Wingit (3) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Wingit (3) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:53 Rating: 4,5

Wingit (3)

Kisah sebelumnya:
Espe, seorang wartawati majalah gaya hidup yang sangat metropolis harus menerima kenyataan pahit ketika Yudhis, suaminya, pergi meninggalkannya begitu saja. Espe lalu menyusuri keluarga Yudhis, yang belum pernah ia kenal sebelumnya, ke sebuah desa di Jawa Tengah. Keluarga sang dalang. Ia menemukan masa lalu kelam suaminya.

Ki Sastrosedjono masih merenung sejenak, meski uap wangi sup ayam menari-nari di depan hidungnya. Entah perenungan apa yang sedang melintasi pikirannya, tapi sejurus kemudian dia mampu tersenyum,

“Nawang selalu mutung dan sebal karena dia merasa saya belum sepenuhnya rela gelar dalang desa diwariskan pada dia. Yah, sejujurnya saya memang sempat ragu, apa anak perempuan mampu menjadi dalang? Selama ini dalang itu dunia lelaki. Sudah berkali-kali dia sebetulnya membuktikan dengan pentasnya yang gemilang. Tapi, kali ini kasusnya agak berbeda. Saya khawatir karena pagelaran ini adalah pagelaran wayang wingit meskipun tidak semistis ruwatan. Masih terlalu berat baginya. Tapi, pergelaran wayang kali ini juga cukup berat karena dia adalah penolak pagebluk. Mampukah wanita dalang muda Nyi Prawitasari membawakan lakon Dewa Ruci yang dipilihnya? Sungguh saya dihantui ketakutan.”

“Padahal Nawang begitu yakin dan percaya diri, lho, Pak,” Espe menyendokkan nasi ke piring mertuanya. Dia sudah memanggil Ki Sastrosedjono dengan sebutan Bapak. “Puasa mutih dan pantang garam selama empat puluh hari sudah dia tempuh dengan ikhlas. Masa Bapak masih belum mengikhlaskan Nyi Prawitasari menjadi dalang pergelaran wayang besok malam?” 

Sesungguhnya Espe tak pernah tahu apa arti dan sugesti wayang kulit bagi orang-orang Jawa generasi petani seperti Ki Sastrosedjono ini. Espe adalah pohon yang sudah mati karena dia telah sepenuhnya tercabut dari akar budayanya. Namun, sejak bertemu dengan keluarga barunya ini, Espe bertekad menanam diri kembali dan menumbuhkan akar-akar yang kuat, bahkan jika akar itu adalah budaya Jawa yang dulunya sama sekali asing baginya. 

Ki Sastrosedjono masih mengalami suatu perenungan yang dalam sesaat. Lalu wajahnya kembali berangsur cerah dan menyendok makan siangnya dengan lahap. Setelah selesai, dia berdiri, mengambil pacul dan topi capingnya. Dia akan kembali lagi menggarap sawah.
Sebelum keluar, Ki Sastrosedjono menoleh pada menantunya dan tersenyum lega. 

“Sungguh senang memiliki satu anak lagi sepertimu, Nak Espe. Ya, kini Bapak sepenuhnya ikhlas dan yakin Nyi Nawang Prawitasari akan mampu menunaikan tugasnya, meski dia masih begitu muda dan merupakan wanita dalang pertama. Bahkan, sekalipun pergelaran wayang yang akan dia bawakan adalah wayang mistis pengusir pagebluk, saya yakin dia bisa.”

Dan, dengan senyum lebar, Ki Sastrosedjono melangkah sedikit terbungkuk menuju sawah. Espe segera menyambar ponselnya. Membuka aplikasi Google lewat benda mungil yang cerdas itu dan mencari tahu arti kata ‘pagebluk’.

* * * *
Pagebluk
Dulu sekali, di zaman yang bahkan tidak dilalui Ki Sastrosedjono, pernah terjadi berbagai peristiwa wingit di Desa Bekuning. Sawah-sawah subur dan menjanjikan yang tiba-tiba diserbu hama. Ladang-ladang yang siap panen tiba-tiba layu semua. Jembatan desa yang kokoh tiba-tiba ambrol hanya karena dilalui orang yang berjalan kaki. Serombongan ternak yang mati begitu saja. Kematian berturut-turut beberapa penduduk desa tanpa sebab yang jelas. Pagebluk yang silih berganti itu tentu saja sangat meresahkan warga desa. 

Saat listrik masih terasa sejuta cahaya jauhnya, maka selepas senja Desa Bekuning akan seperti desa mati, semua orang mengunci diri dalam rumah masing-masing dengan penuh ketakutan, meninggalkan suasana sepi dan gelap pekat di luar sana. Masing-masing rumah memiliki kentongan yang akan segera dipukul bertalu-talu oleh pemiliknya bila terjadi sesuatu. Dan, pada masa-masa mencekam itu nyaris tiap malam ada saja kentongan yang dibunyikan. Ternak yang mati. Simpanan padi di lumbung yang tiba-tiba busuk. Orang yang mati mendadak. Begitu mencekam pagebluk yang melanda Desa Bekuning masa itu.
Hingga akhirnya dalang desa sekaligus sesepuh, yang merupakan kakek dari kakek buyut Ki Sastrosedjono mengambil keputusan untuk melakukan pementasan wayang semalam suntuk dengan lakon Murwakala untuk meruwat desanya. Entah bagaimana, pementasan wayang kulit wingit itu berhasil mengusir pagebluk. 

Selama beberapa lama, Desa Bekuning ayem tentrem seperti sediakala. Panenan melimpah. Ternak gemuk dan menghasilkan. Orang-orang yang kembali tersenyum. Sampai akhirnya ketenangan itu terenggut kembali oleh pagebluk. Maka kembali wayang kulit semalam suntuk dipentaskan dan sesudahnya desa kembali tenang. Hingga pentas wayang semalam suntuk itu menjadi tradisi turun-temurun yang dilakukan sekali setahun di Desa Bekuning, terutama dilakukan di masa menjelang panen sebagai ungkapan syukur atas berkah yang akan diterima, sekaligus sebagai sarana bersih desa.

Generasi berganti, Desa Bekuning tersentuh kemajuan zaman dan mulai melunturkan kearifan lokalnya. Petani yang tersisa adalah mereka yang berusia cukup lanjut, sedangkan anak-cucu mereka berbondong-bondong pergi ke kota untuk menjadi buruh pabrik atau pegawai kantor. Sawah-sawah subur kini hanya bisa berpasrah pada petani usia manula. 

Dari yang sedikit itu, tersisa generasi dalang yang menurun pada Ki Sastrosedjono. Ki Sastrosedjono adalah generasi yang teguh memegang tradisi sekaligus membuka diri bagi perkembangan zaman. Menurutnya, alangkah baiknya bila keduanya bisa seiring sejalan. Pohon yang makin tinggi tak akan bisa kuat dan terus hidup tanpa adanya sokongan akar yang kuat.

Selagi dia masih setia menjadi petani dan dalang, anak perempuannya yang satu-satunya dia sekolahkan setinggi-tingginya karena dia yakin hanya pendidikanlah yang mampu memajukan perekonomian keluarga mereka. Pun, ketika anak perempuannya ternyata sangat tertarik dengan seni dan budaya, Ki Sastrosedjono yakin bahwa berkesenian yang dipadukan dengan pendidikan tentu bisa membuka jalan yang lebih lebar. 

Dan dia sangat benar. Nawang Prawitasari bahkan sudah mendapat tawaran manggung ndalang, nari dan nyindhen dari berbagai organisasi kesenian di luar negri, segera setelah dia lulus kuliah seni. Beberapa hari tinggal bersama keluarga kecil Ki Sastrosedjono membuat Espe tertular virus antusiasme dan semangat Nawang akan mimpi-mimpinya yang sungguh berbudaya.

Tiap hari, selepas senja, Espe tak akan bisa menemukan Nawang untuk beberapa saat. Ternyata, gadis muda itu mendekam di kamarnya, mengunci pintunya dari dalam dan melakukan meditasi. Dia akan keluar menjelang waktu makan malam. Nawang juga tidak selalu tidur di kasur. Ada kalanya dia tidur di lantai beralas tikar. Pada hari-hari tertentu, Nawang berpuasa. 

Namun sore ini, Nawang membuat heboh suasana. Ki Sastrosedjono yang sedang berjalan pulang dari sawah, baru mencapai setengah halaman rumah, ketika sebuah mobil butut berbelok masuk halaman.

“Ki Sastro!” panggil seorang anak muda dengan nada panik, lalu segera turun dari belakang kemudi mobil.

“Tolong, ini Nawang….”

Ki Sastrosedjono terperangah sesaat. Saat dilihatnya anak muda itu membuka pintu mobil, menurunkan dan membopong sesosok tubuh gadis yang lunglai, dia segera membuang caping dan cangkulnya untuk membantu anak muda itu. Nyi Nawang Prawitasari pingsan dalam pelukan ayah dan Arya, sahabat baiknya dari kampus.

“Nak Espe!” Ki Sastrosedjono berteriak lantang, yang membuat Espe seketika tergopoh-gopoh ke depan. Dia begitu kaget melihat adik iparnya yang digotong berdua dalam keadaan pingsan, lalu buru-buru menyiapkan tempat tidur untuk membaringkan Nawang.

“Apa yang terjadi, Pak?” dia bertanya sambil menyeka dahi Nawang dengan serbet bersih yang sudah direndam air hangat. Nawang kini sudah terbaring di tempat tidurnya dengan mata terpejam dan kesadaran yang masih hilang.
Ki Sastrosedjono menoleh pada kawan Nawang. 
“Gendhuk kenapa?” dia bertanya dengan suaranya yang dalam dan tenang. Raut wajahnya sedikit beriak, tapi suara tenangnya tetap terkendali.
Lelaki belia teman kuliah Nawang itu menggeleng.

“Entah, Ki. Sepertinya tekanan darahnya drop. Dia pingsan waktu mau ke parkiran motor. Tadi dia memang terlihat lemas dan mengeluh pusing. Apakah dia lagi puasa mutih?”
Ki Sastrosedjono mengangguk. Raut wajahnya tak lagi tenang. Ada kecemasan yang jelas membayang di sana. Espe turut cemas. Pentas wayang wingit semalam suntuk itu akan dilaksanakan besok. Apa jadinya bila sang dalang sakit?
“Mbak Espe?” tangan Espe diguncang pelan. Espe menoleh. Rupanya adik iparnya sudah sadar. Espe buru-buru mendekat.

“Kita ke dokter, yuk, Nawang. Kamu merasakan apa? Pusing? Lemas? Capek? Kita periksakan ke dokter, ya.” Espe mengusap-usap kening adik iparnya dengan lembut. Mata Nawang masih sayu, tapi demi mendengar omongan kakak iparnya, dia memutar bola matanya.

“Halah, ndak apa-apa. Wong, cuma pusing lalu pingsan. Aku baik-baik saja. Cuma capek dan pusing sedikit,” tukasnya cepat. 

“Jangan ngeyel gitu, toh, Nduk. Kita ke dokter saja,” Ki Sastrosedjono ikut membujuk. “Jangan khawatirkan pentas wayang besok. Bapak saja yang mentas. Atau mungkin bisa ditiadakan dulu ….”

“Wah!” potong Nawang dengan nada ketus. “Bapak ini bagaimana? Tradisi tetap tradisi, Pak. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? Saya tidak apa-apa, kok, sungguh.”

Nawang menoleh pada Espe. “Mbak Espe, tolong ambilkan air putih hangat, ya. Aku haus.”
Espe beringsut ke dapur untuk mengambilkan segelas air putih hangat dan dua buah pisang raja rebus yang masih hangat. Di kamar Nawang, ayah-beranak itu masih adu urat.

“Sudahlah, Nduk, toh, orang-orang sudah banyak yang tidak lagi peduli pada pentas wayang kulit. Lagi pula, pagebluk itu mungkin cuma mitos, bisa jadi cuma isapan jempol,” Ki Sastrosedjono terus mencoba membujuk anak perempuannya yang keras kepala itu. 

“Aduh, Pak, saya mentas wayang kulit itu bukan cuma karena pagebluk. Kalaupun benar wayang bisa mengusir pagebluk, ya sungguh baik. Bila memang cuma mitos, sayapun tak peduli. Saya mau ndalang karena saya sangat suka mendalang, Pak. Besok adalah pentas wayang wingit pertama saya dan saya ingin membuktikan diri sudah menjadi dalang wasesa. Saya ingin kesenian tradisional kita tetap hidup. Kalau orang-orang lain sudah tak peduli, biarlah. Masih ada saya yang peduli. Nantinya saya akan cari cara supaya anak-anak muda lainnya juga peduli. Akar kita tak boleh mati, Pak, karena kalau akar kita mati, kitapun mati. Percayalah, saya tidak apa-apa. Ini cuma capek sedikit saja. Jadi bapak ndak usah mbujuk-mbujuk begitu. Saya akan tetap mendalang. Titik.”

Ki Sastrosedjono terdiam. Tangan kanannya mengelus rambut Nawang dengan penuh kasih sayang. Oh, alangkah luhurnya anak perempuannya ini. Alangkah mumpuni dan wasesa pemikiran gadis belia ini. Dan betapa Ki Sastrasedjono merasa begitu beruntung memiliki anak seperti dia. Anak lelaki yang minggat begitu saja itu, kini tak lagi menghantuinya. Kecerdasan dan tekad kuat Nawang membuatnya mampu melepaskan hantu masa lalu yang selama ini memberati langkah-langkahnya. Oalah, nduk, semoga niat muliamu selalu dalam lindungan Yang Kuasa, doa Ki Sastrosedjono dalam hati, diiringi setitik air mata yang membayang di pelupuk matanya.

“Mbak Espe!” suara Nawang mengagetkan mereka. Kini gadis badung itu bahkan sudah bisa duduk. Rambutnya agak berantakan. 

“Sini airnya, haus, nih. Wah, ada pisang rebus, ya? Baguslah. Kayaknya aku lupa belum makan apa-apa memang.” Nawang nyengir.

Nawang meneguk airnya dan mulai mengganyang pisang rebus. 
“Sudah, bubar jalan. Ngapain pada nonton saya?” tukasnya galak. “Arya, tolong ambilkan motorku di parkiran kampus, simpan di rumahmu dulu saja, habis mentas besok akan kuambil. Mbak Espe, masak yang enak, ya, nanti malam aku mau makan komplet, pakai sayur lodeh terong dan lauk telur dadar. Pakai kerupuk ya.”

Espe tertawa. Sungguh lega hatinya melihat Nawang yang sudah pulih seperti sediakala. Hanya raut wajah Ki Sastrosedjono yang masih menyisakan kecemasan. Nawang segera menyadari hal itu. Dia menatap ayahnya dengan lembut.

“Bapak pokoknya percaya saja pada saya. Yang tadi cuma pingsan kelaparan. Bukan pagebluk. Saya malahan yang mau menangkal pagebluk. Jadi, Bapak santai saja dan doakan saya. Oke?”
Ki Sastrosedjono akhirnya tersenyum.

* * * *
Wingit
Suara Ki Sastrosedjono menerjemahkan bahasa Jawa dalam pentas Dewa Ruci kepada Espe yang tidak mengerti bahasa Jawa, timbul tenggelam oleh riuh rendah suasana sekitar. Penonton yang memadati arena. Suara dalang, nyanyian sinden dan iringan gamelan para niyaga lantang membelah malam, membius keheningan yang seketika digantikan oleh kemegahan pentas budaya. Lapangan tempat pementasan wayang kulit terang-benderang dan berlimpah orang. 

Sungguh bahagia hati Nawang bahwa ternyata kesenian wayang kulit masih mendapat perhatian.  Meski dia tahu, banyak di antara penonton yang ingin menyaksikan pentas yang dibawakan oleh dalang perempuan, suatu hal yang langka bahkan hingga sekarang. 

Pada kelirnya, dalang Nyi Nawang Prawitasari dengan lincah berganti-ganti memainkan wayang kulitnya. Suara dan intonasinya berubah-ubah sesuai peran yang dia bawakan. Sabetan-nya mantap. Uluk-uluk suluknya sepenuh perasaan. Keprak dan cempolo dimainkannya dengan ketepatan dan kecepatan yang mengagumkan. 

Penonton terbius oleh Nyi Prawitasari yang seakan mengajak mereka melakukan perjalanan spiritual bersama Werkudoro –sang kesatria Pandawa yang menakutkan wujudnya, namun sangat lembut hatinya-- dalam mencari air suci, yang merupakan perjalanan mencari Tuhan dengan mengenali diri sendiri. 

Espe ikut terpesona, melalui cerita yang diterjemahkan mertuanya. Terkadang Ki Sastrosedjono lupa tidak mengatakan terjemahan cerita saking terpesona oleh kebolehan mendalang anak wedok-nya yang sungguh wasesa, sampai Espe menyikut pelan mertuanya yang lalu tersadar bahwa ada menantunya yang asing sama sekali dengan kebudayaan Jawa ini.

“Werkudoro bertemu sang Dewa Ruci, sang Marbudyengrat yang mahatahu. Dia iba kepada Werkudoro yang mencari-cari Pawitra Tirta, air suci, yang sebetulnya tak pernah ada. Diberi tahu mengenai hal itu, Werkudoro meminta sang Dewa Ruci memberikan wejangan kepadanya. Dewa Ruci ini wujudnya sangat kecil, seukuran jari, dan anehnya, sangat mirip dengan Bima atau Werkudoro.”

Espe sungguh terpesona dengan cerita yang dituturkan ayah mertuanya. Dengan mata tak lepas mengagumi keterampilan adik iparnya, Nawang menantikan Ki Sastrosedjono menerjemahkan babak selanjutnya.

“Begini kata Dewa Ruci:  Sabarlah anakku,  memang berat cobaan dalam hidup. Ingatlah pesanku ini, jangan pernah pergi tanpa tahu tujuan, jangan  makan bila belum tahu rasa yang akan dimakan, kau bisa mendapat pengetahuan dengan bertanya dan bisa pula berpangkal dari meniru. Bahwa segala sesuatu bisa terwujud oleh tindakan semata,” suara Ki Sastrosedjono berusaha mengatasi suara gamelan dan nyanyian sinden yang kini sedang mengisi suasana.

Espe menyerap tiap kalimat dengan penuh ketakjuban. Tak disangka, dirinya yang tumbuh tanpa akar, kini mendapatkan penopang yang sungguh kuat, justru dari keluarga yang tak pernah dikenal  sebelumnya. Andai kala pertama mencurigai perubahan perilaku suaminya tidak membawanya pada ‘penyelidikan’ kecil, Espe tak akan menemukan KTP lama Yudhistira muda yang beralamat di desa ini. Espe memfotokopi KTP itu dan menyimpannya dengan cermat. 

Waktu itu, dia sungguh tak tahu untuk apa, dia semata-mata hanya menuruti instingnya. Pun, saat ngobrol dengan nada sambil lalu, Espe berhasil memastikan bahwa Yudhistira memiliki ayah bernama Sastrosedjono, sesuai dengan nama lengkapnya, Yudhistira Sastrosedjono. Namun, Espe tak berhasil mengorek keterangan apakah ayah suaminya masih hidup karena Yudhistira selalu menutup pembicaraan dengan berkata bahwa itu hanya masa lalu yang tak perlu diganggu lagi. 

Espe selalu menyimpan tanya tentang keluarga asli suaminya. Dan sekarang, di sinilah dia, berada di tengah Ki Sastrosedjono dan Nyi Prawitasari yang sudah sekian lama ditinggal pergi oleh Yudhistira. Alamat di KTP itu memang membawa Espe pada keluarga suaminya, namun dia tak pernah bisa menemukan suaminya lagi yang kini entah di mana. 

Meski begitu, setelah berhari-hari hidup bersama keluarga suaminya, Esperanza justru  makin ikhlas melepaskan kepergian suaminya yang tanpa pesan. Dia pun ikhlas melepaskan segala harta yang ikut dibawa kabur Yudhistira. Hidup dalam kesederhanaan yang bersahaja bersama Nawang dan Ki Sastrosedjono telah memulihkan rasa percaya dirinya yang semula luluh lantak. Kebahagiaan itu ternyata bisa sederhana saja, dialami bersama dengan orang-orang sederhana. 

 “Ngantuk, Nak Espe?” Ki Sastrosedjono mengagetkan Espe. Gamelan yang bertalu-talu dan suara sinden yang menyanyi mendayu-dayu sempat menghilang sejenak dari perhatian Espe saat dia begitu dalam merenungi tentang pencarian hidupnya sendiri. 
“Ah, tidak, Pak. Bagaimana selanjutnya?”

Ki Sastrosedjono menghela napas, melemparkan pandangannya ke atas panggung, pada Nyi Prawitasari yang lincah memainkan lakon-lakonnya. Sorot matanya begitu penuh kebanggaan. Sudah lewat tengah malam kini. Penonton bergeming, tetap khusyuk menyaksikan pentas wayang Nyi Prawitasari yang kian memukau. Tak jarang Espe mendengar seseorang menarik napas takjub, atau seseorang yang pelan berujar,  “Wah…” dengan penuh kekaguman. Malam ini benar-benar memukau dan Espe tak henti-hentinya bersyukur akan keputusannya mencoba mencari keluarga suaminya. 

Ki Sastrosedjono berdehem, lalu mulai menerjemahkan lagi, “Bima bisa melihat seluruh dunia melalui mata Dewa Ruci. Dia masuk lewat telinga kiri Dewa Ruci dan begitulah dia bisa melihat seluruh dunia. Bahwa pencarian akan Gusti Yang Maha Kuasa diawali dengan mengenali diri sendiri. Itulah mengapa sang Dewa Ruci digambarkan sebagai makhluk kecil yang sangat mirip dengan diri Werkudoro sendiri. Bima sempat ragu dengan berkata ‘Paduka ini hanyalah anak bajang bertubuh demikian kecil sedang saya begini besar. Dari mana jalanku masuk, sedang kelingking pun tak mungkin masuk.’ Dengan tersenyum dan lirih Dewa Ruci menjawab ‘Besar manakah dirimu dengan dunia ini? Sedangkan semua isi dunia, hutan dan gunung, samudra dengan segala isinya dan angkasa raya, semua masuk ke dalam tubuhku ini, apalagi hanya sejentik noktah di alam seperti dirimu.’”

Espe sedang meresapi tiap patah wejangan bermakna itu ketika suara gaduh terdengar dari atas panggung. Sejurus kemudian kehebohan terjadi. Para sinden berteriak, para niyaga menghambur. Gamelan terhenti seketika. Dan pakeliran sunyi senyap sama sekali.

“Tolong! Nyi Prawitasari pingsan!” seseorang berteriak dari atas panggung. Seketika penonton seolah disentakkan kembali ke kesadaran. Semua orang bergemuruh, mengatakan ini itu, ada pula yang naik ke panggung untuk menolong. Espe langsung menyadari bahwa Ki Sastrosedjono sudah tak lagi di sampingnya. Lelaki tua itu melesat bagai anak panah menyongsong tubuh anak perempuannya yang jatuh terkulai. Espe segera berdiri dan berlari ke arah panggung. 

Nyi Prawitasari lunglai dalam pelukan ayahnya, Wajahnya pucat, namun ternyata dia tidak pingsan. Matanya menatap sayu pada ayahnya dan Espe berganti-ganti. Dia seperti akan mengatakan sesuatu.
“Tidak… tidak… tidak,” Nyi Prawitasari berkata lemah. “Hanya tinggal sedikit lagi, Mengapa saya jadi demikian letih? Tidak… tidak. Saya harus menyelesaikan pertunjukan wayang ini.”
Nyi Prawitasari mencoba bangun, namun ayahnya menahannya.
“Sabarlah sebentar. Beristirahatlah sejenak. Nanti bisa kau lanjutkan setelah pulih lagi,” bujuk ayahnya lembut. Nyi Prawitasari menggeleng.

“Tidak, Pak. Saya sudah gagal. Padahal, hanya tinggal sejengkal. Kenapa saya bisa tiba-tiba merasa letih? Pak, Pak, tolong saya,” Nyi Prawitasari memeluk ayahnya. “Bagaimana dengan pagebluk itu kalau ternyata pertunjukan wayang wingit ini tak selesai?”
Ki Sastrosedjono menatap lembut anaknya.

“Bukankah kau mendalang karena menyukainya? Bukan karena semata percaya adanya pagebluk yang mungkin cuma mitos? Percayai saja hasrat mendalangmu, yang sudah pasti bukan karena sekadar mitos. Semua akan baik-baik saja. Tenangkan dirimu, Nduk.”

Nyi Prawitasari masih menatap ayahnya dan Espe dengan sinar mata setengah bingung. Saat itulah ponsel di saku celana panjang Espe bergetar. Sambil tetap menggenggam tangan kanan adik iparnya yang masih terbaring di atas panggung, Espe menarik keluar ponselnya. Sebuah SMS masuk dari Dina, teman baiknya di Jakarta sana. 
Espe, ini mobilmu kan?

Disusul sebuah pesan bergambar masuk ke ponsel Espe, memperlihatkan sebuah mobil berwarna hitam yang rusak parah akibat suatu kecelakaan, namun plat nomornya terbaca jelas. Ya, Esperanza mengenali mobil itu sebagai mobilnya. 
Sebuah pesan masuk lagi. Masih dari Dina.

Bisakah kau ditelepon sekarang, Espe? Ada yang harus kusampaikan.
Esperanza tak membuang waktu. Nalurinya mengatakan dia harus segera menghubungi sahabatnya itu. Dina mengangkat teleponnya pada deringan pertama.

“Oh Espe, maaf aku harus menyampaikan hal ini padamu. Aku sedang melintasi jalan tol saat suatu kecelakaan terjadi, lima menit lalu. Ketika sekilas aku melihat mobil korban kecelakaan, aku langsung mengenalinya. Itu mobilmu, Espe. Mobil yang dibawa pergi Yudhistira.”

Espe tak mampu berkata-kata sehingga dia membiarkan Dina merampungkan ceritanya.
“Yudhistira meninggal dalam kecelakaan itu. Dalam mobil itu.”

Ponsel itu seketika terjatuh ke lantai. Nyi Prawitasari terisak pelan, menangkap getaran kesedihan yang terpancar dari mata Esperanza.
Mungkin ini pagebluk, pikir Espe dalam suatu kepasrahan berbalut kesedihan. Semoga pagebluk yang terakhir. (Tamat)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Theresia Anik Soetaryo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Femina."

0 Response to "Wingit (3)"