Laku Bisu - Sagu - Bercakap-cakap - Mengarifi Sawit - Sajak Mengambil Madu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Laku Bisu - Sagu - Bercakap-cakap - Mengarifi Sawit - Sajak Mengambil Madu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:33 Rating: 4,5

Laku Bisu - Sagu - Bercakap-cakap - Mengarifi Sawit - Sajak Mengambil Madu

Laku Bisu

apakah yang dapat kukatakan lagi selain ingin 
kehendak yang bertutur sekitar syair
mungkin juga sekedar lagu
 didendangkan bising yang selalu runsing
ketika suaraku sendiri terasa asing
di telinga terdengar sebagai rintih
sumbang oleh bermacam-macam tikai
disambut udara setengah basi
setengah lenyek-penyek bercampur sangsi

sungguh kata-kata telah bersubahat
dengan makna mau berbalik niat
tinggallah aku dalam ucapan lain
menduda- menjanda dari bunyi
dipenjara diam dengan segenap dendam
sementara puisi yang kupuja setengah mati
menjadi dirinya sendiri tanpa nyawa
tersebab penat bersolek tanpa sejarah
masa lalu yang dipendam kisah kalah
hingga kepadanya
tak mungkin aku menyodorkan tadah
fasih yang tersisih oleh helah
oleh berbagai dalih salah-menyalah

aku melompat ke depan kalimat
ke baris ayat-ayat aku berkhidmat
tapi setiap wacana yang berlipat-lipat
telah menjadi batu meninggi langit
sia-sia kupanjat dnegan hasrat
karena sebagaimana yang telah tersurat
dibendangkan terang ke seluruh jagat
ditebarkan lebar ke segenap alamat
tak akan bersua antara harap dan sempat
seperti cerita-cerita yang terlaknat
terkutuk dalam umpat-mengumpat

aku tahu bahasa telah pecundang
bertambah malang tak alang kepalang
akibat sayang yang terus berkurang
terombang-ambing oleh bimbang
dihadang penjalang-penjalang terpandang
karena takut berpanjang-panjang
terhadap ketidakjujuran diri-sendiri
diciptakan tamak dan nafsu-nafsi
menjalani hari-hari silih berganti
hingga lupa terhadap setiap uji
ketika hakikat berbagi harus dipenuhi

tapi bukankah tiada pilihan
kecuali peduli pada yang terujar
mulut yang mengucapkan
dengan hati sebagai pembenar
disembar telinga dengan penuh getar
disimpan jiwa sebagai tunjuk ajar
barangkali hanya sepintas kesan 
melesak di otak terpatri di sanubari
supaya tertanda setiap yang tampak
agar dipahami semua yang tersembunyi
kepada aku dan kalian
terwujud sebagai tindakan
berhampiran dengan setiap pesan
yang membuat kita bertahan sebagai insan

sungguh aku ingin berbicara
sebelum semuanya menjadi sia-sia
kelu di lidah kaku di kalbu
adakah yang tahu

Sagu

pohon-pohon sagu telah tumbuh di hatimu
maka bersyukurlah
karena dalam waktu yang tak lama lagi
tak habis dihitung dengan sepuluh jari
belum bertukar daging dengan kulit
engkau akan mengepal saripati
inti dari semua hidup berlapis hidup
sedangkan kematiannya tertunda lama
dalam renyah gairah rimba perjaka
bahkan anak-anaknya bernama abut
akan berkecambah riuh
menjadi kawan menjulang langit
seperti induknya
segera tumpat memenuhi kalbu

akan begitu mudah engkau ketahui kelak
bagaimana tak ada yang sia-sia darinya
bahkan sisa akhir tubuhnya berupa ampas
begitu disukai itik bertelur putih
pelepah dan kulitnya adalah pelindung
membangun sejuk di tengah panas
sungai sekaligus pantai
kepadanya mengatur salam amat selalu
karena akarnya yang rapat
menahan tanah untuk tidak tercebur
ada pun buahnya menggelantung untung
ditimang-timang dengan sebutan tematu
menjadi santapan berbagai binatang
kenyang mengayang tidak berpantang

telah engkau lewati saat merintis
melorong belukar membuat baris
tampangnya bukan ditanam
karena sagu adalah sesuatu yang hidup
maka mengalih tindakan disebut
mengubah pun tidak pula bersalah ucap
menyisip dan menyelip adalah pasti
sebelum akar menggigit tanah
bersama cacing-cacing saling ingat
menyatukan niat tuk saling melengkapi

Mengarifi Sawit

di kebun sawit kita selalu merasa sempit
tapi tak akan tamat-tamat kita bicarakan jarak
sembilan meter di antara pohonnya
telah cukup bagi kita berhitung
meski sampai bukanlah kata penutup
bahkan awal bagi yang mau tunduk
seperti juga pelepah-pelepah menjauhi kuncup
mengembangkan daun menatap tanah
begitu pun buahnya berbuntil
menjuntai ke bawah tidak khawatir
dipaut tandan dengan kebijakan lain
agar tidak dipersalahkan takdir
sampai pendodos menganggapnya berkah
menyambut panen dengan pantun
hingga menjadikannya lahap terhadap pupuk
senantiasa haus mencari air
meskipun lembab membuatnya tidak selesai
sedangkan panas tiada diminta
memada-madai hujan patut dikira

Bercakap-Cakap

bagimu sebagian bunyi
hanya sampai berkata-kata
hingga cukuplah badan dan tubuhmu
menjadi saksi suara
lisan atau tidak bukanlah acuan
dalam hati pun sudah memadai
padahal kita hendak bertukar jiwa
saling dengar hendaklah ingat
tegar merayap segala sifat
betatapun rasa dan pikir
tidak sepakat di demerata tempat

maka angkatlah lidahmu
saat mulut melepaskan angin
gigi akan mengawali makna
diawasi langit-langit bermata putih
geraham setia mendorong setiap tuju
dengan bibir pengontrol nada
sementara tenggorokan dan dada
akan tahu cara menyimpan segala
dilahirkan otak bersebati hati
yang tak mengenal jeda
walau sejenak dalam istirahat
dibisukan penat berbalut umpat

kepada telinga tidak pula lalai
untuk lubangnya selalulah jaga
sumbat adalah pantang
yang begitu peka terhadap sesama
tak getar pun bukan kendala
sehingga pekak dan tuli
menjadi bagian dari pendengaran
setelah otak bersebati hati
sebagaimana juga halnya
bagi tenggorokan dan dada
tidak tersekat oleh mandul
tanpa melahirkan rasa dan pikiran
tak pernah bertemu
dalam rasa berkait-kelindan

Sajak Mengambil Madu

aduhai tuan puteri dengan beribu wajah
di manakah pangeranmu bersemedi
aku hendak bertukar mimpi
di ketinggian pohon sungguh sendiri
gelap mendekap tidak berperi
ditambah sejuk mengundang gigil
kebas telapak tanganku hampir
semacam semut mengerumuni kulit
bukan tersebab manis yang lain 
menggauli lidah di bagian awal

aduhai tuan puteri dengan beribu wajah
inilah pantun bujang aku lantunkan 
merangkai kata bukannya mudah
seumpama menarah kayu yang keras
tak sedikit tajam kapak diasah
tapi di parasmu yang merona merah
pada pipimu pauh dilayang
bahkan pada letik matamu menuju
tak hanya sebutan
bahasa pun menjadi begitu manja
bersayap riang mengelepak suka
tinggallah aku di luar istanamu
dengan bilik-bilik tidak seribu
dengan hitungan tiada berkira
terkulai lemas berpangku mau

aduhai tuan puteri dengan beribu wajah
akulah dagang di negeri sendiri
menjaja kesetiaan sungguhlah pasti
cuma berharap sedikit budi
berupa nasihat bagaimana cara berbakti
dengan setiap madu jadi tertuju
sebab aku tak mungkin lagi jatuh hati
karena puan pun tak mungkin berselingkuh 
telah selesai berkasih di tangga pertama
sedangkan jenjang berikutnya adalah makrifat
menyingkap hakikat berpanjat-panjat

aduhai tuan puteri aduhai

Taufik Ikram Jamil menetap di Pekanbaru. Riau. Buku-buku puisinya adalah tersebab haku melayu (1995) dan tersebab aku melayu (2010)


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufik Ikram Jamil
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran tempo" pada 12 April 2014

0 Response to "Laku Bisu - Sagu - Bercakap-cakap - Mengarifi Sawit - Sajak Mengambil Madu"