Kumbang Jati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kumbang Jati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:44 Rating: 4,5

Kumbang Jati

PERNAHKAH kau dengar kisah seekor kumbang yang terbang dari dalam sebongkah batu?

Batu itu, kata Edy, hijau kristal. Selebar telapak tangan orang dewasa, beratnya kurang sedikit dari satu kilogram dan tebalnya tujuh sentimeter. Bila batu itu disenter dari permukaan, maka cahaya senter akan tembus di kedalamannya hingga ke permukaannya yang lain. Saat itulah, Edy saudara saya itu, mengaku melihat sesosok makhluk di dalamnya, yang tak lain dan tak bukan adalah seekor kumbang.

"Totol hijau pekat berpadu hijau kristal adalah motifnya. Indah, bukan?" tutur Edy.

Saya bagai tak percaya.


BAGAIMANA mungkin seekor kumbang bisa berada dalam sebongkah batu? Apakah ia terperangkap mati oleh entah sebab apa, lalu menjadi fosil, mengeras, berubah jadi batu? Jika benar begitu, sudah berapa abadkah?

"Tergeletak di antara bebatuan biasa, aku menemukannya dua hari yang lalu. Ini batu jauh berbeda," tutur Edy dengan bangga.

Tapi anehnya, orang-orang di lepau ini sedikit pun tidak merasa takjub. Apa yang dibanggakannya itu justru beroleh tanggapan biasa-biasa saja. 

"Paling-paling dinikmati pembeli hanya dengan harga dua puluh atau tiga puluh ribuan," ujar Uwan.

"Ooo.... Ini bukan Pucuk Pisang, Uwan."

Ilustrasi karya Munzir Fadly
Orang kampung saya hidup dari upahan menambang emas. Lokasi tambangnya dekat Bukit Kandih di pedalaman. Tanahnya jauh dari subur. Maka, merantau adalah satu-satunya pilihan selain menambang emas. Saya lebih memilih untuk merantau, pergi jauh dari kampung halaman. Menambang bagi saya adalah semacam. Hidup berhari-hari di lokasi tambang, yang jaraknya tiga jam perjalanan dari kampung saya. Dingin pedalaman. Gigil perbukitan. Penyakit mematikan siap mengintai. Tidur di tenda seadanya. Seminggu kemudian pulang. Malam harinya, beberapa orang di antaranya duduk di lepau. Seperti saat sekarang.

Batu itu, kata Edy, diperoleh sepulang dari menambang emas. Ia temukan itu dekat Bukit Kandih. Saya jadi bertanya-tanya. Apakah batu berkumbang itu benar adanya? Atau jangan-jangan itu hanya batu Pucuk Pisang yang biasanya banyak ditemukan tak sengaja oleh penambang? Dinamakan Pucuk Pisang karena warnanya mirip hijau pucuk pisang. "Batu Pucuk Pisang itu," ujar Edy, "hanya setengah kristal. Bila disenter makan tembus cahayanya tidaklah dalam. Akan tetapi, lihat ini...."

Edy meraih tas kecilnya. Membuka resleting dan meraih sesuatu. Begitu keluar, di tangannya sudah berada sebongkah batu. Ia pinjam senter pada pemilik lepau. Batu itu tampak sedikit berwarna hijau--sebelum disenter. Tidak terlalu menarik memang. Namun, ketika Edy menghidupkan senter dan cahayanya menembus menyebar ke kedalaman batu, maka hijau kristal sehijau-hijaunya tertangkap sorot mata saya.

"Ini bukan Pucuk Pisang," begitu saja kata-kata itu terloncat dari mulut saya.

Saya tahu, Pucuk Pisang tidak seperti itu. Walaupun sudah lama sekali saya tak melihat Pucuk Pisang, tapi saya masih bisa mengenalinya. Dulu, sewaktu membantu Ayah menambang emas, Pucuk Pisang sering saya temukan dekat Bukit Kandih. Ya, batu-batu jenis itu banyak terdapat di sana. Seperti juga penambang lain, setiap pulang melewati kaki Bukit Kandih, saya akan mencari-cari Pucuk Pisang.

"Inilah dia," kata Edy."Perhatikan. Sungguh dalam tembus cahayanya."

Edy lalu memindahkan senternya ke permukaan samping, dan cahaya itu juga menembus ke kedalaman batu. Dari permukaan atas tampaklah sosok makhluk itu oleh saya.

"Kumbang Jati," tutur Edy.

Saya makin mendekatkan wajah melihatnya. Totol-totol itu tertangkap mata saya. "Sungguh indah." Tiba-tiba saya ingin memilikinya, membelinya, sehingga berkata, "Berapa?"

"Dua ratus ribu."

"Mahal betul!" timpal Sarul dari ujung meja.

Saya gerakkan tangan ke arah Edy, hendak meminta agar saya langsung yang menyenternya. Edy mengerti, batu dan senter itu berpindah ke tangan saya. Senter saya hidupkan. Saya arahkan. Cahaya menembus menyebar ke kedalaman batu. Hijau kristal. Seketika, sorot mata saya menangkap punggung kumbang yang bertotol hijau pekat berpadu hijau kristal itu. Ya, inilah dia, kumbang itu.

Saya melihatnya. Memperhatikan punggungnya dan.... Eh, benarkah itu kumbang? Totol-totol itu....

Tiba-tiba ada yang berkelebat di pikiran saya.

Kumbang itu. Kumbang itu, tampak bergerak di mata saya. Bergerak-gerak. Hidup dan ....


"KUMBANG itu terbang."

"Ke mana?" tanya Edy dalam suatu percakapan melalui telepon genggam beberapa bulan kemudian, setelah saya balik ke kota Padang.

"Dari satu jari ke lain jari."

Siang harinya, di sebuah koran lokal, Edy menemukan berita yang membuat matanya bagai terbelalak. Kumbang itu rupanya memang terbang. Terbang dari Gamawan Fauzi, ke Susilo Bambang Yudhoyono, lalu, lalu....

Ini yang membuat Edy sungguh terbelalak: kumbang itu kini hinggap di jari Barack Obama.

Padang, 14 April 2015


Romi Zarman tinggal di Padang, Sumatera Barat. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Romi Zarman
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" 26 April 2015

0 Response to "Kumbang Jati"