Gerhana Jiwa - Meratapi Hutan - Lagu tanpa Suara - Meratapi Sungai - Anjing di Depan Sorga - Dzikir Cinta - Doa Kehabisan Kata - Meditasi - Dalam Cinta dan Rindu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gerhana Jiwa - Meratapi Hutan - Lagu tanpa Suara - Meratapi Sungai - Anjing di Depan Sorga - Dzikir Cinta - Doa Kehabisan Kata - Meditasi - Dalam Cinta dan Rindu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:39 Rating: 4,5

Gerhana Jiwa - Meratapi Hutan - Lagu tanpa Suara - Meratapi Sungai - Anjing di Depan Sorga - Dzikir Cinta - Doa Kehabisan Kata - Meditasi - Dalam Cinta dan Rindu

Gerhana Jiwa 

Jiwamu akan menjadi hitam
Seperti bulan dimakan gerhana
Ketika nafsu semakin mengetam
Dan nurani terus-menerus merana

Aku melihat gerhana
Menghitamkan banyak jiwa
Lalu banyak manusia kehilangan muka
Memenuhi menara-menara di kota-kota

Anak-anak juga telah dimakan gerhana
Lalu masa depannya menjadi gelap gulita
Setelah sekolah-sekolah berubah menjadi pasar
Dan guru-guru beralih status menjadi makelar

Cucu-cucu kita juga akan dimakan gerhana
Kemudian hidup bagaikan drakula
Setelah arah tak bisa lagi dipetakan
Kiri dan kanan sama-sama membingungkan.

Kota Wali, 2015 

Meratapi Hutan 

tak usah bertanya lagi
siapa menebangi pepohonan
karena hutan telanjur gundul begini
dan satwa-satwa telah dipunahkan

aku akan meratapi hutan
agar airmataku berlinangan
menyirami benih-benihan
yang tumbuh bersama harapan

jangan menganggap sia-sia airmata
ketika kejahatan telah merusak semesta
karena airmata menyimpan cahaya nurani
untuk memperpanjang sejarah insani

jika hidup tanpa airmata
manusia bisa kehilangan cahaya

dunia menjadi gelap gulita
maka biarlah aku meratap selamanya.

Kota Wali, 2015 

Lagu tanpa Suara 

Lagu tangisku tanpa suara
Seperti juga tangisan anak-anak
Di Gaza atau di mana-mana
Setelah anjing-anjing menyalak
Bersama dentuman meriam
Yang berjatuhan dari jahanam

Lagu doaku juga tanpa suara
Seperti juga doa-doa kaum papa
Di antara deru buldoser
Di antara gemuruh barisan panser

Lagu dukaku tanpa suara
Biarlah kunyanyikan selamanya
Meski akan sia-sia menghibur jiwa.

Kota Wali, 2015 


Meratapi Sungai 

tak ada lagi anak-anak berani mandi
di sungai-sungai yang ada di negeri ini
karena airnya telah bau aneka limbah
dari kehidupan yang semakin payah

maka kuratapi juga sungai-sungai
meski airmataku tak akan memadai
menawarkan air menjadi bening lagi
menghidupkan ikan yang telah mati

jika sungai telah kehilangan ikan
dan airnya bercampur kotoran
maka siapa pun akan ketakutan.

Kota Wali, 2015 


Anjing di Depan Sorga 

Di depan anak-anak yang kehilangan bapa
Kukisahkan tentang anjing di depan sorga
Setelah berlomba lari
Dengan seorang nabi

Sang anjing menolak masuk sorga
Karena tak ingin menakutkan bidadari
Lalu sang nabi berkata
: Anjing bukan setan dari neraka

Maka anjing itu pun kemudian masuk sorga
Lalu sang nabi melangkah di belakangnya.

Kota Wali, 2014 

Dzikir Cinta 

Kudzikirkan cinta
Kepadamu
Yang maha cinta
Biar jadi bunga hatiku

Dzikirkanlah cinta
Untukmu dan untuknya
Biar kita mabuk cinta
Dan cinta mabuk kita

Cinta berdzikirlah selalu
Dalam rinduku kepadamu
Dalam rindumu kepadaku.

Kota Wali, 2015 


Doa Kehabisan Kata 

Doaku telah kehabisan kata
Tapi engkau maha tahu
Ada doa tanpa kata-kata

Doaku menghabiskan kata
Keinginan selalu berbunga
Harapan selalu berbunga

Doa-doa manusia
Selalu kehabisan kata
Maka diam bisa juga doa.

Kota Wali, 2015 

Meditasi 

Sendiri hanya pengakuan
Kesepian hanya perasaan
Sejatinya tak ada yang sendiri
Tak juga ada yang sepi

Di dalam diriku ada engkau
Selamanya menemaniku
Bahkan ketika aku merisau-risau
Atau sedang melupakanmu

Maka tak ada alasan
Yang layak jadi pijakan
Untuk meratap-ratap
Atau berharap-harap

Hidup ini sebatas tarikan napas
Yang berulang-ulang
Sebelum putus dan tuntas.

Kota Wali, 2015 

Dalam Cinta dan Rindu 

Aku tahu
Engkau tak ada di sini
Meskipun juga tak ada di sana
Karena tak ada tempat bagimu

Aku pun tahu
Engkau di mana-mana
Meskipun juga tak di mana-mana
Karena tak ada mana untukmu

Dan aku pun tahu
Engkau selalu bersamaku
Di balik rahasiamu
Ada cintamu dan cintaku.

Kota Wali, 2015 


Asmadji As Muchtar, lahir di Pati, Jawa Tengah, 6 Juli 1961. Ia menulis puisi, prosa, dan esai sejak 1975. Juga, banyak menerjemahkan kitab-kitab kuning dan menulis tafsir Alquran berjudul Al-Muchtar yang beredar di Singapura dan Malaysia.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Asmadji As Muchtar
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 5 April 2015

0 Response to "Gerhana Jiwa - Meratapi Hutan - Lagu tanpa Suara - Meratapi Sungai - Anjing di Depan Sorga - Dzikir Cinta - Doa Kehabisan Kata - Meditasi - Dalam Cinta dan Rindu "