Keluarga Hadi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Keluarga Hadi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:45 Rating: 4,5

Keluarga Hadi

HUJAN yang mengguyur wilayah Jabodetabek kali ini berakibat sungai kecil yang ada di tengah kompleks perumahan kami meluap. Sejak tinggal di sana, sepuluh tahun yang lalu, baru kali ini perumahan kami didatangi banjir. Memang, banjir tidak merata. Tidak semua rumah di kompleks perumahan kami digenangi air. Cuma sebagian wilayah yang terkena banjir.

Ya, hanya rumah yang berdiri di dekat kali yang terendam. Memang, di tengah kompleks peruahan itu ada sebuah kali kecil. Dulu, airnya tak pernah meluap. Bahkan naik hingga jalan pun, tidak.

Ada tujuh kompleks perumahan di wilayah Kecamatan P. Enam kompleks perumahan di antaranya selalu banjir apabila hujan deras menyiram wilayah Jabodetabek. Dan, sebelum tahun ini, hanya kompleks perumahan kami yang tak pernah kedatangan "tamu" yang tak diharapkan itu. Mungkin karena lokasi kompleks peruahan kami ada di daerah yang lebih tinggi daripada kompleks perumahan lain yang ada di sana. 

***

Ilustrasi oleh Bagus
Beberapa belas tahun lalu, Hadi selalu bangga dengan rumahnya yang tak pernah didatangi banjir. Sebab jika terjadi banjir di tempat lain, sungai kecil yang ada di tengah perumahan kami tidak pernah penuh. Jika musim kemarau air kali hanya setinggi mata kaki. Tak pernah lebih.

Jika musim hujan tiba, bisa dipastikan, Hadi akan bilang kalau rumahnya dijual pasti laku mahal. Alasannya, rumahnya bebas banjir. Kalimat yang nyaris tak pernah berubah redaksi ini akan disampaikan kepada orang yang bicara masalah banjir dengannya.

"Untung rumah kita di sini, Sis," kata Hadi untuk ke sekian kalinya ketika ia bertandang ke rumah saya. "Soalnya di sini jauh dari banjir."

"Saya yakin kalau rumah kita dijual pasti pasarannya tinggi," lanjutnya.

"Memang rumah kamu mau dijual?" tanya saya?

"Ya, tidaklah. Cuma andaikata mau dijual pasti pasarannya tinggi."

"Tapi semahal-mahalnya rumah di sini masih banyak yang mampu membeli. Lha wong tipenya kecil. Masih tipe standar," kata saya.

Itulah percakapan saya dengan Hadi--teman perguruan tinggi saya yang tinggal di blok depan-- terakhir kalinya, sekitar satu tahun yang lalu. Sebab, sejak itu Hadi tak pernah datang ke rumah.

Saya tidak tahu alasannya Hadi tak pernah berkunjung lagi. Yang saya ingat, ketika saya menyanggah ucapannya, wajahnya mendadak berubah. Lalu tak lama kemudian ia pulang. Ia seperti tersinggung dengan ucapan saya. Tetapi, saya bosan dengan kalimatnya itu.

Saya pernah dua kali datang ke rumahnya setelah percakapan itu, tetapi rumahnya selalu tertutup rapat.

***

Banjir mendatangi kompleks perumahan kami sekitar pukul sepuluh malam. Namun, saya tak tahu kalau banjir sempat singgah ke kompleks perumahan kami. Pertama, karena saya sudah tidur sejak sebelum pukul sembilan. Saat itu kepala saya pening sekali. Usai minum obat flu saya langsung tidur. Kedua, meskipun banjir datang tetapi rumah di blok belakang tak tersentuh banjir sama sekali. Bahkan got di depan rumah saya tidak penuh. 

Saya baru tahu ada banjir keesokan hariya, setelah Rosita--istri saya-- memberi tahu.

"Saya tidak membangunkan Mas, soalnya Mas Wasis sakit. Lagi pula banjir hanya di blok depan," lanjut Rosita setelah menceritakan banjir yang datang dan menggenangi sebagian rumah di kompleks perumahan. "Banjir hanya menggenangi rumah di blok A dan blok B," tambahnya.

Saya diam.

"Kata orang-orang menjelang waktu subuh air juga sudah surut," tambah Rosita.

Ketika saya berangkat ke kantor, orang-orang yang tinggal di blok bagian depan terlihat sibuk membersihkan rumah. Tidak sedikit pula yang mengeluarkan perabotan rumah mereka untuk dibersihkan.

***

Dua pekan kemudian saya baru sempat datang ke rumah Hadi yang terletak di blok A. Lantaran saya harus bekerja lembur karena di kantor ada pemeriksaan. Saya baru tiba di rumah setelah pukul sembilan malam.

Rumah Hadi tertutup rapat ketika saya datang ke sana. Bahkan pagar rumahnya terkunci.

"Pak Hadi sama keluarganya pergi, Pak," kata Sucahyo, tetangga depan rumah Hadi, yang sedang duduk di teras rumahnya.

Akhirnya saya mampir ke rumah Sucahyo.

"Mudah-mudahan sih blok belakang jangan sampai kebanjiran. Repot, Pak," imbuhnya. "Saya malah tak bisa membayangkan kalau rumah Pak Wasis ikut kebanjiran."

Saya diam.

"Kalau rumah Pak Wasis kebanjiran, bisa jadi rumah di sini tak kelihatan lagi. Banjir di sini bisa-bisa sampai wuwungan. Lha wong, di tempat Pak Wasis tak kebanjiran saja air di dalam rumah sudah diatas setengah meter. Apalagi kalau rumah Pak Wasis ikut kebanjiran," Sucahyo memperjelas pernyataan sebelumnya.

Saya masih diam.

"Untung air datangnya lambat, jadi kami sempat menyelamatkan barang-barang."

Saya mengangguk.

"Ya, cuma itu. Meja dan kursi tamu tetap harus jadi korban. Soalnya barang-barang lain ditumpuk di atasnya. Andaikata rumah ini sudah ditingkat mungkin barang-barang langsung bisa dibawa ke lantai atas."

Memang. Sebagian rumah di sana sudah ada yang ditingkat. Sudah dijadikan dua lantai. Seperti rumah Hadi, misalnya. Rumah yang berada tepat di depan rumah Sucahyo itu sudah lama menjadi dua lantai.

"Kalau begitu rumah Pak Hadi..."

"Dia malah lebih parah, Pak," Sucahyo memotong kalimat saya, "Barang-barangnya banyak yang tidak selamat."

"Waktu banjir tidak ada orang di rumahnya?"

"Ada. Tetapi, hanya Bu Hadi dan dua orang anaknya. Entah kenapa mereka sama sekali tak mau keluar ketika ada banjir."

Saya diam. Sebetulnya saya ingin bertanya kenapa tak ada tetangga yang mau membantu keluarga yang suaminya sedang tak ada di rumah. Namun, saya pikir saat itu semua orang sibuk sendiri-sendiri. Masing-masing berusaha menyelamatkan perabotan rumah tangganya sendiri. Sebab barang yang telanjur kena air, hampir bisa dipastikan, sulit untuk dimanfaatkan lagi. Entah itu kasur, buku-buku, apalagi barang elektronik.

"Pak Wasis tahu sendiri setelah Pak Hadi berjenggot. Sejak ia..."

"Berjenggot?" tanya saya, tak sabar, memotong kalimat Sucahyo, "Sudah lama?"

Sucahyo mengangguk. Lalu tanyanya, "Memangnya Pak Wasis tidak tahu?"

Saya mengangguk.

Selanjutnya Sucahyo menceritakan perubahan sikap Hadi yang semula ekstrovert, ketika wajahnya masih klimis -- tanpa jenggot dan kumis. Mudah bergaul. Setiap malam liburan keluar rumah, ngobrol dengan tetangga atau ikut main gaple dengan tetangga. Tak pernah absen dalam pertemuan bulanan warga yang diadakan ketua RT.

Namun, sejak berubah penampilan, ia menjadi tertutup. Introvert. Tidak mau bergaul dengan tetangga. Dan, sejak itu seringkali pergi ke luar kota. Meninggalkan istri dan anaknya di rumah hingga dua tiga hari. Meskipun demikian, tak pernah ada tetangga yang tahu apakah Hadi pindah tempat kerja atau ada urusan pribadi.

Ketika terjadi banjir beberapa hari sebelumnya, misalnya, Hadi tidak ada di rumahnya. Ketika itu hanya ada istri dan kedua anaknya yang masih kecil --berusia sembilan tahun dan adiknya baru enam tahun-- yang ada di rumah.

Mengetahui tidak ada orang laki-laki di rumah itu, Wahyu dan Sigit mendatangi rumah Hadi. Maksudnya hendak membantu penghuni rumah menyelamatkan barang-barang.

"Terima kasih. Saya sudah tahu," sahut Nurhayati, setengah berteriak, dari dalam rumah tatkala Wahyu dan Sigit berteriak memberi peringatan adanya banjir sambil mengetuk pintu pagar rumah Hadi.

Beberapa saat kemudian, lampu yang semula padam menyala.

"Apa yang dapat kami bantu, Bu?" tanya Sigit, setengah berteriak, masih di depan pintu pagar. Lantaran penghuni rumah belum juga keluar.

"Tidak usah," jawab istri Hadi, dari dalam, "Saya sudah bangun, kok."

Setelah berkali-kali mendapat jawaban yang sama, akhirnya dua pemuda itu mendatangi rumah ketua RT, Muharam, dan menceritakan peristiwa yang terjadi di rumah Hadi.

Mendengar penuturan mereka, Muharam mendatangai rumah Hadi. Pagar rumah Hadi masih terkunci. Dengan berteriak ketua lingkungan itu menawarkan bantuan kepada Nurhayati. Tetapi, alangkah terkejutnya sang ketua RT tatkala Nurhayati yang berada di lantai atas hanya memberi jawaban, "Terima kasih, Pak RT."

"Apa Ibu tidak memerlukan bantuan..."

"Tidak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," potong Nurhayati yang berdiri di pinggir pagar lantai di atas rumahnya, "Saya masih bisa..."

"Di rumah Ibu sendirian, bukan?" kali ini Muharam yang memotong kalimat Nurhayati.

"Justru karena suami saya tak ada di rumah," jawab perempuan yang sudah memakai cadar itu.

Berkali-kali ketua RT, bahkan beberapa tetangga sekitar ikut, menawarkan diri untuk membantu penghuni rumah. Tetapi, perempuan yang belum genap satu tahun memakai cadar itu (padahal sebelumnya berjilbab pun Nurhayati tak pernah) tetap menolak tawaran baik para tetangga. Alasannya sang suami tak ada di rumah.

Karena Nurhayati tetap tak mau membuka pintu, bahkan pintu pagarnya tetap terkunci, akhirnya tetangga dan ketua lingkungan yang hendak menolongnya meninggalkan rumah Hadi. Tak ada lagi yang berusaha membujuk ibu dua anak itu.

Para tetangga baru mengetahui Nurhayati tak berhasil menyelamatkan barang-barangnya yang ada di lantai bawah setelah Hadi pulang. Setelah mereka mengeluarkan barang-barangnya. Bahkan sebagian perabotannya ada yang terpaksa dibuang. Lantaran tidak bisa digunakan lagi. Kasur dan sebuah pesawat televisi berukuran 21 inc, misalnya. Barang-barang itu diberikan kepada pemulung. Entah dijual entah diberikan begitu saja.

"Bukan hanya Pak Hadi yang sudah berubah. Tapi, juga istrinya. Nah, orang mau ditolong kok tidak mau. Alasannya suami tidak ada di rumah," Sucahyo mengakhiri ceritanya. "Jadi, mereka berubah bukan hanya pada penampilan melainkan juga sikap mereka."

***

Beberapa bulan kemudian, saya datang lagi ke rumah Hadi. Ingin memastikan kabar yag disampaikan Sucahyo, bahwa Hadi sudah berubah penampilan dan istrinya sudah pakai cadar.

Namun, ketika tiba di sana ternyata rumah itu sudah kosong. Sudah tak ada penghuninya. Kata Sucahyo rumah itu sudah dijual. Ketika keluarga Hadi pindah tidak ada tetangga yang mengantar. Mereka pindah pada malam hari. Hingga tidak ada tetangga yang tahu keberadaan mereka sekarang.

"Apalagi Pak Wasis, tetangga di sini juga tidak ada yang tahu kalau dia pindah," kata Sucahyo.

***

Saya seperti tidak percaya membaca berita tentang tertangkapnya teroris. betapa tidak, karena inisial nama yang disebut sebagai orang yang diduga teroris berhuruf H. Sedangkan nama istrinya disebutkan lengkap: Nurhayati.

"Mana mungkin Hadi jadi teroris?" tanya saya dalam batin, "Atau bisa jadi ia hanyalah korban atas target pemusnahan teroris? Mungkinkah karena ia berjenggot dan istrinya bercadar? Apa gara-gara ia sudah menjadi orang yang introvert?"

Tiba-tiba setumpuk pertanyaan memenuhi pikiran. Namun, saya tak mampu menjawab atas pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran. Selama ini saya tak pernah percaya ada teroris dari kalangan penganut agma yang fanatik. Sungguh!***


HUMAM S. CHUDORI, lahir Jumat Kliwon, 12 Desember 1958, di Pekalongan. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Rumah Yang Berkabung (Yayasan Bina Komunikasi, Jakarta, 1984), Empat Melongok Dunia (Yayasan Sastra Kita, Jakarta, 1986), Dua Dunia (Restu Agung, Jakarta 2005), Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita (Rest Agung, Jakarta, 2005), Novelnya: Bukan Hak Manusia (Pustaka Insan Madani, Jogjakarta, 2007), Sepiring Nasi Garam (Pustaka Insan Madani, Jogjakarta, 2007), Ghuffron (Republika, Jakarta, 2008), Shobrun Jamil (Republika, Jakarta, 2010).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Humam S. Chudori
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" 26 April 2015

0 Response to "Keluarga Hadi"