Wingit (1) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wingit (1) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:33 Rating: 4,5

Wingit (1)

AUM
Ya maraja jaramaya
Ya marani niramaya
Ya silapa palasiya
Ya dayudi diyudaya
Ya sihama mahasiya
Ya siyaca cayasiya
Ya midosa sadomiya

- Kutipan mantra Rajah Kalacakra, dibacakan di pergelaran wayang kulit ruwatan Murwakala yang mistis.

(Artinya: Siapa pun yang menimbulkan keributan, hilang kekuatannya. Siapa yang datang untuk membuat celaka, hilang dayanya. Siapa yang membuat kelaparan, mulai sekarang harus memberi banyak makanan. Siapa yang membikin kemelaratan, harus membangun kemakmuran. Siapa yang berbuat dosa, wajib menghentikan nafsu jahatnya. Siapa yang mengobarkan perang, pasti sirna kekuatannya. Siapa yang berkhianat dan kejam, harus berbuat welas asih. Siapa yang suka merongrong, menjadi parasit, harus mengubah sikap dengan menghormat dan kasih kepada sesama).

* * * *

Ki Sastrosedjono

Andong yang berjalan berguncang-guncang sukses menjaga Espe dari rasa kantuk yang seakan dimantrakan dari ilmu sirep paling ampuh. Sejauh mata memandang, hamparan sawah yang ijo royo-royo menjadi pemandangan bagi mata cokelat Espe. Embusan angin semilir yang sedikit panas dan lembap membelai kulit Espe. Sesekali angin itu mengembuskan bau khas kuda, sang penarik andong. Sang kusir duduk mencangkung di depan sambil sekali-kali mengayunkan pecut kecil dan berujar, ”Hus! Hus!” 

Segala hal itu benar-benar asing bagi Espe. Sesaat dia mengizinkan matanya terpejam, hanya untuk membayangkan kehidupan tadi pagi yang ditinggalkannya di Jakarta demi menuju tempat asing ini. Satu jam jarak tempuhnya dengan pesawat, lalu disambung dengan bus dari bandara selama satu jam hingga ke suatu pasar, di mana Espe memutuskan untuk meneruskan perjalanan dengan andong. 

Espe mengembuskan napas. Gedung majalah terkemuka yang megah itu kini seperti beberapa ribu cahaya jauhnya di galaksi lain. Rutinitasnya menulis, memburu narasumber, berhadapan dengan tenggat ketat, rapat-rapat maraton yang menyita energi dan pikiran serta jam kerja yang terkadang amat panjang, seperti sudah bertahun-tahun dia tinggalkan. Padahal, baru tadi pagi.

Mau tak mau Espe harus mengakui, segala hal yang asing inilah yang membuatnya merasa seolah terlempar ke dimensi lain. Saat membuka mata, Espe melihat sepetak sawah yang sedang dikerjakan oleh seorang petani dengan kerbaunya. Apa tepatnya yang petani itu lakukan, Espe tak paham. 

Pun dia tak pernah tahu bahwa beberapa ibu bercaping yang sedang menunduk menanamkan sesuatu dalam tanah sawah sambil berjalan mundur adalah suatu cara tandur atau menanam bibit padi. Andai Espe tahu bahwa benih-benih padi yang kelak berhasil mereka tumbuhkan dan panen adalah suatu varian beras yang sangat kondang seantero Indonesia karena kualitasnya yang baik dan rasanya yang sangat pulen.

Namun ironisnya, nasib para petani tradisional itu tidak pernah sepulen beras maknyus yang dihasilkannya. Mereka yang tak memiliki sawah barang sepetak, hanya menggantungkan hidupnya sebagai buruh tani berupah kecil, yang sering kali bukan berupa uang, tapi bagi hasil sawah yang digarapnya. Mereka yang punya sawah sepetak dua petak membanting tulang, berteman embun pagi saat berangkat ke sawah dan terpanggang panas matahari sepanjang siang hari. 

Sekeras itu mereka bekerja, namun hasil yang didapat sering kali hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri dan sedikit sisanya dijual demi menghasilkan uang tambahan yang pas-pasan untuk menyambung hidup. Bisa menabung apalagi berinvestasi, jelas seperti mimpi kesiangan bagi para petani tradisional. Roda kehidupan mereka dari hari ke hari bergulir sama seperti hari-hari yang telah berlalu. Dipenuhi kerja keras, selimut kabut pagi, panas matahari dan peluh yang membanjir di sekujur tubuh. 

Sedikit di antara mereka kemudian menyadari pentingnya pendidikan dan berusaha bekerja sekeras mungkin demi menghasilkan rezeki lebih untuk menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan kelak anak-anak tersebut tidak lagi hidup dalam kesusahan sebagai petani. Oh, betapa bangganya para petani tradisional yang memiliki anak yang menjadi pegawai negeri di kota. Hidup mereka tak akan sebegitu sengsaranya.

Sedang mereka yang mampu hidup berkecukupan adalah yang memiliki sawah luas berhektare-hektare, yang digarap oleh para buruh tani dan para petani musiman. Biasanya mereka sudah cukup kaya dari sono-nya, keturunan orang terpandang yang punya sedikit jabatan di masa penjajahan ataupun hasil anak pinak generasi darah biru. Sawah nan luas itu biasanya adalah hasil warisan dan bukanlah murni dari hasil kerja keras sebagai petani. 
Perbandingan kemakmuran dan kerja keras di kalangan petani ini jelas tidak seimbang. 

Bahkan Espe --yang sebelumnya tak pernah sedikit pun memikirkan kehidupan petani tradisional-- menyadari bahwa di antara sekian banyak orang yang dilihatnya sedang bercocok tanam di sawah, tak seorang pun yang berusia muda. Wajah-wajah kecokelatan terpanggang matahari yang menyembul di bawah topi caping, semuanya memperlihatkan kerut-merut pertanda usia. Ah, bagaimana nasib negeri agraris yang sejatinya subur makmur ini? Espe terkejut menyadari keprihatinan yang menyusup di hatinya atas hal yang selama ini sedikit pun tak pernah terlintas di pikirannya.

Sementara andong masih terus bergerak, berjalan terguncang-guncang di atas jalanan yang diaspal seadanya. 

“Masih jauh, Pak, rumah Pak Sastrosedjono?” Espe menyapa kusir andong dengan sebuah pertanyaan. Kusir andong menoleh sedikit sambil menggeleng.

“Mboten. Sekedhap malih.”

Espe mendesah, dia tak paham bahasa Jawa. Seutuhnya dia adalah wanita metropolitan dari Jakarta.
“Tidak jauh lagi, maksudnya?”

“Nggih, Mbak. Rumahnya setelah tikungan di depan itu.”

Saat itu andong sedang bergerak melewati suatu tanah lapang. Tampak beberapa pemuda sedang mendirikan semacam panggung pertunjukan. Espe terus mengamati mereka, sementara andong bergerak menjauh. Mungkin ada orang yang mau punya hajat, pikir Espe. Acara pernikahan, barangkali. 

Sejenak pikiran Espe melayang pada sebuah pesta pernikahan di Jakarta, yang mustahil diadakan di tanah lapang seperti ini. Pesta pernikahan yang diingat Espe adalah suatu pesta resepsi megah yang diadakan di sebuah hotel berbintang dengan biaya yang sudah pasti menjulang. Tapi, hal itu jelas sepadan dengan decak kagum para undangan kepada sepasang mempelai rupawan dan derasnya sumbangan yang dialirkan. 

Puja-puji ditiupkan, sedikit iri hati dari mereka yang tak bisa menggelar acara semegah ini juga sempat diberitakan, ucapan selamat yang nyaris sebulan setelahnya masih diterima mempelai dari koleganya yang berserakan di seluruh penjuru dunia, semua membawa sepasang mempelai yang berbahagia itu ke dalam pusaran popularitas sosialita ibu kota. Pesta yang diingat Espe itu adalah pesta pernikahannya sendiri dengan Yudhistira Sastrosedjono.

“Ini rumah Ki Sastrosedjono, Mbak,” kata kusir andong, menghela kekang kudanya hingga sang kuda pun berhenti berlari. Espe menaikkan kacamata hitamnya ke atas kepala sambil menatap lekat rumah di  depannya. Ada sesuatu yang ganjil yang tertangkap telinga Espe mendengar perkataan sang kusir andong, tapi dia terlalu sibuk untuk memikirkan hal yang cuma selintas datangnya itu. 

Mata dan pikirannya dengan segera sepenuhnya terpaku pada sosok anggun rumah di depannya. Rumah itu sederhana dan khas bangunan desa. Halaman depannya luas ditumbuhi pohon mangga, srikaya, pisang dan sawo. Tanahnya berumput hijau. Rumah yang terbuat dari kayu kuno dengan bentuk bangunan joglo khas Jawa itu berada tepat di tengah lahan. Kokoh, klasik, ada kesan kusam dan ketinggalan zaman. Espe menduga, rumah itu sudah seperti ini apa adanya sejak berpuluh tahun yang lalu. 

Espe mengais beberapa lembar uang kertas dari dalam tas sandangnya, lalu mengulurkannya kepada kusir andong. Jumlah yang berlebih dari kesepakatan upah yang tadi ditawarkan sang kusir waktu di pasar.

“Terima kasih, Pak. Simpan saja kembaliannya.”

Kusir andong, yang kini sudah turun sambil memegang tali kekang kudanya, merekahkan senyum gembira di antara guratan wajah tuanya yang keriput dan cokleat terpanggang matahari.

“Matur nuwun, Mbak.”

Espe tersenyum kecil, meraih tas duffel-nya yang berisi pakaian dan menyampirkan tas selempang kecil di bahunya, lalu dengan cekatan turun dari andong. Sementara Espe melangkah dengan ragu dan perasaan kecut melintasi halaman depan rumah Pak Sastrosedjono, andong itu berikut kusirnya sudah bergegas menjauh, mencari penumpang berikutnya. Sungguh suatu putaran kehidupan yang sangat sederhana dan nyaris tak terbayangkan oleh Espe.

Makin mendekati rumah joglo kayu itu,  makin ciut hati Espe. Boleh saja dia begitu percaya diri mengemukakan ide-ide tulisan bertema kosmopolitan di rapat-rapat majalah bergengsi tempatnya bekerja. Bisa saja dia dengan anggun memburu narasumbernya tanpa membuat sang sumber merasa jengah, karena sebaliknya biasanya keluwesannya mampu meluluhkan hati. Atau Espe selalu percaya diri mampu menepati tiap tenggat   yang diberikan. Otak cemerlangnya selalu bisa dipercaya.

Tapi, menghadapi suasana desa yang klasik dan nyaris sepenuhnya tradisional ini, Espe tiba-tiba merasa gentar. Apalagi jika dia ingat alasan yang membawanya kemari. Perut Espe bergejolak hebat sementara kakinya dengan berat melangkah makin mendekati rumah joglo itu. Untunglah, semetropolis-metropolisnya dia, Espe masih mampu berpikir untuk cukup memakai sepatu sneaker lawas yang biasanya dia pakai saat berkebun di halaman rumah real estate-nya, kaus katun warna cokelat kopi sederhana, dan kardigan rajut warna biru laut. 

Espe sempat berpikir untuk memasukkan bekal pakaiannya dalam koper, tapi lalu berubah pikiran dan memindahkan baju-bajunya dalam tas duffel ukuran sedang yang biasa dipakainya ke gym serta sebuah tas selempang mungil untuk wadah perlengkapan pokoknya. Hanya itu. Tapi, Espe lupa bahwa kacamata hitam kesukaannya terlihat cukup berlebihan dikenakan untuk perjalanan sederhana ini.

Espe bahkan lupa memikirkan keganjilan yang sesaat melintasi pikirannya. Kusir andong tadi mengatakan ini rumah Ki Sastrosedjono, bukan Pak Sastrosedjono. Kenapa Ki? Sejenis gelar khusus?
Namun, lagi-lagi Espe melupakan pikiran selintas itu saat tiba di depan pintu rumah joglo yang terbuat dari kayu jati berukir itu dan tiba-tiba daun pintu terkuak, tepat sebelum Espe mengetuknya.
Espe terkesiap kaget saat pintu mengayun terbuka, menampilkan sosok lelaki paruh baya yang pasti dulu pernah gagah perkasa, di ambang pintunya. Lelaki itu berkemeja lurik yang sudah pudar, bercelana komprang hitam selutut dengan kaki beralas sandal jepit usang. Tingginya sedang, perawakannya masih tegap walaupun ada kesan ringkih. Wajahnya sudah banyak berkerut dan menghitam terpanggang matahari. Tapi, matanya memancarkan keawasan dan kecerdasan yang tak bisa ditutupi oleh kusam pakaiannya atau ringkih tubuhnya. 

“Ah, rupanya benar ada tamu dari jauh,” suaranya yang berat namun empuk menyadarkan Espe. Lelaki tua ini bukan jenis orang yang bersuara dalam, berat dan galak, namun sebaliknya suara berat dan dalamnya memberikan kesan kesabaran yang sudah terasah.

“Monggo pinarak,” lelaki tua itu membuat gerakan mempersilakan tamu untuk masuk.
Espe ragu-ragu sedetik. Tapi, lalu dia melangkah masuk ke dalam rumah joglo yang sejak tadi membuat nyalinya ciut itu. 

Ternyata rumah anggun yang sudah tua dan keropos itu di dalamnya hanya berisi perabot seadanya. Hanya ada seperangkat kursi dan meja tamu sederhana, yang kini menjadi tempat singgah tubuh Espe yang lelah, sebuah lemari pajangan sederhana yang diisi hiasan-hiasan tradisional khas Jawa seperti wadah permainan dakon, patung Mimi dan Mintuna, miniatur gunungan wayang kulit dan beberapa pernik lain yang Espe tidak tahu nama maupun maknanya. 

Selimut debu tipis tampak di sana-sini serta langit-langit yang digantungi sarang laba-laba. Rumah antik ini rupanya kurang terawat, meski masih cukup bersih. Yang menakjubkan, sekilas melayangkan pandangannya menyapu dinding ruang tamu, Espe menemukan begitu banyak dekorasi berbagai tokoh wayang kulit. Tak satu pun yang Espe ketahui namanya. Majalah tempatnya bekerja tak pernah mengulas tentang wayang atau kesenian tradisional. Setidaknya, tidak secara mendalam sehingga Espe dengan mudah melupakan sedikit hal-hal kultural yang pernah ditulisnya.

“Untuk pertunjukan biasa, saya menggunakan wayang-wayang itu,” tiba-tiba lelaki tua yang kini sudah duduk di depan Espe itu menyapukan tangannya ke penjuru dinding. Este segera menyadari wayang-wayang kulit itu bukanlah dekorasi semata seperti yang tadi disangkanya. 

“Begitu, ya?” kata-kata pertama Espe meluncur dari mulutnya. Tapi hanya itu yang mampu diucapkan Espe. Dia sungguh tak tahu harus memulai percakapan yang seperti apa dengan lelaki tua yang suaranya dalam berwibawa namun menenangkan ini. 

Mereka diam sejenak. Lelaki tua itu menatap Espe dengan matanya yang tua, namun awas. 

“Pertandanya sudah ada. Akan kedatangan tamu dari jauh. Prenjak dari tadi tak henti berkicau di jendela. Waktu dia berhenti ngoceh, saya tahu ada tamu datang maka saya membuka pintu.”

Espe terpana sesaat, lalu mengangguk takzim. Prenjak itu maksudnya jenis burung?
“Saya Dwijo, apakah benar Anda mencari saya?”

“Wah,” Espe bergegas berdiri dengan malu hati. “Maaf, rupanya saya salah bertamu. Yang saya cari adalah rumah Pak Sastrosedjono. Kata kusir andong tadi, ini rumahnya. Jadi saya masuk. Maaf, maaf….”

Espe sudah hendak melangkah pergi ketika lelaki tua itu tertawa.

“Aduh, jangan panik begitu. Memang benar ini rumahnya. Anda tak salah alamat. Saya Dwijo Sastrosedjono. Sehari-hari orang memanggil saya Dwijo, kecuali bila saya manggung. Baru saat itu saya bernama Ki Sastrosedjono.”

Espe duduk lagi dengan bingung. Lalu terlontarlah pertanyaan tentang selintas pikiran ganjil itu, “Kenapa Anda dipanggil Ki Sastrosedjono? Kusir andong tadi juga memanggil demikian. Gelar khusus, begitu?”

Lelaki tua itu, Dwijo alias Ki Sastrosedjono, tersenyum.

“Anggaplah Ki Sastrosedjono itu nama panggung saya ketika sedang ndalang. Saya dalang wayang kulit satu-satunya yang tersisa di desa ini.”

Espe mengangguk tanda paham. Lalu dia ingat bahwa dia bahkan belum sempat memperkenalkan diri. Tapi Ki Sastrosedjono rupanya sudah mendahului dengan pertanyaan, “Dan Anda yang datang dari jauh ini, siapakah Anda?”

Espe menatap Ki Sastrosedjono, satu-satunya dalang wayang kulit yang tersisa di Desa Bekuning itu, lalu mengalihkan pandangannya sejenak ke arah  sebuah figur wayang kulit yang ditempelkan di dinding tepat di hadapannya. Ah, rupanya Espe salah kira terhadap dirinya sendiri, Ternyata ada satu tokoh wayang kulit yang dia kenali seperti yang kini sedang ditatapnya. Tak salah lagi, itu Semar.

“Saya Esperanza Ortiz,” Espe terbata-bata mengatakan namanya yang terdengar asing. Tapi Ki Sastrosedjono hanya mengangguk kecil, air mukanya tak berubah. Jelas dia sedang menunggu penjelasan Espe lebih lanjut. 

“Ki Sastrosedjono bisa memanggil saya Espe saja. Dan saya… saya…,” Espe menelan ludah, agak terlalu gugup untuk mengatakan sebaris kalimat yang tercekat di tenggorokannya. “Saya adalah menantu Anda. Saya istri Yudhistira Sastrosedjono.”

Suara motor yang masuk ke halaman memecah keheningan di antara mereka berdua: menantu perempuan dan ayah mertua yang baru pertama kali ditemuinya.

* * * *
Yang Menghilang dan Lenyap

Motor itu berhenti persis di depan rumah joglo. Mesin motor dimatikan dan beberapa saat kemudian seorang gadis muda, Espe menaksir usianya pasti baru awal dua puluhan, berjalan melenggang masuk dengan santai, tapi lalu seketika langkahnya terhenti saat menyadari kehadiran Espe.

Ki Sastrosedjono segera berdiri, menggamit lengan si gadis muda dan membawanya pada Espe. Espe spontan berdiri.

“Nduk, kenalkan, ini mbakyu-mu. Istrinya masmu. Namanya Mbak Espe… eh…,” Ki Sastrosedjono menoleh pada Espe, seolah meminta bantuan untuk melengkapi kalimatnya. Espe tahu, sang dalang terakhir agak sulit mengingat namanya yang memang terdengar begitu asing di tengah kentalnya tradisi Jawa di tempat ini.

“Betul, Ki. Saya Espe,” Espe mengulurkan tangan kanannya pada gadis muda itu. Gadis itu berpostur ramping dan lentur bak kijang. Rambutnya yang hitam mengilat dipotong pendek model bob yang praktis sekaligus feminin. Wajahnya yang agak bulat khas orang Jawa begitu manis dipandang, walaupun sejatinya tak ada yang berlebihan di sana. Hidungnya sedang saja, tidak mancung seperti hidung Espe. Tulang pipinya biasa saja, tidak tinggi dan anggun seperti yang dimiliki Espe. 

Yang paling menonjol darinya adalah sepasang matanya yang cerdas, waspada dan jeli. Sungguh mirip dengan mata Ki Sastrosedjono. Dan tiba-tiba Espe menyadari keringat yang mengaliri punggungnya saat sepasang mata itu juga terkadang mengingatkannya pada Yudhistira, suaminya, anak Ki Sastrosedjono. Hanya, mata Yudhi seringnya memancarkan kilat berbahaya, bahkan licik. Espe cukup cerdas untuk membaca kilatan mata licik itu, tapi kilatan cinta di mata Espe sendiri berhasil menenangkan hatinya dan memadamkan kecerdasannya.

Tapi baik pada sepasang mata Ki Sastrosedjono dan gadis muda itu, Espe tidak menemukan kilatan licik yang menghantuinya itu.

“Nawang,” gadis muda itu menjabat tangan Espe. Genggaman tangannya mantap. Lalu sekilas kemudian dia melepaskan tangan Espe. 

“Dan Anda datang kemari untuk keperluan apa?” gadis muda itu bertanya dengan begitu terang-terangan. Tak sedikit pun matanya gentar menatap Espe. Espe nyaris tak kuasa memandang balik padanya. Rasa bersalah seketika mengepung hatinya. Bahkan Espe sendiri bingung, untuk apa dia datang kemari, ke rumah dan kepada orang yang seumur hidup belum pernah ditemuinya?

“Sudahlah,” suara tenang Ki Sastrosedjono memecah kekakuan suasana. “Silakan duduk dulu, Nak Espe. Nduk, bikinkan minum dulu. Sama bawakan makanan kecil yang kemarin Bapak beli itu, lho.”
“Maksudnya yang Bapak utang dari warung Budhe Darmi?” Suara tawa lepas Nawang terdengar menjauh, seiring dengan bergegasnya gadis muda itu ke belakang, melakukan apa yang diperintahkan Ki Sastrosedjono.

Ki Sastrosedjono tersenyum. 

“Dia memang agak badung. Si Nawang itu. Sekarang, dialah satu-satunya yang saya punya,” Ki Sastrosedjono menjelaskan. Sinar matanya seketika redup. “Nak Espe tahu sendiri bukan, anak lanang saya sudah lama pergi dan tak pernah mau kembali.”
Esperanza menundukkan kepala. Malu tak terkira.

“Tapi untunglah, istrinya yang cantik sekali mau datang kemari,” Ki Sastrosedjono menyunggingkan senyuman lagi. “Jadi, kapan kalian menikah? Dan apa kabarnya Yudhistira?”

“Kabar orang gemblung yang sifatnya tidak jelas, lebih baik tidak usah ditanyakan, Pak,” Nawang yang masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman langsung menyela dengan ketus. “Kalau dia mau kirim kabar, apa susahnya? Dari dulu kita bisa saja mendengar sesuatu darinya, kalau dia mau berkabar. Toh, dia cuma diam saja dan menghilang kayak hantu.” 

Setengah menggerutu, Nawang meletakkan bakinya di meja tamu, lalu mengulurkan secangkir teh panas pada Espe.

“Bapak ndak usah aku ladeni, ya, ambil sendiri, wong, ya, di rumah sendiri.” Nawang lalu tertawa lagi dengan sikap kekanak-kanakan. Seketika gerutuannya hilang apalagi Ki Sastrosedjono menyambut gurauan anak perempuannya itu dengan tawa lepas.

“Apa saya bilang? Dia ini memang bocah kurang ajar,” Ki Sastrosedjono mengambil cangkir tehnya sendiri dari atas baki. Espe ikut tersenyum. Hatinya menjadi hangat bukan hanya oleh teh hangat yang diteguknya, tapi juga oleh senda-gurau bapak dan anaknya itu. 
“Sudahlah, abaikan saja gerutuan bocah badung itu. Nah, bagaimana kabarnya Yudhistira?” Ki Sastrosedjono kembali lagi pada topik pembicaraannya. 

Kali ini Nawang hanya diam, tanpa gerutuan dan celaan. Gadis muda itu hanya duduk tepekur, pandangan matanya tertancap ke lantai ubin kasar rumah joglonya, jari-jari tangannya saling menjalin bak gurita berpelukan, bibirnya terkatup rapat. Nantinya Espe akan menyadari bahwa bahasa tubuh seperti ini menandakan Nawang sedang memendam kemarahan yang tak terungkapkan lewat kata-kata.

Espe mengamati Ki Sastrosedjono, mencoba menangkap emosi dalam raut wajah tua yang kisut dan cokelat terbakar matahari itu. Lalu dia menjawab lirih, “Entahlah. Saya juga tidak tahu kabar Yudhi. Sudah hampir sebulan ini dia menghilang. Sejujurnya, karena itulah saya datang ke sini. Saya sempat mengira Yudhi ada di sini.”

Nawang mengeluarkan suara dengusan mengejek. 

“Wah, hebat, dia menghilang lagi. Anak lanang Bapak itu,” kata Nawang, nada suaranya sinis, tapi dengan main-main dia menyenggol siku bapaknya. 

Ki Sastrosedjono tetap tak menampakkan ekspresi apa pun. Sungguh baik caranya melatih kendali diri atas emosi. Nantinya Espe akan mengetahui bahwa dengan menjadi dalang wayang kulit yang kerap dipentaskan semalam suntuk, membuat Ki Sastrosedjono harus mengakrabkan diri dengan kesabaran yang nyaris tanpa batas dalam memainkan lakon-lakon wayangnya, menghidupkan cerita dengan intonasi suara, peran yang berubah-ubah, tendangan pada cempolo atau tangan yang lincah menabuhkan keprak tepat pada waktunya. Perpaduan keahlian yang makin langka dijumpai di kehidupan masa kini.

 Bahkan Espe belum pernah sekali pun bertemu muka dengan seorang dalang. Kali ini, hidup menggariskan bahwa dalang terakhir di desa ini adalah mertuanya sendiri. 

“Jadi, dia tidak mengatakan ke mana perginya?” Ki Sastrosedjono membuka suara, nadanya tenang dan datar, lalu menghirup teh panasnya dengan nikmat. 

“Tidak. Dia sama sekali tidak berpamitan kepada saya. Dia menghilang begitu saja.” Bahkan Nawang pun menunjukkan wajah prihatin.

“Mungkin dulu Bapak salah, bukan baca mantra Kalacakra, tapi mantra Panglimun, makanya dia hilang terus seperti ini,” balas Nawang, kali ini dengan nada guyon. Bapaknya tersenyum, lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja. 

“Jangan kasar begitu, Nduk. Bagaimanapun, dia itu kakakmu, masmu.”

Nawang memperlihatkan raut wajah muak yang kocak. Mau tak mau Espe tertawa. Gadis muda itu begitu hidup dan lucu. 

“Sudah lama Mbak Espe menikah dengan Mas Yudhi?” kali ini Nawang bertanya serius. Espe menggeleng. 

“Belum ada satu tahun.”

“Oh,” Nawang mengangguk-angguk. “Jadi jauh lebih lama dia menghilang dari kita, ya, Pak? Berapa tahun, Pak? Hampir tujuh belas tahun, ya? Hebat amat mantra Panglimunnya, bisa bikin hilang lama sekali.”

Nada sarkatis Nawang kembali kental. Dia meraih gelasnya sendiri, yang Espe sadari berisi air putih, bukan teh hangat, lalu meneguknya. Ki Sastrosedjono menghela napas, tapi raut wajahnya tetap tenang. Oh, berapa ribu menit telah kau habiskan demi mengasah kesabaran yang sedemikian? Sedangkan mendapati narasumber yang mangkir seenaknya atau tulisan yang tidak memenuhi tenggat  saja Esperanza bisa kalap habis-habisan. Oh, orang-orang Jawa ini, pikirnya, mengapa mereka ada yang sabar sedemikian rupa, ada pula yang begajulan seperti suaminya?

“Mengapa Yudhistira menghilang darimu, Nak Espe? Adakah kau tahu alasannya, meski dia tak sepatah kata pun mengucapkan pamit?”

Pikiran Esperanza melayang sejenak. Hari itu Senin sore menjelang jam pulang kerja dan Espe habis menelepon suaminya. Telepon seluler Yudhi rupanya mati. Mungkin kehabisan baterai, pikir Espe menghibur diri. Meskipun sejauh yang dia ingat, suaminya sangat memperhatikan kelangsungan hidup gadget-gadget-nya. Telepon seluler, tablet, laptop, atau sekadar mp3 player, tak pernah lupa dia isi baterainya selagi malam. Yudhistira adalah pecandu gadget dan hampir mustahil rasanya membayangkan dia mampu hidup lebih dari satu jam tanpa benda-benda elektronik modern itu. 

Tapi, selalu ada kemungkinan alpa, bukan? Toh, suaminya cuma manusia biasa. Esperanza menatap hujan yang menderas dari balik kaca jendela ruang kerjanya di sebuah gedung bertingkat di bilangan Sudirman. Lagi pula, perkara jemput-menjemput ini cuma hal rutin. 

Sudah sejak pacaran selama setengah tahun lalu menikah selama hampir setahun ini, Yudhistra memang bertugas mengantar jemput Espe. Bukan karena Espe manja, tapi Yudhi memandang tidak perlunya ada tambahan satu lagi kendaraan yang ikut membuat sesak Jakarta yang sudah sedemikian macet. Pendapat yang cukup baik. 

Namun, Esperanza sempat mengerutkan kening aneh saat dia mengusulkan untuk ikut serta mengajak teman sekantornya yang satu arah untuk bergabung dalam satu mobil, Yudhi mentah-mentah menolak.

“Memangnya aku sopir!” ketusnya saat itu. Espe keheranan.

“Lho, bukannya kau ingin membantu mengurangi macetnya Jakarta? Teman-temanku itu searah dengan kita dan sering pulang di jam yang sama denganku. Sering pula lembur bersama. Mereka suka mengeluh serba salah, bawa mobil sendiri sungguh capek karena macet tak ketulungan, tapi naik kendaraan umum pun rasanya kurang nyaman bila kami pulang larut malam. Mereka pasti cukup tahu diri dengan memberikan urunan bensin atau tol. Bahkan, aku bisa gantian nyetir.”

Yudhistira tetap menolak. Dia bekerja sebagai arsitek yang bekerja berdasarkan proyek sehingga tak terikat jam kerja kantoran seperti Espe dan membuatnya leluasa mengantar jemput istrinya. Espe sebenarnya kecewa dengan tanggapan suaminya yang tak bersedia berbagi tumpangan. Jika diingat-ingat, mobil itu bahkan sebenarnya milik Espe yang akhirnya juga menjadi milik Yudhistira segera setelah mereka pacaran dan segera diadopsi Yudhistira nyaris sepenuhnya saat mereka menikah. Espe membiarkannya karena dia tak merasa terlalu memerlukan mobil itu. 

Untuk perjalanan dan liputan kantor, ada mobil dinas dan sopir yang selalu siap menemani. Jadi, sekali lagi, Espe tak terlalu memusingkan mobilnya itu. Pun, tak lagi memikirkan rumah yang mereka tempati berdua sejak menikah adalah rumah yang sepenuhnya milik Espe, warisan dari mendiang ibunya. Di atas kertas berkekuatan hukum, rumah itu adalah milik Esperanza Ortiz, anak mendiang orang Indonesia bergaris keturunan Spanyol, yang telah lama hidup sebatang kara di Jakarta.(f)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Theresia Anik Soetaryo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina."


0 Response to "Wingit (1)"