Dukun Yang Digunjingkan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dukun Yang Digunjingkan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:31 Rating: 4,5

Dukun Yang Digunjingkan

DI zaman facebook dan twitter seperti sekarang, keberadaan dukun masih saja ada. Di sejumlah desa, keberadaan dukun itu juga turun-temurun. Bisa menjadi sekian generasi. Tentu, jenis dukun yang ada pun macam-macam. Ada dukun bayi, dukun jin, dukun barang hilang, dan lain sebagainya.

Salah satu yang sedang heboh di sebuah kampung yang tak jauh dari kampung tempat tinggalku adalah soal dukun bayi, Sebab, dukun tersebut dicurigai warga sekaligus 'nyambi' jualan bayi. Isu ini, tentu saja menggemparkan.

Mulanya warga tidak mempunyai alasan mencurigai sebab memang begitu banyak orang datang ke rumah dukun itu. Namun, pangkal kecurigaan muncul ketika tidak semua orang yang datang dengan membawa bayi, yang biasanya untuk dipijit beberapa waktu lamanya, pulang tetap dengan membawa bayinya. Inilah hal yang sangat dianggap aneh.

Lebih aneh lagi karena selang beberapa waktu kemudian, bisa satu atau dua jam, bisa saja ada orang bermobil yang datang. Dugaan kuat, pihak di dalam mobil tersebut datang dengan tidak membawa bayi. Dan memang, pernah ada warga yang berpapasan dengan sebuah mobil ternyata di dalam mobil yang tertutup kaca secara rapat tersebut terdengar suara tangisan bayi.

"Wah, kalau begini, sepertinya memang perlu tindakan tegas," tutur pak RT yang sudah didesak warga untuk menggerebek apa sebenarnya kegiatan dukun bayi tersebut.

"Pasti tidak sekadar mijit, maka, ayo kita buktikan," sergah salah seorang warga ketika berkumpul dengan pak RT dan lainnya di gardu ronda.

"Alah, pokoknya sikat!" sergah yang lain

"Jangan harga diri kita yang tergadai, nama kampung kita sudah cemar, lho," sambung yang lain.

"Iya, ayooo kapan nyikatnya," yang lain menimpali.

"Ayo...."

"Ayo...."

"Ayo...."

"Bagaimana menurutmu?" tanya pak RT kepada saya.

"Lho, dia kan bukan warga kampung kita, dia warga kampung tetangga. Kok dimintai saran?" potong yang lain.

"Iya, tapi yang saya tanya lebih berpendidikan daripada kamu. Mungkin punya pandangan yang jitu bagaimana mengatasi gunjingan ini."

"Huuuu.... Pak RT banci! Sejelek apapun kesepakatan dan suara warga sendiri harus lebih didengar!"

Saya tentu saja menahan jawaban. Pak RT juga sama sekali tak memberi isyarat agar saya bicara. Tapi, saya tahu, Pak RT berada dalam kebimbangan. Memang hidup di desa lumayan pelik dalam menjaga perasaan. Salah langkah keputusan bisa berbuntut ketidaksukaan yang amat panjang. Malahan bisa lebih dari sekadar itu, malah balik dihujat dan turunlah wibawa.

Saya merasa tahu diri dan menyingkir dari gardu ronda itu. Memutuskan pulang. Sepanjang perjalanan pulang saya mendoakan agar Pak RT bisa mempunyai pandangan dan keputusan yang baik. Yang juga tidak mencelakai nama baiknya.

***
SELANG beberapa hari kemudian saya dengar bahwa warga memang sudah menggerebek tempat dukun bayi itu. Tapi, soal jual beli bayi itu tidak terbukti. Sebab yang terjadi adalah memang ada beberapa warga kota yang menginginkan mengasuh anak lantas menghubungi si dukun bayi. Dukun bayi tentu saja sigap menyebar info siapa yang mau menitipkan anaknya untuk diasuh orang lain dibiayai sampai dewasa. Pokoknya bisa dicarikan jalan keluar.

Saya dengar, dalam interogasi dengan warga yang terjadi hanya sekadar semacam itu. Tidak ada (bukti) transaksi uang antara warga kota yang mau mengasuh dengan si dukun bayi dan orangtua anak yang mau diasuh. Jadi, logikanya, warga kota yang butuh mengasuh hanya ingin menimang dan merawat anak. Karena kondisi kesehatan diri dan pasangannya tidak memungkinkan mempunyai anak. Sudah. Begitu saja. Simpel.

"Apa beda yang apa yang saya lakukan dengan orang yang memberitahu panti asuhan mana yang bisa merawat anak? Toh yang datang ke sini mau menitipkan anaknya juga orang yang tidak mampu atau setidaknya merasa sudah kewalahan dalam memiliki anak yang banyak." Begitu yang saya dengar sebagai pembelaan si dukun bayi ketika ia disidang warga di rumahnya.

Jawaban ini saya nilai cukup cerdas. Terlebih bahwa mungkin saja itu juga hanya sekadar berdalih. Beralasan. Namun jika memang faktanya begitu, mau bagaimana lagi. Wargalah yang kemudian seperti ditinju rasa malu. Mengerjat kaget, ke mana mau menyembunyikan wajah.

"Kalau begini, terus bagaimana?" cetus pak RT pasrah. "Baiklah, bukan berarti mencari kambing hitam. Tapi, kalau memang ada yang merasa bersalah, sayalah sebagai ketua RT yang meminta maaf mewakili warga."

Saya dengar, begitulah rasa besar hati yang kemudian ditawarkan Pak RT kepada si dukun bayi itu. Warga lainnya tak ada satupun yang komentar. Bahkan sekadar nyeletuk. Satu persatu mereka pulang sendiri-sendiri. Ada yang menundukkan kepala. Ada pula yang tidak. Tapi, semuanya memang bungkam.

***
DI zaman facebook dan twitter seperti sekarang pula, maka apa pun yang terjadi, bisa dengan cepat diketahui orang lain. Atas pengalaman tersebut, ada salah satu warga kampung tersebut yang mengunggah pengalaman peristiwa tersebut ke duania maya. Maka, gemparlah komentar yang mengalir. Kebetulan, ada seorang wartawan yang tajam intusisinya lantas membuat investigasi tersendiri ke kampung itu. Ia mau membuat tulisan berupa feature tentang pengalaman itu.

Salah seorang wartawan itu kebetulan adalah juga temanku semasa sekolah SMA. Sebelum memasuki kampung itu, ia mampir dulu ke rumahku.

"Gimana nih aku tulis menarik, kan?"

"Silakan, tapi jangan menyebut namaku di kampung itu, ya. Aku nggak enak. Nanti dikira aku ikut ngompori supaya diangkat jadi berita."

"Alah, santai saja. Ada ide enggak, angle-nya dari mana?"

"Ya, terserah kamulah."

"Hehehe...."


***
BERKAT pemberitaan di sebuah koran lokal, kampung tempat mukim dukun bayi itu jadi kondang. Namun, posisi kampung justru minir. Karena yang terpojok adalah kampung.

"Ini baru berita langka... biasanya, nama kampung akan harum setelah menggerebek sebuah masalah," komentar salah seorang, entah siapa, yang juga mengunggah berita kampung itu di Facebook. Namanya di Facebook kebetulan menggunakan nama sembarang. Bocah Keminter.

"Soalnya, itu pasti gegabah..." komentar yang lain di Facebook.

"Yang bodoh Ketua RT-nya," komentar yang lain lagi.

Ratusan komentar pun bertebaran di Facebook. Saya membayangkan pasti ada perang dingin antara Pak RT dan warganya sendiri. Yang saya dengar kemudian, memang tidak terjadi perang urat saraf antara Pak RT dan warganya, namun dinamika perjalanan kampung itu sungguh menjadi dingin. Beberapa hari lamanya antar ketua RT dan warga tak saling sapa. Saya dengar pula, sempat dua kali rapat bulanan RT tiada. Berarti praktis dua bulan lamanya pemerintahan di tingkat RT menjadi beku. Non-aktif.

Yang kemudian teriak-teriak adalah pihak ibu-ibu. Sebab ada banyak agenda se-RT yang terganjal akibat perang dingin itu. Penuh kasak-kusuk saling menyalahkan. Tapi tidak pernah ada yang jelas mau mengangkat ke permukaan. Semua bapak-bapak kemudian saling hati-hati dan menutup diri.

"Kalau begini bubarkan saja pengurus RT lama, bentuk yang baru," sergah ibu Ketua PKK tingkat RT. "Mimpin kok nggak becus. Nggak jelas. Jangan seperti anak kecil. Tidak ada tindakan. Mutung tapi ngambang."

Apa yang diungkapkan ketua PKK itu ternyata mendapat dukungan warga ibu-ibu lainnya. Mulailah terjadi suksesi di kampung itu. Pengurus lama pun terguling. Ganti pengurus baru, ibu-ibu. Bapak-bapak sudah pasrah. Di antara mereka tidak ada yang mau menjadi pengurus lagi.

Si dukun bayi itu pun akhirnya juga diangkat menjadi pengurus. Ia malah justru muncul bagaikan pahlawan.

"Si mbah dukun bayi tidak menginginkan adanya peristiwa ini. Ini murni keinginan ibu-ibu agar kepengurusan berubah. Jadi, dia tidak mengkudeta," cetus Ketua PKK yang kemudian diangkat sebagai Ketua RT baru. Posisi ketua PKK itu pun digantikan oleh dukun bayi itu.

"Dengan adanya pergantian pengurus ini, saya berharap di antara kita semua warga kampung, baik laki-laki ataupun perempuan, sudah tidak ada saling curiga dan saling menyalahkan lagi. Baik diam-diam atau tidak. Dengan adanya pergantian pengurus ini, saya berharap, di antara kita menjadi mudah saling kontrol dan tidak mudah saling meniup curiga," tutur ketua RT baru.

Saya dengar dari seseorang yang bercerita, setelah mengucapkan kalimat itu, si dukun bayi yang berada di sebelah ketua RT baru menitikkan air mata. Ia tidak berkomentar apa pun. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya mengusap air matanya yang menitik perlahan dengan selendang yang selalu dikenakanya. (k) []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 19 April 2015

0 Response to "Dukun Yang Digunjingkan"