Dua Waktu - Wirid Anak Jalanan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dua Waktu - Wirid Anak Jalanan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:54 Rating: 4,5

Dua Waktu - Wirid Anak Jalanan

Dua Waktu

aku berjalan di punggungmu, waktu
bukit berbatu
rumput-rumput tumbuh, jalan setapak berjejak
juga kabut di sela semak-semak
menunggu, dan siap merenggutku: "selamat
datang, kisanak!"

di kerling samping, kujemput rahasiamu, waktu
dengan bertumpu peta lain
tergurat samar antara dada dan perutmu
aku pun berpusar di garbamu
dengan getar rindu
menanti sapa: "aku tak jemu menunggumu..."

Sidoarjo, 2015

Wirid Anak Jalanan

Kuwiridkan hidup lewat debu, marka jalan, 
dan asap knalpot - seperti zikir bunga pada pot
siapa yang tumbuh dan copot
di kalbu
menyimpan beribu-ribu onak dan sembilu
gaib
Bismillah: hizibku tak lebih dari seru serdadu
di medan laga
ketika nyali tumbuh melebihi iga
yang bengkok, kecut, sengak
serupa bau ketiak
Ruh hidupku abu yang mengapung di antara deru
mesin hantu-hantu
Riuhku tak lebih dari kentut yang menyembur
dari dubur langit
Kukubur segala suka-duka di bawah lipatan waktu
tempatku bernaung dari terpaan hujan tak bermusim
dari sinar matahari tak berhati
sebab nyanyiku hanya bunyi degup jantung sendiri
Kini aku berlalu sendiri seperti ketika aku dipinang
sunyi
di tengah gemuruh roda-roda, diiringi pekik klakson,
di antara paha mekangkang dan selangkang
bertambal mimpi-
mimpi sahwati
Hidupku batu
Cadas dalam nafas

Sidoarjo, 2015




Mashuri lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Ia berhikmat sebagai peneliti sastra di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Kumpulan puisinya antara lain Pengantin Lumpur (2005) dan Munajat Buaya darat (2013).


Rujukan:
[1 Disalin dari karya Mashuri
[2]Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 5 April 2015

0 Response to "Dua Waktu - Wirid Anak Jalanan"