Amba Murka - Panorama Senja Yayati - Kisah Salah Widura - Api Cinta Pandu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Amba Murka - Panorama Senja Yayati - Kisah Salah Widura - Api Cinta Pandu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:00 Rating: 4,5

Amba Murka - Panorama Senja Yayati - Kisah Salah Widura - Api Cinta Pandu

Amba Murka

Ada sungai di telapak tanganku. Sungai berkepala perempuan yang ingin membunuh Bisma, penculikku.
Sungai itu, sebagaimana silsilah para raja, berkelok-kelok dari gunung ke lembah. Delapan bulan tanpa air. Delapan bulan penuh buaya.
Sebelum itu, Salwa, kekasihku, menganggapku perempuan sundal karena bersama Ambika dan Ambalika, aku hanya berteriak-teriak dan tak berani meloncat keluar
dari kereta Bisma yang melaju kencang ke istana.
Sejak itu tak seorang pun mau bercumbu denganku. Tak juga jelmaan kuda. Tak juga titisan raksasa.
Sejak itu aku hanya ingin membunuh Bisma
dengan pertolongan dewa, raja perkasa, raksasa,
atau para gandarwa.
Tak ingin bunuh diri, aku pun bergegas ke hutan. Delapan bulan aku berlatih perang. Delapan bulan aku bertapa. Delapan bulan aku minta Betara Siwa memberiku senjata pemunah cinta.
“Kau akan bisa mengalahkan musuhmu pada kehidupan berikutnya. Apakah kau tabah dan bersabar menunggu saat itu tiba?”
Tentu saja aku bersabar dan kukatakan kepada Betara Siwa, “Asal aku sendiri yang membunuh Bisma.”
Lalu seekor anjing melintas dan menyalak, “Kau akan lahir kembali sebagai Srikandi. Kau tak akan jadi anjing atau singa, gunung atau laut, gempa atau bah yang akan menghapus nama Bisma.”
“Siapakah Srikandi,” aku bertanya.
“Ia adalah kau yang telah bertukar kelamin
dengan makhluk kahyangan
untuk membunuh musuh
tak teraba.”
Tentu saja aku tak percaya. Tentu saja
kusembelih anjing itu
sebagaimana kelak akan kupenggal
kepala Bisma.
Karena itu, ingatlah aku: Namaku Amba.
Aku bukan siput lembut. Aku bukan cacing
berkelamin ganda.
Aku pembunuh Bisma.
2014

Panorama Senja Yayati

Senja musnah di ranjang Raja Yayati, ayahku, yang dikutuk Resi Sukra menjadi celeng tua. Senja terbakar
bersama kura-kura yang lebih dulu hangus
di pantai penuh jejak ketam rakus.
Burung-burung muda terbang dari kerongkongan ayahku. Pohon-pohon muda tumbang, bunga-bunga rontok, pemanggul keranda berjingkat-jingkat membuntuti
kerbau-kerbau bunting yang berjalan
teramat lamban ke lapangan penjagalan.
“Hanya kau yang tak gentar menghadapi kematian, Puru,” dengus ayahku, “Hanya kau yang berani dilahap
babi busuk, ketuaan yang menakutkan itu.”
Empat kakakku, ular-ular pemuja matahari, tertawa, meledekku, “Takhta memang hanya untuk celeng, Puru. Jadilah raja untuk sayur-mayur tanpa cahaya.”
Setelah itu, aku pun jadi raja tua bengis. Ayahku jadi anjing betina yang gemar kawin.
“Aku bosan melahirkan kesengsaraan,” kata ayahku.
“Aku bosan jadi raja dungu,” kataku.
Bertahun-tahun kemudian ayahku dan berahi tak tua-tua. Aku dan kekuasaan tak mati-mati juga.
2014

Kisah Salah Widura 

Burung-burung bisa menetaskan kisah salah. Lebah-lebah juga bisa membentuk lapis-lapis cerita keliru. Dan Resi Mandawya yang suci, bisa gegabah mengutuk bunga jadi batu, sungai jadi sapi dungu, dan aku, Begawan Dharma, jadi Widura yang tak mampu menghentikan Duryudana menjerat Yudistira untuk bermain dadu.
Aku tak tahu jika pasukan raja tak menganggap sang resi sebagai penyamun yang menyamar, apakah ia akan mengutukku menjadi semacam kadal? Aku tak tahu jika tombak-tombak pasukan raja tak mencabik-cabik tubuhnya, apakah ia akan mengutukku menjadi semacam kuda? Di benaknya, kau tahu, semua kisah berubah jadi cerita
yang salah.
“Apakah anak-anak yang tak tahu apa-apa ketika membunuh lebah
atau burung tetap akan kauhukum, wahai, Begawan Dharma?”
“Ya. Aku akan menenggelamkan dia di sungai terdalam.”
“Tak ada ampun?”
“Tak ada ampun.”
“Kalau begitu, aku akan mengutukmu menjadi kisah
yang selalu salah. Kau akan menjadi cikal bakal
dari segala pertempuran yang tak pernah habis.”
“Tak ada ampun?”
“Tak ada ampun.”
Lalu burung-burung pun terbang
dan menjelma api.
Lalu lebah-lebah pun terbang
dan menjelma hujan.
Dan aku jadi Widura yang selalu kausangka
hanya buah busuk yang dihanyutkan
ke sungai keruh penuh mayat biru.
Apakah ini juga kisah salah
yang kaukutukkan kepadaku, Resi?
2014

Api Cinta Pandu 

Jangan pernah menganggap Madrimlah yang mencabut nyawaku saat kami bercumbu. Akulah yang justru membunuh Madrim ke dalam api pembakaran
mayatku.
Cinta bukanlah omong kosong tentang sepasang kijang yang terbunuh di hutan. Tentang kehendak para dewa
untuk melahirkan para ksatria yang memenangi
seluruh pertempuran.
Cinta adalah cara bagaimana kita bergegas meninggalkan mukjizat berahi ketika tiba-tiba maut
serupa tombak runcing menusuk lambung
pelan-pelan.
2014

Triyanto Triwikromo menulis buku puisi kematian Kecil kartosoewirjo (2014). Ia tinggal di semarang, jawa tengah. Puisi-puisi yang dimuat kali ini berasal dari antologi terbarunya, Demi Perang Sunyi (akan terbit), yang ia anggit berdasarkan epik Mahabharata.




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 12 April 2015


0 Response to "Amba Murka - Panorama Senja Yayati - Kisah Salah Widura - Api Cinta Pandu "