Jendela Rumah Tetangga | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jendela Rumah Tetangga Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:32 Rating: 4,5

Jendela Rumah Tetangga

SAYA melihat Martin, tetangga sebelah, pulang pagi dalam keadaan teler. sambil menggumamkan larik-larik puisinya yang tak pernah rampung, dia melangkah gontai mengarah ke arah pintu rumahnya.

‘’Kutelan bulan, kutoblos langit. Seribu matahari menggangsing di perutku. Lapar. Lapar aku. Kutelan kemarau, kuperas mendung. Seribu derap kaki kuda mengoyak lambungku. Tuhan, Tuhan, merdekakan aku!’’ darah batin dilepas begitu saja oleh Martin.

Bagi ukuran orang waras, cukup lima langkah saja untuk sampai ke daun pintu rumahnya. Tetapi, karena Martin mabuk, sekitar dua puluh meter baru dia merasakan adanya pintu. Tapi lacur, pintu itu tak terkunci. Rara, sang istri, tak berani ambil risiko dengan mengunci pintu dari dalam. Sebab dia khawatir akan kena damprat lagi dari sang suami yang mudah kalap itu. Tak ayal lagi, Martin ambruk tersedot bumi dan menggelosor lumayan jauh dan baru bisa berhenti setelah punggungnya mentok di
kaki meja.

Martin tak menjerit. Tapi suara jatuhnya telah memecah sunyi pagi di rumah itu. Rara tahu, suara gaduh itu adalah ulah suaminya. Seperti itu memang keadaan Martin setiap pulang ke rumah dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini.

‘’Rara teramat sabar,’’ pendapat Don teman satu kos saya. Ternyata sobat saya ini sempat juga memasang mata lewat jendela rumah kos kami yang terbuka demi menyaksikan tontonan gratis yang
akan berlangsung sebentar lagi.

‘’Aku pikir, Rara takut ambil risiko. Martin sudah sering menyiksa dirinya, juga anak-anaknya. Kenapa nggak minta cerai saja? Dia kan jadi bisa lepas bebas, tak ada yang menyakiti dirinya lagi. Apalagi dia cantik, tak bakal lama dia menjanda,’’ kata saya di sela ocehan Martin yang terdengar dari tempat kos kami yang jaraknya sekitar sepuluh meter ke rumahnya.

‘’Itu bukan keputusan yang baik, Gun,’’ potong Don, ‘’Mungkin dengan mengulur waktu, Rara berharap bisa menemukan jati diri suaminya kembali.’’

‘’Martin itu sudah rusak! Rusaaak! Tidak bakal bisa diperbaiki lagi.’’

‘’Alaa... kau jangan mencap seseorang semudah itu. Belum saja kehidupan yang mereka alami menimpa kau. Kalau sudah menimpa dirimu, baru tahu rasa!’’

‘’Seeett... hentikan khotbahmu! Tuh lihat, pertempuran di layar jendela rumah tetangga sudah dimulai!’’ Don melempar bantal guling ke pojok dipan.

‘’Wah, benar! Cihuu... ada piring terbang!’’

‘’Goblok lu!’’

‘’Habis apaan?’’

‘’Baskom melayang!’’

Para tetangga berlarian keluar dari rumahnya masing-masing setelah mendengar suara jeritan dari rumah Rara pada pagi buta itu. Salah seorang ibu masuk ke dalam rumah Rara, lalu keluar lagi sambil memboyong Sel, anak kedua dari pasangan yang kini sedang bertengkar itu. Lantas seorang bapak
yang terusik hatinya ikut andil membawa Bet, kakak Sel, keluar rumah. Anak yang masih balita itu terlolong tak biasa digendong enak begitu.

‘’Itu bukti sosial kemasyarakatan. Kenapa kita tidak bantu melerai?’’ ujar Don.

‘’Nggak usah! Itu urusan rumah tangga orang,’’ tolak saya. ‘’Apalagi kita lelaki muda, akan lain pendapat Martin melihat kita ikut campur dalam urusan rumah tangganya,’’ lanjut saya. Don menerima pendapat saya. 

Entah siapa yang mengabari pertengkaran suami-istri itu kepada Pak RT, karena tiba-tiba saja beliau muncul dari mulut gang dan langsung menuju rumah Martin.

‘’Sinchan datang!’’ celetuk Don.

‘’Huss, Doraemon itu sih!’’ Pak RT dengan sigap masuk dan langsung mendatangi Martin.

Kemudian Martin dia bawa masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian Pak RT keluar lagi dari kamar Martin.Sedangkan Martin ditinggal di dalam sendirian. Saya melihat ada darah di sudut mulut Rara. Ternyata tamparan Martin cukup kuat ke pipi istrinya tadi. Rara tampak dibimbing Pak RT ke ruang makan yang jendelanya juga terbuka. Tambah jelas saja saya menyaksikan wajah Rara yang
cantik itu ternoda oleh air mata dan rasa perih yang merona merah di wajahnya.

‘’Dia keterlaluan sekali, Pak RT,’’ ratap Rara, ‘’Coba Pak RT bayangkan, dua hari lalu dia minta kalung saya, katanya buat modal dagang. Tapi nyatanya malah habis buat judi. Terus kemarin, dia minta anting-anting saya supaya dicopot, saya kasih. Katanya buat nyogok kerjaan. Eh, pulang-pulang malah bau minuman. Lantas sorenya, dia minta anting-anting Sel, katanya lagi buat ongkos cari kerja. Tapi lagi-lagi habis buat minum. Masih banyak lagi, Pak. Masih banyak lagi...,’’ beber Rara di sela tangisnya.

‘’Sabar, Nak Rara,’’ suara Pak RT kalem, ‘’Mungkin suamimu lagi banyak persoalan sehingga pikirannya gampang ruwet. Kita tunggu saja sampai emosinya reda. Nanti, Bapak akan bicara dengan
Nak Martin.’’ Rara mengusap air matanya. Saya terkesiap ketika Rara meloloskan matanya yang lembab itu keluar jendela. Dan, ah... pandangan matanya itu menerpa mata saya. Kami sempat bertatapan. Mata itu bernuansa. Ah, saya ragu-ragu membalasnya. 

‘’Kutelan bulan, kutoblos langit,’’ Don menghafal puisi Martin yang dia dengar tadi. Sedangkan saya tetap tertuju pada raut wajah Rara yang memelas.

‘’Kutelan bulan, kutoblos langit....’’ 

‘’Huss, berisik!’’ hardik saya. Don tetap cuek. 

‘’Kutelan bulan, kutoblos langit! Kutelan bulan, kutoblos langit....’’

Huh! Saya tinggal Don ke belakang. Membuka keran air. Membugilkan diri. Mandi. Bersiul-siul membangunkan matahari. Hari masih terlalu pagi.

***
MALAM itu keadaan langit sangatlah semarak. Ada bulan setampah di langit. Saya asyik baca buku di serambi. Don di dapur asyik goreng nasi. Sedangkan teman-teman tetangga yang seumur saya bergenjrang-genjreng di mulut gang. Pukul 20.00 lebih sedikit Pak RT menemui Martin di rumahnya.
Namun Rara tak ada di rumah itu. Dia pergi dengan membawa kedua anaknya ke rumah orang tua Rara. Di rumah Martin, ada suara radio yang tiba-tiba dikecilkan. Ada ragam percakapan. Batuk Pak RT. Tertawa Martin. Lalu dilapis suara Don datang dari arah dapur yang ngebas menyenandungkan lagu ‘’Kemesraan’’ Iwan Fals, di depan wajan.

‘’Nasi gorengnya pakai telur, nggak?’’ teriak Don dari arah dapur.

‘’Terserah,’’ sahut saya malas.

‘’Pedas?’’

‘’Terserah.’’

‘’Kecap?’’

‘’Terserah, sappiii...!’’ Saya biarkan Don ngoceh macam-macam.

‘’Pak RT teler! Pak RT teleerrr...,’’ suara Sentul yang cempreng melintas di depan rumah kos saya. Ada apa dengan Pak RT? Suara sendok dilepas Don bergempriang di atas piring. Saya mendongak. Don dari dapur lari keluar.

‘’Wah, Pak RT leter! Eh, teler. Pak RT teler Don, Pak RT teler!’’

‘’Yang benar?’’

‘’Sungguh Pak RT teler!’’

‘’Teler kenapa?’’

‘’Mana aku tahu....’’

‘’Lapor Polinah. Eh, polisi!’’

‘’Nggak usah.’’

‘’Emangnya kenapa?’’

‘’Yang jelas, kita bawa dulu Pak RT ke rumahnya. Sebab dan masalahnya, bisa kita tanya di rumahnya nanti!’’

Saya dan Don berlari memburu Pak RT yang berjalan sempoyongan keluar dari rumah Martin. Saya gelayutkan tangan kiri Pak RT ke pundak saya dan Don membantu dari sebelah kanan. Martin ngakak di mulut pintu rumahnya sambil menenteng botol minuman di tangan kanannya. Saya tak berani menatap mata orang sialan itu. Bisa celaka. Pak RT tersedak beberapa kali. Bau alkohol menyesakkan lambung saya. Pak RT nungging. Muntah-muntah. Pasti Pak RT dipaksa minum, pikir saya. Tapi kenapa Pak RT mau? Aneh....

***
‘’ORANG macam Martin, tidak perlu pakai otot tapi pakai otak untuk mengatasinya,’’ ujar Pak RT pada esok harinya, ‘’Artinya, kita cukup dekati dengan kesabaran dan ketelatenan kita menimpali kemauannya.’’

‘’Dan menyerahkan diri kita untuk dibulan-bulanin, begitu?’’ sela Don sewot.

‘’Maksud Bapak, tidak mutlak kita harus tunduk. Ada segi-segi lain yang harus kita hindari. Misalnya, jika dia marah, maka kita tak perlu ikut-ikutan marah atau emosi. Kita harus hadapi dengan senyum. Dan mengiyakan apa yang dikatakannya walau sebenarnya perkataannya itu janggal di telinga kita. Satu lagi yang perlu kita ingat, orang macam Martin, jangan dibiarkan sendiri. Temani dia dalam keadaan apa pun.’’

‘’Kan sudah ada istrinya, Pak,’’ potong saya.

‘’Maksud Bapak, kalau dia membutuhkan teman dari luar rumah, temani saja. Karena, kalau dia sendirian terus, pikiran-pikiran buruknya akan cepat memengaruhi jiwanya yang mudah guncang.’
‘’Ooo...,’’ gumam Don.

‘’Dia tidak gila kan, Pak RT?’’ sela saya.

‘’Siapa bilang dia gila? Martin itu seorang penyair, lo! Pernah beberapa hasil karya sastranya dimuat di majalah dan di koran. Cuma nasibnya saja yang belum mujur. Martin itu belum pernah diundang ke TIM untuk membacakan karya-karyanya.’’

‘’Pantas...,’’ ujar Don tanpa meneruskan perkataannya.

‘’Pantas kenapa?’’ kejar Pak RT. 

‘’Ah, tidak kenapa-kenapa Pak RT!’’

***
PAGI, sekitar pukul 08.00, saya dikejutkan oleh kedatangan Rara ke tempat kos saya lewat pintu belakang. Don sudah berangkat kuliah setengah jam sebelumnya. Sedang rencana saya sebentar siang akan ke Gramedia cari buku Indonesia di Masa Depan, yang ditulis Syarifah, terancam batal karena keburu dicegat Rara.

‘’De Gun, tolong Mbak. Lihat kaki Mbak, pipi Mbak pada merah begini. Mbak percaya De Gun bisa menyadarkan suami Mbak. Tolonglah De Gun...,’’ ratap Rara memohon. Oh, bicaranya rapat ke depan hidung saya. Hmm... napasnya! Napasnya itu deras tapi terasa hangat karena habis menangis. Dan, yang lebih membuat saya gemetar, dia bersandar di dada saya!

‘’Aduh Mbak, jangan gelayutan begini... nanti tetangga ada yang melihat!’’

‘’Tolonglah aku De Gun, aku sudah tak tahan. Suamiku ringan tangan. Aku nggak mau disiksa begini terus-menerus....’’

‘’Mbak, Mbak lebih baik bicara saja sama Pak RT, karena beliau lebih bisa ngomong dan berani mendekati Om Martin ketimbang saya. Jangan ke saya, Mbak....’’ Rara lagi-lagi merebahkan
kepalanya ke dada saya. Duh! Saya dijalari wangi berahi.

‘’Tolong saya, De Gun. Sama siapa lagi Mbak mengadu soal nasib Mbak,’’ rajuknya lagi. Tapi, oh!

‘’Mbak! Nunduk Mbak! Suami Mbak, keluuaarrr...!’’

‘’De Gun, lindungi Mbak! Mbak takuuttt...!’’

‘’Jangan minta suaka sama saya, Mbak. Saya nggak punya kekebalan hukum!’’ Rara sewot. Dia mendorong saya ke tembok. Terus dia lari keluar lewat jalan tempat dia tadi masuk. Martin melihat
istrinya lari dari belakang rumah kos saya. Saya jadi tak enak. Perasaan saya jadi tak keruan. Takut. Apalagi jendela kamar saya cukup terbuka, jelaslah tadi Martin sudah membaca kegelisahan saya
tadi. Tapi, ah... Martin masuk ke dalam rumahnya. Hati saya jadi sedikit tenang. Saya bersyukur di dalam kamar. Berdoa, dan berdoa.... Braaak!

‘’Om Marr... tin?’’ saya terkejut. Suara saya tersendat dan jadi serak. Tubuh saya jadi gemetar. Rasa takut kian kuat. Martin berdiri di ambang pintu. Lalu Martin menghampiri saya dengan membawa botol minuman di tangan kirinya. Berarti tadi dia masuk ke dalam kamar cuma untuk mengambil minuman yang tidak saya sukai sama sekali. Sialan! Maki saya dalam hati. Tampak botol minuman yang dibawanya itu masih penuh. Dan, oh! Di tangan kanannya tergenggam sebilah golok.

Buat apa? Pikir saya. Dan semakin kecil saja nyali saya setelah melihat badannya yang besar berotot itu merapat ke badan saya. Saya tiba-tiba melorot, terduduk pasrah di bawah selangkangannya. ‘’Heh, lihat mata saya!’’ bentaknya hampir mencopot jantung saya. Saya mendongak.

‘’Minum!’’ perintahnya. 

‘’Sa... saya nggak suka minum Om....’’ 

‘’Apa?’’

‘’Ehmm, maksud saya, saya nggak biasa minum,’’ ralat saya.

‘’Pokoknya, minum!’’ paksa Martin dengan mata melotot. Oh, Don... sial aku. Kenapa kau berangkat kuliah cepat-cepat, ratap saya dalam hati.

‘’Ayo minum!’’ paksanya lagi begitu bengis. Saya masih melongo.

‘’Eee... malah bengong? Ayo minum!’’ bentak Martin seraya hendak mengayunkan goloknya.

‘’Iya, ya... saya mau,’’ sahut saya ketakutan. Lalu saya jemput botol itu. Saya teguk isinya perlahan. Sekali. Dua kali. Saya menghirup napas. Saya minum lagi. Tiga. Empat. Kembali saya
mengambil napas. Lalu mulut saya disuruh terus menganga. Saya ingat Pak RT, lalu saya turuti kemauan Martin.

Minuman beralkohol itu dituangkan ke mulut saya. Glek, glek, glek... sampai tetes terakhir. Terlintas wajah Pak RT lagi. Mungkin begini Pak RT dikerjain Martin. Kepala saya jadi pening, berputar-putar. 

Saya melihat alis golok itu begitu lapar. Saya merasakan limbung. Saya melihat orang sialan itu berdiri miring dengan kaki menapak ke dinding, terus berputar seperti baling-baling kipas angin. Saya melihat televisi saya jadi banyak. Sepatu saya jadi seribu pasang. Saya ditarik bumi ke kiri ke kanan. Remang-remang saya melihat Martin berjingkrak-jingkrak dengan seribu kaki bergantian menyundul langit. Langkahnya terlihat pelan-pelan menjauhi saya.

‘’Om Gun teler! Om Gun teleerrr....’’ teriak anak-anak kecil yang mengintip dari jendela. Oh, mata saya dan kepala saya seperti berpindah tempat. Rasa-rasanya mata saya dicucuki kepingan matahari. Kepala saya meletup-letup. Angin mengajak saya menari di udara. Ya, asyik. Bintang-bintang menuntun saya ke dunia lain. Sedangkan kepala saya kini terasa seperti sebuah kado yang dibungkus awan bergumpal-gumpal tebalnya. Dan saya melihat Don lagi asyik naik bajaj. (62)


— Endang Supriadi lahir di Bogor, Jabar. Puisi-puisinya termuat di beberapa media massa dan dalam antologi, antara lain Tontonan dalam Jam (1996), Lumpur di Mulutmu (2010), dan Meditasi (2013).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Endang Supriadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" pada 05 April 2015

0 Response to "Jendela Rumah Tetangga"