Dari Bandara - Genangan - Kenangan Hujan - Subuh yang Lain | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dari Bandara - Genangan - Kenangan Hujan - Subuh yang Lain Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:49 Rating: 4,5

Dari Bandara - Genangan - Kenangan Hujan - Subuh yang Lain

Dari Bandara 

Di atas troli itu
kenangan mulai menuju
mesti aku masih tak rela,
pada tanganmu yang melambai
di belakang punggungku

di ruang tunggu
aku merasa sedemikian kurus
dan benci jika tubuhku sebentar lagi
dibawa terbang, meninggi

ini begitu jauh: aku di angkasa
dan kau menulis puisi di kota

di ketinggian yang membuat segala di kotamu
menjadi titik:
tak ada rokok yang menyala
yang kerap mengusirku dari cemas
ketika rindu

tak ada ponsel
yang bergetar yang kerap membuatku berdebar
membaca pesanmu

-aku tak bisa bersahabat dengan siapa-siapa di
pesawat ini

aku ingin kau segera menemuiku di pulau
membawakan buku kesayangan
 dan kuceritakan kembali padamu bagian-bagian
yang mendebarkan
berulang-berulang...


Genangan 

Pada suatu pagi, ia melewati jalan itu
Malamnya hujan,
dan air membentuk genangan-genangan

ia melintasi genangan itu
meloncat-loncat kecil
senyum-senyum kecil

saat ujung sepatunya berkubang genangan
ia memikirkan beberapa kenangan
berapa banyak jejak,
yang mampu tenggelam oleh genangan

Kenangan Hujan 

wangi tanahnya kuhirup
serupa apa ??derunya berderak-derak menghan
tamku
sebanding apa ??aku terkesiap, bangun
ini hujan di hunjaman ke berapa

suara kemarau menjauh
musim menjadi senjang dengan rumah
tempat aku terbiasa menyauh
dan kenangan, tak pernah ada di tempat lain


Subuh yang Lain 

menjelang subuh
ia teringat terminal yang dibangunkan
saat segala yang bertemu telah berangkat
satu nostalgia datang dengan ransel penuh

ia sendirian
dan sering bergetar
membawa buku-buku puisi dari kota jauh
hanya ingin menunjukkan padamu
halaman-halaman yang pernah ditandai
telah dibaca dan dijaganya berkali-kali

sekarang, di kota kecil yang jauh ini
masjid terasa lebih banyak
tapi subuh selalu datang dengan sepi yang lain
makin cemas oleh suara-suara kendaraan:

kekhawatiran yang lain
semacam kemuraman:

tentang bagaimana cara menyeberangkan
kebahagiaan ?


Tjak S Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Saat ini tinggal di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Karya-karyanya terangkum dalam buku antologi bersama, antara lain Sauk Seloko (2012) dan Mahar Kebebasan (2013).




Rujukan:

[1] Disalin dari karya Tjak S Parlan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" 19 April 2015

0 Response to "Dari Bandara - Genangan - Kenangan Hujan - Subuh yang Lain "