Aku dan Istriku | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Aku dan Istriku Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:47 Rating: 4,5

Aku dan Istriku

AKU dan Istriku

SUDAH hampir tengah malam aku masih termangu, duduk berjuntai di jendela rumah. Istriku yang baru pulang kerja tanpa mengucap salam langsung menuju kamar tidur. Aku menoleh ke pintu kamar yang setengah terbuka, memerhatikan istriku tengah membuka blus dan rok midi. Aku terus melihat ke dalam kamar, mengharapkan kali ini istriku mengenakan piyamanya. Namun dugaanku salah, lagi-lagi istriku langsung berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Pelan-pelan aku bangkit dan masuk ke dalam kamar. Pintu dan jendela pun sudah kututup. Di kamar istriku tak memulai percakapan. Apalagi percakapan manja atau cerita yang mengundang gairah. Ia langsung mematikan lampu ranjang an tidur memeluk bantal guling. 

Beberapa jam kemudian, aku diam-diam keluar kamar. Aku gelisah dan sebagian tubuhku basah oleh keringat. Kukencangkan kain sarung di pinggang dan membasuh muka yang terasa panas. Sudah beberapa hari ini aku keluar kamar tengah malam. aku tidak bisa tidur dan selalu terpikir perilaku istriku. Ia bertingkah tidak wajar. Setiap malam istriku tidur tanpa mengenakan piyama. Di kamar kami tidak melakukan apa-apa. Sudah lama kami tidak bercinta. Jika aku menyentuhnya, ia akan membesarkan bola matanya kepadaku. Pikirku, istriku mungkin saja mengalami depresi. Lantaran bekerja siang hingga malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tambah aku juga tak dibolehkan bekerja olehnya. Jika aku bertanya, ia langsung marah dan melarangku bicara soal pekerjaan. 

Aku mulai jenuh. Berminggu-minggu di rumah membuatku seperti dalam kandang. Menuruti semua keinginan istriku, termasuk untuk tidak keluar siang hari dan harus ditemani olehnya. Jalan-jalan keliling kota dengan mobil dan tidak akan pernah berhenti walau sekadar minum kopi di sebuah kafe, kecuali untuk mengisi bahan bakar di pompa bensin dan menyuruhku duduk manis di mobil. Sampai detik ini aku tak mengerti kenapa ia melarangku ke luar rumah sendirian.

Keinginan timbu di benakku. Aku teringat saat menonton siaran di televisi yang menayangkan liputan suasana jajanan malam di taman kota. Aku menyaksikan orang-orang sedang menikmati sate ayam, bakso, jagung bakar, dan kopi hangat pengundang selera. Reporter yang mewawancarai salah seorang pedagang mengabarkan kalau jajanan malam di taman kota selalu buka sampai jam empat pagi. Malam itu, aku segera mengganti kain sarung dengan celana panjang dan jaket kulit hitam yang menggantung di belakang pintu kamar. Sebelum keluar aku sejenak memerhatikan istriku dan tersenyum lebar melihatnya tengah tertidur pulas memeluk bantal guling. Setelah yakin istriku tidak akan bangun, aku mengendap-endap membuka jendela dan keluar. Aku berjalan di tengah malam menyusuri jalan menuju tempat yang kuinginkan.

Aku dan suamiku


PAGI itu, saat dua ekor kucing yang tengah asyik tidur di teras rumah, berhamburan mendengar jeritanku yang mengejutkan. Aku kehilangan suamiku. Aku tidak menemukannya berada di dalam kamar. Di ruangan lain rumah, suamiku juga tidak terlihat batang hidungnya. Rasa cemas membuatku mengurungkan niat masuk kerja hari ini. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada suamiku. Segera kunyalakan mesin mobil dan mencari suamiku yang tiba-tiba menghilang entah ke mana.

Waktu itu, tiga bulan lalu, suamiku menjabat sebagai kepala bidang pemasaran di perusahaannya. Kecurangan rekan kerjanya membuat suamiku terjebak dan dituduh telah menggelapkan uang perusahaan Rp 7 juta. Mendengar laporan itu, pemilik perusahaan lantas memecat suamiku. Atas pertimbangan prestasi kerjanya yang dinilai bagus, pemilik perusahaan tidak melaporkan suamiku ke pihak berwajib.

Suamiku mengalami stres berat, lantaran diberhentikan bekerja tepat di saat ulang tahun pernikahan kami yang kelima tahun. Saat itu suamiku sudah berjanji menghadiahkan sebuah piyama untukku. Di tengah perjalanan pulang, suamiku mengalami kecelakaan sebab mengemudikan mobil terlalu kencang. Ia dibawa ke UGD rumah sakit. Setelah sadar dari koma selama empat hari, tanpa diduga suamiku mengalami pendarahan di kepalanya yang membuatku tak henti-henti menangis. Dari hasil pemeriksaan dokter, suamiku mengalami gangguan yang mengakibatkan ia tidak mengingat hal yang telah terjadi sebelumnya. Sepulangnya dari rumah sakit aku berniat tidak membiarkannya bekerja lagi dan keluar rumah sendirian. Aku takut suamiku akan pergi ke tempat-tempat yang mengingatkannya pada kejadian tempo hari.

Aku terus mencari. Mengendarai mobil ke kafe, plaza, dan hunian temannya yang dulu biasa disinggahi suamiku. Di tengah pencarian, aku teringat sebuah tempat jajanan yang hanya buka setiap malam di taman kota. Suamiku pernah bercerita kalau ia ingin sekali dibolehkan berkunjung ke sana. Tancap gas, aku segera menuju taman kota. Walaupun saat pagi tidak ada orang yang berjualan jajanan malam. Setibanya di sana, aku melihat seorang lelaki tidur di bangku taman. Aku menangis, lelaki yang kulihat ternyata suamiku sendiri. Aku segera membangunkannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Sepanjang perjalanan pulang aku dan suamiku hanya diam. Tak ada dari kami yang ingin memulai sebuah obrolan lain. Tak lama kemudian kami pun sampai di rumah. Saat turun dari mobil, raut mukanya tampak kesal. Suamiku yang lebih dulu masuk membanting pintu rumah sangat keras. Ia lalu duduk dan menghidupkan televisi di ruang tengah. Aku menghela napas dan langsung menuju ke dalam kamar.

Saat di kamar telepon genggamku berbunyi, aku menjawab panggilan telepon dari bosku dengan suara yang lumayan pelan, takut suamiku tahu. Agar tak dicurigai aku sengaja membongkar pakaian di lemari dan berpura-pura menyusunnya kembali dengan rapi. Bosku menelepon lantaran agak kecewa aku tidak masuk kerja hari ini. Ia memintaku pukul 19.00 nanti agar datang ke kantor, ada tugas yang harus dikerjakan berdua dan tidak bisa lagi ditunda.

Mengenai bosku, ia sangat senang bila aku menemaninya bekerja lembur sampai malam. Kadang-kadang ia juga bercerita, mengeluhkan istrinya yang hampir setiap malam keluar bersama teman-teman perempuan ke pub atau tempat hiburan malam lainnya. Jika bosku menegur, istrinya mengomel balik dan mengungkit-ngungkit asal usul bosku yang jika tidak menikah dengannya pasti akan jadi gelandangan di kolong jembatan. Setelah mendengar cerita bosku, aku merasa simpati dan benci bila membayangkan perangai istrinya yang menjijikkan. Jika mengingat dua minggu lalu, aku menyesal telah menerima tawaran bosku menemaninya lembur setiap malam berdua saja di kantor. Ia berjanji bila aku mau melayaninya, ia akan memberi gaji tambahan dan menghadiahkan paket belanja untukku setiap minggu. Melihat keadaan suamiku dan kebutuhan keluarga yang semakin besar, aku pun mengiyakan permintaan bos.

Menjelang tengah hari suamiku lagi-lagi terlihat gelisah. Ia mematikan televisi lalu mondar-mandir di pintu depan rumah. Aku yang sudah terbiasa melihat tingkahnya yang demikian tidak begitu menghiraukan apa yang dilakukannya. Tak lama berselang sebuah ambulans datang dan berhenti di depan rumah, dua orang perawat turun dari atas ambulans. Salah satu dari mereka membawa jarum suntik. Tanpa mengucapkan salam mereka langsung menuju ke dalam kamar yang ditunjukkan suamiku dari luar. Aku terkejut. Tanpa sempat bertanya dan meronta, jarum suntik sudah menusuk tepat di lenganku. Kepalaku tiba-tiba pusing dan pandanganku kabur seketika. Tubuhku mulai tak berdaya, dua orang perawat lalu menggotongku naik ke atas ambulans.

Deni dan Emilya

KEGELISAHAN Deni mulai hilang, saat ambulans menjauhi rumah mereka dan membawa Emilya ke tempat yang diharapkan Deni. Ia bersyukur keberaniannya untuk keluar tadi malamberbuah cara menghadapi tingkah Emilya. Saat menikmati jajanan malam di taman kota, Deni berkenalan dengan seorang perempuan bernama Hanum yang kebetulan juga mengisi waktu malam di taman kota. Setelah tahu Hanum adalah seorang dokter rumah sakit jiwa, Deni pun menceritakan ketidakwarasan Emilya kepada Hanum. Deni meyakinkan bahwa Emilya mengalami gangguan jiwa dan harus dibawa ke rumah sakit jiwa. Dokter Hanum percaya dan akan mengirim bawahanya untuk membawa paksa Emilya ke rumah sakit jiwa.

Deni bersorak riang. Emilya tidak lagi mengurungnya di dalam rumah. Ke mana Deni pergi, Emilya tidak akan menghalangi. Kali ini Deni akan berkeliling kota bersama dokter Hanum yang berjanji akan menemaninya. Sembari menggoyangkan pinggulnya, Deni bergegas ke dalam kamar untuk mengganti baju dan celana. Setibanya di kamar, Deni langsung terdiam. Tubuhnya mulai gemetar. Jantungnya berdetak kencang dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Deni meremas erat rambut di ubun-ubunnya. Deni meradang, memukul-mukul kepalanya lalu menangis melihat piyama Emilya dan selembar kertas hasil tes HIV telentang di ranjangnya. (k)

[] Padang, 2015

*) Ismail Idola; lahir di Padang Panjang, 13 Juli. Menetap di Padang Sumatera Barat, dan bergiat di Komunitas Seni Nan Tumpah.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ismail Idola
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 12 April 2015

0 Response to "Aku dan Istriku"