Wingit (2) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wingit (2) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:50 Rating: 4,5

Wingit (2)

Kisah sebelumnya:
Espe, seorang wartawati majalah gaya hidup yang sangat metropolis harus menerima kenyataan pahit ketika Yudhis, suaminya, pergi meninggalkannya begitu saja. Espe lalu menyusuri keluarga Yudhis, yang belum pernah ia kenal sebelumnya, ke sebuah desa di Jawa Tengah. Keluarga sang dalang.


Bertemu dengan Yudhistira di suatu bar tempat Espe sering melewatkan Jumat larut malamnya, membuat Espe kembali menemukan seseorang untuk dicintai. Setelah ibunya meninggal, Espe merasa tak memiliki seorang pun lagi untuk diajak berbagi. Maka, saat Yudhistira yang tampan, menawan, dan memiliki pekerjaan serta penghidupan mapan itu melamarnya, Esperanza mengangguk dengan penuh bahagia. Berbagi memang selalu membuat Espe bahagia.

Begitu bahagianya sampai Esperanza tidak menyadari betapa Yudhistira bahkan juga tak pernah memperkenalkannya kepada keluarganya. Kehidupannya yang hanya mengenal seorang ibu tanpa ada ayah atau kerabat lain mana pun membuat Espe tidak merasa aneh dengan orang yang hidup sebatang kara pula. Hingga akhirnya Espe menyadari dia sepenuhnya salah. Yudhistira bukanlah orang yang hidup sebatang kara. Suaminya itu memiliki keluarga di suatu desa di Jawa Tengah. Keluarga yang tak pernah menjadi tempatnya kembali karena dia memutuskan untuk lenyap dari mereka.

Sekarang Espe berada di tengah keluarga itu. Untuk mencari Yudhi yang ternyata tak pernah kembali.

“Nak Espe?” suara Ki Sastrosedjono memanggil kembali pikiran Espe yang tersesat dalam labirin lamunan. Espe mengangkat wajahnya dan menemukan dua pasang mata bapak dan anak perempuannya yang sedang menatapnya lurus-lurus. Sekali lagi, Espe tidak menemukan kerlip ganjil licik di mata mereka. Kerlip ganjil yang sering dia temukan di mata Yudhistira.

“Saya tidak tahu, Pak. Dia tidak mengatakan apa pun. Tidak memberikan tanda apa pun. Tapi, beberapa teman dekat saya mengatakan, tanda-tandanya begitu jelas hanya saja saya menyangkalnya,” Espe mengusap matanya yang tiba-tiba basah. 

“Dan apa yang dia bawa?” Itu suara Nawang. Pertanyaannya bernada lunak, namun tegas. Pertanyaan yang menuntut jawab. Espe merasa gadis muda ini pasti sudah ditempa oleh berbagai hal getir dalam hidupnya. 

Dia seperti gadis yang mampu menyiasati dunia, apa pun keadaannya. Sikapnya tegas, lugas, praktis, tapi masih mampu menyelipkan segelintir tawa. Espe yakin dirinya tak mungkin sedewasa ini waktu seusia Nawang. Ketika ibunya meninggal, meskipun Espe hancur berkeping-keping,  warisan ibunya yang cukup berlimpah memastikan hidupnya tak akan berkekurangan dan bukannya tinggal di rumah tua usang seperti ini. Pun pekerjaan yang Espe  dapatkan dari koneksi ibunya seakan membawa jaminan kesejahteraan lantaran gaji dan karier yang menjanjikan. 

“Dia…. Yudhi pergi dengan membawa beberapa barang,” Espe meneguk ludah. Ternyata, untuk mengakui kenyataan memerlukan begitu banyak keberanian.

“Surat rumah, surat mobil, perhiasan, tabungan? Itu kan yang dibawa menghilang oleh kakakku?” Nawang memotong dengan lancang. 

Ki Sastrosedjono melemparkan tatapan menghardik pada anak perempuannya yang bermulut tajam itu. Nawang patuh terdiam.

“Ya,” kata Espe berkata selirih bisikan. “Ya, dia menghilang dengan membawa semuanya. Semua yang juga semestinya milik saya. Dia juga membawa lenyap seorang teman wanita saya yang cukup dekat, yang tak pernah saya duga akan lenyap bersama suami saya. Mereka lenyap berdua bersama mobil saya, tabungan saya, surat rumah saya, surat mobil saya, kotak perhiasan yang penuh isinya milik saya. Harga diri saya pun rasanya ikut menghilang.”

Dan tangis pertama Espe akhirnya tumpah.

* * * *
Nyi Prawitasari

Menu makan siang mereka sederhana saja, berupa sebakul nasi putih, sayur bayam, sambal tomat, dan sepiring ikan asin layur yang digoreng kering. Nawang sudah memastikan gelas teh ayahnya dan Espe terisi penuh. Seumur hidup, Espe belum pernah makan sesederhana ini. Tapi ternyata, dia ketagihan dengan rasanya. Luar biasa lezat bila dimakan dengan khidmat dan penuh syukur. Ki Sastrosedjono juga makan lahap sekali. 

“Jadi Bapak tadi ndak ke sawah?” Nawang melemparkan obrolan sambil menyendokkan nasi putih ke piringnya. 

“Ndak. Si prenjak ngoceh terus di daun jendela. Bapak yakin akan ada tamu jauh. Kasihan kan  kalau dia datang, tapi rumah kosong? Ternyata Nak Espe yang datang. Besok saja Bapak berangkat pagi-pagi betul.”

“Wah, maaf, rupanya saya sudah membuat acara Ki Sastro berantakan,” Espe buru-buru menyahut. Ki Sastrosedjono dan Nawang kompak menggeleng.

“Ah, jangan dipikirkan. Tiap hari Bapak menggarap sawah, kok, tapi kan tidak tiap hari kita kedatangan tamu istimewa, iya, toh, Pak?” Nawang mengedipkan mata bersekongkol. Ayahnya mengangguk-angguk bersemangat sambil menciduk sayur bayam lagi. Nawang mengunyah nasi putihnya dengan tenang. 

Espe terperanjat menyadari Nawang hanya menyantap nasi putih saja tanpa sayur atau lauk apa pun dan meneguk gelas berisi air putih belaka. Pertanyaan sudah nyaris terlempar dari mulutnya. Tapi, demi melihat ayah dan anak itu begitu tenang dan tidak menganggap ada yang aneh, maka Espe menelan lagi pertanyaannya. Namun, mata Nawang yang awas mampu menangkap perubahan ekspresi wajah Espe.

“Saya lagi puasa mutih, Mbak. Makannya cuma nasi putih saja. Minumnya juga air putih. Pantang garam. Pantang ngomel sama Bapak,” balas Nawang ringan sambil terus muluk dan menyuapkan nasi putih ke mulutnya. Ayahnya terbahak.

“Halah, pantang ngomel opo? Wong tiap hari masih menggerutu melulu.”

“Tentu menggerutu, habis Bapak masih ndak ikhlas dengan saya. Mbok, ya, biarkan saya menjalani panggilan hidup saya. Biarkan saya menjadi seperti Bapak. Saya suka, kok. Saya berbakat. Selain itu, toh, faktanya Bapak ndak punya anak selain saya.” Hanya Nawang yang mampu mengungkapkan kritikan pedas dengan nada seringan kapas dan tidak membuat suasana menjadi tegang. 

Espe melihat Ki Sastrosedjono tetap menyantap makan siangnya dengan tenang. Meski begitu, sekilas Espe menangkap raut prihatin di wajah tua dalang terakhir Desa Bekuning itu.

“Tapi kamu masih terlalu muda, Nduk. Laku prihatin yang harus dijalankan masih terlalu berat untukmu….”

“Halah, pret,” bantah Nawang sambil mencibir. “Lah, ini Bapak tahu kan, sudah menjelang hari H, kurang tiga hari lagi. Berarti sudah tiga puluh tujuh hari saya menjalani ritual laku prihatin. Mana ada saya mengeluh atau bilang tidak kuat? Saya sudah mau dua satu, Pak, masa masih kurang tua juga? Bapak juga sudah sering lihat kemampuan saya. Saya sudah mumpuni, Pak.”

Lalu nada suaranya melunak bahkan nyaris riang, ”Saya cuma ndak ingin Bapak kecapekan. Yang sudah tua itu Bapak, bukan saya. Bapak ndak boleh sakit lagi. Saya cuma tinggal punya Bapak, pokoknya Bapak mesti sehat. Kalau ada yang sakit, ya, biar saya saja.”

Untuk pertama kalinya Espe melihat wajah KI Sastrosedjono menampakkan   ekspresi. Sedih sekaligus bahagia. Mata tuanya yang waskita itu berkaca-kaca.

Nawang tiba-tiba berdiri dan tersenyum riang. Sikapnya yang begitu lentur dan gesit di banyak suasana membuat beban berat terasa seolah gampang saja terangkat. 

“Nah, saya sudah kenyang,” dia menepuk perutnya. “Sekarang waktunya ngarit. Si Bandot sama Koplo persediaan rumputnya hampir habis.” 

Dengan lincah Nawang menyeberangi ruang makan, meloloskan arit yang diselipkan di tulang bilik bambu pembatas ruang makan, lalu melangkah ke luar rumah lewat pintu belakang.

Ki Sastrosedjono tersenyum kecil, bangkit berdiri lalu mulai membenahi sisa-sisa makan siang mereka. Espe segera ikut berdiri dan membantu meringkasi piring dan gelas kotor, tapi Ki Sastrosedjono mengibaskan tangannya tanda menggusahnya pergi.

“Biar saya saja. Sudah biasa begini. Nawang masak, ngurus rumah, ngurus kambing. Saya beres-beres bekas makan, cuci baju, dan menggarap sawah sambil sesekali ndalang,” kata Ki Sastrosedjono tersenyum. “Pergilah ke halaman belakang menemani Nawang. Kasihan, dia jarang ada waktu untuk bergaul dan punya teman. Dia bekerja terlalu keras. Impiannya tanpa batas. Dia orang Jawa sejawa-jawanya. Dia dan kakaknya seperti bumi dan langit. Pergilah.”

***
Gadis muda, yang karena kakak laki-lakinya minggat begitu saja itu, kini mau tak mau menjadi satu-satunya anak yang dimiliki Ki Sastrosedjono. Dia hanya sempat lima tahun mengenal kakaknya sebelum Yudhistira lenyap selepas tamat SMA. Saat itu Yudhi lenyap bersama seluruh simpanan uang hasil panen sawah dan penjualan ternak milik ayahnya yang disimpan di dalam rumah. Keluarga Sastrosedjono jatuh miskin seketika serta kehilangan anak lelaki satu-satunya untuk selamanya. 

Nawang tak bisa terlalu ingat rupa kakaknya, tapi kemelaratan yang menemaninya sepanjang hidup menjadi bukti betapa kakak sulungnya telah mengempaskan keluarganya sendiri ke jurang terdalam. Tak pernah Nawang habis pikir, bagaimana mungkin Yudhistira tega melakukan ini pada keluarganya sendiri. Nawang pun tumbuh dewasa ditemani dengan kemelaratan dan dendam tak terlampiaskan. Sesekali dia bisa mengingat kakaknya mengajaknya mencari rumput untuk makan kambing atau menggendongnya pulang larut malam sehabis nonton pergelaran wayang kulit yang dibawakan ayahnya. 

Namun, seringnya dia ingat pertengkaran ayahnya dengan kakaknya, entah perkara apa. Teringat ibunya yang selalu melerai adu mulut itu. Namun, sering juga lamat-lamat dia teringat ibunya yang menangis diam-diam di sudut kamar saat ayahnya pergi menggarap sawah dan Yudhistira pergi sekolah. 

Pada usia Nawang yang kesepuluh tahun, sang ibu yang patah hati tak tersembuhkan itu meninggal dunia. Dia mati ngenes merindukan Yudhistira dan mempertanyakan kenapa anak lanang-nya harus minggat dengan mencuri dari keluarganya sendiri hingga keluarganya jatuh miskin. Sungguh memalukan. Tahun demi tahun yang berlalu tak mampu membawa Yudhistira kembali, bahkan sekadar sebaris kabar pun tidak. 

Bu Dwijo terlalu patah hati hingga tak pernah sempat melihat Nawang tumbuh dewasa, Nawang yang ngotot belajar ndalang pada ayahnya. Nawang begitu mahir menari dan menembang lagu Jawa, yang pada akhirnya memaksa kuliah di sebuah sekolah tinggi seni di Solo daripada menuruti anjuran ayahnya untuk kuliah di jurusan lain yang populer. 

Nawang sudah hampir lulus dari kuliah jurusan seni di suatu akademi di Solo. Gadis muda itu tiap hari berangkat dan pulang dengan mengendarai sepeda motor butut hampir satu jam lamanya. Pada Espe, yang ikut menemaninya jongkok sana-sini sambil ngarit rumput, Nawang mengatakan dirinya belum lama bisa beli sepeda motor butut. 

Sebelumnya dia harus naik bus umum. Dari rumah ke terminal bus dia naik sepeda angin, sekitar dua kilometer jauhnya, yang dititipkan di parkiran terminal, lalu   melanjutkan perjalanan dengan bus sampai ke kampus. Bus itu berhenti di seberang kampus dan Nawang masih harus berjalan kaki beberapa ratus meter untuk menuju ke kampusnya yang agak menjorok letaknya dari jalan raya. 

Rute ini pula yang ditempuhnya sewaktu pulang. Ritual perjalanan yang dijalaninya selama beberapa tahun demi pendidikan seni yang begitu dia cintai.

“Dalang duitnya sedikit, Mbak. Apalagi masa sekarang, kesenian daerah sudah makin ditinggalkan,” ujar Nawang, sambil mengempaskan seonggok rumput hijau segar ke dalam keranjang. Nada bicara Nawang datar saja, tanpa emosi meskipun kata-katanya sangat ceplas-ceplos. Espe merasakan nyeri di hatinya yang ditorehkan Yudhistira, suatu rasa yang semestinya juga dirasakan oleh Nawang maupun Ki Sastrosedjono. Tapi mungkin mereka sudah terlatih mengolah perasaan. 

Lalu sambil menyorongkan keranjang penuh rumput pada kambing-kambingnya yang dikandangkan di belakang rumah, Nawang melanjutan ceritanya tentang si sepeda motor butut. Ternyata sepeda motor itu dibelinya dengan uangnya sendiri hasil menari atau nyinden di berbagai acara kesenian. 

“Nyinden itu pasti sulit sekali, ya?” tanya Espe menyela. Tak terbayangkan seseorang yang mampu menyanyi tembang Jawa dengan suara khas serta irama dan cengkok yang sungguh rumit. Sedangkan untuk menyanyi biasa saja, Espe sudah buta nada!

Nawang hanya mengangkat bahu. “Gampang, kok. Asal suara selalu diasah kelenturannya. Mungkin karena saya keturunan waranggana, sudah biasa sedari bayi dinyanyikan tembang Jawa. Setelah besar, ya, nyinden itu alami saja seolah-olah.”

“Waranggana itu apa?”

“Sinden disebut juga waranggana. Bu Dwijo, ibu saya almarhum, dulunya seorang waranggana terkenal. Terus ketemu Bapak. Terus jadi suami-istri. Ya, gitu, deh,” Nawang tertawa mengenang ibunya. Inilah pertama kalinya dia menyebut-nyebut tentang ibunya. 

“Nama panggungnya Asmara Respati. Itu juga nama aslinya. Sudah bagus, jadi ndak perlu pakai nama beken. Dari dia, saya belajar nyinden sejak bocah. Dari Bapak, saya belajar ndalang, juga sedari bocah. Semua atas kemauan dan minat saya sendiri. Saya samar-samar ingat diejek Mas Yudhi karena begitu menyukai kesenian tradisional, persis kedua orang tua kami. Sedangkan kakak saya itu begitu membencinya.”

“Kenapa dia membencinya?” Espe menambahkan onggokan rumput ke dalam keranjang yang sudah hampir kosong setelah dimakan dua ekor kambing yang kini mengembik berebut. Mungkin masih lapar.

Nawang sekali lagi hanya mengangkat bahu.

“Entahlah. Saya masih terlalu kecil untuk ingat. Yang saya tahu, kakak saya keblinger ikut perkumpulan di desa sebelah, yang begitu militan. Dia dijejali berbagai doktrin yang sukses mencuci otaknya. Dia membangkang pada orang tuanya, menganggap Bapak dan Ibu seolah-olah begitu berdosa. Bahkan, dituduhnya Ibu wanita murahan karena mempertontonkan diri dan suara di depan khalayak saat pentas. Dia mengatai Bapak wong abangan rendahan. Dia tak lagi punya rasa bersalah, bahkan kepada orang tua kandungnya sendiri. Dia begitu arogan terhadap kemuliaan dirinya dan golongannya. Dia memusuhi yang bukan kalangannya. Karena orang tua kami dianggap bukan level-nya, nyolong dari mereka pun tak mengapa. Begitulah, selepas SMA, dia menghilang bersama duit yang dia gondol. Dan tak pernah kembali lagi.”

Nawang menoleh pada kakak iparnya yang kelihatan begitu sedih, lalu dengan lembut diremasnya lengan Espe.

“Sekarang Mas Yudhi nyolong lagi dari Mbak Espe. Lalu lenyap lagi. Apa mungkin otaknya masih juga dijejali paham-paham militan itu? Entahlah. Saya tak pernah mengerti mengapa seorang dewasa bisa menelan ajaran dan doktrin secara mentah-mentah. Lha, wong, saya saja kalau dinasihati Bapak, misalnya, tapi ndak sesuai dengan pola pikir saya, pasti akan saya protes. Kata-kata Bapak saya sendiri pun saya saring dulu dan bukannya mentah-mentah diterima begitu saja. Tapi rupanya Mas Yudhi bagaikan bumi dan langit dengan saya.”

Espe tak sedikit pun meragukan hal itu. Pembawaan Nawang yang lincah, tegas, dewasa sekaligus kekanakan sangat berbeda dengan suaminya yang cenderung serius, mau menang sendiri dan memang sangat suka memaksakan pendapatnya. Sesungguhnya dalam masa pernikahan mereka yang belum genap setahun, begitu sering Espe mendapat larangan ini itu dari suaminya, termasuk tidak boleh menyetir mobil sendiri dengan alasan tidak baik untuk perempuan pergi sendirian. 

Anehnya, saat itu Espe bagai kerbau tercucuk hidung, kendati teman-temannya banyak yang memperingatkan tentang suaminya yang terlalu mengekang. Entahlah, mungkin otaknya juga sudah tercuci tanpa disadari? Espe merinding saat ingat tepat sebelum Yudhistira lenyap, dia sempat mempertimbangkan permintaan Yudhi agar dia berhenti bekerja dan tinggal di rumah saja. Bagaimana mungkin Espe bahkan mampu dan mau mempertimbangkan hal itu?

“Sudahlah, Mbak,” sela Nawang ringan, “yang penting hidup kami terus berlanjut, meski benjut. Meski melarat, toh, kami tetap kuat. Yah, meski ibu saya mati ngenes karena mikir anak lanang-nya yang minggat begitu saja. Kasihan sekali beliau. Yah, namanya juga ibu, kasih pada anaknya sepanjang jalan, meski si anak mengasihi ibunya hanya sepanjang jalan buntu. Tapi, Bapak dan saya berhasil bertahan. Saya bahkan bisa nabung dari berbagai honor manggung dan beli sepeda motor sendiri. Nanti kalau sudah lulus kuliah, saya bisa lebih leluasa menari, nyinden atau ndalang bahkan sampai ke luar negeri. Kalau perlu, sekalian sekolah seni di luar negeri.” Mata Nawang berkilat penuh semangat. 

Espe terperanjat.

“Ndalang?”

Nawang menoleh ke arahnya, menelengkan kepala lalu mengangguk.

“Ya, saya dalang. Apa tadi Bapak bilang dialah dalang terakhir di Desa Bekuning ini? Bukan, dia bukan dalang terakhir. Dia bilang begitu karena belum yakin saya benar-benar bisa menjadi dalang, hanya karena saya perempuan. Memang mestinya trah dalang turun ke laki-laki generasi selanjutnya. Tapi, karena anak lanang Bapak minggat, apa salahnya kalau turun ke anak wedok-nya? Lagi pula, kakak laki-laki saya juga jelas ndak tertarik pada kesenian tradisional, apalagi menjadi dalang. Jadi, apa salahnya kalau yang nerusin ndalang itu anak perempuan Ki Sastrosedjono?”

Nawang melangkah menuju rumah sambil terus nyerocos.

“Mbak menginap di sini beberapa hari, ‘kan? Biar bisa nonton Nyi Prawitasari pentas dalang semalam suntuk. Oke?”

“Wah, tentu saja!” balas Espe penuh semangat. Setelah ibunya meninggal dan suaminya lenyap, Espe tak pernah menyangka akan mendapatkan keluarga baru yang tiada duanya: Ki Sastrosedjono dan Nyi Prawitasari.

* * * *
Sang dalang terakhir sedang duduk tepekur di hadapan sebuah kotak berbentuk segi empat terbuat dari kayu  yang tampak sudah tua dan kuno. Dengan takzim dan berhati-hati, dia membuka kotak itu lalu mengeluarkan sebuah wayang kulit, jelas figur seorang laki-laki yang perkasa dengan wajah diberi warna hitam. Siapa dia, Espe sama sekali tidak tahu. Dia bahkan tak seharusnya tetap berdiri di sini, menyaksikan Ki Sastrosedjono dengan khidmat mengeluarkan satu per satu wayang kulitnya. 

Tapi, Espe yang mestinya memasak di pawon, tak sengaja melewati gandhok dan melihat Ki Sastrosedjono yang sedang dalam suasana khusyuk membelakanginya. Espe berjingkat tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

“Kemarilah, Nak Espe. Lihatlah wayang-wayang berharga ini.” Suara tenang Ki Sastrosedjono, masih dengan posisi duduk memunggungi, menyentakkan Espe. Dia tak menyangka Ki Sastrosedjono mengetahui kehadirannya.

Ki Sastrosedjono mengangkat sebuah figur wayang kulit yang tadi sempat dilihat Espe dan mengacungkannya di hadapan Espe saat mereka berdua sudah berhadapan.

“Ini adalah Werkudoro,” Ki Sastrosedjono menjelaskan tanpa menanyakan apakah Espe tahu figur siapa itu karena tentu saja Espe tidak akan tahu. Dalang tua itu, selain tenang pembawaannya, juga bijaksana. Dia tidak membuat seseorang yang sama sekali tak paham budaya Jawa seperti Espe menjadi terintimidasi.

“Kalau Nak Espe sempat melihat panggung yang lagi dibangun di lapangan dekat balai desa sana, itulah tempat nantinya pergelaran wayang semalam suntuk itu akan digelar. Lakonnya Dewa Ruci. Lakon yang dipilih sendiri oleh dalangnya.”

Ki Sastrosedjono berhenti sejenak, matanya yang setajam elang meredup sesaat. Napasnya menjadi berat, seakan  beban berat menindih dadanya. Espe tak bersuara.
“Dalangnya bukan saya. Saya sudah tua dan tak sanggup lagi mentas semalam suntuk.” 
Espe tahu tentang itu, tentang fisik Ki Sastrosdjono yang kian ringkih. Selama tiga hari ini tinggal di rumah mertuanya itu, Espe dengan jeli mengamati betapa sesungguhnya Ki Sastrosedjono, meski tampak tegar dan tenang, sesungguhnya memendam kekecewaan tak terobati pada anak lelakinya yang minggat begitu saja.

Betapa sesungguhnya Ki Sastrosedjono adalah ayah yang begitu mengasihi anak-anaknya dan meski bertahun-tahun telah berlalu dia tak pernah bisa memahami mengapa anak lelakinya tega hati begitu saja meninggalkan mereka. Bahkan, dengan miris Espe menyadari, Ki Sastrosedjono sejatinya menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Yudhistira, meski kenyataannya semua itu sama sekali bukan kesalahan Ki Sastrosedjono, Nyi Asmara Respati, atau Nawang. 

Luka batin yang pilu sama-sama dirasakan oleh ayah dan ibu Yudhistira, namun Nyi Asmara Respati lebih ringkih untuk bisa menanggung beban seberat itu hingga dia mati nelangsa. Dengan mengais sisa-sisa harga dirinya, Ki Sastrosedjono mampu bertahan, membesarkan anak wedok-nya sendirian sekaligus hingga hari tuanya masih terus menggarap sawah sepanjang hari demi kelangsungan hidup mereka setelah seluruh  harta simpanannya dicuri oleh Yudhistira sebagai bekalnya minggat.

“Yudhistira tidak mengambil kotak ini. Dia sama sekali tak sudi menyentuh wayang atau gamelan kami. Dia menganggap kami orang abangan yang hina dan tak tahu agama,” Ki Sastrosedjono mengusap setitik air mata. “Sedangkan bagi Nawang, kotak wayang ini laksana tambang emas. Harta karun tak ternilai. Dia begitu menyayanginya dan tak pernah berhenti atau bosan belajar mendalang bahkan sejak balita. Dia sangat tertarik melihat saya mendalang atau ibunya nyinden. Darahnya benar-benar kental dengan kesenian Jawa.”

Ki Sastrosedjono meletakkan kembali figur-figur wayang kulit yang tadi dikeluarkannya ke dalam kotak, lalu menutupnya. Tangannya menyapu tutup kotak seakan membersihkan debu yang menempel di sana. 

“Saya sudah sangat sering melihat Nawang pentas di pergelaran wayang kulit.  Gendhuk betul-betul berbakat, bahkan bisa dibilang genius dalam keterampilannya berkesenian, terutama ndalang dan nyinden. Dia punya bakat langka alami anugerah Gusti. Di usia semuda itu, dia sudah menjadi dalang wasesa.”

Ki Sastrosedjono berhenti sejenak, mengusap peluh di keningnya. Hari ini memang panas dan Ki Sastrosedjono pulang sejenak dari sawahnya untuk makan siang yang sayangnya belum selesai dimasak oleh Espe. Karenanya Ki Sastrosedjono menunggu sembari menekuni kotak wayang kulitnya.

“Tapi gendhuk belum pernah mementaskan wayang mistis Desa Bekuning. Suatu pergelaran wayang turun-temurun yang harus diselenggarakan sekali setahun untuk mengusir pagebluk. Seharusnya ini tugas saya, tapi Nawang berkeras mengambil alihnya karena memang saya sudah terlalu ringkih untuk mampu tampil semalam suntuk. Karena pergelaran ini tidak boleh tidak diselenggarakan, begitu menurut kepercayaan di desa kami, maka tetaplah harus ditunaikan. Selazimnya, jika dalang tua sudah tak mampu lagi, maka generasi dalang berikutnya adalah anak lelakinya. Tapi anak lanang saya pergi begitu saja dan meninggalkan beban begitu berat di pundak adik perempuannya.” Ki Sastrosedjono mengusap mukanya yang terlihat letih. Espe maju dan menuntun ayah mertuanya ke ruang makan sederhana di dekat pawon.

“Bapak makan dulu saja, tak usah terlalu dipikirkan. Nawang itu sangat cerdas dan mumpuni. Daya pikir dan nalarnya jauh melampaui anak seusianya. Percayalah, dia akan mampu menunaikan tugasnya,” Espe menghibur mertuanya sembari mengatur makan siang di meja makan yang terbuat dari kayu jati yang sudah kusam saking tuanya. 

Hari ini dia memasak sayur sup wortel dengan campuran sedikit daging ayam dan menggoreng perkedel kentang serta tempe. Dimakan dengan nasi hangat dari beras pulen khas Desa Bekuning, rasa-rasanya Espe tak akan pernah lagi perlu berkunjung ke restoran hotel mentereng berbintang lima yang dulu kerap dikunjunginya di Jakarta hanya untuk memanjakan lidahnya. Di sini, lidahnya ternyata sudah merasa dimanjakan justru dengan menu makanan yang sungguh-sungguh ala kadarnya khas orang desa. Hari ini Nawang pulang agak sore karena suatu hal di kampusnya jadi dia tak bisa ikut makan siang bersama.(f)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Theresia Anik Soetaryo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina."

0 Response to "Wingit (2)"