Bulan Berlalu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bulan Berlalu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:13 Rating: 4,5

Bulan Berlalu

NYI Saminah memandangi kalender yang baru dipasangnya sore tadi. Lalu menghela napasnya. 

”Begitu banyak bulan berlalu. Tahun sudah berganti lagi. Masih belum ada tanggal yang harus dilingkari...” 

Januari. Musim penghujan datang bersama aroma tanah yang khas. Udara dingin mengusap tubuh perempuan tua itu. Nyi Saminah beranjak, melihat anak semata wayangnya, Dulkarip, sedang mengasah batang-batang bambu untuk dijadikan kandang ayam di halaman belakang. 

”Seharusnya kamu sudah bikin rumah untuk keluargamu. Bukan buat kandang ayam.” Nyi Saminah hampir saja mengucapkan kalimat itu, tapi diurungkannya. Ia hanya diam memandangi anaknya. 

Dulkarip telah berusia 29 tahun, tapi belum tampak tandatanda ia akan menikah. Ia masih seperti anak-anak muda yang merasa bebas, bisa melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan rumah tangga. 

Nyi Saminah selalu malu pada orang-orang sekitar, sebab pemuda lain seusia Dulkarip sudah menikah, bahkan sebagian sudah punya anak. Seolah tinggal Dulkarip saja yang belum mendapat pasangan. 

”Mak, jodoh itu seperti kematian, rahasia Tuhan. Ada yang cepat, ada yang lama. Kalau Mak mau jalan keliling kampung, pasti banyak yang seumuranku belum menikah.” Kata Dulkarip pada suatu kali. 

”Tapi mungkin kamu harus sering-sering ke pasar, biar dapat kenalan. Kalau di rumah terus, kamu jadi tidak kenal orangorang.” 

”Jodoh itu di tangan Tuhan, aku akan memintanya langsung kepada Tuhan. Sabar, Mak, jangan dengarkan apa yang dibicarakan orang.” 

*** 

Begitu banyak bulan berlalu. Setiap malam, ketika Nyi Saminah tidur di atas ranjang yang berderit, ia tak henti-henti berdoa, agar Dulkarip cepat dapat jodoh. Namun ia juga tak ingin Dulkarip menikah hanya karena seperti diburu waktu. Ia ingat masa lalunya sendiri, ketika dirinya berusia 30 tahun, ia merasa cemas tidak bisa berumahtangga. 

”Sudahlah, yang penting menikah dulu, Minah, buat menghapus status perawan tua di masyarakat, perkara sebulan bercerai ya itu urusan gampang.” Kata orangtua Nyi Saminah waktu itu. 

Memang, status perawan tua seperti aib yang sangat dihindari. Maka tawaran dari juragan minyak wangi kreditan untuk menjadikannya istri kedua pun diterimanya begitu saja. Dari pernikahan itu lahirlah Dulkarip, tapi kemudian Nyi Saminah harus membesarkannya sendiri, sebab tiba-tiba sang suami meninggalkannya begitu saja. 

Jadi, Nyi Saminah tahu rasanya tertekan karena tak kunjung menikah. Orangtuanya uringuringan setiap hari. Memberinya beban dari hari ke hari. 

Sekarang ia pun tahu, Dulkarip hanya pura-pura tabah, pura-pura tenang, padahal juga menanggung beban serupa dirinya di masa lalu. Apalagi biaya menikah dari hari ke hari semakin mahal. Warga mulai terbiasa dengan pesta pernikahan yang mewah seperti yang mereka lihat di televisi-televisi. Para gadis akan mencari calon yang bisa membuatkan resepsi di gedung megah. Kalau tidak cepat mengumpulkan biaya dan menikah, Dulkarip bisa semakin kesulitan. 

Semakin memikirkan hal itu, Nyi Saminah semakin sedih, tapi ia yakin, masih ada perempuan yang mau dengan anaknya. meski kelak pesta pernikahannya tidak semewah orang lain. Sebab harta Dulkarip hanya ayam-ayam bangkok yang dipelihara di halaman belakang. Kalau semua itu dijual paling maksimal dapat dua sampai tiga juta. 

Ah. Tiba-tiba malam datang kembali, hari pun berlalu lagi. Nyi Saminah berbaring, memejamkan matanya... 

*** 

Ilustrasi karya Joko Santoso
Berbulan-bulan kemudian, kalender di ruang depan rumah kecil itu menampakkan lingkaran-lingkaran merah pada beberapa tanggalnya. 

Pernikahan itu direncanakan begitu sederhana, Dulkarip menjual sebagian ternak ayamnya sebagai tambahan biaya dan mas kawin. Mungkin ia memang beruntung, ia mendapat pasangan seorang gadis dari pemilik toko pakan ayam. 

”Saya memang cari mantu peternak ayam bangkok.” Katanya calon mertua Dulkarip saat itu. Ia hanya tersenyum. Jalan itu kini terbuka, benar-benar terbuka. 

Pemuda itu jadi sering melingkari kalender. Entah itu tanggal pertemuan pertama dengan calon istrinya, tanggal melamar, sampai penentuan tanggal pernikahan. Ia beruntung, jodoh itu datang tak jauh dari kegemarannya memelihara ayam. Berawal dari kebiasaannya membeli pakan ayam di kios yang baru dibuka, Dulkarip jatuh hati pada gadis yang suka menjaga kios itu. Tak dinyana, Dulkarip juga mudah akrab dengan ayah gadis itu, keduanya kadang duduk membicarakan pasaran ayam hari ini, tentang ayam yang bagus untuk diadu dan berharga mahal. Akhirnya kecocokan itu melahirkan jalan keluar tentang masalah Dulkarip selama ini. 

”Menikahlah dengan Siti anak saya...” Kata orangtua gadis itu pada Dulkarip. 

Maka hari pun tiba. Tenda sudah dipasang. Banyak tetangga yang membantu, dari dapur sampai dekorasi. Undangan sudah disebar pekan lalu. 

Dan pagi ini, tepat beberapa jam sebelum pesta pernikahan digelar, Dulkarip menyempatkan pergi sendirian ke kompleks pemakaman desa yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah. Berbeda dengan rumahnya yang sedang ramai, kini dirasakannya suasana makam yang sepi, cericit burung, aroma bunga kamboja... Ia lantas berhenti di sebuah makam yang dipenuhi tumpukan daun-daun kamboja kering. 

Dulkarip mengusap nisan itu, ia seperti ingin menangis... Kini ia benar-benar tahu, memang sudah begitu banyak bulan berlalu. ❑ - g


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sunging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" 26 April 2015

1 Response to "Bulan Berlalu"

najwa-fikran said...

Maaf, ini rasanya tidak seperti cerpen sungging raga biasanya ya? endingnya kok ngelantur...