Cerita dari Negeri Siput | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cerita dari Negeri Siput Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:41 Rating: 4,5

Cerita dari Negeri Siput

PENGHUJUNG semester ini, teman sejawatku Pak Toni mendapat kejutan dari sebuah cerita siswa anonim di mading sekolah. Sudah setahun dia pindah ke sekolah di kampung kami, tapi sepertinya masih perlu waktu lama sampai dia mengenali siswa-siswanya; dia tak punya bayangan siapa kiranya yang telah menulis cerita itu.

Aku tahu itu untuk dia karena terlihat sekilas, di atas titimangsa, sebuah kalimat singkat: ‘Untuk Pak Toni’. Meski itu pasti mengejutkan baginya tapi aku menduga, sebagai guru bahasa, Pak Toni diam-diam pasti bangga juga ada salah seorang di antara siswa-siswanya bisa menulis seperti itu. Para pembaca, orang-orang yang lewat kemudian membaca cerita tersebut, pasti punya penilaian tersendiri terhadapnya. Dan di tengah-tengah merekalah, pagi itu aku dan Pak Toni berdiri. Tanpa sadar—sepertinya sudah menjadi kebiasaanku—aku membaca dengan bersuara, dimulai dari tepi atas kertas di mana tertulis dengan huruf besar-besar judul cerita itu, diikuti paragraf pembuka yang mengenaskan:

DONGENG TENTANG DONGENG TENTANG DONGENG

“Aku melihat daun-daun jatuh dalam kepalaku, melayang turun dengan pelan tak ubahnya sedang mengiris-iris kelam. Semut-semut berjumpalitan di atas daun-daun itu. Mendarat di dasar lubang, tak terdengar apa-apa, tak terdengar suara berdebuk seperti bila sebuah benda berat terjatuh. Mereka, semut-semut itu, lalu mendirikan tenda dari daun-daun kering. Ketika hujan setipis jarum luruh ke dalam lubang, mereka berteduh di bawah tenda daun itu. Untuk menghangatkan badan, mereka membuat api unggun…”

“Dari mana mereka mendapat api?” sela istrimu.

“Hei, lupakah kamu?” sergahmu cepat, tak rela dia memotong cerita. “Cerita ini mengambil setting di dalam kepalaku. Jadi ketika aku menginginkan sebuah objek maka serta-merta objek itu akan muncul sendiri di dalamnya.”

“Ah, melantur!” kata perempuan itu membalikkan badan.

“Ya sudah, kalau tak mau dengar lagi,” engkau pura-pura pasang badan, sambil memandang lampu yang telah padam di langit-langit kamar.

“Aku ingin mendengar dongeng,” suara istrimu tak jelas, seperti menggumam, karena ditangkupkannya kedua tangan di depan mulut. “Bukan cerita amburadul seperti itu.”

Ilustrasi karya Bagus
Engkau menoleh memandang punggungnya. Tepat setahun lalu kalian menikah dan mulai tidur bersama. Engkau meninggalkan kota dan pindah ke kampung, tinggal di rumah orangtua istrimu. “Bapak dan ibu sudah tua, harus ada yang menemani mereka,” kata istrimu dulu. “Baiklah,” katamu setuju waktu itu; meski adalah dusta kalau batinmu tidak memprotes: “Kenapa harus aku? Kenapa bukan menantu-menantu yang lain?” Akan tetapi, madu manis awal pernikahan mampu melarutkan segala hal, termasuk soal-soal semacam itu.

Suatu sore, iseng-iseng kau bertanya kepada istrimu: “Bagaimana kalau kita sesekali menginap di hotel?” katamu sambil membayangkan sebuah hotell di ibukota kabupaten yang hanya berjarak delapan kilometer dari kampung. Bisa diperkirakan itu bukan iseng semata. Engkau tentu sadar akan “paradoks angin ribut” di rumah panggung tua seperti rumah mertuamu: betapa pun tak diharapkannya, angin kencang bisa menyamarkan goyangan rumah panggung reyot.

Di luar dugaan, perempuan itu menyambut dengan senyum terkulum: “Kapan?” Dia begitu antusias.

Singkat cerita kalian pun sampai ke hotel itu, masuk ke satu kamar yang cukup resik, berlantai marmer putih berkilat yang masih menyisakan samar-samar bau cairan pembersih lantai. Di dalam kamar, membujur sebuah ranjang spring-bed, ada pula meja rias, televisi, pendingin udara, dan tepat di sebelah kiri dari pintu masuk, terdapat sebuah pintu menuju kamar mandi. Di samping jendela, berdiri lemari plastik bergambar pohon sakura. Saat menengadah, pada empat sudut langit-langit kamar tampak berjuntaian hiasan guntingan kertas berbentuk kupu-kupu dan bintang-bintang. Kamar yang sangat sederhana, sekaligus sedikit norak—apalagi dengan adanya hiasan kertas itu—tapi tak ada lagi yang lebih bagus dari itu. Untuk satu malam, kamar itu menjadi milik kalian. Dan di sana, tak diperlukan angin ribut untuk menyamarkan “aktivitas” yang telah kaurencanakan.

Hal pertama yang kalian lakukan di kamar itu adalah makan malam. Dalam perjalanan ke hotel, kalian telah singgah membeli makanan. Soto banjar kesukaan istrimu, dan untukmu sendiri, pallu basa. Murah meriah. Kalian menyantapnya di atas tempat tidur. Acara makan itu sesekali diselingi tawa cekikikan karena sensasi pengalaman baru makan di ranjang seperti itu. Betul-betul hanya berdua. Di rumah mertuamu, engkau akan ditegur habis-habisan bila melakukannya: “Anak tak tahu adat! Makan itu mesti bersama-sama!”—mungkin demikian yang akan dikatakan mertua perempuanmu yang nyinyir itu.

Ini pasti akan jadi malam yang indah, katamu dalam hati. Setelah makan, engkau mandi sementara istrimu memesan teh kepada pihak hotel. Ketika giliran dia mandi, kau telah bersandar di ranjang dengan memakai pakaian sejenis kimono berbahan satin merah marun. Selagi bersantai seperti itu, di dalam benakmu mulai berpendaran ulat-ulat keemasan yang berbisik-bisik halus: nanti begini, setelah itu lakukan ini, atau kecuplah lembut keningnya seperti ini, di sini, atau berbaliklah ke sisi ini… seperti itu.

Engkau tersenyum-senyum sendiri. Tiada yang tabu dari semua hal itu. Kau bukan lagi seorang bujangan. Semua itu sudah halal, bisikmu kepada diri sendiri. Karena merasa tak bijak menghabiskan semuanya sebelum istrimu menyatakan kesediaannya sendiri dengan tanpa kata, engkau berusaha mengabaikan ulat-ulat tadi dengan berusaha memusatkan perhatian ke lampu yang menyala tepat di tengah langit-langit kamar.

Ketika pintu kamar mandi terbuka, meruaplah harum melati ke dalam kamar itu. Dengan gerakan yang seolah tak kasat mata, istrimu memadamkan lampu, lalu menyalakan lilin, kemudian berbaring di sisimu. Setelah itu dia bergerak ke atas, mengecup mesra pipimu, lalu melekatkan bibirnya di daun telingamu. Suaranya lirih: “Tadi aku memikirkan sesuatu.”

Engkau pun tersenyum samar. Ulat-ulat keemasan dalam kepalamu tertawa nakal. “Apakah gerangan?” katamu selembut mungkin, menatap mata istrimu di tengah cahaya redup kamar.

“Ceritakan kepadaku sebuah dongeng.”

Ha? Perempuan itu kadang memperlihatkan dirinya sebagai makhluk yang sulit dimengerti. Begitulah istrimu selama ini. Engkau tak bisa mengerti kenapa dalam suasana seperti malam itu dia malah ingin mendengarkan dongeng. Engkau tahu dia menginginkanmu, seperti halnya dirimu yang menginginkannya. Tapi kenapa dongeng? Ada apa dengan dongeng? Untuk beberapa jenak kau mengumpat-umpat dalam hati. Namun, bagaimana pun juga, kau ingin membahagiakan istrimu pada malam itu.

Tiba-tiba, secepat kilat, ingatan membawamu berlari melintasi dua kabupaten menuju perpustakaan universitas tempatmu kuliah dulu. Di rak sebelah barat—kau teringat—rak di mana terdapat tulisan KAMUS di atasnya. Tepat sebelah kiri bila dilihat dari pintu masuk, dalam barisan kamus-kamus yang berjejer rapi, terdapat sebuah kamus bersampul merah yang tebalnya bahkan mengalahkan buku direktori telepon. Ingatanmu meraihnya: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, tertulis berderet ke bawah di sampulnya; kamus terbitan Balai Pustaka. Ingatanmu lalu membukanya, mencari huruf d, huruf d, huruf d. Sekilas kaulihat kata-kata yang diawali huruf d berada di halaman dua ratus sekian. Matamu dengan cepat memindai, melompat-lompat mencari kata dongeng, kata dongeng, kata dongeng, dan… eureka!

Kau menemukannya: cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh), demikian arti pertama kata dongeng. Adapun arti kedua: dongeng adalah perkataan yang bukan-bukan atau tidak benar.

Sejauh yang bisa kauingat, begitulah adanya. Proses itu rupanya telah tertanam kuat dalam memori di kepalamu. Engkau pernah melakukannya untuk tugas mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi dan Drama Indonesia. Bila mengetahui hal ini, mungkin dosen pengampu mata kuliah itu akan mempertimbangkan nilai C minus yang dulu kauperoleh dinaikkan sedikit menjadi C plus, ya, bila saja… tapi tidak akan lagi. Engkau berani meneleponnya malam-malam dan menanyakan hal itu?

Alangkah tetap mengherankan buatmu, saat menyadari mengapa justru dalam suasana malam yang seharusnya romantis dan “semi-erotis”, katakanlah begitu, seperti malam itu, kau malah disibukkan oleh pengertian kata dongeng. Profesor yang menjadi dosenmu itu tak pernah menyampaikan bahwa dongeng juga berfungsi sebagai pengantar sebelum “berduaan” dengan istri.

“Bagaimana, bisa tidak?” Lihat, istrimu mendesak. “Harus ya! Kalau tidak….” Dengar, dengan ancaman pula!

Engkau mencoba berdalih: “Saat ini perhatianku sedang terpusat ke arah lain. Jadi sepertinya sulit.”

“Pokoknya harus!” Lihat sekali lagi, dia melengos sambil melipat kedua lengan di depan dada.

“Kamu kan guru bahasa, masak tidak bisa?” katanya menyudutkanmu.

Batinmu mengkal. Sampai ke situkah tanggung jawab seorang guru bahasa, sampai ke urusan tempat tidur segala? Haluan perahumu mulai berbelok.

Meski demikian, engkau masih ingin berusaha menyenangkan hati istrimu. Karena pengertian pertama kata dongeng terasa cukup sulit dan jauh bagimu, ini bisa dimaklumi mengingat serbuan ulat-ulat keemasan tadi yang kini telah sampai taraf semakin menggemaskan, sehingga membuatmu sulit memusatkan perhatian pada satu hal yang terpenting saat itu, engkau pun memutuskan untuk melandaskan dongengmu pada arti kata dongeng yang kedua: perkataan yang bukan-bukan atau tidak benar, ini lebih praktis untuk situasi saat itu.

Engkau mulai membangun ceritamu dengan menyebutkan sekenanya kata-kata yang muncrat dari benakmu, dengan mengabaikan kritik-diri (di sini kau juga bisa memasukkan kami) yang berwujud koor dengan nada mencemooh “huu, itu melantur, ini melantur, itu ngawur, huuu…” di sekeliling kata-katamu. Dan akhirnya, seperti yang sudah kauduga sebelumnya, dia menolak ceritamu.

“Sialan,” kau mengumpat putus asa. Apa yang terjadi kemudian? Tak sesuai harapan. Istrimu bangkit mematikan lilin, menyalakan lampu, dan memilih tidur memunggungimu.

Engkau terpaksa menelan keinginanmu dengan perasaan pahit yang sekilas mengingatkanmu pada rasa air rebusan daun kumis kucing. Setelah itu, kauhabiskan waktu beberapa lama dengan hanya menatap lampu. Dan sisa malam itu pun berlalu begitu saja, seiring dengkuran halus yang terdengar dari balik punggung perempuan di sampingmu.

Keesokan harinya, tatkala berada di rumah kembali, perasaan suntuk dan sebal serta keinginan melampiaskannya pada sesuatu menuntunmu meraih pulpen dan kertas kwarto bekas ketikan RPP, kemudian menuliskan semua pengalaman malam sebelumnya dengan sejelas-jelasnya, selengkap-lengkapnya, serinci-rincinya, yang tampaknya tak bisa terpuaskan dengan satu-dua halaman saja. Malam berikutnya, menjelang tidur, tanpa niat yang pasti kausodorkan tulisan itu kepada istrimu. Dia membacanya dengan muka masam, sangat serius. Lalu, seperti menyadari sesuatu, sudut bibirnya bergerak-gerak, dan ketegangan yang menyelimuti wajahnya (dan hatimu) berakhir saat dia terpingkal-pingkal seraya menutup muka dengan kedua tangan.

Semua yang terjadi sebelum itu, serta yang terjadi setelahnya, mestinya menjadi pengalaman yang indah untuk kalian berdua sepenuhnya, andaikata keesokan harinya, kau tidak menceritakannya kepada kami di kelas.

“Selanjutnya…,” katamu, setelah tersenyum cerah menunggu kami selesai tertawa dan siap menyimak kembali dengan wajah serius, “setelah bangkit dari tawa, istriku membuatku merinding dengan menatap mataku lekat-lekat sekitar lima detik. Hening. Was-was. Gelombang-gelombang laut. Kuncup! Segurat intuisi merambat halus di sudut bibirnya. Dan, segala yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Apa itu? Hemm, suatu saat nanti kalian juga akan tahu…”

Suatu saat nanti kalian juga akan tahu? Aku selalu muak dengan kalimat sok tahu ini. Sekarang pun kami sudah tahu, dalam usia kami yang rerata limabelas tahun ini, kami sudah tahu, bahkan salah seorang dari kami mungkin lebih cerdas dan bisa berimajinasi lebih baik dibanding engkau, hingga dapat melihat dengan jelas sesuatu di balik kata-kata itu—sampai pada kata-kata yang kaugunakan untuk mengelabui diri sendiri. Juga jangan mengira karena tinggal di kampung maka kami tidak bisa tahu.

Engkau tak menyadarinya, malah terus saja bicara:

“Sebelum kami berdua tenggelam lebih jauh di ranjang, batinku masih sempat menceletuk, ‘dunia ini aneh, heh?’ Haha!”

Kami hanya ikut tertawa, lebih keras lagi, terbahak-bahak. Namun bahkan sebelum engkau selesai menceritakan dongeng itu, kami telah menjadikannya lelucon terbaik yang pernah ada sampai saat ini, lelucon yang sanggup bertahan berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, hingga bertahun-tahun kemudian.

Untuk Pak Toni
Negeri Siput, Mei 2014

Tepat setelah membaca titimangsa itu aku menoleh, dan kulihat teman sejawatku Pak Toni tak lagi di tempatnya. Mungkin dia telah lebih dulu selesai membaca dan langsung pergi. Aku tak sempat mengetahui reaksinya, atau mengamati bagaimana ekspresi wajahnya setelah membaca, tapi kukira dia tentu merasa terpukul. Mengingat-ingatnya lagi sekarang, dengan mudah aku teringat saran guru senior kepada Frank McCourt dalam memoarnya yang terkenal, Teacher Man:  “Nak, jangan ceritakan apa pun tentang dirimu. Mereka hanya anak-anak, Anda adalah guru. Anda memiliki hak untuk privasi. Para hama kecil itu kejam. Mereka bukan teman sejati Anda. Anda tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali potongan-potongan hidup Anda yang tetap tertanam di kepala mereka. Jangan beritahukan apa pun kepada mereka.”

Ketika bertemu kembali dengan Pak Toni pada jam istirahat pertama, aku mendapat kesan berbeda. Dari jauh tampak dia keluar dari kelas dengan senyum merekah lebar dan wajah yang cerah. “Hama kecil yang manis,” katanya berisyarat kepadaku ketika kami berpapasan. Aku ragu apa betul dia tak marah karena tulisan di mading tadi? Dia berjalan melewatiku menuju ruang Kepala Sekolah. Saat aku bertanya ada urusan apa, dia hanya menjawab bahwa dia dipanggil menghadap oleh, seperti katanya sendiri, “hama besar”, sambil mengedipkan matanya ke arahku. Ah, Pak Toni, Pak Toni, sungguh di luar dugaan… mungkin diperlukan kebijaksanaan yang melimpah untuk tetap tersenyum seperti dirinya sekarang. ***

Barru, 2011 / Jakarta, 2014

Muliadi Gf, lahir di Barru, Sulawesi Selatan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muliadi G.F.
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" pada 5 April 2015

0 Response to "Cerita dari Negeri Siput"