Buyung Balingka | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Buyung Balingka Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:03 Rating: 4,5

Buyung Balingka

Buyung Balingka

                    - Hujan Kala Oktober & Teduh Pagi Ramadhan


Buyung Balingka menyusu pada sapi

semenjak susu bundonya jadi tambak dangkal
sebab dada setiap ibu kerap dilanda
kemarau. Musim terik sering kali
datang tanpa tanggal dan bulan.

Malam tak selalu membuat tempat tidur
saat sapi-sapi meringkuk dalam kandang.
Buyung Balingka menangis sejadi-jadinya.
Semalam suntuk tak mau dibujuk.
Tak mau mendengarkan
Float, Goodbye John, Payung Teduh, Frau,
maupun Coldplay, Missigareth,
apalagi Beethoven. Ia juga tak mau
lima balon berwarna hijau, bebek angsa
yang dipotong dalam kuali, mobil remot
buatan China, dan bola kaki Piala Dunia.

Abak dan ibu habis pikir, kehilangan kepala,
karena ia berkehendak tanduk kuda.

Malam itu juga abak berangkat
dengan bekal seadanya, dengan
sebilah parang bengkok di pinggang
dan sehelai pena buluh angsa.

Layaknya seorang pendekar
abak memasuki malam demi siang,
menembus halaman demi pintu,
bertarung lewati pagar demi kandang,
lapak demi pasar. Dari jalanan ke kantor,
dari padang ke ladang. Menyaru dari gembala
ke petani, dari satpam ke tentara,
dari kusir ke supir dari lanun ke nelayan.

Abak menemukan seorang kusir buta.
Ia tahu abak sedang menatapnya heran.
Si buta cengengesan memamerkan gigi berlada
dan permen karet zaman enam puluhan.

Dia juga tahu abak sedang mencari
tanduk kuda. Katanya pula, "Carilah kuda
yang bila terkurung hendak di luar, terhimpit
hendak di atas. Tanduknya hanya menyumbul
di antara azan dan iqamah.
Mereka ada di antara sapi-sapi
milik seorang anak gembala di selatan
arah jalan pulang."

Si anak gembala riang gembira
tatkala melihat pedang bengkok di pinggang abak.
"Hore-hore, dengan pedang itu
engkau akan membelah dadaku
dan membersihkan jantungku, agar besar
nanti aku siap menjadi nabi.
Begitu bukan, Tuan Malaikat?"

"Tidak, malaikat seharusnya datang berdua.
Aku hanya ingin meminta tanduk kuda."

"Tidak, malaikat seharusnya datang berdua.
Aku hanya ingin meminta tanduk kuda."

"Tidak, kecuali engkau memperlihatkan
sayapmu, Tuan Malaikat."

"Aku tak punya sayap, aku hanya punya sehelai
bulu putih terang." Abak merogoh saku jeans-nya,
dikeluarkanlah sebuah pena bulu angsa.

"Ayolah, Tuanm, terbanglah." Bocah
gembala itu menghilang serupa suara
yang terus menjauh.

Langit abak langit teh goyang
di tangan pelayan rumah makan pandang.
Kepala kuda itu perlahan menyembulkan tanduk
sebelah putih tulang sebelah putih pirang.
Kuda yang tak meringkik tak menerjang tak berlari.
Abak mencabut tanduknya
tanduk kehendak Buyung Balingka.
Seperti mencabut duri dalam dagingmu
yang sudah busuk bernanah banyak. Tapi
si kuda tak juga meringkik, hanya tubuhnya
perlahan menjadi angin.

Di punggung abak menyembul tulang hitam
yang terus memanjang. Bukan, itu sayap, itu sayap,
sayap tanpa bulu, sayap kelelawar dungu.
Abak mengepak, abak terbang ke arah pulang
ke arah kota dagang
kota yang bunuh diri berkali-kali.

Buyung Balingka meletuskan tangis
permusuhan anjing kucing paling purba.
Tanduk kuda tak berlaku lagi.
"Belah dadaku, Abak, biar aku bisa menjadi nabi."

Dari balik pinggang abak
mata pedang bermata kucing di siang tegak tali
mengintai dada Buyung Balingka
membayangkan seekor domba.

Padang, 2014

Rio Fitra SY lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 12 Juni 1986. Menyelesaikan pendidikannya di Universitas Negeri Padang.Kini tinggal dan bekerja di Padang.




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rio Fitra SY
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" 19 April 2015.


0 Response to "Buyung Balingka"