Cicak | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Cicak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 18:44 Rating: 4,5

Cicak

SEJAK lewat tengah malam Midin telah bersembunyi di balik tiang utama bangunan tua itu. Mata Midin awas menatap dinding putih pucat tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah bohlam 10 watt sebagai penerangan satu-satunya bangunan, berayun-ayun kecil ketika angin pagi mengembusnya. Suasana sangat hening. Midin bahkan mampu mendengar suara napasnya sendiri keluar masuk lubang hidung yang tidak mancung. Tidak jauh dari dinding yang menjadi pusat perhatian Midin, beberapa bagian dari dinding bangunan tampak retak dan berlumut. Seperti lazimnya bangunan pemerintah lainnya, bangunan tua yang difungsikan sebagai gedung pemerintah desa itu pun dibiarkan seadanya.

Dana dari pemerintah kabupaten ataupun pusat tidak menjangkau untuk merehab gedung-gedung semacam itu. Setahun sekali saja, setiap menjelang peringatan kemerdekaan, aparat desa akan berinisiatif membeli labur semacam cat kapur yang berwarna putih untuk mencerahkan dinding bangunan. Sayangnya cat merah itu akan segera pudar selang dua atau tiga bulan kemudian. Midin menghela napasnya, kesenyapan yang dirasakannya memang tidak biasa. Ia merasa heran karena tidak seekor jangkrik atau binatang malam lain yang memecah kebisuan itu. Padahal biasanya suara-suara binatang tersebut terdengar sepanjang malam.

Midin tahu bahwa pada pagi dan siang hari bangunan yang sudah berdiri sejak zaman Belanda itu cukup ramai. Namun pada malam hari seperti ini, tak ada kelebat manusia yang berani menginjakkan kaki di sekitar bangunan. Jangankan untuk diam, melintas di depan saja orang enggan. Sudah menjadi cerita turun-temurun bahwa tempat terkenal angker pada malam hari.

Bermacam cerita tentang makhluk kasat mata penghuni gedung dikisahkan orang. Ada yang bilang gedung ini sarang kuntilanak, ada yang bilang sarang gendruwo, ada juga yang mengatakan pernah melihat banaspati, dan sebagainya. Satu kali pada lepas azan Isya Lek Darso yang punya kambing enam itu terpaksa menyisir halaman samping gedung itu karena salah seekor anak kambingnya menghilang. Biasanya ia menggiring kambing-kambingnya pulang sebelum matahari terbenam, tapi hari itu ia tidak dapat menemukan anak kambing paling kecil miliknya. Maka sambil setengah cemas ia mencari di tempat-tempat yang sekiranya memungkinkan anak kambing itu tersesat.

Usahanya sia-sia. Akhirnya dengan mengumpulkan segenap keberanian, Lek Darso memutuskan mencari di sekitar gedung itu meskipun hari sudah malam. Sayangnya baru menyisir halaman sampingnya ia mendengar suara cekikik perempuan dari dalam gedung. Mula-mula suara itu pelan, namun semakin lama semakin keras. Tanpa pikir panjang Lek Darso ambil langkah seribu. Sampai sekarang anak kambing yang hilang itu tidak diketemukannya.

"Wes tak ikhlaskan saja dimakan kuntilanak, lha tinimbang aku yang dimakan," Lek Darso cerita kepada Wagimin tetangga depannya.

Lain lagi dnegan cerita Etik istri Wagimin masih terlihat cantik di usianya yang empatpuluh itu. Etik mengaku pernah melihat gundul pringis, kepala tanpa badan di gedung itu. Sepulang pengajian di rumah saudaranya di desa sebelah, ia dengan sepeda jengki melintas depan gedung itu. Karena jalanan yang agak licin selepas hujan, ia mengayuh sepedanya pelan-pelan. Tepat ketika sampai di depan gedung itu, ia mendengar suara bergedebuk, seperti suara kelapa yang jatuh. Karena penasaran maka ia arahkan senternya ke halaman gedung. Ia sangat terkejut ketika cahaya senternya menangkap beberapa benda hitam yang memancarkan sorot mata menyala. Tanpa pikir panjang Etik ngacir dari tempat itu.

"Tempat itu memang angker Kang, pokoknya jangan sekali-kali lewat sana kalau malam hari. Bisa digigit gundul pringis kamu," Etik berkata dengan sangat meyakinkan kepada Wagimin.

Berbagai macam cerita serupa beredar dari mulut ke mulut. Aparat kelurahan yang bekerja di sana sudah tidak asing dengan cerita semacam itu, sehingga sudah tidak ada kisah lembur atau kerja malam di gedung itu. Tepat pukul empat sore petugas kelurahan sudah akan merapikan meja mereka dan bergegas menuju rumahnya masing-masing. Lagi pula mereka juga mendengar dari orang tua-tua bahwa ruangan belakang gedung itu pernah digunakan untuk menyekap tahanan pada masa ontran-ontran. Orang-orang yang pada suatu malam diseret ke pinggiran kali desa itu untuk kemudian didorong terjun ke salah satu kedungnya. Dengan kaki dan tangan terikat, dan konon setiap orang dibekali dengan satu buah batu yang cukup besar diikatkan ke badan, tidak ada satu pun dari mereka yang kembali hidup-hidup. Arwah penasaran mereka menurut cerita orang tua-tua, sering berkumpul di ruangan belakang gedung itu guna menuntut balas.

Tapi malam ini, tidak ada satu pun cerita itu yang menyiutkan nyali Midin. Dia sudah memutuskan akan memulai perburuannya. Tangannya telah menggenggam bola karet yang dijalinnya sendiri sedemikian rupa. Ia telah mengujinya di rumah, senjata bola karet itu sangat ampuh untuk menjatuhkan cicak-cicak di rumahnya. Setelah berlatih selama tiga minggu, ia telah berhasil membantai seluruh cicak-cicak di rumahnya.

"Cicak itu makhluk paling menjijikkan, buang kotoran sembarang tempat, bikin tidak suci!" demikian kata Midin pada istrinya ketika istrinya mulai memprotes Midin.

"Kau tahu, cicak itu juga makhluk licik, kalau kita tidak awas, dia akan memutuskan ekornya untuk mengelabuhi pandangan kita. Saat kita sudah mengira menangkapnya, ternyata hanya ekornya saja yang berhasil kita tangkap." Midin menceramahi anaknya yang takut melihat tindakannya membelah perut seekor cicak yang terkapar terkena bola maut itu satu ketika. Midin ingin anaknya tidak ragu-ragu menindak cicak.

"Nanti aku bakarkan satu ekor untukmu dan kamu harus memakannya! Biar kamu tidak ragu lagi dan kamu tahu enaknya daging cicak." Midin menambahkan. Anaknya hanya bergidik ngeri.

***
"AKU tahu tempat di mana kamu bisa menemukan cicak dalam jumlah banyak," Wagimin membuka percakapan setelah istrinya yang cantik itu menyajikan piring berisi ketela goreng kesukaannya. Midin yang duduk di depannya mengikuti tindakan empunya rumah. Perlahan ia mengunyah ketela, lalu meneguk teh yang disuguhkan setegukan.

"Hem, di mana Kang? Sudah semakin sulit menemukan cicak sekarang. Semakin pintar bersembunyi rupanya mereka sekarang. Aku sudah mendatangi satu-persatu tetangga kita, menawarkan jasa membasmi cicak dengan gratis. Kau sendiri tahu kan?"

"Hehe... iya, aku tahu itu. Tapi yang satu ini bukan di rumah seperti yang sudah biasa kamu lakukan. Tapi ah, aku gak yakin kamu berani."

"Demi memburu cicak tidak ada tempat yang kutakuti Kang. Katakan saja di mana, pasti kudatangi."

"Ha, beneran ya, itu, gedung tua kelurahan. Aku pernah mendengar dari Pak Lurah yang bilang ada banyak cicak berkumpul di sana. Beliau mengeluh ada banyak kotoran cicak di depan gedung itu. Aku kira itu tempat persembunyian yang bagus bagi cicak. Toh memang tidak ada seorang pun yang berani mendatangi gedung itu di malam hari." Midin mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bagaimana, berani tidak? Kalau aku sih sudah kapok ada di sana malam-malam, kuntilanak, serem."

"Ah, kupikir itu hanya bayangan dari ketakutanmu saja Kang. Tidak ada yang namanya kuntilanak, apalagi di kampung ini. Kita kan selalu mengadakan pengajian rutin, setan-setan, kuntilanak, dan teman-temannya pasti sudah kabur kalau pun mereka ada." Midin kembali mengulurkan tangan menjemput cangkir tehnya. Meneguknya hingga ludes.

"Baiklah Kang, aku pamit dulu. Malam ini juga akan kusikat habis cicak-cicak di sana." Midin beranjak dari kursinya. Wagimin mengantarkannya sampai depan pagar rumah. 

Midin memutuskan untuk tidur lebih awal agar bisa bangun tengah malam untuk melaksanakan niatnya. Ia sudah berpesan apda istrinya agar dibangunkan tepat jam dua pagi.


***
SETELAH sekian lama menunggu di balik tiang itu. Midin mulai resah, tidak nampak seekor cicak pun yang melintas di tembok gedung itu. Kakinya mulai terasa gatal-gatal karena nyamuk sawah mulai menyerbu. Ia heran, biasanya jika banyak nyamuk begitu cicak akan mudah sekali keluar dari sarangnya.

"Jangan-jangan Kang Wagimin mengerjaiku. Ah, tidak, aku tahu Kang Wagimin orang jujur, dia tak mungkin dusta." Midin bergumam sendiri.

Midin memutuskan menunggu lagi. Tigapuluh menit berlalu, tapi rasanya seperti sudah berjam-jam. Ia tidak pernah menunggu selama itu tanpa hasil. Biasanya hanya sepuluh sampai limabelas menit dia sudah mendapatkan buruan. Tapi sudah lebih dari dua jam ia menunggu tanpa hasil. Ia merasa sudah cukup lelah, Midin memutuskan untuk mengakhiri perburuannya itu. Lagipula yakin sebentar lagi azan subuh akan terdengar. Ia tidak ingin berpapasan ketika orang-orang pulang.

Baru saja dia hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar bunyi riuh yang sudah sangat dikenalnya. Suara cicak, ya cicak yang sangat banyak. Midin serasa menemukan harta karun yang sangat berharga. Ia segera menyiapkan senjata. Tangannya telah merentang bola maut itu. Kuda-kudanya juga telah siap. Midin menatap lurus ke dinding. Dilihatnya hanya seekor cicak saja yang melekat di tembok bangunan itu. Tapi ya Tuhan, alangkah besar cicak itu. Dia belum pernah melihat cicak sebesar itu. Cicak dengan warna kuning kusam dan sedikit abu-abu. Barangkali tokek. Tapi ia tahu betul warna khas tokek yang totol-totol. Lagi pula suara cicak dan tokek sangat berbeda. Midin yakin apa yang dilihatnya adalah cicak, meskipun ukurannya melebihi ukuran tokek. Barangkali raja cicak pikir Midin.

Midin tidak mau ambil pusing lebih lama. Ia rentang kuat-kuat senjatanya, kemudian dengan gerakan kuat Midin membidik dan melepaskan bola karetnya. Bola karet yang hampir sebesar kepalan tangan itu meluncur deras dan tepat menghantam bagian kepala cicak itu. Tampaknya cicak itu terluka cukup parah karena terlihat kepalanya menjuntai ke bawah. Tapi kaki cicak itu masih mencengkeram dinding tembok. Midin dengan segera mengambil satu bola karet yang dibawanya. Ia membidik sekali lagi. Kali ini menghantam tepat di punggung. Cicak itu tampak tidak bisa bertahan lagi. Badannya meluncur jatuh ke lantai. Midin bersorak dalam hatinya.

Midin setengah berlari menghampiri cicak itu. Tampak cicak itu menggeliat-geliat meregang nyawa. Tanpa ragu Midin mencengkeram leher cicak itu. Tapi betapa terkejutnya, ketika mendapati cicak yang dipegangnya memiliki punggung yang bergerigi. Ia dekatkan cicak itu ke arah lampu yang terang untuk memastikan kondisi tangkapannya. Midin benar-benar tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Pada bagian mulut cicak yang gepeng itu, dilihatnya gigi-gigi tajam. Midin tersenyum.

"Aku paham sekarang, mulai hari ini aku tidak akan berburu cicak lagi, aku harus berburu buaya." (k)

[] Yogyakarta, 2015; buat sahabat Anes PS

S Arimba, lahir di Pagar Alam Sumatera Selatan, Mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Sastra UGM.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya S Arimba
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 5 April 2015

0 Response to "Cicak"