Keputusan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Keputusan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:50 Rating: 4,5

Keputusan

PAGI yang cerah, terlihat burung bertengger di atas ranting pohon tengah bernyanyi merdu. Sinar matahari malu-malu berusaha menerobos celah tirai jendela di ruangan kamar berukuran 3x4 meter. Di dinding bermotif bunga-bunga kecil terpasang beberapa foto. Dan di atas tempat tidur aku terbaring, bersembunyi di balik selimut tebal. Rasa kantuk dan lelah menyelimuti pagi ini, membuatku enggan meninggalkan tempat tidur. Banyaknya tugas dan kegiatan yang harus aku selesaikan dan jalani dalam satu minggu belakangan ini, membuat waktu istirahat tersita. Tak terasa awal minggu kembali menyapa hariku. 

Baru dua minggu masuk kuliah setelah libur semester, tugas dan kegiatan yang harus kuselesaikan sudah antre. Membuatku harus bekerja ekstra. Weekend yang selalu padat merayap dengan berbagai macam rutinitas, bukan hanya kegiatan organisasi di kampus, makalah dan jurnal yang harus kuselesaikan, juga kewajiban membersihkan dan membereskan kamar kos juga menjadi bagian di dalamnya. Ini berhasil membuat mukaku terlihat makin kucel, bukan sebaliknya. Hitamnya lingkar mataku juga sudah mengalahkan mata panda. Bagaimana mungkin dengan kondisi seperti ini akan ada cowok yang mendekatiku. 

Aku beranjak dari tempat tidur. Aku bersiap ke kampus, mengikuti proses perkuliahan dan mengumpulkan tugas. 

Setelah menempuh perjalanan kira-kia 15 menit dari kos, aku dan si bebek merahku sampai di parkiran kampus. Melihat arloji yang melekat di pergelangan tangan kananku jadi teringat, tugas jurnalku harus dikumpul pukul 06.30, waktu yang telah ditunjuk arlojiku sudha pukul 06.25. Masih ada waktu lima menit mengumpulkan. Tanpa berpikir panjang aku segera berlari menuju ruangan dosen. Bruuukkk. Aku menabrak seseorang.

"Sori... aku nggak sengaja," ucapku.

"It's oke, no problem. Lu, Tasya kan?" balas cowok itu.

"Lho kok kamu tahu namaku? Kamu siapa?" tanyaku sedikit bingung sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

"Gue Niko, Sya. Lu udah lupa sama gue?"

Astaga dia Niko, mantanku yang begitu jahat meninggalkan aku demi cewek lain. Memori otakku kembali ke masa dua tahun lalu waktu, di mana Niko mengajakku mengakhiri hubungan yang sudah terjalin lalu lama. Kami menjalin hubungan hampir enam tahun sudah, serasa kredit mobil. Niko meminta putus tanpa alasan, padahal aku sudah setia. Aku juga berharap dapat menuntaskan hubungan ini sampai di pelaminan.

"Sya, lu kok ngelamun sih?" tanyanya membuat aku sadar dari lamunanku.

"Aku masih inget kok sama kamu, gimana aku bisa lupa sama cowok yang pernah membohongiku," jawabku sinis.

"Sya, gue mau minta maaf buat masalah dua tahun lalu," ucapnya lagi.

"Nggak perlu ko, semua sudah berlalu. Jangan pernah ganggu hidupku lagi. Menurutku udah cukup dengan perlakuan kamu yang membuat aku sempat putus asa. Aku sudah menaruh harapan lebih pada dirimu, tapi apa yang aku dapat? Jadi kamu nggak perlu menyesal dan merengek-rengek di depanku sekarang. Semuanya udah selesai Ko," tukasku sambil meninggalkan Niko sendiri tanpa menoleh sedikipun.

Sekarang aku tahu, dia masih terlalu egois dan lebih mementingkan kesenangan sendiri. Selain itu, aku sadar bahwa tidak selamanya hubungan yang sudah terjalin hingga bertahun-tahun tidak akan menjadi jaminan berakhir di pelaminan, bisa saja berhenti di tengah jalanan seperti mobil mogok.

"Sya... Tasya, tunggu gue. Masih ada yang perlu kita selesaikan," panggil Niko sembari berlari berusaha mengimbangi langkah kakiku.

Aku berusaha semakin cepat berjalan agar Niko tidak dapat mengimbangi langkahku. Tetapi apa daya kini dia sudah berada di sampingku.

"Untuk apa kamu mengejarku lagi? Aku udah gak punya urusan lagi ama kamu, Ko."

"Gue perlu jelasin semua kesalahpahaman yang terjadi dua tahun yang lalu, Sya."

"Udah nggak perlu lagi kamu menjelaskannya saat ini. Semua sudah berakhir dan itu karena ulahmu. Menurutku itu bukan sebuah kesalahpahaman," hardikku, lalu ngeloyor pergi meninggalkan Niko.

"Sya, tolong dengerin gue dulu," pinta Niko sembari meraih tanganku dan menggenggamnya.

"Aku nggak mau dengerin penjelasanmu, lebih baik kamu pergi dan urusi hidupmu bersama dengan cewek pilihanmu itu. Jangan pernah hadir lagi dalam kehidupanku," bentakku dan menepis genggaman tangan Niko.

Aku melirik sekelilingku, beberapa mahasiswa menoleh melihat aku yang tengah bertengkar dengan Niko. Aku meninggalkan Niko dan tak memedulikannya. Udara pagi itu memang terasa sejuk dan cuaca juga cerah. Tetapi tidak untuk suasana hatiku, hadirnya Niko kembali dalam kehidupanku membuat hati ini tidak sejuk. Cerahnya cuaca apagi ini juga tidak membuat hatiku menjadi cerah, karena aku merasa hari ini suasana hatiku mendung. Mengingat kejadian dua tahun lalu, di mana aku sempat merasa putus asa. Hidupku terasa sudah berhenti dan aku enggan melanjutkanna lagi. Aku sudah terlalu pesimis saat itu. Sulit rasanya move on  darinya, tapi putus dari Niko bukan berarti roda hidupku juga putus. Aku masih mempunyai keluarga, sahabat dan saudara yang jauh menyayangiku daripada Niko.

Dari masalah yang aku alami itu, aku berusaha mengambil hikmah yang ada di dalamnya, hidup ini sudah ada yang mengatur dan merencanakan. Semua langkah kehidupanku sudah diatur dan direncanakan Tuhan. Jadi ketika ada orang yang menyakiti dan meninggalkan aku dengan begitu kejam, sudah menjadi bagian skenario yang Tuhan rencanakan dalam hidupku.

Tak terasa aku sudah sampai halaman kos. Saatnya melanjutkan rutinitas dan melupakan insiden yang terjadi dikampus. Tidak ada gunanya mengingat-ingat kejadian itu. []

Fransiska Ambar
Prodi PBSI Universitas Sanata Dharma Yogya

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fransiska Ambar
[2] Pernah tersiar dalam surat kabar "Minggu Pagi" 26 April 2015

0 Response to "Keputusan"