Hujan di Rumahku - Perempuanku - Saat Kau Tersenyum - Tafsir Kerinduan - Di Tengah Ladang | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hujan di Rumahku - Perempuanku - Saat Kau Tersenyum - Tafsir Kerinduan - Di Tengah Ladang Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:12 Rating: 4,5

Hujan di Rumahku - Perempuanku - Saat Kau Tersenyum - Tafsir Kerinduan - Di Tengah Ladang

Hujan di Rumahku

Di balik hujan yang turun. Kau menjelma
seperti bocah-bocah yang basah airmata.
Matamu binar memandangi atap rumahku
yang runtuh.
Mula-mula kuhaturkan salam rindu pada
masa lalu. Seperti hujan yang turun di
rumahku. Dengan segenap hati, aku berta-
pa dibawah kaki langit. Tetumbuhan tum-
buh berpesta rasa. Harapan mulai terban-
gun dari ranjangnya. Lalu berlari sepanjang
hari.
Disini, kuhatamkan doa-doa pengantar
pagi sebelum hujan pergi. Ritmis sebagai
salam perpisahan ceritaku kali ini. Dan
kamu, tak perlu menangis lagi. Sebab, per-
pisahan seperti hujan yang menumbuhkan
masa depan.
Mari kita menari membawa tembang
mimpi. Sepanjang harapan masih di hati.

Malang, 2015

Perempuanku

Sebelum usia tahun memasuki tanggal-
tanggal dalam kalendermu. Di helai ram-
butmu tempatku berzikir mengukir rasa.
Matamu yang runcing. Menenggelamkan
riak di jalan harapan. Lalu pada senyum-
mu. Ada gelombang yang tiba-tiba meletus
di hadapanku. Hingga aku tertidur panjang
di ranjang mimpi.

Pada kedua tanganmu. Aku belajar
menulis ritmis dari keutuhan embun.
Mengembara sepanjang ilalang. Di kedua
kakimu, seumpama kereta berjalan berdoa
sepanjang jalan. Memelihara sepi dan
sabar. Berharap hati sampai kerumah Ilahi.

Malang, 2015

Saat Kau Tersenyum

kepadaku
Di balik senyummu
Rinduku tumbuh
Bagai waktu
Melahirkan tanggal-tanggal satu

Malang, 2015

Tafsir Kerinduan

Bila jarak adalah arak yang memabukkan
Lalu kemana arah kakiku
Harus berlari merayu hari

Sementara wajah matahari
Seringkali bertamu diri
Kala malam telah pergi

Ini benar-benar cerita kehilangan
Seperti angka di rumus matematika

Malang, 2015

Di Tengah Ladang

Biar matahari bertamu
Tubuhku tak kan lumpuh

Kakiku baja
Dadaku seluas samudera
Air, temanku bercerita
Tentang cacing-cacing dan ayam
Pada musim yang tak bermukim
Aku berselimut doa
Dalam malam bertowaf
Bersyahadat dalam kesunyian

Malang, 2015


— Mawardi Stiawan lahir di Desa Banuaju Barat, Batang-Batang, Sumenep, lulusan Yayasan Taufiqurran dan PP Annuqyah kemudian melanjutkan pendidikannya di Kota Malang.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mawardi Stiawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 05 April 2015

0 Response to "Hujan di Rumahku - Perempuanku - Saat Kau Tersenyum - Tafsir Kerinduan - Di Tengah Ladang"