Kwatrin Tentang Kesetiaan - Dalam Cangkirku - Menjelang Petang - Aku Rindu - Aku Inginkan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kwatrin Tentang Kesetiaan - Dalam Cangkirku - Menjelang Petang - Aku Rindu - Aku Inginkan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:10 Rating: 4,5

Kwatrin Tentang Kesetiaan - Dalam Cangkirku - Menjelang Petang - Aku Rindu - Aku Inginkan

Kwatrin Tentang Kesetiaan

Kesetiaan adalah daun yang dipermainkan angin
Di mana ulat-ulat bermetamorfosis
Dan embun tertampung di pangkuannya
engan manis
Sementara kita tak pernah bertanya
kenapa ia gugur

Kesetiaan adlaah alngit yang senantiasa jadi atap
Adalah gunung-gunung yang terpacak
Juga bebintang yang berkelip-kelip
Dan kita tak pernah bertanya kenapa suatu saat
semua itu akan meledak

Kesetiaan adlaah batu-batu karang
Di mana ikan-ikan berlindung di rerungkang
Dan lumut-lumut tumbuh hijau melambai dengan
tenang
Dan kita tak pernah bertanya kenapa lama-lama
pasir membuatnya
2015

Dalam Cangkirku

Dalam cangkirku tertampung sebuah dunia
Dunia yang belum terjelma
Tuhan menciptanya dari pecahan kaca
tanpa kata-kata
-Selain cinta

Dalam cangkirku hari-hari membeku
Tak ada ruang tak ada wkatu
Tak ada dingin dan tawar

Sebab semuanya bermula dari engkau
Hingga segalanya adalah engkau

Dalam cangkirku kulihat padang-padang hijau
terhampar
Tempat domba-domba digembalakan

Dalam cangkirku terbentang sebuah pantai
Tempat ikan-ikan berenang dan p0erahu-perahu
ditambatkan

Maka wahai pemabuk berlayarlah di atasnya ikuti l
angkah Khidir dan Isa
Atau ambillah tongkatmu ikuti isyarat Musa
Jangan biarkan aku menunggu
dengan mengemban rindu dan cinta

Menjelang Petang

Bianglala menjelang petang
Menemaniku pulang kembali pada engkau
Sementara kelelawar-kelelawar berterbangan
Gaduh lalu hilang ditelan kegelapan
Dan kembali terbang menyongsong cahaya bulan

Bianglala di tepi petang
Melengkung seperti sebuah jalan titian yang panjang
Di mana aku merangkak tertatih dan terjungkal
Menuju kampung halaman

Aku Rindu

Aku rindu suaramu
Suara yang dulu membangunkanku dari igauan
masa lalu
Juga suara yang mampu meretakkan batu-batu
karang
Batu yang terhampar di dasar pulau jantungku ini

Aku rindu wajahmu
Wajah yang melekat pada lembaran kitab-kitab suci
Juga wajah yang kutemukan mengalir di sungai
para kekasih
Duhai kekasih di mana engkau

Aku mencari jauh ke dalam diri
Melewati darah dan urat-urat nadi
Mencari inti teka-teki semesta ini
Diri sendiri -diri-Mu

Aku inginkan

Aku inginkan kebebasan
Tapi cinta sellau emnekan

Sebab cinta selalu datang dengan cemburu dan
kehawatiran-kehawatiran
Dan itulah soalnya mengapa Adam jatuh dan
menepuk-nepuk tanah dadanya
Dan mengapa pula kita dilahirkan drai kenyataan
dengan emngemban kutukan

Aku inginkan kebebasan
Tapi cinta memang jalang

Memaksaku untuk terbuang dan selalu merasa
sendirian bila kau menghilang
Lantaran itu aku selalu menyibukkan diri dengan
puisi
Masuk keruh bahasa menggali makna dari huruf-
hurufnya mencari namamu

Aku inginkan kebebasan
Tapi cinta selalu mengikatku dengan rantai

Dan menyuruhku untuk diam di balik hati yang
remuk redam


*Ridhafi Ashah Atalka: tinggal di Yogyakarta, bergiat di Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ridhafi Ashah Atalka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" pada 5 April 2015


0 Response to "Kwatrin Tentang Kesetiaan - Dalam Cangkirku - Menjelang Petang - Aku Rindu - Aku Inginkan"