Bocah Pengemis | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bocah Pengemis Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:47 Rating: 4,5

Bocah Pengemis

SIAPA yang tak iba menatap sesosok manusia mungil dekil berkaleng kecil duduk menggigil di bawah lampu merah di perempatan jalan? Enam tahun umurnya, tapi bebannyatelah setara dengan orang dewasa. Karena tekanan dari ibu --entah wanita itu layak menyandang sebutan sebagai ibu atau tidak-- bocah kecil itu terpaksa mengorbankan masa kecilnya yang ceria dengan bergulat melawan panasnya siang dan dinginnya malam, membanting tulang, mencari uang.

Dengan kaleng bekas susu kental manis yang ia pungut dari tong sampah, ia meminta koin-koin kasih dari para pengguna jalan yang iba hatinya. Bukan untuk kebutuhannya. Bukan untuk memuaskan keinginannya. Bukan untuk hari depannya, melainkan untuk si ibu yang duduk di pinggir jalan sambil menghisap rokoknya yang belasan ribu harganya.

"Pak, mohon belas kasihnya, Pak, untuk beli makan." Begitulah kata hafalan ala ibunya yang ia lontarkan kepada setiap mereka yang berhenti menanti lampu hijau. Suaranya yang kecil lirih tak jarang hilang lenyap diredam suara mesin kendaraan yang menderu.

Masih kecil tubuh dan tulang-belulangnya. Pun masih lemah badannya, tapi ia harus menghadapi serangan angin malam yang dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang. Kain biru yang membungkus tubuhnya telah tipis dan bolong sana-sini. Apa bedanya dengan tidak memakai baju?  Ia merasa dirinya sama saja dengan orang bugil di tengah malam. Ibunya lagi-lagi menjadi biang keladi.

Agar mengundang iba, si anak diberinya baju yang tak lagi bisa disebut baju. Si anak hanya bisa menurut patuh. Suaranya tak lagi punya daya. Menolak berarti mengundang amarah yang menusuk-nusuk hati dan gendang telinga. Berpendapat berarti memilih mati babak belur dihantam sapu, sandal jepit, atau telapak tangan kasar sang ibu. Bibir mungil itu mengatup. Mengatup dan menurut adalah pilihan terbaik agar ia tetap selamat, dan tetap makan.

Makan, ya, makan walau sehari satu kali dengan nasi putih dan kerupuk. Makan, ya makanan semacam itu untuk anak enam tahun yang sangat kepingin menjilati es krim coklat dan mengunyah-ngunyah permen hingga giginya ompong ketika ia melihat seorang anak yang juga seumuran dengannya dibelikan es krim dan permen oleh bapak-ibunya. Ia hanya dapat menunduk, menahan rasa kepinginnya yang terkadang mengundang tetesan tangis di pipinya.

Sambil menggigil kedinginan, Adam menatap kalengnya yang hanya berisi dua keping lima ratusan. Ia harus memenuhi kalengnya agar dapat cepat pulang dan mendapatkan jatah tidur malamnya. Ibunya mengharuskannya hal yang demikian. Setiap harinya ia diharuskan menghasilkan seratus ribu. Jerih payah pagi hingga siang yang telah ia setorkan hari ini baru mencapai enam puluh ribu. Ia masih perlu empat puluh ribu lagi, dan itu kira-kira setara dengan satu kaleng penuh uang lima ratusan. Tapi, sedari satu jam ini ia baru berhasil mendapatkan dua keping saja. Jauh dari kata memenuhi kaleng.

Orang-orang dirasanya pelit. Sudah dua hari semenjak poster pelarangan memberi koin pada pengemis dipasang dan diiklankan di sana-sini, Adam merasa orang-orang semakin sering membentuk isyarat dengan tangannya dan membuang muka darinya. Mereka menolak. Membuat Adam harus bekerja lebih lama. Menahan kantuk dan lelah yang semakin menumpuk. Dan, menahan tangis yang tak berkesudahan.

"Dam, jangan males. Minta ke satu per satu orang. Kalo perlu sambil nangis," kata sang ibu sambil menghitung uangnya yang lima puluh ribuan.

"Bu, Adam ngantuk sekali. Boleh, ya, Bu, Adam istirahat sekarang," kata Adam sambil mengucek-ucek matanya yang merah menahan kantuk.

Ibunya menatap Adam dengan mata melotot seperti kesetanan. "Jangan bandel kamu. Cepat sana minta uang lagi. Lihat itu lampunya udah merah!" Gertak sang ibu sambil menunjuk pada kendaraan yang mulai dihentikan oleh lampu yang menyala merah.

"Ya, Bu." Adam segera berlari kepada mereka yang tengah menunggu.

Kantuknya dibawanya berayun dengan kaki mungilnya yang tak beralas, dan melayang bersama keganasan hidup yang menderu di tengah dinginnya malam. Ia berjuang, berusaha keras demi hidupnya. Demi hari esok yang ia penuhi dengan mimpi kecilnya yang mulia. Menjadi dokter.

Ia masih kecil. Ia mungil. Ia masih putih. Ia belum paham mengenai ketidakadilan dan kerasnya hidup. Ia seharusnya masih harus dilindungi dan diperjuangkan masa kecilnya oleh sang ibu. Tapi, apalah daya sang ibu yang jua tak paham indahnya masa kanak-kanak, perlindungan, dan kasih sayang. Karena dulu, ia juga diperlakukan sama seperti ia memperlakukan putranya.

Malam itu, ternyata Tuhan punya rencana lain. Di malam yang dingin itu, Adam mati mengenaskan dilindas truk yang melaju kencang mengejar lampu hijau. Saat itu Adam tengah memungut koin pemberian orang yang jatuh menggelinding ke tengah jalan. Ibunya menjerit kencang. Entah menjerit karena takut kehilangan anaknya atau menjerit karena takut kehilangan sumber uangnya. []

Arlina Hapsari, lahir di Sleman 20 April 1993, tinggal di Gandok Condongcatur Depok Sleman Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Arlina Hapsari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 19 April 2015
  

0 Response to "Bocah Pengemis"