanya dan menanggalkan jaket yang memeluk tubuhnya, diketuk-ketuklah pintu rumah sambil mengucapkan salam berulang-ulang, tapi tak ada jawaban dari dalam.

"Apakah suara deras hujan mengalahkan suara ketukan pada pintu?" batinnya.

Ia nyaris tak tahan menunggu selama beberapa menit di dalam kesuraman teras rumah dan perangkap malam yang basah.

Akhirnya ia melangkah dengan napas membeku dan rasa dingin yang tiba-tiba menyebar ke bagian lehernya. Ia pergi ke belakang rumah, pintu di sana sudah digembok, biasanya memang begitu. Selepas senja pintu belakang itu selalu dikunci. Perasaan Sultan Saladdin semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung ketika ia mengetuk-ngetuk jendela kamar istri dan anak-anaknya tak ada sahutan dari dalam.

Ia kembali ke depan teras dan berusaha mengintip dari celah gorden. Ia kembali mengetuk pintu yang berdiri tegak itu.

Karena rasa khawatir dan penasaran yang begitu melilit, ia mencoba mendongkrak pintu rumahnya dengan beberapa tendangan. Namun tidak memberi hasil, misalnya pintu rumah jebol dan berantakan seperti di film-film laga. Ia kemudian ingat, pintu rumahnya dibuat dari material kayu yang tak mudah didobrak dan dijebol apalagi hanya dengan tendangan kaki seorang wartawan.

Sultan Saladdin kembali mengintip melalui celah-celah gorden yang tersibak kesiur kipas angin di ruang tamu. Betapa terperanjat, ia seperti disengat beribu binantang kalajengking. Dari sela-sela gorden yang melambai-lambai akibat tiupan kipas angin ia melihat seluruh lantai di ruang keluarga bewarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat di dalam rumah yang remang itu. Warna merah darah!

Sultan Saladdin tercekat beberapa saat. Ia lantas berteriak, namun suaranya nyaris tercekik di tenggorokan menyangkut di udara. Kakinya bergetar, lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh istrinya, Sumiati Susanti, terlentang dengan leher bersimbah darah. Kedua anaknya, Sukma Saladdin anak pertamanya telungkup, juga penuh darah. Sedangkan, Satria Saladdin anak kedua, digenangi darah seluruh tubuhnya.

"Tolong-tolong! Istri dan anak-anak saya dibunuh...!" teriak Sultan Saladdin histeris.

Tetangganya dan orang-orang semakin ramai berdatangan dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sultan Saladdin. Akhirnya pintu berhasil didobrak dengan bantuan petugas keamanan kompleks. Ketua RT telah menghubungi polsek setempat.

Ketika Sultan Saladdin menyeruak masuk ke ruang tamu sambil berteriak-teriak, ketika itu pula ia jatuh terjerembab dan kepalanya membentur lantai yang penuh dengan aliran darah istri dan anak-anaknya.

Ia merasa seperti disetrum oleh listrik dengan daya sengat yang sangat tinggi. Pandangan Sultan Saladdin gelap, semuanya menjadi berwarna hitam pekat.


***
Sultan Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas. Ada sesuatu yang luput, ia bukan tewas tersengat listrik, ia hanya terpeleset genangan darah istri dan anak-anaknya. Ia jatuh terjerembab ke lantai. Lantas pingsan.

Pada kenyataannya, Sultan Saladdin hanyalah seorang yang kehilangan kewarasannya. Ia seringkali merenungkan dan lantas membuat alur cerita cerdik dan situasi ganjil yang membingungkan selayak cerita dari buku-buku sastra yang sering ia baca.

Ia punya kebiasaan berbicara sendiri, kemudian ia melihat sekeliling, berharap tak ada seorang pun yang mendengarnya. Ia kerap mengunjungi kuburan istri, kedua anaknya, dan kuburanku. Terkadang ia membawa bunga dan hanya duduk-duduk seperti berpikir di pinggir kuburan. Lantas ia berbicara sendiri, mengedar pandangan, dan berharap tak ada orang yang mendengarnya. Ya, ia menjadi gila sejak saat itu.

Begitulah keterlibatanku dalam kisah ini. Aku adalah pendengar setia cerita-cerita Sultan Saladdin ketika ia berbicara sendirian sambil ia menenggak vodka atau wiski dan merasakan alkohol mengirimkan arus panas ke dalam darah dan tulangnya.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi rasa kehilangan. Sultan Saladdin memilih menjadi pemabuk yang gila. Tapi tidak mudah menjadi hantu sepertiku. ***


Jakarta, 12 Februari 2015 

Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan cerpen terbarunya Perempuan Lolipop (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bamby Cahyadi
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar "Jawa Pos" 22 Maret 2015

0 Response to "Tidak Mudah Menjadi Hantu"