Ada Musa di Desa Itu? | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ada Musa di Desa Itu? Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:00 Rating: 4,5

Ada Musa di Desa Itu?

KABAR itu merebak cepat sekali. Belum sampai tiga jam setelah kejadian itu, warga yang berada di ujung desa sudah mengetahuinya. Mungkin karena sudah begitu sering kejadian itu terjadi, kabar itu seperti sudah memiliki jalannya sendiri untuk menyebar dengan cepat sampai ke ujung desa, bahkan sampai ke desa-desa terdekat di seberang sungai sana.

Siang itu, satu orang kembali menjadi korban jembatan gantung yang semakin hari semakin rapuh itu. Beni anak Pak Badri jatuh dari ketinggian jembatan, ke kedalaman sungai yang arusnya terkenal deras. Mematikan. Perenang andal manapun tak akan sudi berenang di sungai itu, yang selain berarus kuat, kedalamannya menyimpan bebatuan yang siap membentur kepalamu ketika tubuhmu sudah termakan arus sungainya. Kau tak akan mampu mengendalikan tubuhmu ketika arus kuat sudah mengekangmu dan menyeretmu ke dalam sungai, kemudian membawamu menuju ke akhir yang menyakitkan, kepala bahkan seluruh tubuhnmu akan membentur bebatuan besar yang mediami dasar sungai.

Beni ditemukan sudah terapung-apung di permukaan sungai sekitar satu kilometer dari jembatan itu. Mayatnya ditemukan oleh pemancing di tepian sungai yang arusnya sudah mulai tenang, berbeda dengan arus di bawah jembatan itu. Terlihat luka hampir di sleuruh tubuhnya. Tak ada lagi baju yang tertempel di mayat itu. Tampaknya arus yang deras sudah mencerabut dengan pakasa seluruh pakaian dari tubuhnya. Beni sebenarnya tidak pernah berharap hidupnya berakhir dengan cara seperti ini. Namun tidak ada pilihan lain baginya. Jembatan gantung dengan papan-papan kayu sebagai pijakannya itu menjadi satu-satunya jalan menuju desa di seberang sungai.

Jembatan itu panjangnya 100 meter membentang di atas sungai. Dan jarak dari jembatan sampai ke permukaan air sungai sekitar 15 meter. Siapapun pasti sudah akan pasrah ketika terjatuh dari jembatan itu. Jatuh dari ketinggiannya saja sudah membuat tubuh merasakan sakit luar biasa,apalagi ketika membayangkana rus deras sungai dan bebatuan yang mendiami dasarnya. Ditambah lagi kondisi jembatan itu sudah tidak bisa dikatakan waras. Tali jembatan sudah terlihat rapuh dan seperti tinggal menunggu waktu untuk putus. Papan-papan kayu yang menjadi pijakan sudah banyak yang terlepas hingga terlihat drai ketinggian arus ganas di bawah sana. Orang-orang yang melewati jembatan itu haruslah memperhatikan langkahnya agar tak salah melangkah dan terperosok jatuh ke bawah.

Kekhawatiran para orang tua di desa itu sudah mencapai puncaknya. Mereka semakin khawatir dengan keselamatan anak-anaknya yang harus melewati jembatan itu untuk bersekolah di desa seberang, karena di desa itu belum ada sekolah. Kekhawatiran itu juga dirasakan Murdi dan Sri, istrinya. Mereka tak ingin kejadian yang menimpaBeni etrjadi juga kepada Danu, anak mereka. Danu harus melewati jembatan rapuh itu untuk berangkat dan pulang sekolah. Setiap itu juga ia harus bertaruh nyawa demi bersekolah demi masa depannya.

"Aku ingin ikut memajukan negeri ini," katanya dengan lugu  pada suatu hari. Mungkin itu terlihat sebagai kebesaran hati dari seorang rakyat yang ingin memajukan negeri walaupun hidupnya sendiri belum diperhatikan oleh negeri. Tapi sungguh, Danu belum menyadari hal-hal seperti itu. Ia hanya ingin menjalankan perintah gurunya untuk menjadi murid yang rajin dan berguna bagi negerinya.

Seluruh warga tampaknya harus berbesar hati setiap hati melewati jembatan rapuh itu untuk melakukan aktivitasnya. Begitu juga yang dialami Murdi. Murdi setiap hari menuju kebun yang digarapnya adalah kebun milik warga desa seberang.

"Pak, anakmu itu diajak berangkat sekalian. Ibu teringat kejadian yang menimpa Beni beberapa hari yang lalu," kata Sri, yang semakin khawatir akan keselamatan anaknya.

"Iya. Tapi sebenarnya anakmu itu juga sudah bisa berhati-hati dan menjaga dirinya sendiri. Tak perlulah Ibu terlalu mengkhawatirkannya."

"Bapak ini cuma berangkat bareng anaknya saja apa susahnya? Kalau terjadi apa-apa..."

"Ya sudah. Nanti Danu biar berangkat bareng Bapak."

Dan setelah percakapan pada suatu pagi itu, Murdi akhirnya berangkat ke desa seberang bersama anaknya. Ketika mereka tiba di jembatan, terlihat di sekitar jembatan sudah berkumpul banyak orang. Mereka berdua penasaran, sebenarnya apa yang terjadi sehingga begitu banyak orang berkerumun? Apakah ada korban lagi?

Setelah mereka mendekat, menurut informasi warga yang berada di sana, ternyata sedang ada pengambilan gambar untuk suatu progra berita dari stasiun televisi nasional. Maka setelah itu, tentu akan banyak orang mengetahui dan merasa harus ikut prihatin akan keadaan ini.

Benar saja, seminggu setelah itu, tepatnya beberapa minggu sebelum dilaksanakan pemilu, ada kabar yang mengatakan bahwa seorang pejabat dari kota akan menyumbangkan kapal untuk transportasi penyeberangan sungai tersebut. Kapal itu akan dioperasikan agak jauh lokasinya dari jembatan. Tepatnya di bagian sungai yang memang arusnya agak tenang. Itu berarti warga harus memutar lebih jauh karena lokasi pengoperasian kapal jauh dari jembatan, jalan yang biasa dilalui warga. Selain itu, yang membuat warga berpikir dua kali untuk memanfaatkan kapal itu adalah setiap menyeberang warga diharuskan membayar untuk keperluan bahan bakar. Maka, setelah kapal itu beroperasi, banyak warga yang masih memilih melewati jembatan ketimbang memanfaatkan kapal tersebut.

***
KABAR  buruk menimpa warga desa lagi. Dua hari yang lalu, jembatan yang bertahun-tahun telah berjasa bagi warga desa akhirnya putus. Angin kenceang ketika hujan deras turun, membuat jembatan tak dapat lagi bertahan. Maka, tentu saja warga tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, mereka harus menggunakan kapal untuk menyeberang. Mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang setiap harinya untuk menuju desa seberang.

"Danu, kamu sekarang harus lebih berhemat. Uang sakumu akan Bapak kurangi untuk membayar penyeberangan. Kita harus ihdup lebih berhemat sekarang."

Hal itu tidak hanya menimpa keluarga Danu. Kebanyakan warga yang memang hanya bekerja sebagai petani harus lebih cermat mengatur keuangannya. Para ibu yang hendak ke apsar juga harus mengeluarkan uang untuk menyeberang karena pasar hanya ada di desa seberang. Karena kesulitan transportasi, di desa itu belum ada pasar. Seluruh warga betul-betul merasa terbebani dengan keadaan seperti itu. Hidup, mereka rasakan lebih susah setelah jembatan itu putus. Sumbangan kapal itu ternyata belum juga dapat memudahkan warga beraktivitas. Para warga tidak tahu harus berbuat apa selain menyisihkan uang setiap harinya untuk menyeberang sungai.

Suatu sore, ketika Danu pulang mengaji di surau, ia dengan penuh semangat berlari menuju Murdi dan seketika bercerita kepadanya tentang mukjizat yang dimiliki Nabi Musa. Dalamm mata anaknya itu, Mardi seolah emelihat kedamaian yang akan yang akan segera terjadi. Mardi hanya menanggapi anaknya itu dengan tersenyum. Dalam pikirannya, ia sadar bahwa anaknya itu masih terlalu kecil. bagaimana tidak? Mungkin anaknya itu berpikir bahwa akan ada orang seperti Musa saat ini, dan menolong seluruh warga desa dari kesulitan ini. Murdi kemudian hanya mengusap kepala anaknya. Sedangkan Danu, ia masih begitu bersemangat bercerita tentang kehebatan Nabi Musa.

"Pak, kata uztad, Nabi Musa dapat membelah lautan dengan tongkatnya. Nanti kita bisa ke desa seberang tanpa kapal. Nabi Musa akan membelah arus sungai, dan kita akan berjalan di tenganya. Pasti asyik ya, Pak?"

***
Pagi itu, Mardi sudah bangun begitu awal. Pagi-pagi sekali, mardi sudah berada di tepi sungai. Entah mengapa ia begitu ingin menuju sungai dan menikmati kesunyian sebelum sebentar lagi mulai akan muncul orangyang berbondong-bondong mengantre untuk naik kapal dan menyeberang. Di kesunyian itu, tiba-tiba ia melihat seorang pria dengan baju putih mendekat ke sungai. Entah siapa, tidak begitu jelas dilihatnya. Pria itu lantas mengambil tongkat yang sepertinya hanya ranting kayu biasa dan emmang sudah ada sedari tadi di sana. Pria itukemudian melangkah masuk ke sungai dan mengangkat tongkat kayu itu tinggi-tinggi. dan ternyata, pada akhirnya tongkat itu dipukulkan keras-keras ke arus sungai.

Tiba-tiba entah bagaimana caranya, air di sekitar tongkat itu mulai menjauh dan sungai terlihat membelah. Air di sekitar tongkat terus menggulung ke atas, dna sungai benar-benar terbelah. Bebatuan di dasar sungai berangsur-angsur terlihat. Semakin lama belahan itu semakin memanjang hingga sampai ke seberang. Kemudian terlihat seperti lorong terbentuk di sana. Lorong yang menuju ke seberang tentunya. Murdi terkejut melihat hal itu. Ia kemudian lari ke rumah dengan berteriak-teriak sepanjang jalan.

"SUNGAI TERBELAH. SUNGAI TELAH TERBELAAH."


***
"PAK, pak bangun! Kamu kenapa? tidur kok teriak-teriak. Aneh-aneh saja. Bapak pasti mimpi gara-gara tadi diceritain si Danu ya? Hahaha...." sri ketawa setelah membangunkan Murdi dari mimpinya. Danu yanga da di smapingnya ikut terkikik-kikik melihat ayahnya yang mengigau. Murdi benar-benar malu. Ia tak habis pikir bisa-bisanya cerita Danu itu terbawa hingga mimpi.

Keringat terlihat membasahi keningnya. Ia akhirnya sadar, mana mungkin ada orang yang bisa membelah sungai. Ia terlihat duduk diam dan tergugu di beranda setelah itu. Dalam pikirannya, mungkin memang kesulitan ini masih akan berlangsung lama. Apalagi warga juga sudah bosan mengajukan protes kepada pemerintah untuk pembangunan jembatan, dan sampai sekarang belum mendapatkan tanggapan. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi..

Tiba-tiba dari kejauhan datang seseorang berlari menghampiriny, dan kemudian membuyarkan lamunannya. Tampaknya ada hal penting yang ingin disampaikan hingga ia terlihat tergesa-gesa seperti itu.

"Pak, pokoknya sekarang bapak harus menuju sungai, ayo Pak! Ini benar-benar aneh. Banyak yang mengatakan, di sana ada seseorang yang dapat membelah air sungai. Sekarang sudah banyak warga yang berkumpul. Ayo pak, cepat! Saya juga akan ke sana. (62)


Aqib Wisnu Priatmojo, lahir di Bekasi 29 April 1993 dan berstudi di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret - Surakarta


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aqib Wisnu Priatmojo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 19 April 2015

0 Response to "Ada Musa di Desa Itu?"