Kok | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kok Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:55 Rating: 4,5

Kok

SEORANG sobat, yang kini jadi pejabat tinggi, mengundang Amat makan malam. Terpaksa Amat beli hem lengan panjang untuk menghomarti undangan itu.

Sabda, sang pejabat, ternyata menerima Amat dengan kaus oblong, kain sarung, dan sandal jepit. Ia heran melihat penampilan Amat yang begitu formal.

"Resmi amat, sejak kapan kau seperti birokrat, Mat?"

Amat nyengir, tapi sama sekali tak mengurangi sikap formalnya. Malah kian sopan. Sabda jadi tambah geli. Lalu ia membentak, "Udah, Mat, lu jangan main sandiwara terus! Santai aja! Mau ngeledek, ya?!"

"Ini untuk menghormati jabatan Anda sekarang, selaku pimpinan masyarakat."

Sabda ketawa lebar.

"Anda? Sejak kapan kau membahasakan aku dengan Anda? Sialan! Buang itu! Bikin gua jijik! Ayo, Mat, yang bebas aja, kita bicara seperti dulu lagi, biar los. Aku merindukan saat kita ugal-ugalan dulu. Mencuri buku di toko buku Sederhana. Bolos. Membawa kepekan waktu ujian. Menulis surat kaleng! Ngintip orang mandi. Aku kehilangan semua edan-edanan itu.

"Aku ingat waktu kita jual celana dan sepatu waktu kehabisan duit untuk peringatan tujuh belasan. Waktu pura-pura buta, mengemis di perempatan jalan. Tapi tiga hari tiga malam kagak ada yang percaya. Malah kepergok calon mertua, kontan diputusin! Bangsat! Gila!

"Tapi itu semua setelah silam jadi indah sekali. Dan, hilang begitu saja entah ke mana. Makin hilang makin indah, makin tumbuh dalam kalbu kita, makin menyiksa tapi! Itu si Marini juga, primadona pirang yang sama-sama kita kejar itu, sekarang pasti udah tua bangka. Aduh, Mat. Kenapa kita semua berubah setelah tambah tua? Setelah kita tidak ada masalah duit lagi? Sesudah kita bisa beli apa saja yang kita mau? Kecuali beli yang sudah berlalu! Aku sekarang seperti kamu dulu, jadi penyair cengeng!"

Ilustrasi karya Bagus
Sabda tiba-tiba menyanyikan sebuah lagu anak-anak dalam bahasa daerah. Ia mencoba mencairkan kekakuan Amat. Dan, berhasil. Amat ketawa. Tapi ketawa basa-basi, untuk menghormati lelucon Sabda, tanpa mengurangi sikap formalnya.

"Gila! Ketawamu juga sudah diatur, Mat! Geblek! Ayo yang bebas aja! Di kantor boleh gua dibos-boskan, karena ada aturan, tapi di sini, di rumahku, tidak! Ini bukan rumah plat merah. Ini rumahku sendiri yang dibangun dengan duitku sendiri yang seratus persen halal! Ayo kita makan! Semua ini untuk kamu, hajar saja, tidak usah pakai sendok. Comot dengan tangan. Naikkan kaki ke atas kursi! Persetan itu semua aturan basa-basi. Biarin untuk peserta kursus John Robert Powers saja!

"Kita manusia bebas. Ayo, jangan makan pakai tutup mulut segala. Itu siksaan. Makanan lebih enak kalau mulut berkecupak, dan bersendawa tanda nikmat seperti orang Jepang. Ya kan?! Copot sepatu, naikkan saja kaki kamu ke kursi, jangan sok santun seperti bule. Kita sudah merdeka, kan!"

Sabda langsung mempraktikkan apa yang diucapkannya: Ia seperti sedang berontak kepada tata-krama jabatan yang telah membuat ia jemu dan tersiksa.

Tetapi Amat tetap formal. Tak setapak pun mundur. Ia terus kikuk dan santun, membatasi diri, menjaga jarak, menunjukkan rasa segan dan hormatnya.

"Bukan karena tidak mau," kata Amat setelah pulang, menceritakan pertemuan itu kepada istrinya, "juga bukan karena tidak mencoba. Aku sudah berusaha, tapi tidak bisa! Badanku menolak, seperti ada jin yang mengendalikanku!"

Bu Amat melengos tak peduli ocehan suaminya. Ia hanya manggut-manggut, tapi bukan ditujukan untuk laporan Amat. Lebih tertuju kepada dirinya sendiri: "Biarin aja macan ompong ini mimpi daripada memerintah terus, ini dan itu yang menyebalkan." "Dan waktu pulang..."

Amat tertegun, seperti kesandung batu. Bu Amat baru menoleh. Wajah Amat nampak bingung. Bu Amat jadi penasaran.

"Dan waktu pulang, bagaimana?"

"Waktu pulang...."

"Ya, waktu pulang bagaimana!?"

"Waktu pulang, dia bertanya, katanya: mumpung aku masih menjabat, masih dipercaya dalam..."

"Dalam? Ya, terus, dalam apa?"

"...dalam jabatanku sekarang,kamu minta apa, Mat, katanya."

"O, ya? Masak? Itu kan memang mau kamu! Jangan terus-terusan mimpi!"

"Sumpah!!"

"Nggak usah, pakai sumpah segala! Aku dengerin kok! Teruskan saja mmpimu!?"

"Sumpah mati!"

"Eee, kok sewot, tidak perlu sumpah mati, teruskan saja! Aku kelihatan tidak mendengar karena nonton tv, tapi semua aku dengar."

Amat kesal. Ia merasa istrinya, seperti biasa, ngeledek. Ia kehilangan semangat untuk meneruskan ceritanya. Lalu berdiri.

"Eee mau ke mana?"

"Ke belakang. Mau berak. Ikut?"

Tanpa peduli muka istrinya yang masam, Amat bergegas ke belakang. Sambil jongkok mau buang hajat, ia teringat terus yang dikatakan Sabda.

"Mat, ini serius. Aku serius. Sejak aku menduduki jabatan ini, yang diimpikan, digapai diperebutkan dengan segala cara, oleh puluhan orang, sampai paranormal dan dukun ikut terjun, semua teman-teman lama, tetangga, apalagi keluarga, orang tidak aku kenal pun datang sok akrab. Buntutnya mau minta bantuan dan proyek. Semua datang bermanis-manis dan memuji, sampai aku mau muntah. Ujung-ujungnya ada pamrih. Itu semua kezaliman yang kebal hukum.

"Aku jadi sebel, merasa disiksa. Begitu menjabat, aku langsung kehilangan kawan-kawan. Aku tak bisa lagi ketemu mereka yang bisa aku ajak bercanda, gila-gilaan. Aku jadi tersandera. Cuma kamu yang lain. Kau memang beda!"

Karena memang tidak niat buang hajat besar, isi perut Amat, tak bisa keluar. Amat kembali ke depan. Tak terduga istrinya menyapa bersahabat.

"Kasihan sekali ambisi Pak Sabda itu. Umumnya setelah jadi pejabat orang berubah. Mereka mengambil jarak dengan masa lalunya. Sering tidak kenal lagi dengan teman-temannya. Tapi Pak Sabda ternyata tidak begitu. kenapa sama Bapak kok baik?!"

"Makanya aku juga heran."

"Itu artinya dia sahabat sejati. Terus Bapak minta apa?"

Amat kembali membuka lagi peristiwa yang dianggapnya aneh itu. Tawaran Sabda begitu menggugah.

"Ayo, Mat, jangan malu-malu. Mau mobil, rumah, atau uang kontan," katanya.

"Masak? Beliau bertanya begitu?"

"Sumpah mati!"

"Mau mobil, rumah, atau uang kontan, mumpung mood-ku lagi happy ini!"

"Wah, itu gila! Tidak ada sahabat seperti itu. Becanda kali!"

"Aku juga awalnya mikir begitu. Makanya aku ketawa saja. Dia lantas marah besar."

"O, ya?"

"Marah sekali!"

"Marah betulan?"

"Marah betulan! Tersinggung! Eh, elu nggak usah ketawa! Ini serius, tahu! Sialan, katanya, elu minta apa saja, boleh, mumpung aku masih bisa ngasih. Elu minta pesawat terbang pribadi juga gua kasih, tahu?! Ibaratnya tapi. Jangan ketawa! Dikasih pesawat juga elu mau parkir di mana. Terus-terang saja, mau apa? Ah? Mobil, rumah atau uang kontan aja?

"Dengerin, biar elu pakai batik begini, kalau label harganya masih nempel begitu, berarti kamu orang susah! Orang cukup tidak akan beli baju baru hanya untuk makan. Karena koleksinya pasti lebih dari enam almari, seperti gue, sampai bingung kapan mau makainya!"

Bu Amat tercengang. Lalu tersenyum, "Beliau pasti kepincut oleh sikap Bapak."

Amat termenung. Bu Amat berhenti nonton tv, lalu mendekati suaminya. Terus duduk di pangkuan Amat sambil berbisik mesrra:

"Hati Pak Sabda kok mulia sekali, ya, Pak! Pasti nanti akan masuk surga.Terus Bapak minta apa?"  Amat bingung.

"Aku minta..."

"Soalnya beliau kan sudah menawarkan uang, mobil atau rumah. Atau three in one, semuanya. Sekali lagi, semuanya! Ya, kan?!"

"Betul."

"Tapi untuk apa uang. Paling banter nanti habis diporotin tetangga yang menuntut uang dengar. Apalagi Bapak memang lemah kalau sudah dipuji! Teman-temanmu parasit yang rakus-rakus itu pasti sudah langsung ngendus isi kantong kita! Kalau rumah, mendingan. Asal jangan rumah BTN super sederhana di luar Jakarta. Belum ditempati sudah jebol. Namanya saja keren, dapat anugerah rumah, padahal kenyataannya sarang tikus. Tak usah.

"Mobil juga repot. Masak kita harus gaji sopir yang kelakuannya sudah terkenal bajing loncat seperti PRT juga. Jadi sebaiknya minta yang sesuai dengan opsi yang sudah beliau tawarkan. Three in one alias uang kontan, rumah, dan mobil. Three in one itu saling terkait dan pada hakekatnya kebutuhan pokok kita. Seperti kata beliau. Bagaimana persisnya?" Amat mengulangi apa kata Sabda.

"Demi Tuhan, aku tidak cipoa, Mat! Terus-terang saja, kita kan cs. Elu minta apa: uang kontan, mobil atau rumah? Atau tiga-tiganya? Uang, mobil, dan rumah? Ah?!"

Bu Amat memeluk dan mencium suaminya. "Ya Tuhan, Pak Sabda itu malaikat. Hanya malaikat yang sebaik itu. Pantas jabatannya naik terus. Tapi nanti dulu, Bapak sudah minta apa?"

Amat tengadah seperti mengingat-ingat.

"Jangan mikir lagi! Jangan malu-malu tapi mau! Kesempatan selalu di jalan yang sempit, begitu ada langsung tangkap. Meleng dikit kesamber orang lain! Jadi minta semuanya saja, Pak! Biar dibilang rakus, nggak apa-apa. Dulu rakus itu jelek, sekarang persaingan buas, kita harus rakus. Rakus asal tidak mencuri itu sah! Beliau kan sudah bilang boleh. Bilangnya boleh, kan?"

"Ya. Boleh!"

"Jadi, Bapak minta saja semua."

Amat menarik napas panjang.

"Tak usah pakai tarik napas panjang! Minta saja semua! Kan kita tidak minta, tapi ditawari. Itu beda. Orang pinter tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, sebab kesempatan tidak datang dua kali. Ya, kan?! Memang uang bukan segala-galanya, tapi kalau ada, masak tidak kita sambar! Bapak harus minta semuanya! Semua, bahkan kalau bisa ditambahkan, minta rumah yang lokasinya di Pondok Indah atau di Menteng. Di pinggir-pinggirnya juga tidak apa, karena kalau diomongkan, tetap keren. Sekarang lahan di Pondok Indah, yang pinggiran dekat kampung saja, satu meter 50 juta! Jadi jangan tolol! Sudah kamu minta semua, kan?!" Amat mengangguk.

"Jangan seperti ayam, hanya angguk-angguk, tapi tidak berbuat apa-apa. Beneran udah minta semuanya?!"

Amat termenung.

"Heee cakep! Sudah minta semua kan? Yes or no?"

"Yes!"

"Alhamdulillah! Itu baru suami gue!"

"Tapi di dalam hati!"

Bu Amat kaget. Ia meloncat dari pangkuan suamianya. Terperanjat. Matanya terbelalak.

"Apa? Di dalam hati?"

"Ya! Di dalam hati. Aku minta semua di dalam hati. Karena aku mau membuktikan..."

"Ya Allah! Jadi kamu tidak minta apa-apa?"

"Aku minta uang kontan, mobil, dan rumah, semuanya, di dalam hati. Aku mau membuktikan aku sahabat sejati..."

Mulut Bu Amat terkuak lebar, meneriakkan: idiooottt!!!! Tapi hanya dalam hati. Ia langsung berlari masuk kamar. Membanting pintu dan menguncinya. Lalu ngamuk.

Semalam suntuk Bu Amat mengunci kamar. Yang terdengar hanya gedebak-gedebuk, entah apa saja yang dibantingnya. Amat hanya bisa mengurut dada, bersabar menunggu badai reda.

Pagi-pagi pintu kamar terbuka. Bu Amat keluar dengan muka yang masih bengkak oleh rasa sebal. Amat yang tidur di kursi gandeng di depan tv yang mempersembahkan berita pagi, sebenarnya sudah bangun. Tapi mendengar langkah istrinya mendekat, langsung pura-pura mendengkur.

Bu Amat hafal betul seluk-beluk Amat, naik pitam lagi. Ia hampir saja hendak menarik kaki suaminya biar jatuh ke lantai. Tetapi, sesuatu yang menarik berkelebat di televisi.

Bu Amat menoleh ke layar kaca. Nampak kehebohan. Sabda diamankan sebagai tersangka korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah. ***

Jkt, 05-02-2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Putu Wijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" 19 April 2015

0 Response to "Kok "